Kota: Tentang Liburan

Tidak ada yang terjadi di luar kendali. Yang ada hanyalah waktu di mana kita membiarkan kendali itu dirampas dari kita, sengaja atau tidak. –Seorang Perampok Bank Athena, Yunani 2010.

Setidaknya itu adalah alasan yang paling bisa masuk akal bagiku malam ini. Setelah apa yang terjadi sore sebelumnya.

Awalnya adalah ketika kemarin sore, seluruh asrama tiba-tiba berkumpul di teras depan yang menghubungkan pintu kamar kami semua. Sebab musababnya adalah pengumuman di masa injury time yang datang dari Direktur program pasca-sarjana, di mana aku dan seluruh penghuni asrama ini belajar. Pengumuman itu sebenarnya hanya sederhana.

Pembatalan rencana kunjungan budaya yang sedianya akan dilangsungkan besok ke Rajabath University yang terletak di provinsi Chaiyapoom. Rajabath University merupakan universitas negeri yang terdapat hampir di seluruh provinsi di Thailand. Kurang lebih hampir sama seperti masa di mana Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) dahulu di Indonesia. Sebagai gantinya, pihak fakultas mengirim para pelajar First Batch Class sebagai duta budaya.

Alasan di balik penggantian yang serba mendadak itu adalah permintaan personal dari orang paling berkuasa di kampus yang biasa biasa disebut dekan, meminta seluruh kami agar menghadiri prosesi Wai Kroo yang akan dirangkai dengan peresmian gedung baru fakultas. Wai Kroo atau Teacher’s Day alias Hari Guru adalah prosesi wajib di setiap awal tahun ajaran di Thailand. Pada hari tersebut, seluruh murid akan menunjukan rasa respek dan terima kasih mereka kepada para guru yang akan atau telah mengajar dan berbagi pengetahuan dengan para siswa di dalam kelas. Dan berhubung kami adalah siswa baru, maka kami diwajibkan untuk mengikuti hajatan tersebut.

Tapi yang menjadi menarik adalah efek samping dari pengumuman tersebut.

Mundur beberapa hari ke belakang. Hampir seluruh kami yang berada di Batch tahun ini begitu bersemangat saat menerima kabar bahwa kami akan mendapatkan libur selama dua hari. Selama liburan ini, kami akan mengunjungi salah satu universitas di provinsi Chaiyapoom yang terletak di bagian timur laut Thailand. Jelas banyak yang begitu gembira. Selain mendapatkan kesempatan meninggalkan ruang kelas yang tampak semakin membosankan setiap hari, kami juga akan mengunjungi tempat baru.

Tapi karena ini bukan hanya sekedar jalan-jalan, maka kami juga memiliki misi yang harus dijalankan selama trip. Kami ditugaskan menjadi duta budaya sekaligus agen promosi dari program beasiswa ASEAN. Masing-masing harus mengenakan baju tradisional yang berasal dari negara asal. Tidak lupa memperkenalkan tentang program beasiswa yang berhasil mengumpulkan sebelas orang dari enam negara berbeda untuk belajar bersama selama dua tahun. Tidak hanya itu, tiap orang bertanggung jawab untuk menyediakan bahan-bahan presentasi yang nantinya akan memudahkan orang mengenal lebih jauh negara asal kami.

Pokoknya, ada begitu banyak hal dan detil yang mesti disiapkan dan nantinya akan ditampilkan selama liburan dua hari tersebut. Sesuatu yang menurutku bukan liburan yang sebenarnya melainkan hanya bentuk lain dari jeda sejenak yang diberikan pihak fakultas agar kami tak cepat jadi gila.

Segalanya semakin memuakkan ketika seluruh kelas memilihku agar menjadi juru bicara yang nanti akan tampil dan memperkenalkan segala hal di atas tersebut. Aku dipilih hanya karena dinilai paling responsif dengan dialog dan pertanyaan serta memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lumayan. Dan sebagaimana demokrasi yang adalah bentuk dari tirani mayoritas, mesti telah menyatakan menolak berkali-kali, suaraku seperti dianggap angin lalu oleh semua orang.

