Mengingat Papua di Sittwe

Bagian 2

Wen adalah peminum bir tangguh sekaligus paling cerdas yang pernah saya temui di Burma.

Pertemuan dengannya adalah sebuah kejutan. Awalnya, saya mengira akan berjumpa dengan seorang laki-laki. Semua gambaran yang diberikan oleh Khant sewaktu di Yangon dalam otak saya hanya cocok untuk rupa seorang yang memiliki penis. Otak saya memang masih patriarkis. Sehingga alam bawah sadar saya secara sengaja menolak mengimajinasikan bahwa seorang penenggak bir dengan kadar minum di atas rata-rata, pengendara motor yang baik, selera humor yang sempurna serta menguasai soal politik dengan nafas sinisme, bisa saja seorang perempuan.

Hingga akhirnya sore kemarin saya berjumpa dengannya. Perempuan dengan rambut sebahu yang dikuncir ala kadarnya. Senyumnya lebar dan seketika membuatmu merasa bertemu kawan lama. Ia adalah salah satu yang terlibat aktif pada Revolusi Saffron 2007.

“Aku masih duduk di semester 3 saat itu”.

Wen kemudian menceritakan panjang lebar bagaimana peristiwa pemogokan sipil selama tiga bulan tersebut mengubah hidupnya. Dari seorang perempuan kampung yang datang kuliah dengan tujuan mendapatkan pekerjaan di institusi pemerintah, menjadi seorang aktivis sayap kiri yang kini menghabiskan waktunya dengan petani-petani miskin.

“Bapakku mungkin masih marah hingga kini. Bagaimana tidak? Ia banting tulang agar anak perempuannya mendapatkan pekerjaan yang layak. Tapi lihat ujungnya. Aku malah jadi seorang pembenci ketidakadilan. Padahal, sebagai anak yang datang dari keluarga miskin, soal-soal seperti revolusi, penindasan, kesetaraan jender, dan lain sejenisnya, adalah hal-hal terakhir yang akan dipedulikan setelah perut terisi dan sedikit cadangan uang di dompet. Segalanya makin rumit karena selain perempuan, aku adalah anak pertama dalam keluarga. Beban ganda tersebut seharusnya lebih dari cukup untuk menjadi alasan bagiku menjaga jarak dengan politik.”

Saya meringis kecil. Sebabnya, latar belakang kami tak jauh berbeda. Menghabiskan waktu bersekolah dengan tujuan akhir menjadi pegawai negeri adalah dambaan orang tua yang bekerja serabutan sebagai nelayan, tukang kayu dan bangunan serta petani. Ayah saya dahulu berharap bahwa ia bisa melihat saya bangun pagi, sarapan lalu mengenakan seragam dan pergi bertugas di kantor kecamatan. Tapi semuanya berubah ketika saya mulai mengenal politik sewaktu duduk di bangku kuliah. Politik juga pada akhirnya yang membuat jalan hidup saya berbelok sepenuhnya dan meninggalkan semua harapan orang tua.

“Tapi, setidaknya kau masih lebih baik. Orang tuamu sedikit banyak bisa menerima. Tidak sefeodal orang tuaku. Di negaramu, protes setidaknya masih diberikan ruang. Di sini, tidak ada kemewahan demokrasi semacam itu,” nada bicara Wen terdengar sinis. Botol bir di tangannya sudah kosong. Saya melambaikan tangan. Seorang pelayan datang mendekat.

“Dua lagi. OK?”

Wen tersenyum mendengar saya memesan bir kembali.

“Kau ingin membuatku mabuk?”

Saya tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja tidak. Jika tidak kuat lagi minum, tidak usah minum. Tapi saya, jelas masih mau minum.” Kretek dinyalakan dan tidak lama kemudian, dua botol ukuran sedang sudah berada di atas meja.

“Rokok yang kau hisap. Baunya aneh. Seperti ganja.”

“Ini bukan ganja. Ini kretek. Asli Indonesia. Bau yang kau bilang aneh itu berasal dari cengkeh. Ini bahan utama yang membedakan rokok Indonesia dengan rokok kreasi Eropa. Rokok di sini, dibuat dengan resep ala Eropa. Tanpa cengkeh.”

