Punk: Tentang Skate Punk

Punk di Indonesia, mayoritas-nya memiliki tabiat aneh yang sering tak bisa saya pahami. Yaitu kebiasaan untuk menciptakan lelucon yang sama sekali tidak lucu.

Gurau-gurau yang tidak memiliki esensi atau dapat dikatakan, tidak berarti sedikitpun. Tidak cukup dengan mengencingi sejarah pemberontakan artistik yang pernah menjadi nafas punk itu sendiri, mayoritas domba-domba menyedihkan bernama punker di Indonesia adalah mereka yang memiliki selera humor rendah dan imbesil. Itu dilengkapi dengan keyakinan-keyakinan oksimoron yang dibangun di atas propaganda media (televisi, jurnal-jurnal apatis, majalah hingga zine-zine idiot) yang makin melengkapi ketidakberdayaan mereka sebagai konsumen dan produk dalam saat yang bersamaan.

Singkat kata, upaya-upaya laboratoris punk di Indonesia tampil paling nyata dalam bentuk kegemarannya dalam menghubung-hubungkan hal-hal yang antagonistik. Dan keberhasilannya adalah ekstraksi yang kini mendominasi skena-skena underground di Indonesia.

Punk sebagai musik tentu telah diketahui banyak orang, bahwa ia lahir ketika kemapanan industri rock ‘n roll membuat semua orang memiliki selera yang homogen dan musik punk mengambil posisi sebagai the outcast. Musik punk datang dan menebas pembatas antara panggung dan ruang tonton. Menihilkan jarak antara pementas dan penonton. Mematahkan mitologi kerumitan skill ala rock ‘n roll dengan musik sederhana yang lebih menekankan emosi dan kekuatan lirik. Ketika rock ‘n roll merupakan anak baptis industri, punk adalah anak haram yang enggan dipungut untuk diadopsi. Saat pakem musik rock ‘n roll meliuk-liuk bak penari balet, musik punk hadir layaknya seorang pemabuk yang berdansa di lantai bar dengan ketidakberaturan.

Tapi itu dahulu. Sebelum punk itu sendiri menjadi pakem dan menemukan zona nyaman permanen. Sebagai contoh, adalah terminologi populer yang super duper aneh berikut ini: skate-punk.

Skate-punk muncul entah dari sudut mana dan dengan magis menyebar seperti wabah Justin Bieber. Posisinya semakin menguat dengan ditasbihkannya skate-punk sebagai sebuah varian musik punk. Sebagai produk ahistoris, tentu saja para pengusung skate-punk juga merupakan sekumpulan individu-individu dungu yang tak mengerti apa yang telah, sedang dan akan mereka lakukan. Kalian bisa menanyakan kepada siapapun yang mengaku sebagai skate-punker, mengenai definisi dari hal tersebut. Yang akan kalian temukan adalah jawaban-jawaban yang berputar di dalam labirin ketidaktahuan dipadu-padankan dengan argumentasi-argumentasi banal dan tentu saja super konyol.

Silahkan menguji pendapat saya. Semisal dengan menemui Rosemary, band skate-punk yang sempat bermain di acara kepolisian di Bandung sebagai perwakilan dari komunitas punk baik-baik, manis dan soleh.

Ketiadaan akar -yang juga berarti ketiadaan esensi, akan membuat naluri defensif seseorang berakumulasi dalam jumlah yang sering di luar prediksi. Penyangkalan, pengingkaran, pembenaran-pembenaran, hingga seribu satu alasan akan disodorkan untuk menjauhkan mereka yang datang bertanya dari substansi sebuah jawaban. Pembelaan-pembelaan oksimoron akan muncul karena sebenarnya mereka juga tak sedikitpun memiliki kesadaran mengenai apa arti dan konsekuensi dari sedang mereka lakukan. Yang mereka lakukan hanyalah mencopot segala sesuatu yang spektakuler dan mencoba teknik mix and match tanpa pernah menyadari bahwa itu justru menunjukan betapa norak-nya mereka. Level kedunguan skate-punker mungkin hanya bisa disamai oleh FPI dan FBR.

