Tentang Hipster dan Pemilu

Mengapa Hipster Pasti Memilih dan Alasan-alasan Logisnya

(Tanggapan untuk M. Fajri Siregar)

Saya tak sengaja menemukan tulisan dari M. Fajri Siregar di jakartabeat.net. Sebuah kecelakaan karena keisengan kronis personal yang sedang berada di tahap menuju mabuk sembari memandangi laptop dengan koneksi internet dan memasukkan berbagai kata kunci yang dianggap tidak memiliki hubungan. Tulisan yang awalnya dipikir dapat menawarkan sesuatu yang baru, yang beda, seperti gelora hipsteria saya yang sedang membara. Sayang, untung tak dapat diraih dan malang adalah sebuah kota di bagian timur pulau Jawa. Tulisan itu justru lebih hipster dari dugaan prematur saya ketika membaca judulnya.

Ada beberapa poin yang gagal dilihat oleh editor Primitif Zine ini -hal ini mesti saya sebut, karena demikianlah yang terpampang dalam kotak profil di bagian bawah tulisan tersebut. Soalnya, jangan sampai ternyata ada dua orang yang bernama M. Fajri Siregar sehingga membuat tulisan ini nanti malah salah sasaran. Sebabnya, akan kemudian dijabarkan sekaligus menjadi alasan utama dari tanggapan berikut ini.

Sebagai permulaan, penting untuk dipahami bahwa di Indonesia, menjadi ahistoris adalah bagian integral yang tidak terpisahkan dari kultur generasi mudanya. Lahir dan bertumbuh di sebuah negara di mana konsep nation-state-nya amburadul, generasi muda hari ini –secara khusus yang berumur di bawah 30 tahun– dididik dan mendidik diri untuk mengusung fanatisme yang merupakan gabungan dari kolase tak sempurna dari berbagai nilai-nilai dominan yang eksis secara bersamaan dan antagonistik satu dengan yang lain. Mereka ini adalah sebuah generasi yang berhasil menemukan formula super unik yang merupakan campuran aneh di mana dua atau lebih kutub yang bertentangan berhasil didamaikan. Semisal, bagaimana melihat semangat nasionalisme, seksisme, rasisme dan fanatisme yang tumbuh berdampingan dengan imaji-imaji pemberontakan –yang beberapa bahkan dengan spirit nihilismenya– di tengah-tengah skena-skena underground yang terdapat di Indonesia.

Hanya para hipster yang mampu menemukan titik balansi yang sempurna antara yang alternatif dan mainstream, antara penolakan dan penerimaan, antara rekuperasi dan revolusi. Amin… (pakai tiga titik biar kelihatan bahwa “amin” diucapkan dengan serius dan memiliki penekanan).

Cacat bawaan yang justru dianggap sebagai karakter khas bagaimana generasi muda di Indonesia menanggapi fenomena dan tragedi sosial budaya yang datang dari luar, untuk kemudian diadopsi, diadaptasi dan berasimilasi dengan sempurna dalam ketidakberesan tersebut. Inilah kemudian sebab mengapa ahistorisme yang ada di kalangan hipster adalah sejarah itu sendiri. Ada begitu banyak hal yang dapat dijadikan contoh. Termasuk tentu di dalamnya adalah bagaimana menginterpretasikan semangat hipsteria dan pendekatan yang digunakan untuk memahami para hipster itu sendiri.

Membaptis para hipster sebagai generasi apolitis yang kebingungan dengan kekacauan politik di Indonesia, sungguh merupakan penghargaan yang berlebihan. Sebaliknya, para hipster adalah generasi melek budaya dan teknologi yang tidak gagap menghadapi perubahan dalam kecepatan menakutkan yang ditawarkan peradaban hari ini. Adalah sesuatu yang hampir mustahil dalam pandangan subjektif saya jika seseorang dapat menjadi hipster tanpa prasyarat yang sudah saya sebutkan sebelumnya di atas. Kelompok ini lahir akibat depresi sekaligus festival atas kehidupan urban serta pemerkosaan terhadap nilai-nilai komunal yang secara ironis diajarkan dengan penuh kepalsuan. Para hipster adalah generasi yang paling sensitif hari ini ketika mesti menyikapi fluktuasi dan tegangan-tegangan imitatif yang diakibatkan oleh pola konsumerisme terhadap produk-produk imaterial sejenis tren, termasuk di dalamnya politik itu sendiri.

