Manusia: Kepemilikan

Man have become the tools of their tools. –Henry David Thoreau.

Hidup di asrama membuatmu mesti berbagi banyak ruang dengan orang lain. Tentu saja butuh waktu untuk saling menyesuaikan diri, mengenal dengan yang lain, melihat kemungkinan adanya kompromi nilai dan banyak hal lagi. Namun satu hal yang paling pasti, kau mesti belajar untuk sabar.

Sabar. Kata ini sungguh terdengar klasik kalau tidak bisa dibilang memuakkan. Menahan diri dan meredam emosi adalah sesuatu yang menurutku tidak manusiawi. Sebaliknya bagiku, melepaskan luapan rasa yang menyesakan dada justru lebih manusiawi ketimbang memaksa diri untuk merepresinya.

Beberapa waktu sebelum ini, aku termasuk tipe orang yang emosional dalam banyak aspek. Aku dapat tertawa terbahak-bahak karena sebuah lelucon, dapat menitikan air mata ketika menonton film yang mengharukan, atau dapat meninju wajah seseorang yang ku anggap musuh.

Di masa-masa sebelum hari ini, aku adalah manusia dalam pengertianku, yang utuh dan mampu merealisasikan dirinya beserta rasa yang menyertainya. Masa-masa kemarin adalah momen di mana kehidupan terasa begitu berdenyut bagiku. Tidak ada hari yang kulewati dengan rasa menyesal meski tak sedikitpun aku merencanakannya. Aku membiarkan diriku mengalir bersama waktu yang berdetak dan menekan banyak orang di sekitarku. Dengan jam bangun dan tidur yang berantakan, aku merasa memiliki hidup yang benar-benar ekspresif dengan sahabat-sahabat yang juga telah membuat semuanya terasa hampir mencapai kesempurnaan.

Tapi kemarin tetap saja kemarin dan tidak ada yang bisa memutar hidup untuk kembali ke masa lalu. Sekarang semua berubah.

Semua diawali dengan ditandatanganinya perjanjian damai antara aku, hasrat dan kehidupan. Sebuah perjanjian –meskipun ia diikuti dengan kata “damai”– jelas bukanlah sesuatu yang netral. Aku mesti berdamai dengan kenyataan hidup dan melepaskan gairah-gairah liarku ke selokan dan berharap mereka bermuara di laut. Aku memilih merengkuh sesuatu yang dahulu ku nilai biasa saja. Dan di saat yang bersamaan, aku mesti mengacuhkan dan menutup mata akan betapa dinamis dan berwarnanya hidup yang ku jalani sebelum hari ini datang.

* * *

Possession isn’t nine-tenths of the law. It’s nine-tenths of the problem. –Jhon Lennon.

Aku tinggal dengan dua orang pemeluk agama Budha. Ya, kedua teman sekamarku memiliki agama yang sama meski mereka datang dari negara yang berbeda. Seorang pemeluk Budha dari Laos dan seorang lagi dari Kamboja. Mengapit seorang tak beragama seperti diriku.

Namun keduanya bagiku bagai dua sisi mata uang yang saling berkebalikan.

Kawan Kamboja-ku adalah seorang yang santai, penuh senyum, murah hati dan bukan seseorang yang menilai bahwa uang adalah segalanya. Ia selalu berpikir bahwa kehidupan adalah sesuatu yang mesti dijalani dengan tidak terburu-buru. Baginya, menikmati hidup dapat dilakukan secara santai seperti ketika kita menghirup udara. Rileks dan tidak tergesa-gesa.

Sementara si orang Laos ini justru adalah seseorang yang sangat perhitungan dalam soal uang –kalau tak bisa dibilang kikir, oportunis dan menilai bahwa uang adalah hal paling dasar yang menggerakan dunia hari ini. Ia selalu melihat segala sesuatu dalam takaran untung rugi dan memperlakukan orang-orang di sekitarnya seperti item jualan. Yang paling murah dan banyak manfaat, itu yang akan dia pilih.

Memang benar, uang adalah kebutuhan primer manusia hari ini selain bernafas. Aku menyadari benar bahwa tanpa uang, kau tidak akan bisa makan, membeli air, membeli segalanya. Namun bukan berarti juga bahwa uang menjadi titik sentral dari relasi antar manusia.

Si pemeluk Budha dari Laos ini juga memiliki kegemaran aneh lain yang sering kali ku protes. Yaitu kegemarannya mengunci pintu kamar setiap saat. Meski ia tahu bahwa penghuni kamar yang lain sedang berada di beranda dan bisa kapan saja kembali ke kamar. Pernah ketika ku tanya mengapa ia selalu mengunci pintu kamar bahkan ketika siang hari, ia hanya tersenyum dan memberikan jawaban konyol yang membuatku semakin muak.

