Random Thought: Inspirasi

Pada 16 Juli 2014 yang lalu, saya mengirimkan sebuah aplikasi lamaran untuk ikut terlibat dalam sebuah pelatihan intesif selama dua minggu di Gwangju, Korea Selatan. Sekolah ini mengkhususkan diri pada isu demokratisasi dan penegakan hak asasi manusia. Penyelenggaranya, The 18 May Memorial Foundation.

Yayasan ini berdiri dan mengambil semangat kebangkitan demokratik yang mengambil tempat di Gwangju pada 18 Mei 1980 untuk menentang kudeta militer yang dipimpin oleh Chun Doo-Hwan. Selama gerakan perlawanan sipil ini berlangsung, tercatat ada 154 orang meninggal, 74 orang hilang dan 4.141 orang terluka. Ini belum termasuk jumlah mereka yang dihadapkan ke pengadilan secara ilegal yang mencapai lebih dari 3.000 orang selama periode junta militer. Pembangkangan yang melibatkan masyarakat dari berbagai lapisan sosial dan latar belakang profesi ini kemudian menjadi salah satu penanda perjalanan demokrasi di Korea Selatan.

Pelatihan ini oleh mereka disebut 18 May Academy Folkschool. Mereka membuka diri kepada seluruh pelamar dari negara-negara di Asia dan Afrika serta Timur Tengah. Peserta pelatihan akan dibagi ke dalam tiga klasifikasi kelas berdasarkan tenggang waktu pengalaman mereka berkecimpung dengan isu demokratisasi dan hak asasi manusia.

Yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun akan berada di level senior. Mereka yang bergiat antara 5 hingga 10 tahun akan ditempatkan ke dalam kelompok menengah. Lalu untuk yang memiliki pengalaman kurang dari lima tahun dikategorikan sebagai peserta junior. Untuk level senior, hanya ada 3 slot yang tersedia. Di level medium, penyelenggara menyediakan 6 slot. Lalu ada 8 kursi yang disedikan di level junior.

Dengan pengalaman yang tak seberapa, saya memberanikan melamar untuk memperebutkan satu slot di level junior.

Persyaratan mereka tak sulit. Mengisi formulir aplikasi yang tersedia dengan data diri dan informasi terkait, lalu membuat sebuah esai singkat mengenai alasan mengapa tertarik dengan program pelatihan ini. Mereka juga mensyaratkan seorang pelamar untuk mencantumkan pandangan singkatnya mengenai isu demokratisasi dan hak asasi manusia. Bagian ini mesti sepenuhnya merupakan opini subjektif berdasarkan pengalaman pelamar. Tentang bagaimana melihat keterkaitan antara perjuangan penegakan demokrasi dan pemenuhan hak asasi manusia di lingkungan di mana pelamar beraktifitas dengan relasi perjuangan isu ini dalam konteks global. Satu hal yang pasti, mereka mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris di level tertentu sebab ini adalah bahasa yang akan digunakan dalam pelatihan nanti.

Saya harap-harap cemas apa bisa lolos dalam seleksi ini. Tapi saya juga siap bila tak masuk kualifikasi. Setidaknya saya bisa belajar dan mengetahui letak kekurangan agar dapat belajar di kemudian hari. Lagipula, ini pengalaman pertama saya melamar. Jika ditolak, masih ada kesempatan berikut. Atau mungkin pelatihan ini tidak sesuai dengan kualifikasi saya.

Kemarin, 29 Juli 2014, saya mendapatkan email balasan dari The 18 May Memorial Foundation. Mereka menautkan sebuah link di mana nama para peserta yang lolos dapat dibaca. Setelah dibuka, ternyata ada nama saya tercantum di sana bersanding dengan 16 nama lain. Peserta pelatihan kali ini datang dari 12 negara berbeda. Ada satu lagi orang Indonesia yang lolos. Namanya Sabela Gayo, dari LBH Indonesia. Jika saya berada di level junior, maka Gayo berada di level menengah. Saya tak kenal dan belum pernah bertemu sebelumnya. Jadi mungkin, pelatihan ini bakal jadi kesempatan perdana bersua.

Terang saja saya gembira.

