Hangover

It happened again. —Phil, dalam HANGOVER 2

“Kamu kelihatan bodoh waktu hangover kemarin.”

Aku hanya tersenyum. Sejak awal aku menyadari dengan benar bahwa tak ada gunanya membela diri, apalagi mengenai hangover. Itu membuang waktu dan energi. Sebaliknya, aku memilih menyalakan laptop, menuju YouTube dan memutar sebuah track dari Payung Teduh. Mencoba menggapai teduh secara praksis.

Kondisi ketika kau mabuk berat dan hilang ingatan pada satu malam, memang tidak perlu dibela ketika keesokan harinya. Hangover adalah sebuah titik kosong di mana kesadaranmu benar-benar tak eksis sama sekali. Itu merupakan peristiwa yang tak bisa dialami semua orang. Pasca hangover, kau akan mengalami kelelahan fisik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebuah pengalaman kontemplatif yang hanya sebagian kecil saja beruntung dapat mengalaminya. Dan aku adalah bagian dari minoritas beruntung tersebut.

Mungkin bagi banyak orang, hangover merupakan sebuah aib. Tapi tidak bagiku. Lagipula, hangover tadi malam bukan yang pertama. Aku bahkan tak bisa mengingat ini hangover-ku yang ke berapa karena sering sekali aku mengalaminya. Beberapa berakhir dengan pengalaman yang tak bisa ku lupakan. Hanya saja, ini hangover pertama ku di tanah Isaan. Di mana aku adalah orang asing dan tak memiliki ikatan apapun dengan tanah ini di masa lalu.

“Kau tahu, pasti banyak perempuan yang tersenyum melihat kau terkapar karena terlalu banyak menenggak Red Label. Lain kali, jangan minum terlalu banyak sebelum kita ke bar. Bikin malu.”

Teman sekamarku memang tak bisa mengerti bahwa aku tak merasa malu, bodoh ataupun terhina hanya karena hangover di bar yang penuh dengan perempuan cantik dengan musik yang menghentak. Aku tak merasa ada yang patut disesali dari terkaparnya dirimu karena terlampau banyak menenggak alkohol. Tak ada yang salah jika seorang kemudian mengalami hangover semenjak kita adalah manusia dan tubuh kita tentu saja memiliki batas maksimal konsumsi alkohol. Batasnya tentu berbeda antar orang, tapi satu hal yang umum adalah setiap kita memiliki garis perbatasan yang mana jika kita lampaui, maka hangover adalah sesuatu yang akan kita alami.

Lagipula, aku memang tak berniat menerima protes darinya. Semenjak ia tak berada di sana, di bar itu ketika aku mengalami hangover. Ia bukan orang yang memapah tubuhku kembali ke kamar di asrama. Ia cuma komentator yang tak terlibat langsung dalam sebuah peristiwa. Ia hanya seorang pengamat, tak lebih. Itu mengapa, aku memilih tak menjawab setiap argumennya. Percuma.

Satu tembang dari Payung Teduh berjudul Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan telah usai. Aku memilih mengganti lagu. Dan pilihanku jatuh pada salah satu track FUN yang membuatku terus tersenyum meski seluruh tubuhku masih terasa berantakan.

So if by the time the bar closes, and you feel like falling down, I’ll carry you home. –We Are Young, FUN

Andre Barahamin