Perpaduan skate-punk adalah upaya gimnastik untuk menyandingkan olahraga dengan punk. Namun agar ia tidak terlihat menjijikan, mereka berupaya menyelubungi tema ini dengan imaji-imaji pemberontakan yang dimirip-miripkan dengan utopia perlawanan punk yang hampir punah. Sebagai musik, ia sebenarnya terdengar ear cathcing. Namun jika musik pop ala industri semata diperdagangkan sebagai produk, skate-punk justru terdengar imitatif karena berupaya menempatkan dirinya sebagai the outsider. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena semenjak awal ia adalah bagian dari tren industri itu sendiri.

Skateboarding sejak awal sejarah kelahirannya merupakan produk tren urban yang muncul sebagai bentuk alat bantu untuk melarikan diri bagi anak-anak muda perkotaan dari kemonotonan hidup. Hidup yang datar dan biasa-biasa saja yang diperparah dengan kondisi desain tempat tinggal mereka yang statik dan isolatif. Sebagai tren ekskapistik, skating menawarkan kebebasan-kebebasan temporer dengan menjadikan uji adrenalin di luar batas toleransi masyarakat pada umumnya sebagai proses mencapai ekstase. Skateboarding mengalienasi dan mengajarkan para penunggangnya untuk melarikan diri dari konfrontasi dan mengambil jalan populer lain. Ia adalah obat penenang yang bekerja dengan batas waktu tertentu agar mereka yang merasa muak dapat menyalurkan hasrat-nya ke arah yang lebih positif.

Tidak ada satupun aspek ilegal dan berbahaya dari skateboarding. Tak ada!

Itu mengapa sejak awal, skateboarding memiliki elemen pendukung yang lengkap. Skate adalah tren popular yang berada di gelombang resmi okupasi industri terhadap semua yang berbau kontra kultur yang dikreasikan masyarakat underground. Ketika musik punk terkadang tidak bisa dinegosiasikan, menyandingkannya dengan skateboarding membuatnya jauh lebih mudah diperkosa. Itulah skate-punk dalam makna-nya yang sejati. Jembatan antara rekuperasi dengan transformasi menuju produk siap jual di pasaran.

Kalian bisa menyelidiki lirik-lirik lagu skate-punk yang bagi saya secara pribadi lebih terdengar seperti versi cepat dari lagu-lagu religius. Penuh pesan moral dan mengutamakan pasifisme yang akan membuat seseorang memaafkan polisi setelah ia menggebuk kepalamu dengan pentungan hingga berdarah. Ketika punk hampir terserap seutuhnya ke dalam skema produksi dengan tujuan mengakumulasi keuntungan, kehadiran skate-punk seperti sebuah ironi yang semestinya dikeranjang sampahkan. Silahkan menilai bahwa ini adalah aksi fasistik yang merepresi kebebasan berekspresi. Tapi penting untuk dipahami bahwa kebebasan di bawah industri tidak lebih dari perbudakan dengan rantai emas.

Juga harus disadari bahwa para skate-punker bukan hipster. Sebab hipster tidak seperti skate-punker yang menjual imaji pemberontakan. Sebaliknya hipster merupakan perayaan atas konsumerisme tingkat akut. Jika skate-punk adalah radikalisme yang selevel dengan kondom rasa durian, maka hipster adalah festival di dalam penjara relasi bernama jual-beli. Meski sama-sama menyedihkan, tapi para hipster menyadari bahwa mereka adalah pion dan membiarkannya seperti itu. Sementara para skate-punk seperti tutup pasta gigi di tepi papan catur. Mereka tidak akan pernah digunakan sampai ada pion yang hilang.

Useless!