Lalu tiga hari melelahkan itu datang. Tiga hari belanja dan kegilaan di sekitar barang-barang yang ku anggap tak ada hubungannya dengan hidupku. Namun sebagai orang yang telah menyerah dan tak lagi memiliki kuasa atas rute hidup hariannya, tak ada pilihan lain bagiku selain mengikuti dengan muram perayaan belanja ini. Aku membebek ke manapun teman-teman sekelasku pergi dan mencoba menikmati dari sudut pandangku sendiri. Setidak-tidaknya kebosanan karena mesti belanja tak sebanding dengan berdiam diri seharian di kamar asrama, mendengarkan musik di YouTube, mengaktifkan Facebook dan membaca berita-berita sepakbola di internet. Agenda belanja itu kemudian terasa begitu indah dan semuanya makin sempurna bagi beberapa orang ketika salah seorang mahasiswa asal Thailand mengajak kami ke sebuah gerai yang menjual berbagai baju dan aksesoris tradisional negara-negara di ASEAN.

Sampai akhirnya mimpi itu jatuh ke lantai dan pecah. Sebuah pesan singkat yang berisi pembatalan rencana perjalanan itu datang di waktu yang tidak tepat bagi beberapa orang tapi sebaliknya bagiku.

Ketika itu aku sedang bermeditasi seperti yang disarankan oleh Dalai Lama, tidur siang. Hingga akhirnya suara-suara yang bertabrakan dan terdengar kacau berhasil membangunkanku dan menarik rasa ingin tahu. Aku tersenyum kecil menatap limbungnya harapan beberapa orang dan wajah-wajah lain yang merasa tak siap karena mesti menggantikan impian lain yang baru saja hancur berantakan.

 

Malam harinya, aku membeli empat botol bir untuk merayakan pembatalan mendadak tersebut. Aku menenggak bir tersebut sembari menertawakan diri dan orang-orang di sekitarku. Sembari mendengarkan lagu di YouTube dengan volume yang berada di batas maksimal, aku terus menerus tertawa kecil karena berhasil selamat dari kekacauan formalitas yang mesti kuhadapi seandainya kami jadi berangkat ke Chaiyapoom.

Pagi hari, seperti biasa aku bangun pagi untuk mulai berolahraga kecil. Sekedar jogging untuk menurunkan berat badan dan gelayut lemak di perutku. Setidaknya aku ingin membakar beberapa kilogram kalori hari ini. Itu rencanaku.

Dan lagi-lagi rencana tinggal rencana.

Saat akan melewati kamar sebelah, aku dikagetkan oleh suara yang memanggil namaku. Saat menoleh, tampak perempuan-perempuan dari kelasku sedang berkumpul di kamar tersebut. Semuanya tampak begitu muram dan tak bersemangat. Topik pembicaraan mereka juga belum beranjak dari soal kemarin. Tentang rasa kecewa karena batal jalan-jalan dan mesti berakhir berteman dengan kebosanan di asrama. Soal bayangan indah yang hadir bagaimana seandainya perjalanan tersebut benar terlaksana.

Lalu ide gila itu muncul dari mulutku.

Ajakan untuk melakukan perjalanan dan liburan dengan versi sendiri entah ke mana. Sebuah destinasi yang bisa ditentukan sembari salah satu dari kami mencari kendaraan yang dapat digunakan dan mampu menampung sebelas orang. Tempat di mana kami dapat bersenang-senang dan melepas penat karena banyaknya tugas kuliah. Bersantai agar rasa lelah yang sedang menggantung di wajah bisa berkurang kalau memang tak bisa hilang.

