Masa Depan Mawale: Penjelasan dan Kritik Organisasional

“Kita sudah terlalu jauh berjalan untuk sebuah perjalanan yang bukan untuk kita. Pulang, adalah cara untuk memulai perjalanan bagi diri kita sendiri.”
–Kontinum

Tidak Ada Yang Baru Di Bawah Matahari

Cosio d’Arroscia, Italia 1957. Sebuah pedesaan yang terletak di arah barat laut dan berjarak hampir dua jam dari Genoa. Tidak terlalu jauh dengan perbatasan wilayah Prancis. Ia dipilih sebagai lokasi pertemuan bagi para praktisi seni yang berasal dari Prancis, Inggris, Belgia, Belanda dan Denmark. Pertemuan yang mana berakhir kemudian dengan dideklarasikannya sebuah grup avant-garde yang mencampuraduk antara filsafat Marxisme, warisan Dada dan Surealis, serta kritik mutakhir atas kehidupan harian dalam masyarakat urban.

Grup ini mewariskan kepada dunia sebuah jurnal yang diberi judul yang sama dengan nama grup ini. Jurnal yang hanya terbit sebanyak 12 edisi ini, memuat capaian-capaian yang berangkat dari kritik terhadap seni, menuju kritik terhadap totalitas kehidupan. Mereka meramu pendekatan sosiologis, kritik seni, ide-ide arsitektur masa depan, filsafat kritis hingga pembacaan terhadap kondisi kelas-kelas sosial dalam masyarakat, dan menjadikannya satu bagian utuh. Hal ini sejalan dengan semangat grup ini untuk menentang spesialisasi dan mengadvokasikan integrasi kritik dan ide untuk memahami kehidupan urban yang saat itu tengah beranjak dewasa.

Sejak saat itu, sejarah kebudayaan Eropa (dan dunia mungkin saja) tidak pernah sama. Ada garis tegas yang tidak bisa dihapus jika seseorang ingin menyongsong masa depan. Warisan kelompok yang dikenal dengan nama Situationiste Internationale ini memang sering dikaburkan, dicuri, diduplikasi dan diadaptasi tanpa pernah mencantumkan kontribusi mereka. Seperti juga sejarah yang luput mencatat bahwa secara kolektif dan individual, grup ini aktif secara politik dan produktif dalam menghasilkan karya.

Mungkin saja benar adanya ketika sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “sejarah hanya ditulis oleh para pemenang”.

Beberapa tahun mundur ke belakang di Indonesia, ada sebuah organisasi kebudayaan yang diberi nama Lembaga Kebudajaan Rakjat. Lebih dikenal dengan singkatannya, Lekra. Berdiri pada 17 Agustus 1950, atau tepat lima tahun setelah sebuah republik muda baru saja merdeka. Kelompok ini dibangun dengan inisiatif dari empat orang anak muda yang percaya bahwa kebudayaan, adalah medan pertempuran vital yang tidak bisa diacuhkan. Mesti dimenangkan dan dipertahankan sekuat-kuatnya. Aidit, Njoto, AS Dharta dan MS Ashar paham benar hal ini. Dahulu mereka melawan Belanda, kini mereka mesti menyiapkan diri menghadapi musuh dalam selimut dan tukang tikam dari belakang. Namun gerakan ini tak berumur panjang. Lekra dibabat habis secara fisik dan ide oleh tentara di tahun 1965-1966. Banyak yang mati, dipenjara, juga dibuntungi hak-haknya sebagai manusia.

Tragedi pembantaian massal ini merubah jalan sejarah Indonesia. Ini adalah titik balik paling berdarah yang dengan krusial mengubah peta pemikiran di negeri yang memiliki lebih dari tujuh belas ribu pulau. Ruang kebudayaan tentu saja terkena imbas dan sangat kentara. Majelis Permusyawaratan Rakyat – Sementara (MPRS) yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Haris Nasution mengeluarkan sebuah ketetapan. TAP MPRS nomor XXV tahun 1966 yang isinya menegaskan bahwa keseluruhan hal yang terkait dengan Marxisme-Leninisme-Maoisme, dilarang.