Aku tak pernah mempermasalahkan jika ia mesti mengunci lemari bajunya. Itu merupakan zona pribadinya dan aku menghargai privasi. Tapi yang tidak masuk akal bagiku adalah soal pintu kamar yang mana merupakan ruang publik. Ia mengendalikan sesuatu yang berada di zona publik yang jelas tidak soal dirinya tapi juga soal orang lain, yaitu aku dan seorang lainnya yang juga mendiami kamar tersebut. Mengendalikan sesuatu yang berada di zona publik atau menjadi kebutuhan orang banyak bagiku adalah imaji paling tepat dari bentuk monopoli yang kini merebak dan menjadi bagian integral dari sistem besar yang menggerakan masyarakat hari ini.

Hal lain yang membuatku cukup terganggu adalah ketika kami koneksi internet di kamar kami bermasalah. Setelah panjang lebar ku jelaskan bagaimana selama ini kami bertiga hanya menggunakan koneksi dari kamar lain, dan mungkin ini adalah saatnya memanfaatkan koneksi internet dari kamar sendiri, ia malah seperti tak setuju. Si Laos kikir ini malah menyuruhku membeli semua peralatan itu dan tidak ingin berbagi menanggung beban bersama sesuatu yang juga digunakan bersama. Ia merasa sudah cukup nyaman dengan menumpang koneksi dari kamar lain.

Berkali-kali aku menjelaskan padanya bahwa menggunakan koneksi dari kamar lain memiliki beberapa resiko. Tapi tetap saja, ia merasa bahwa itu bukan masalah. Bahkan ketika kami sama sekali tak bisa mengakses internet karena penghuni kamar di sebelah sedang liburan, ia bersikeras bahwa itu bukan karena persoalan menumpang ada koneksi orang lain. Ia malah setengah memaksa agar aku mau menghubungi penghuni kamar sebelah agar membagi password koneksi internet mereka. Sesuatu yang jelas ku tolak.

Aku bukan tak mau membantu. Karena aku juga memiliki masalah yang sama, tak bisa mengakses internet. Namun, aku merasa perlu tahu diri. Aku tak terlalu akrab dengan dua orang mahasiswa asal Vietnam yang menempati kamar di sebelah kiri kamar kami. Meski telah beberapa kali minum bir bersama, tapi aku merasa bahwa belum ada ikatan emosional sama sekali dengan mereka. Sesuatu yang membuatku urung untuk bertingkah seakan-akan mereka telah karib denganku.

Hal lain yang juga menjadi pembeda mereka adalah cara mereka berdua memandang soal kepemilikan benda.

Si Kamboja, menganggap bahwa kami dapat berbagi banyak hal atau barang-barang karena kami tinggal dalam kamar yang sama. Jika ia ingin seseorang membantunya, ia dengan terbuka mengatakannya namun tanpa tendensi memaksa. Ia tak pernah mengeluhkan tentang apa yang sudah ia kerjakan dan apa yang belum orang lain kerjakan. Baginya tak perlu mempersoalkan apa yang sudah dan belum orang lain kerjakan. Yang justru paling penting adalah menilai apa yang sudah dan belum dirimu kerjakan.

Sementara si Laos, justru terlalu banyak mengeluh. Ia mengeluh tentang A, B hingga Z. Ia juga menyusun berbagai macam rencana yang tak juga kunjung terlaksana karena ia merasa sebagai pimpinan proyek dan dua orang kawan sekamarnya (yaitu aku dan si Kamboja) adalah bawahan yang mesti menuruti semua omong kosongnya. Tapi jika telah melakukan sesuatu, ia akan terus menerus mengulangnya hingga sepasang telingamu akan merasa gerah dan membayangkan bagaimana bogem mentah mendarat di mulutnya.

Ketika kami mesti membeli beberapa peralatan untuk digunakan bersama, semisal piring makan dan sendok, si Laos justru terus mengeluh bagaimana mahalnya barang-barang dan mengapa tak meminjam piring dari kamar lain yang mungkin memiliki jumlah piring berlebih. Ya, memang mudah meminjam piring dari penghuni asrama yang lain. Tapi yang menjadi soal kemudian adalah ia tak kunjung merealisasikan usul tersebut. Sebaliknya ia malah mengharap agar salah satu di antara kami yang melakukannya. Sebuah tindakan pengecut menurutku.

* * *

I know all about cheating. I’ve had six very successful marriages. –Bobby Heenan.

Aku bukanlah seorang moralis. Bahkan hingga hari ini. Aku tak pernah mempersoalkan atau bahkan membuang energi untuk menentukan mana yang baik dan buruk untuk orang lain. Aku sudah cukup pusing dengan kehidupan individualku. Jadi, aku tak punya cukup waktu untuk menjadi bijaksana bagi orang lain.

Satu hal yang pasti, aku tak ingin terlibat dengan sesuatu tentang moralitas yang sama sekali bukan urusanku!