Dan jelas, aku melihat keraguan di sebagian besar dari mereka. Seakan tak percaya bahwa liburan dapat dijalani tanpa perencaan yang matang dan terperinci. Itu argumen salah satu di antaranya. Yang lain merasa bahwa perjalanan tanpa tujuan yang jelas akan berakibat pada ketidakjelasan waktu yang akan digunakan untuk berlibur. Yang lainnya mengutarakan ketakutan soal biaya yang mungkin akan diluar kendali jika tak ada perencanaan jauh-jauh hari-hari sebelumnya. Hampir semua argumentasi cenderung mengarah pada satu hal: ketakutan.

Aku tak ingin berdebat dengan siapapun. Aku memilih mundur dan keluar dari kamar. Di masa lalu, aku terlalu sering berdebat. Kini, aku tak mau melakukannya lagi. Biarlah setiap orang menghidupi pilihannya masing-masing. Toh pada akhirnya mereka yang akan menanggung akibatnya. Dan di dalam hati, aku telah berniat untuk melanjutkan rencana olahraga yang sempat tertunda. Mungkin dengan mengucurnya keringat, aku dapat memikirkan agenda yang tepat untuk mengisi hari yang tampak semakin muram meski langit saat itu sedang cerah.

Tapi sebelum aku keluar, terasa ada yang menahan. Salah satu di antara mereka menahan tanganku. Ia adalah mahasiswi asal Thailand. Dengan nada suara yang pelan, ia minta maaf atas respon buruk dari semua yang ada di kamar itu. Sekaligus berharap agar aku mau menjelaskan detil mengenai rencana liburan yang kumaksud. Aku hanya tersenyum kecil dan menyerahkan semuanya pada mereka. Menggaristebal bahwa pilihan soal berlibur atau tidak mesti mereka yang tentukan. Tiap-tiap mereka harus menentukan sikap: berdiam diri seperti orang tolol di asrama atau merundingkan destinasi dan segera merengkuhnya.

Jangan lupa hubungi aku jika kalian memutuskan untuk berlibur. Aku juga ingin berlibur bersama kalian hari ini, kataku.

Aku kembali pada rencana awal. Olahraga ringan dengan berlari kecil mengelilingi taman sambil berpikir beberapa opsi yang mungkin ku tuju jika perempuan-perempuan itu terlalu takut untuk keluar dari gedung asrama yang lebih tampak rumah sakit lepra bagiku.

Baru saja satu putaran ku lalui, perempuan itu datang lagi. Kali ini agak sedikit berlari, tampak terburu-buru. Ia memintaku agar kembali lagi ke kamar tadi. Mereka yang lain sedang menungguku. Telah ada kesepakatan untuk memutuskan pergi berlibur. Semua akhirnya berani untuk sedikit melanggar aturan asrama: keluar lebih dari enam jam tanpa mengajukan pemberitahuan terlebih dahulu ke pihak pengurus asrama. Sepuluh orang pelajar yang merupakan teman sekelasku akhirnya mau memilih untuk menjalani apa yang mereka inginkan: liburan.

 

Sharing the holiday with other people, and feeling that you are giving of yourself, gets you past all the commercialism. –Caroline Kennedy.

Liburan itu akhirnya terlaksana. Destinasinya adalah sebuah bendungan terbesar di Thailand yang terletak di provinsi Kalasin. Dengan mengendarai sebuah mobil angkutan yang dicarter, sebelas kami segera menuju semakin ke utara. Bendungan itu sendiri terletak sekitar 90 menit perjalanan.

Perjalanan yang diwarnai tawa, cerita yang silih berganti dari masing-masing kami sebagai cara untuk saling bertukar informasi sekaligus belajar saling kenal lebih dalam lagi. Sesekali, kami berhenti untuk membeli buah-buahan, air mineral, atau cemilan lain yang dirasa cocok menemani liburan ini.

Ketika tiba di bendungan, semua segera berlarian dan mencari spot untuk sekedar berfoto atau memamerkan senyum. Hari itu, semua kami terlihat gembira seperti anak kecil yang kembali menemukan mainan kesayangannya yang telah lama hilang sejak beberapa minggu ke belakang: kebebasan kami.