Hersri Setiawan, seorang penulis, penerjemah handal dan editor mumpuni yang juga merupakan anggota aktif Lekra pernah bilang, bahwa kehidupan adalah penagih hutang yang tidak pernah lupa. Sekali waktu, ia akan datang dan menagih janji. Ketika saat itu tiba, tidak ada yang bisa lari dari hal tersebut. Tiga puluh dua tahun setelah pembantaian itu, anak-anak muda bersama lapisan masyarakat perkotaan yang marah karena krisis ekonomi, mendongkel diktator tua yang mengitari dirinya dengan senjata.

Nun jauh di Meksiko, seantero dunia yang sedang berpesta menyambut tahun baru 1994, dikagetkan dengan serbuan bersenjata dari kelompok yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN). Tepat 1 Januari ketika zona perdagangan bebas di Amerika Utara dideklarasikan, sekitar 3.000 pasukan EZLN menduduki tujuh distrik di bagian selatan negeri itu selama dua belas hari. Mereka kemudian kembali ke belantara Lacandon dan meninggalkan dunia yang masih terhenyak dengan sebuah pernyataan sikap yang di kemudian hari dikenal sebagai “Enam Deklarasi Dari Hutan Lacandon”.

Deklarasi itu menohok karena ditulis oleh native American yang selama ini dianggap sebagai lapisan sosial terbelakang dan terisolasi. Suara dari Lacandon itu puitis namun mengirimkan pesan yang sangat jelas, bahwa globalisasi dan perdagangan internasional hanya membawa malapetaka bagi sebagian besar orang. Namun jika yang lain memilih berdiam diri dan beradaptasi dalam kompetisi paling barbar dalam sejarah umat manusia, EZLN dan orang-orang Chiapas lantang menyuarakan sikapnya. Mereka menantang dunia dan mengirimkan optimisme ke sudut-sudut bumi di mana orang-orang yang menolak terseret gelombang globalisasi terus menyalakan suar.

EZLN dan masyarakat Chipas menginspirasi lahirnya sebuah generasi yang percaya bahwa dunia yang lebih baik itu masih mungkin. Dan mereka melakukannya dengan cara yang hampir tidak bisa dibayangkan sebelumnya oleh kebanyakan orang. Pesan-pesan perlawanan itu tidak ditemukan dari teks yang diimpor dari belahan dunia lain, melainkan ditemukan dari tengah-tengah kehidupan orang-orang Chiapas. Melalui mitos-mitos yang hidup dan diwariskan melalui tradisi oral, Zapatista menggali semangat otonomi dan humanisme. Pesan-pesan itu kemudian disebarkan seperti wabah dan menjadikannya sekaligus sebagai jendela bagi orang asing untuk melihat dan pintu masuk bagi saudara untuk berkunjung.

Pablo Neruda, penyair kenamaan asal Chile yang menerima Nobel sastra pada tahun 1971, mengaku kepada khalayak bahwa apa yang sedang berlangsung di Chipas membuatnya ingin membuang semua buku-buku miliknya ke laut. Neruda terhenyak dengan bagaimana Zapatista menggubah mitos menjadi sebuah pesan global yang artistik dan propagandis di saat yang bersamaan. Bagaimana Zapatista memperkenalkan kepada dunia siapa mereka, apa yang mereka ingin capai dan alasan di balik semua itu, dengan bahasa yang hampir jauh dari kekakuan teks-teks politik pada umumnya.

Zapatista tak bisa dipungkiri telah membawa realisme magis, sebuah genre populer di belahan selatan benua Amerika, menuju sebuah level baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Kembali ke Indonesia, Mei 1998, sejarah kembali ditulis. Seorang jenderal yang lebih dari tiga dekade lalu begitu berkuasa, mesti dipaksa menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada seorang insinyur lulusan Jerman. Indonesia berada di persimpangan yang dipenuhi harapan, pesimisme dan ketakutan.