Tapi kemarin sore, aku terjebak dalam hal yang paling ku benci tersebut. Kejadian yang membuatku hampir mendaratkan tinju di wajah seorang laki-laki Thai yang baru kali itu berjumpa denganku. Hampir saja, sebelum dua orang penghuni asrama yang lain datang melerai dan membantu menjelaskan duduk persoalan sekaligus menjadi penerjemah antara aku dan laki-laki Thai yang emosinya sudah kepalang sampai di ubun-ubun.

Persoalannya sebenarnya tak ada sangkut paut denganku. Satu-satunya kesialanku adalah menjadi penghuni kamar 109 di asrama. Nomor kamar yang mengendap di dalam kepala laki-laki Thai tersebut hingga membuatnya kalap dan menyasar siapa saja yang berada di dalam kamar tersebut, sepanjang ia adalah seorang pejantan. Dan itu tentu saja benar karena ketiga orang penghuni kamar 109 memiliki penis dan secara biologis itu berarti kami bertiga adalah mamalia pejantan yang memiliki sperma tanpa kemampuan untuk menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Jelas bukan?

Laki-laki Thai tersebut adalah seorang pecinta yang sedang terluka. Aku bisa melihat itu dengan jelas di wajahnya yang tertunduk lesu bercampur malu karena telah salah sasaran. Ia seperti tak bisa menatap mataku yang masih sedikit kesal karena telah menjadi korban tanpa mengetahui akar permasalahan. Ia bercerita dengan nada suara yang tertahan. Menceritakan alasan mengapa ia tiba-tiba melabrak asrama kami sendirian meski ia tahu ada resiko untuk dikeroyok karena mengamuk di kandang orang lain. Aku bisa merasakan ada perih di dalam nada suaranya meski aku tak mengerti bahasa Thai.

Seorang mahasiswa Vietnam dan seorang lagi dari Kamboja, keduanya adalah kakak kelas di program beasiswa ASEAN yang sedang ku ikuti. Berdua mereka menjadi penerjemah sekaligus mediator antara seorang laki-laki Thai yang sedang terluka dan diriku yang kebingungan dan marah. Meski aku tak suka mediator, namun mengingat ketidaktahuanku tentang bahasa Thailand membuatku mesti merelakan kehadiran mereka berdua.

Berkat mereka aku akhirnya mengetahui bahwa laki-laki Thai ini adalah pacar (atau mantan) dari salah satu mahasiswi Thailand di kelasku. Ia terbakar rasa cemburu karena mendengar gosip tentang kedekatan pacarnya dengan seorang laki-laki lain. Sebagai pejantan yang merasa memiliki kuasa atas si betina, ia tak rela jika miliknya berpindah ke pejantan lain tanpa seizinnya. Untuk menunjukan betapa ia memiliki kuasa atas “milik”nya, ia memutuskan untuk datang seorang diri dan melabrak pejantan yang dalam penilaiannya telah merebut sesuatu yang berharga darinya.

Sayangnya, ia salah sasaran. Hanya bermodal nomor kamar semata plus perasaan yang kalap membuatnya tak mampu lagi mengenali musuh. Ia jatuh dalam lubang yang digalinya sendiri. Sesuatu yang membuatku ikut merenung.

Aku memang tak memberikan respon apapun setelah laki-laki Thai –-yang enggan ku ingat namanya– itu selesai menjelaskan semuanya. Aku juga tak langsung mengiyakan permintaan maafnya karena bagiku, permintaan maaf bukanlah sesuatu yang dapat begitu saja kau terima hanya dengan menunjukan raut wajah menyesal. Maaf adalah sesuatu yang mesti diperjuangkan, itu menurutku.

Saat itu, aku lebih memilih beranjak dan kembali ke dalam kamar lalu mandi. Aku membiarkan air membasahi kepala dan tubuh telanjangku. Di bawah guyuran air, aku berupaya merenung. Melihat peristiwa yang baru saja terjadi dari sudut pandangku. Namun aku tak ingin mencoba memposisikan diri sebagai laki-laki Thai tersebut. Aku tak pernah ingin menjadi orang lain.

Mandi adalah salah satu metode menenangkan diri yang kupilih.

* * *

People are taken aback by a confident, pretty girl who knows what she wants in life and isn’t going to let anyone get in her way. And you know what it’s all about? Jealousy. –Summer Altice.

Selesai mandi, aku memilih ke kantin sendirian dan memesan makan malam. Sembari makan, aku meliarkan pandanganku ke seantero kantin di mana ada begitu banyak perempuan Thailand yang juga sedang makan. Aku memperhatikan mereka diam-diam. Sembari menikmati daging babi, setumpuk sayuran dan sepotong telur di atas piring, aku menikmati wajah-wajah perempuan Thailand dengan cara yang berbeda. Tidak seperti hari-hari kemarin. Hari ini, wajah semua perempuan Thailand terlihat begitu berbeda bagiku.

Andre Barahamin