Sebagai sebuah gelombang kultur, hipster bukan lagi sebuah gejala psiko-kultural melainkan perilaku sistematik dengan nilai-nilai permanen yang temporaritasnya bergantung pada dinamika relasi sosial yang konsumtif tersebut. Hipster secara kasar dapat diasosiasikan sebagai kelompok budaya tertentu yang ikut mempengaruhi geliat progres dan regress dalam sebuah komunitas, terutama di kehidupan urban yang mana merupakan ladang subur bagi tumbuh kembangnya. Lokasi kehidupan urban sebagai asal muasal kelahiran warga-warga hipster tentu bukan tanpa alasan, melainkan memiliki dukungan historis yang lebih dari cukup. Di mana dukungan teknologi, dialektika kebudayaan, ketersediaan produk konsumsi yang cukup serta konstruksi struktur pendukung lain termasuk di dalamnya ideologi, merupakan doping yang dapat mempercepat atau memperlambat lompatan demi lompatan ataupun mutasi-mutasi yang dibutuhkan para hipster tersebut. Akibat langsung dari hal-hal tersebut adalah bagaimana para hipster mengusung utopi perubahan dalam terminologi mereka sendiri. Perubahan yang memiliki nilai konstruktif tidak hanya bagi kalangan hipster itu sendiri, tetapi juga bagi kelompok besar (masyarakat) di mana para hispter terus menerus mendiasosiasikan dirinya.

Di dalam perebutan ruang-ruang kuasa politik, para hipster adalah generasi paling politis jika dibandingkan dengan arus mayoritas konservatif yang tidak memiliki dialektika secara kualitatif dalam analisis semangat hipsteria.

Hal ini dapat dilacak dari kecenderungan para hipster untuk mengedepankan apa yang mereka anggap sebagai alternatif. Semisal pilihan untuk tidak memilih. Sebuah trik untuk memberikan ancaman parsial serupa anjing penjaga rumah yang menggonggong para pejalan kaki dari balik pagar yang menjulang tinggi. Para hipster secara politis memang tidak memiliki agenda untuk melakukan transformasi secara esensial, sebab hal tersebut dapat mengancam stabilitas elemen-elemen yang memastikan keberlanjutan hidup dari gelombang tren.

Sikap politis hipster secara mendasar memang memiliki karakter yang sama dengan mayoritas yang ditentangnya, yaitu dengan memindah-mindahkan potongan-potongan puzzle ke titik-titik yang tidak direstui. Ini adalah pembangkangan imajiner yang sejalan dengan semangat sekaligus ideologi seorang hipster. Jika tidak ada tren budaya mayor, maka tidak terbuka kemungkinan untuk menjadi minor. Sederhananya, jika tidak ada yang ditentang maka penentangan akan menjadi tidak berarti sama sekali. Itu mengapa di dalam konteks politik, para hipster akan ikut terlibat langsung memastikan bahwa yang terjadi adalah pergeseran pion-pion kekuasaan dan bukan keruntuhan otoritas.

Menyimpulkan bahwa para hipster tidak memiliki kesadaran kelas, juga merupakan pelecehan terhadap proyek radikal yang tengah berlangsung. Sebaliknya, semangat hipsteria adalah semangat kelas itu sendiri. Semangat untuk mempertahankan komposisi kelas tetap berada di jalur yang ditetapkan. Memastikan bahwa pertukaran komoditi imajiner dan riil tetap berlangsung dan seiring waktu mengalami radikalisasi secara lebih meluas dan mendalam. Itu mengapa, semangat hipsteria juga mengedepankan pemahaman yang mendalam dan tidak parsial. Hal ini dapat dilihat jelas dengan bagaimana, meniadakan definisi dari sebuah tren budaya bagi para hipster adalah jalan pembuka bagi lahirnya tren tandingan.

Dalam kemeriahan dan ketidaksabaran menanti perhelatan pemilu, opini kaum hipster justru terasa sangat dominan di media. Arus mayoritas konservatif yang cenderung berkarakter pasif dengan hanya mengandalkan kepemilikan kuasa terhadap infrastruktur sosial terlihat jelas dikalahkan oleh semangat hipsteria dalam perebutan celah-celah pembentukan opini sosial. Tawaran-tawaran yang diajukan dengan pertimbangan-pertimbangan logis oleh kalangan hipster justru hari ini menjadi wacana yang menggelinding bak bola salju. Fenomena golput misalnya. Bukankah itu merupakan poin kampanye dari kalangan hipster yang mengaku muak dengan seluruh ketidakberesan yang diakibatkan oleh ketidabecusan mayoritas? Sehingga tawaran eskapis seperti golput terasa menjadi aksi politik paling rasional hari ini?