Wen tak menanggapi. Ia hanya diam dan memegang botol bir.

“Alasan Eropa menyeberangi lautan ratusan tahun lampau adalah rempah-rempah. Cengkeh salah satunya. Di kampung, kami menyebutnya emas coklat. Ini adalah sebab mengapa kita dijajah. Para merkantilis datang untuk berdagang, lalu memonopoli dan akhirnya menjadikan leluhur kita budak.”

“Tapi setidaknya, setelah merdeka, kalian punya demokrasi. Kami? Kami punya senjata!” Nada suaranya meninggi, meski tidak sampai berteriak.

“Benar. Kami punya demokrasi. Dengan kualitas yang buruk sekali. Presiden kami adalah seorang delusional yang membayangkan dirinya sebagai Justin Bieber. Seorang pensiunan jendral yang kini hampir sepuluh tahun berkuasa. Dan apa prestasi terbaiknya? Meluncurkan album lagu! Benar-benar gila. Ya. Kami memang punya demokrasi. Setelah lebih dari tiga dekade hidup di bawah junta militer. Dan demokrasi itu kini sedang menderita penyakit setelah satu-satunya presiden paling waras yang pernah kami punya dikudeta oleh parlemen.” Saya menenggak kembali bir yang tinggal setengah isinya. Hingga tandas.

“Tapi setidaknya, kalian masih punya pemilu. Di Myanmar, tidak ada pemilu. Kau tidak memiliki hak untuk menentukan siapa yang berkuasa. Sebagai warga negara, tugasmu hanyalah menerima siapapun yang ditunjuk. Tidak boleh ada protes. Dan di sini, di Rakhine State, kondisinya jauh lebih buruk. Demokrasi dapat diibaratkan seperti surga. Banyak orang membicarakannya, tapi tak pernah ada satupun yang pernah mengalaminya.” Tawa Wen pecah sesudahnya. Meski, tidak ada hal yang lucu.

Saya kembali menyalakan kretek. Lalu meletakkan bungkus dan korek di atas meja. Wen terus menatap saat kretek terbakar dan baunya melayang ke sekitar.

“Kalau ingin coba, silahkan. Tidak ada salahnya. Kalau tidak cocok, jangan diteruskan.” Saya menggeser bungkus kretek sedikit lebih dekat ke arah Wen.

“Nanti saja. Pasti aku akan coba.”

Kami lalu membisu. Seperti kehabisan topik pembicaraan. Mungkin karena kami lelah dengan situasi di negeri masing-masing. Saya bisa memahami frustasi yang terasa di setiap nada bicara Wen ketika mendiskusikan soal Rakhine. Dua hari berada di sini, saya bisa merasakan bahwa Sittwe tidaklah seideal bayangan awal. Bahwa kota ini pernah menjadi pusat gerakan politik, itu kini tinggal fakta sejarah. Sulit menemukan warisan periode yang kini dicatat dalam tikungan sejarah politik Burma. Tapi kondisi tak jauh berubah. Keberagaman etnis terasa seperti bom waktu yang kapan saja siap meledak.

Orang-orang Bamar sebagai etnis mayoritas, tentu saja ingin mempertahankan status quo. Orang-orang Arakan, yang sadar bahwa mereka adalah minoritas di kancah politik dan ekonomi nasional, setidaknya ingin mengamankan posisi mereka di Rakhine State. Secara historis, sebagian besar wilayah negara bagian ini dahulu merupakan bagian dari Kerajaan Arakan. Dan orang-orang Rohang di bagian barat laut, adalah kelompok paling minor, rentan dan sering menjadi sasaran pukul dari banyak kelompok.

“Dilematis. Tidak mudah berbicara soal Rohingya. Latar belakang sebagai orang Arakan tentu saja mempengaruhi penilaianku. Ada bias yang tidak mungkin disangkal. Dan persoalan ini terlalu pelik. Campur aduk antara kepentingan subjektif para elit dan keinginan militer untuk memonopoli sumber-sumber bisnis ekstraksi di wilayah tersebut.”

Saya tidak merespon soal itu. Karena setidaknya, apa yang sedang terjadi di Rakhine dalam beberapa hal mengingatkan saya dengan Papua.