Di Manado, kota yang mana jumlah gereja dan mesjid hampir menyamai jumlah warung kelontong, sekitar tahun 1995, tiga tahun sebelum peristiwa nasional tersebut, sekelompok mahasiswa mendirikan kolektif teater. Nama yang dipilih tak sungkan-sungkan, Teater Kronis. Ia berarti, tak ada jalan pulang. Kronis dalam sebuah fase, dapat diartikan sebagai sebuah kondisi di mana tak ada lagi titik balik.

Sebagai grup, nama mereka cepat menjulang karena keberanian menabrak pakem-pakem seni yang terlanjur mapan. Mereka melakukan pentas dengan minim kostum, minim dialog dan lebih bersandar pada gerak tubuh dan impresi aktor untuk mengirimkan pesan kepada penonton. Kronis juga membawa pertunjukan mereka ke jalan-jalan, mengiringi demonstrasi para pelajar yang meminta diktator Soeharto mundur sebagai presiden. Sebagian anggotanya menulis puisi untuk kemudian membacanya di sudut-sudut kampus, di tengah-tengah demonstrasi, hingga ke tengah-tengah ibadah mahasiswa. Pendek kata, panggung berada di mana saja bagi mereka.

Uniknya, mereka tidak hanya bicara soal teater. Grup ini juga mendidik dirinya dengan belajar filsafat, tak terkecuali Marxisme yang merupakan bacaan terlarang di Indonesia. Sumber pengetahuan bisa datang dari mana saja dan mereka tak terlalu peduli soal itu. Segala yang tabu justru mereka dekati. Sebagai kelompok, Kronis tampaknya mendedikasikan diri pada upaya menerobos batasan ide, bahasa, gestur dan fanatisme. Grup ini sering diasosiasikan dengan berbagai hal, meski Kronis sendiri tak pernah secara terbuka menjelaskan posisi ide dan politik mereka. Namun ada satu hal yang begitu jelas, Kronis bukanlah grup yang mendedikasikan diri pada pemujaan artistik belaka.

Lokus grup ini adalah Fakultas Sastra di universitas terbesar di Manado. Universitas ini mengambil namanya dari seorang pemuda berkebangsaan Minahasa yang sempat belajar di Eropa.

Namanya Gerungan Saul Samuel Jozias Ratulangi. Tapi ia lebih dikenal dengan panggilan Sam Ratulangi. Doktor lulusan Universität Zürich ini populer dengan filsafat sitou timou tumou tou. Dia percaya bahwa tujuan sejati seseorang dalam hidup bukanlah dirinya, tapi orang lain di sekitarnya. Sam Ratulangi juga menulis buku berjudul Indonesia in den Pacific. Teks visioner yang meramalkan masa depan mengenai perang di daerah Pasifik, yang di kemudian hari terbukti tepat. Di Manado, namanya juga diabdikan untuk jalan raya dan bandar udara. Filosofinya kemudian diadaptasi sebagai slogan provinsi Sulawesi Utara.

Manado yang dahulu sempat disebut Nieuw Amsterdam, bukanlah kota kecil tapi juga terlalu jumawa jika disebut sebagai kota besar. Makassar yang berada di bagian selatan pulau Sulawesi, secara geografis memiliki area yang lebih luas. Memiliki garis pantai sepanjang 18 kilometer yang membentang dari utara hingga ke selatan kota. Sebagian besarnya telah dihancurkan dengan timbunan reklamasi. Sebagai gantinya, adalah kompleks perbelanjaan yang berjejer dan menghalangi pandangan mata ketika matahari tenggelam.

Ada sebuah akronim unik yang diidentikan dengan Manado. Orang-orang menyebutnya 3B, untuk menjelaskan mengenai Boulevard, Bubur dan Bibir. Boulevard adalah salah satu jalan utama yang merayap di tepi pantai Manado. Sementara Tinutuan, adalah jenis bubur yang terdiri dari pelbagai sayuran yang merupakan salah satu kuliner khas dan menjadi andalan kota ini. Makanan ini sering juga diasosiasikan dengan multikulturalisme, tentang bagaimana orang-orang di Manado beradaptasi, berasosiasi dan beralkulturasi dengan sesama yang memiliki latar belakang berbeda. Sementara bibir adalah sebuah sarkasme terhadap kebiasaan bergosip yang dianggap menjadi tabiat banyak orang Manado. Saya tak punya penjelasan komprehensif soal yang terakhir ini.