Kaget dengan pernyataan saya bahwa golput adalah agenda politik dari kalangan hipster?

Tentu saja wajar di tengah absennya pembacaan yang menyeluruh untuk melihat bahwa tren eskapistik merupakan karakter utama pembentukan hipsteria massa. Bahwa perubahan politik akan terjadi ketika sebagian besar orang yang memiliki hak politik memilih untuk menanggalkan dan mengacuhkan perhelatan pemilu. Perubahan yang dimaksud adalah bergesernya tren komposisi kuasa politik namun tidak mengubah esensi relasi kuasa itu sendiri. Dengan melarikan diri sembari menganggap diri tidak menanggung ekses dari iven-iven politik, para hipster menawarkan sebuah level baru di dalam pemahaman mengenai kelemahan tren kultural dominan sehingga tawaran-tawaran alternatif akan mendapatkan panggung politik yang sesungguhnya. Siapapun partai pemenang pemilu nanti, ia akan terasa hambar ketika tidak berhasil merangkum agenda-agenda politik yang ditawarkan secara radikal oleh para hipster. Siapapun yang menjadi presiden kelak, ia hanya akan menjadi lelucon politik di media sosial selama lima tahun, jika ia tidak memasukkan agenda-agenda yang dibasiskan pada semangat hipsteria.

Namun penting untuk digarisbawahi bahwa hipster bukan agen pembentuk selera. Sebaliknya mereka adalah selera itu sendiri. Para hipster tidak mengabdi kepada siapapun selain kepada dirinya sendiri. Sehingga menganggap bahwa kesan-kesan ideologis para hipster semata-mata merupakan frustasi psikologis banal merupakan bukti dari kedangkalan analisis dari mereka yang mengaku bukan hipster. Kesetiaan para hipster adalah pada eskapisme yang merupakan arus ideologi dan dijewantahkan dalam bentuk pilihan-pilihan politik dan apolitik.

Konflik-konflik yang terjadi dan mengesankan bahwa kelompok hipster adalah elit, juga merupakan ketergesa-gesaan yang justru makin mengaburkan esensi dari sebab mengapa muncul reaksi seperti benturan-benturan tersebut. Setiap persetujuan dan ketidaksetujuan merupakan harus dilihat sebagai bagian dari transaksi kultural yang disebabkan oleh aksi sejenis dari kelompok yang ditentang para hipster. Ini adalah perang moralitas dalam rangka menentukan siapa nanti yang akan menjadi unsur pembentuk dari arus budaya mayor dan minor, seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Kesalahan fokus ini disebabkan oleh ketidakmampuan memahami apa itu semangat hipsteria dan siapa para hipster itu sendiri. Para hipster bukanlah konsumen, melainkan produk itu sendiri. Hipster memiliki revolusi dalam pengertiannya sebagai tren pergeseran atas relasi-relasi kuasa sembari bermain-main dengan hal tersebut. Mendandani revolusi sehingga terlihat unik, mengkilap, berbeda dan khas untuk membedakannya dengan selera dan interpretasi atas politik dari kelompok sosial lain. Hipsteria adalah semangat untuk up to date dan menolak terjebak dalam cengkraman tren. Ia merupakan kreator sekaligus vanguard dari penemuan-penemuan bentuk-bentuk kultural baru yang memiliki esensi yang sama dengan apa yang pernah hadir di masa lalu. Hipsteria menawarkan kebaruan format dengan muatan yang telah dipahami sejak dahulu sehingga tidak melahirkan kebingungan dalam persoalan interpretasi.

Di pemilu April nanti, saya sangat yakin bahwa secara kuantitas para hipster masih akan tetap menjadi garda terdepan dari perubahan. Para hipster akan sangat menentukan siapa anggota legislatif yang nanti akan duduk berkuasa dengan susunan yang tentu berbeda dengan pemilu 2009 lalu. Akan ada presiden baru yang lahir dari kebingungan-kebingungan yang disebarluaskan oleh para hipster. Lalu peningkatan jumlah orang yang golput sebagai uji kualitas seberapa jauh para hipster dapat mengintervensi agenda-agenda kultural di mana mereka adalah oposisi terhadapnya. Dan ketika semua riuh ini mereda, para hipster akan kembali unjuk gigi untuk melanjutkan intervensi tahap berikutnya: menjadikan semua orang sebagai hipster yang radikal.

Wassalam.

Andre Barahamin