“Belum lagi jika kita menyebut soal kelompok-kelompok gerilya bersenjata. Aku tidak punya soal tentang taktik yang mereka pilih. Tapi tak jarang, aksi-aksi mereka membuatku sangat marah. Sebab, masyarakat sipil yang menjadi korban. Setiap kali ada serangan terhadap pos Tatmadaw, pasti desa-desa sekitar yang jadi sasaran. Kau tentu tahu bagaimana tololnya militer. Mereka tidak punya otak. Baik tentara rendahan maupun para jendralnya. Semuanya seperti kecoa yang kalap. Tidak punya target, sehingga semua yang tampak di hadapannya akan terlihat sebagai musuh.”

Perempuan ini menarik nafas.

“Kau tentu pernah dengar RNA. Minggu lalu, mereka kembali melancarkan serangan. Tidak ada korban tewas memang. Tapi letupan satu peluru sudah cukup menjadi alasan bagi Tatmadaw untuk menyerang pemukiman-pemukiman Rohingya.”

“Mungkinkah konflik ini sengaja dipelihara? Maksudku begini. Belajar dari pengalaman di Papua. Terkadang, sebuah serangan yang terjadi adalah manipulasi untuk memecah situasi damai. Dalam bisnis militer, situasi damai justru mengganggu bisnis. Kau pernah dengar Freeport?”

Wen menggelengkan kepala.

“Freeport adalah tambang emas terbesar di Indonesia. Letaknya di bagian tengah selatan, pulau Papua. Tunggu sebentar,” saya lalu mengeluarkan handphone. Membuka Google Map dan menunjukkan kepada perempuan ini letak Freeport.

“OK. Lalu?”

“Nah, untuk kasus Freeport, ketika situasi sedang kondusif, tiba-tiba saja ada serangan bersenjata. Biasanya menyasar warga asing. Tak jarang, ada korban tewas. Dengan demikian, maka pihak Freeport tentu akan mengeluarkan sejumlah uang. Dana keamanan istilahnya. Atau, menggandakan jumlah uang keamanan yang biasanya¬†disetor kepada Polisi atau Angkatan Darat. Uang diterima, kasuspun selesai. Semua pihak bahagia. Perusahaan merasa aktivitasnya dilindungi, militer dan polisi mendapatkan uang setoran, pemerintah tenang karena kondisi kembali kondusif.”

“Dan kalian punya bukti soal itu?”

Saya menggeleng. “Bukti fisik tidak punya. Anggap saja ini seperti rahasia publik. Semua orang tahu bagaimana bisnis kotor ini berjalan. Itu mengapa Papua menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang memiliki tingkat konsentrasi militer dan polisi paling tinggi. Meski tidak secara verbal diucapkan, tapi mereka yang waras dapat melihat bahwa Papua adalah daerah operasi militer. Pos tentara dan pos polisi ada dimana-mana.”

“Persis seperti di sini. Rakhine adalah salah satu dari beberapa negara bagian yang menjadi konsentrasi militer. Hal ini terkait erat dengan upaya perjuangan untuk menuntut otonomi penuh,”

“Jadi, kalian sebenarnya bukan menuntut untuk merdeka?”

Wen tertawa. “Tentu saja tidak. Tuntutannya adalah otonomi penuh. Special Autonomous Region. Seperti Hong Kong, misalnya. Sebab, ketika kami merdeka dari Inggris, itu adalah kesepakatannya. Federasi bangsa-bangsa. Bangsa Arakan setara dengan bangsa Bamar atau bangsa Kachin. Walaupun secara kuantitas, kami jauh lebih sedikit. Masing-masing bangsa berhak mengatur dirinya. Meski kami terikat sebagai Burma.”

“Jelaskan lebih detil lagi,” saya kemudian membuka lagi satu botol bir.