Maret 2005, di kota kecil ini, sebuah buku puisi berjudul “999” diluncurkan. Ada dua puluh tujuh puisi yang ditulis tiga orang. Ketiganya adalah mahasiswa yang bergiat dan menimba ilmu di Fakultas Sastra, Universitas Sam Ratulangi. Satu penanda penting adalah bahwa keseluruhan puisi dalam buku ini ditulis dalam bahasa Melayu Manado. Ini jenis bahasa Melayu yang digunakan oleh mereka yang berada hidup di jazirah utara pulau Celebes. Melayu ini bercampur dan menyerap kata demi kata dari berbagai bahasa lain. Ada beberapa bahasa Arab, ada bahasa Belanda, dan juga bahasa Inggris, meski tulang punggung bahasa ini adalah bahasa Melayu itu sendiri.

Buku puisi itu lalu disusul dua buku puisi lain, yang masing-masing berjudul “777” dan “99”. Penulisnya adalah lima orang penyair yang juga merupakan mahasiswa di Fakultas Sastra. Kedua buku ini juga mengikuti pola sejenis. “777” berisi dua puluh satu puisi bahasa Manado dari tiga orang penulis, sedangkan “99” memuat delapan belas puisi dari dua penulis lain.

Koran-koran lokal memuat berita tentang peluncuran buku-buku ini. Para penulisnya juga menulis sebuah introduksi berupa esai pendek yang dipublikasikan di beberapa koran. Intinya, mereka menegaskan bahwa buku-buku tersebut bukan sekedar buku puisi. Sebaliknya, mereka sedang melakukan sebuah gerakan dan buku adalah cara mereka memasang patok-patok sejarah. Peluncuran buku bagi mereka adalah aksi untuk menegaskan upaya yang telah dirintis lebih dari satu tahun sebelumnya.

Jika pada masa lalu, peradaban sebuah masyarakat dilacak dari peninggalan artefak dan tulang belulang, maka peradaban hari ini akan dikenang melalui apa yang dicatat dan tersimpan.

Dan inilah awal dari gerakan yang bernama Mawale. Gerakan yang kemudian bertahan hingga satu dekade kemudian. Sebuah gerakan yang merupakan upaya pencarian jalan pulang untuk menelusuri bagian yang hilang dari seorang manusia.

 

Intelegensia Swarm dan Direct Democracy

Berbeda dengan gerakan romantik di belahan dunia yang lain, Mawale didesain sejak awal bukan untuk merayakan kejayaan masa lampau. Sebaliknya gerakan ini dibentuk sebagai ruang bertanya, berdiskusi dan bertukar ide dalam menghadapi kehidupan urban yang membuat semua orang menjadi seragam dan penuh tanda tanya. Ia di desain sebagai sebuah kelompok dengan ikatan visional dan bukan ikatan organisasional. Mawale dibentuk sebagai tahapan awal menuju realisasi praktik, tahapan evaluasi pada keberlangsungan proses, dan tahapan dialektis untuk melakukan oto-kritik. Semuanya dilakukan dengan memahami bahwa gerakan ini tidak didesain untuk memiliki tujuan final.

Mawale lebih mengasosiasikan diri sebagai arena elaborasi dan eksplorasi ide yang berasal dari seluruh partisannya. Ide-ide ini diserap dari pembacaan atas teks-teks keilmuan, observasi intens atas hidup harian, serta aspirasi subjektif masing-masing orang. Individu-individu di dalam asosiasi ini juga mengawali aktifitas kelompoknya dengan bekal kesadaran untuk mendorong pemahaman yang holistik terhadap siklus perkembangan masyarakat, baik dalam konteks global maupun dalam ranah lokal.

