Ini Tentang Kau, C

Every saint has a past and every sinner has a future. –Oscar Wilde

Hanya yang hidup yang bisa menghargai masa lalu, dan yang mati atau telah berubah menjadi bangkai tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk mengenang, mengingat atau beromantika dengan apa yang disebut masa lalu. Aku masih mempercayai hal ini, yang tersisa di antara sekian banyak prinsip hidup yang dahulu ku pegang teguh namun kini hancur berantakan. Setidaknya, masih ada yang tersisa dari hari-hari ku di masa kemarin. Aku juga percaya bahwa apapun yang kita lakukan di hari ini, tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi di masa lalu. Setiap tindakan pada saat sekarang hanyalah akan memperbesar, memperkecil, membuka atau menutup kesempatan di masa depan. Intervensi aktif hari ini yang dalam pandanganku sangat determinan terhadap hari esok atau waktu-waktu selanjutnya yang kita sebut masa depan.

Itu mengapa, aku tidak pernah menyesal pernah mengenal mu. Sebaliknya, aku justru merasa beruntung pernah mendapatkan seorang teman –yang bahkan secara sepihak telah ku anggap sebagai adik, seperti dirimu.

Momen-momen kegilaan yang pernah kita lewati tentu saja adalah sesuatu yang tidak bisa diduplikasi hari ini ataupun esok. Tekanan dan loncatan untuk mengatasi hidup yang datar yang kita lakukan bersama di hari kemarin tentu saja adalah salah satu faktor yang menghantar kita berdua berada di titik hidup hari ini, masing-masing dengan pilihannya. Semua ingatan tentang bagaimana konyolnya kita memperlakukan hidup serta bagaimana beraninya kita berdua mengatasi kekakuan dan membuat semuanya berjalan zig-zag, berputar hingga tersesat, adalah masa-masa menakjubkan yang tidak akan pernah terhapus dari ingatanku. Tentang bagaimana malam-malam yang pernah kita lewati dengan alkohol, debat hingga pertentangan-pertentangan yang memberikan nilai-nilai baru dalam hidupku. Aku tak tahu tentang apa pandanganmu tentang semua itu, namun kini aku tak peduli lagi.

Aku juga tidak akan meminta maaf kepada siapapun karena telah mengenalmu dan membuatmu menjadi bagian yang tidak sekedar lewat dalam hidupku. Juga tidak akan bersyukur atas kehadiranmu. Karena seperti pertemuan, pada akhirnya setiap orang juga mesti berpisah dan menemukan jalannya sendiri. Bagiku, perpisahan –secara fisik dan ide– antara kita berdua bukan merupakan sesuatu yang layak dicaci. Juga tidak layak untuk mendapatkan glorifikasi karena segala sesuatu yang berlebihan pada akhirnya akan menjadi memuakkan. Tapi jelas ada tempat khusus di ingatanku tentang kau, keluargamu, momen-momen kita serta semua kesepakatan dan ketidaksepakatan.

Bahkan hingga hari ini, aku masih berharap bahwa kau baik-baik saja di sana dan terus mengejar mimpimu. Terus berada di level imajinasi yang sulit diadaptasi orang kebanyakan karena memang itulah keunikanmu. Sesuatu di dalam dirimu itulah yang telah berhasil menarik diriku untuk membawamu menyeberangi batas di mana biasanya banyak orang ku tinggalkan. Aku telah mengundangmu, semua kegilaan di dalam otakmu, segala impian kanak-kanakmu untuk masuk dan menjadi serum di hidupku yang telah sejak lama berantakan. Itu mengapa, tidak mudah untuk menilaimu sebagai seseorang yang layak ku benci. Sebab terlalu banyak cinta di antara kehidupan persahabatan kita yang membuat aku mengerti sekali lagi tentang ketidakabadian.

Relasi sosial memang sudah seharusnya seperti ini. Seperti daun yang tumbuh dan mekar di ranting-ranting sebelum kemudian jatuh mencium tanah karena telah coklat kekuningan.

Akupun sengaja menjauhkan diriku dari lingkar sosialmu. Membatasi diri agar kau tak terlalu dekat seperti hari kemarin, seperti saat kita mulai saling mengenal dan saling memprovokasi untuk merayakan hidup. Sebagai orang yang telah menyerah terhadap hidup, telah menyerahkan semua mimpinya dan menggunakan identitas sebagai urban kelas menengah, aku merasa bahwa kau bukan lagi bagian di dalamnya. Bagianmu berada di lingkar lain yang sama sekali tak bergesekan denganku.

Lagipula, sebagai orang yang telah dihakimi bersalah dan enggan mengomentari apapun tentang itu, aku telah menjalani kehidupan dan bertahan hidup hingga hari ini. Kini yang ada di pikiranku adalah bagaimana bertahan hidup untuk esok. Ya, untuk esok saja.