“Burma itu adalah terma politik yang digunakan di masa perjuangan pembebasan melawan kolonial Inggris. Para pendiri negeri ini datang dari latar belakang bangsa yang berbeda-beda, namun menggunakan Burma sebagai identitas politik untuk menyatukan gerakan. Hanya sebatas itu saja. Identitas politik ini adalah hasil kreasi ketika para pejuang kemerdekaan Burma di masa tersebut¬†berhasil mengidentifikasikan entitas yang disebut sebagai musuh bersama. Namun, identitas politik ini tidak menegasikan identitas kultural kami yang berumur jauh lebih lama dan telah membentuk struktur sosial masyarakat kami selama berabad-abad. Identitas politik adalah alat perjuangan menuju pembebasan dari cengkraman kolonialisme.”

Perempuan itu menatap kedua mata saya. Ini mungkin caranya mengambil jeda sekaligus menyiratkan pertanyaan apakah saya mengerti penjelasannya tadi. Saya mengangguk kecil.

“Namun kudeta militer mengubah semuanya. Identitas politik kemudian ditransformasikan sebagai satu-satunya identitas yang berhak mendapatkan ruang hidup. Semua orang dipaksa untuk menjadi ‘orang Burma’. Sesuatu yang mustahil, karena tidak pernah ada yang namanya orang Burma. Namun kemustahilan itu kemudian dipermak dan diberi prasyarat dan bentuk. Bamar sebagai etnis mayoritas kemudian dipersonifikasi sebagai gambaran dari apa yang disebut sebagai ‘orang Burma’. Dan bangsa-bangsa lain, kemudian disebut sebagai ‘minoritas’. Penyebutan ini memiliki implikasi serius. Sebagai minoritas, kami dibatasi secara ekonomi, politik dan budaya. Sebab, minoritas adalah persoalan kuantitas. Dan jumlah yang lebih sedikit diharuskan tunduk pada jumlah yang lebih banyak. Lalu, mereka menyebutnya demokrasi. Gila! Sangat gila!”

Bir di tangan saya kini semakin berkurang. Di atas meja, sudah ada delapan botol yang tandas. Wen lalu melambai ke arah pelayan bar.

“Aku minta bir lagi. Kau bagaimana? Masih mau minum?”

“Ya. Masih mau. Pesan saja dua botol.” Usai menjawab, segera saya menandaskan bir yang sedari tadi berada dalam genggaman.

“Kau pernah dengar intelektual bernama Ben Anderson? Ia menulis buku bagus soal nasionalisme dan bangsa-bangsa.”

Wen menggeleng. “Aku tidak pernah mendengar nama itu. Apalagi membaca bukunya. Aku bukan intelektual atau tipe orang yang nyaman berlama-lama di belakang meja. Aku lebih suka terjun di lapangan. Berkeringat karena kerja kasar.” Ia lalu menenggak bir yang baru saja tiba.

“Jangan salah paham dulu.” Saya kembali menyalakan kretek. Kurang dari semenit yang lalu, sebatang yang lain sudah tandas kuhisap.

“Kau seperti kereta api. Merokok tanpa henti. Memang berapa banyak stok rokok yang kau bawa ke sini?”

Saya tersenyum. “Cukup untuk dua minggu di sini. Jika setiap hari saya menghabiskan satu bungkus.”

Ia nampak terkejut. “Kau akan cepat mati. Paru-parumu akan membusuk secara perlahan hingga kemudian kau menjadi sulit bernafas. Kematian yang datang menjemputmu adalah jenis yang bergerak pelan dan begitu menyakitkan.” Tawanya lalu pecah mendadak.

“Tidak apa-apa. Asalkan itu terjadi setelah Papua merdeka.”

Kami lalu tertawa bersama.

“Ceritakan soal Papua. Aku ingin tahu lebih banyak.”

“OK. Tapi sebaiknya kita beranjak dari sini. Aku khawatir kita berdua tidak akan sanggup mengemudikan sepeda motor jika terlalu lama berada di sini.”

Wen tersenyum. “Kita lanjutkan diskusi ini di hotelmu. Dan kau harus mentraktirku bir. Sepakat?”

“OK. Soal itu gampang.” Aku lalu melambaikan tangan lagi. Pelayan perempuan itu datang lagi. Senyumnya makin lebar. Mungkin ia mengira kami akan memesan lagi. “Aku minta tagihannya.”

* * *

Bagian perdana ada di sini.

Andre Barahamin