Dalam format, Mawale dalam perjalanannya telah mengajukan proposal dan mengujicobakan bentuk asosiasi yang tergolong asing dan hampir tidak tersentuh dalam tradisi gerakan kebudayaan secara modern di Manado dan bahkan di Indonesia. Bentuk asosiasi yang mendasarkan pergerakannya pada aksi individual namun memberikan pengaruh pada perilaku yang kompleks dari sebuah kelompok.

Format ini lebih populer di kalangan biologis dengan terminologi intelegensia swarm.

Terma tersebut berupaya mendefinisikan sebuah perilaku “gerombolan pintar” yang tidak memiliki komando terpusat namun mampu menghubungkan beberapa projek berbeda. Hal ini tampak jelas di dalam Mawale, di mana respon individual adalah poin penting dalam pembuatan sebuah keputusan kolektif. Sebagai sebuah grup, Mawale mendistribusikan kekuasaan bukan pada sebuah komite elit struktural yang berada di bagian paling puncak seperti dalam skema organisasi tradisional. Sebaliknya kekuatan Mawale terletak pada kemampuan personal setiap partisannya untuk melakukan imitasi, adaptasi, inisiasi dan eksekusi dari projek-projek yang berkaitan dengan keseluruhan grup. Ia menggantungkan diri pada dialektika individual untuk menginspirasi individu lain, sekaligus menjadi landasan oto-kritik kelompok.

Momen pertemuan bulanan Mawale adalah salah satu bentuk paling konkrit dari aplikasi intelegensia swarm.

Menentang tradisionalisme dalam gerakan dan sejak awal mengakui dirinya sebagai gerakan kontemporer, Mawale mendesain bangunan kolektifnya dengan membangun sebanyak mungkin pilar-pilar penopang yang terhubung dan terpisah sesuai kebutuhan. Di saat yang bersamaan, ia mendesak para partisan di dalamnya untuk membiasakan diri bergerakan secara individual dan kolektif secara serentak.

Pola komunikasi di dalam Mawale sebenarnya lebih merupakan adaptasi dari pola komunikasi masyarakat rural yang menjadi penopang kehidupan urban di Manado. Secara simultan, setiap individu mendesain diri sebagai terminal komunikasi. Sensitifitas individual untuk bereaksi terhadap segala sesuatu yang mungkin berpengaruh terhadap kelompok, juga menjadi bagian penting untuk diasah yang mana menegasikan tradisi berpikir secara homogen menjadi poin yang sangat penting. Inilah yang kemudian membedakan pola operasi Mawale dengan gerak organisasional seperti yang mudah ditemukan dalam format organisasi-organisasi konvensional.

Dalam pengambilan keputusan, sejak awal Mawale telah menegasikan kehadiran oposisi mayoritas dan minoritas. Sebaliknya ia mendasarkan diri pada komitmen antar personal dalam projek-projek yang dikerjakan oleh unit-unit yang lebih kecil. Keterlibatan dalam level menyeluruh hanya dapat dilakukan jika individu-individu di dalam grup ini melihat bahwa ia secara subjektif mendapatkan keuntungan dan merasakan pengaruh dari aktifitas tersebut. Ketidaksetujuan difasilitasi sebagai sikap personal sebagaimana projek yang mesti diinisiasikan terlebih dahulu pada level paling atom di Mawale, yaitu individu.

Yang dilakukan Mawale selama sepuluh tahun dalam mengeksekusi hal-hal yang berkaitan dengan keberlangsungan dirinya sebagai gerakan, di kemudian hari dikenal sebagai direct democracy atau demokrasi langsung. Istilah ini dipopulerkan oleh gerakan Occupy yang digagas di depan Wall Street, pada September 2011. Perbedaan mendasar mungkin hanyalah soal jumlah. Jika demokrasi langsung pada gerakan Occupy diujicobakan pada kuantitas massa yang sangat besar, Mawale menggunakan hal ini untuk mendukung efektifitas projek-projek aktual kelompok dengan jumlah massa yang jauh lebih kecil.

