Kota: Tentang Mesir dan Semua Komentar Bodoh di Sekitarnya

Why people love LIFE a lot and hate DEATH so much? Because DEATH are a painful truth and LIFE is a beautiful lie. –anonymous.

Beberapa hari belakangan, semua orang sibuk membicarakan Mesir. Setiap orang berlomba-lomba memberikan komentar mengenai apa yang sedang terjadi di sana. Masing-masing memberikan argumentasi dengan mengutip berbagai sumber yang dapat mereka akses. Mulai dari TV, wired news, hingga koran atau majalah. Hari ini, Mesir adalah trending topic.

Namun entah mengapa, saya justru tak tertarik soal ini. Lagipula, sejak awal saya memang tak menaruh perhatian khusus atau mengikuti perkembangan kabar tentang yang terjadi Mesir. Semua informasi yang saya dapatkan biasa berupa penggalan-penggalan yang kemudian tampak menyerupai puzzle dan kemudian berupaya dirangkai sendiri. Diinterpretasi menurut takar saya sendiri. Bagi saya, apapun yang terjadi di Mesir adalah hal yang biasa; kematian. Tak peduli berapa banyak orang yang meninggal, kematian tetaplah kematian.

Tapi, kalaupun ada satu hal yang menarik tentang Mesir bagi saya adalah bagaimana orang-orang tersebut meninggal karena mempertahankan keyakinan mereka. Tak peduli seberapa benar atau salah keyakinan tersebut menurut orang lain. Juga tak peduli apakah keyakinan itu didapatkan dalam proses pencarian yang radikal dengan pertanyaan yang tak berujung, atau hanya sekedar diinjeksikan dari luar tanpa mereka sadari. Soal itu tak penting. Yang jauh lebih penting bagiku adalah bagaimana mereka dengan berani mempertahankan keyakinan tersebut, itu yang jauh lebih penting bagi saya. Keberanian yang akhirnya mesti ditebus dengan satu-satunya kehidupan yang mereka miliki.

“Humanity takes itself too seriously. It is the world’s original sin. If the cave-man had known how to laugh, history would have been different.” –Oscar Wilde.

Sebaliknya, saya justru merasa muak dengan semua komentar di berbagai jejaring sosial hingga obrolan offline di sekitarku. Muak kepada orang-orang dan omong kosong mereka tentang bagaimana seharusnya nyawa manusia dihargai. Omong kosong tentang demokratisasi, hak azasi manusia hingga analisis ekonomi dan politik yang benar-benar semakin membuatku merasa ingin muntah tepat di wajah orang-orang tersebut. Moralis-moralis taik!

Moralis-moralis yang terlalu sibuk melihat semut yang berada di seberang lautan namun luput melihat gajah di depan biji mata mereka. Sibuk melihat bintang di langit namun lupa di kaki mereka dipijak.

Mereka terlalu dangkal melihat kematian. Terlalu banal dengan hanya melihat hal ini dari segi fisikal semata. Sesuatu yang membuatku teringat dengan Norman Cousins.

“Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live”.