Ini berarti saya akan berangkat ke Korea Selatan dan berkesempatan belajar dan bertemu banyak orang. Berinteraksi dengan mereka yang datang dari negara, budaya dan latar belakang kondisi sosial yang berbeda. Orang-orang yang berkecimpung di isu demokratisasi dan hak asasi manusia dengan segala hambatan serta upaya yang telah dan sedang mereka lakukan. Ini jenis kegembiraan yang mungkin hanya datang sekali. Berkunjung ke negeri yang sukses menghipnotis Indonesia dengan budaya pop Asiatik (selain Jepang tentu saja) sekaligus menimba ilmu dari pengalaman mereka di masa lalu dalam memperjuangkan demokrasi.

Saya membalas email tersebut dan segera mencantumkan beberapa harga tiket pergi pulang Bangkok-Seoul dari beberapa maskapai penerbangan yang melayani jalur tersebut. Tak lupa saya menjelaskan mengenai alasan mengapa saya berada di Thailand dan tidak berada di Indonesia. Juga melengkapi beberapa detil lain yang mereka minta sebagai syarat kelengkapan. Lalu mencoba mengumpulkan informasi mengenai kemungkinan untuk mengajukan permohonan visa kunjungan ke Korea Selatan. Saya mesti membayar sendiri untuk biaya pengajuan visa, sementara seluruh ongkos yang lain akan ditanggung oleh panitia penyelenggara.

Mereka lalu sempat bertanya mengenai siapa tokoh yang menjadi inspirasi saya hingga terlibat dalam perjuangan hak asasi manusia dan demokratisasi. Saya lalu menyebut dua nama, Andreas Harsono dan Denni Pinontoan.

Mengapa Andreas Harsono?

Alasannya sederhana. Saya membaca reportase-reportase dan hasil riset yang ia tulis. Andreas adalah jurnalis yang juga bekerja sebagai peneliti di Human Rights Watch (HRW). Orang yang juga merupakan tempat saya meminta bantuan (yang malah terkadang merepotkan) dan sumber yang dapat dipercaya mengenai isu hak asasi manusia di Indonesia. Ia bahkan bersedia menyediakan namanya untuk dicantumkan sebagai salah satu orang yang bersedia merekomendasikan kemampuan saya saat melamar di pelatihan ini. Saya juga melihat bagaimana ia berjuang membela hak asasi kaum minoritas dengan rasional dan menghindari keterjebakan pada fanatisme. Mengambil sisi keberpihakan yang dilandaskan pada fakta. Satu hal yang sangat saya kagumi adalah kemampuan beliau menulis laporan panjang yang penuh data dengan renyah dan tidak membosankan.

Nama berikut adalah Denni Pinontoan.

Ia alumnus fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) yang kini mengajar di tempat yang sama. Orang Minahasa yang mendedikasikan diri berjuang untuk pluralisme. Denni juga adalah aktifis Mawale Movement, sebuah gerakan kebudayaan yang di Sulawesi Utara. Kami berdua sama-sama terlibat di dalam arus ini. Mantan pimpinan redaksi sebuah radio di Tomohon ini, merupakan penulis prolifik dan profil orang Kristen yang memiliki horizon berpikir yang luas. Ia tidak fanatik, ramah dan merupakan kawan diskusi yang menyenangkan. Denni juga adalah tipe pekerja keras dan orang yang terbuka mengutarakan pendapat dan siap menerima kritik. Saya kenal ia lebih dari enam tahun.

Mereka berdua adalah orang-orang biasa. Mungkin bukan tipikal tokoh dalam kualifikasi umum. Tapi keduanya adalah monumen hidup keberlanjutan aksi dan konsistensi. Saya sengaja tak menyebut mereka yang tak saya kenal secara personal atau tokoh-tokoh besar dalam sejarah. Saya juga tak terbiasa dengan karakter superhero yang seakan mengatasi segala sesuatu secara individual. Kedua sosok yang saya jelaskan di atas adalah antagonis bagi mereka yang berpikir bahwa kebenaran itu homogen dan absolut.

Masih ada barisan nama-nama lain yang kemudian juga berperan dalam kehidupan intelektual saya. Mereka menginspirasi saya dalam beberapa hal, dan masing-masing menyumbang hal yang berbeda. Juga menjadi tempat saya belajar hal-hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Inspirasi saya memang datang dari orang-orang sederhana yang hidup di sekitar, yang berjuang, yang bertahan dan menantang badai dengan cara yang indah. Mereka adalah figur-figur yang secara langsung ikut membentuk dan membuat saya sampai di titik ini, hari ini.

Itu kenapa, ketika saya merasa bahagia karena mendapatkan kesempatan untuk menempa diri belajar di tempat yang baru, saya tak mau lupa untuk mengucapkan: terima kasih.

Andre Barahamin