 

Masa Depan Mawale

Untuk sebuah kolektif horizontal, yang mendedikasikan dirinya untuk gerakan kebudayaan, bertahan selama sepuluh tahun bukanlah hal yang mudah. Tapi bukan berarti bahwa itu juga adalah hal yang luar biasa. Sebaliknya momen satu dekade sebagai kelompok gerakan, mestilah dijadikan momentum untuk melakukan oto-kritik dan upaya-upaya untuk memeriksa kembali apa yang telah dilakukan di masa lalu.

Ada satu hal yang penting untuk direspon secara kolektif bagi Mawale. Hal ini mesti dipandang sebagai cara untuk menjaga agar sebagai kelompok kerja, Mawale tetap menyandarkan dirinya pada basis nilai yang menjadi titik berangkatnya.
Salah satu yang tampak sebagai masalah adalah persoalan lemahnya dokumentasi dalam bentuk analisis tekstual yang diproduksi. Sebagai kolektif yang menginisiasikan sebuah gerakan, kekurangan ini jelas menjadi mendasar. Mengingat bahwa aktifitas Mawale adalah projek-projek untuk mentransmisikan nilai ke dalam lapisan sosial masyarakat yang jauh lebih besar. Produksi pemikiran dalam bentuk naskah dengan kontinyuitas kualitas dan stamina yang terjaga, masih dapat dikatakan minim.

Menyediakan teks bagi Mawale mesti dipandang sebagai bentuk komunikasi bidireksional dengan kelompok sosial lain. Kerangkanya bukan untuk melakukan propaganda tekstual, melainkan sebagai bentuk kontributif dalam ruang-ruang komunikasi yang terbuka. Dalam format ini, Mawale membuka ruang diskursus bagi penyatuan praktek dan bahasa yang sedang diadvokasikan. Menjadikan diri komunikatif hanya bisa ditempuh Mawale jika partisan-partisannya memproduksi nilai-nilai kelompok ke dalam format yang memungkinkan adalah respon balik dari kelompok target.

Fungsi lain dari hal di atas adalah sebagai upaya provokatif untuk mendorong kritisime eksternal yang penting sebagai bahan oto-kritik bagi Mawale dalam kapasitasnya sebagai gerakan. Dengan membuka ruang bagi penilaian publik, maka kemungkinan untuk melakukan transaksi dan transmisi nilai Mawale semakin luas terbuka. Di sini lain, hal tersebut dapat mendorong terbukanya prospek untuk melakukan kolaborasi dengan kelompok sosial lain dalam batas-batas yang telah menjadi landasan Mawale selama sepuluh tahun terakhir.

Adalah upaya yang agak sulit untuk melacak dan mengukur kerja-kerja kebudayaan yang telah dilakukan Mawale ketika perangkat penting seperti jurnal atau majalah absen. Setelah projek Jurnal Sastra Manado di tahun 2008, situs sastramanado.org pada tahun 2009 hingga kemudian hadirnya majalah Waleta pada tahun 2010, praktis secara ideal harus diakui bahwa Mawale kehilangan medium utama penyampai pesan. Apalagi hal ini menimpa ketika batas-batas dunia secara material semakin terpinggirkan oleh dunia imaginer yang dikonstruksikan melalui perangkat cybernetika.

Meski memang tidak dapat diingkari bahwa secara individual, partisan-partisan Mawale telah berupaya memaksimalkan media komunikatif lain. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan projek seperti jurnal atau majalah masih memiliki signifikansi yang agak sulit untuk disubtitusi dengan format yang lain. Hingga kemudian menjadi kebutuhan yang penting untuk diperiksa kembali level urgensinya untuk kemudian direalisasikan sebagai penanda dekade baru yang akan segera menyongsong.

Sebagai grup, kita bisa sedikit berbangga karena pada kenyataannya Mawale telah melangkah mendahului zaman dalam gagasan dan praktik. Namun perjalanan pulang ini belum selesai dan Mawale tak boleh memungkiri tugas tersebut, apalagi sampai mengacuhkannya. Inilah yang kemudian akan menjadi batas pertaruhan dan pertarungan baru bagi individu-individu yang telah mendedikasikan energi, waktu dan uang selama satu dekade yang lewat.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Tapi tantangan yang sesungguhnya justru baru akan dimulai.

Andre Barahamin