Menyerah: Part (2)

“At fifteen life had taught me undeniably that surrender, in its place, was as honorable as resistance, especially if one had no choice.“ –Maya Angelou

Aku menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi berkelit. Sekarang ini, aku telah menyerah. Sepenuh-penuhnya kalah dan resmi menjadi tahanan siklus hidup di mana aku kini menjadi salah satu tetes minyak pelicin gelinding jalannya mesin besar ini. Secara terbuka aku mesti mengakui bahwa semenjak mengambil pilihan untuk melanjutkan studi formalku –dan berarti kembali ke kampus, kembali ke dalam ruangan kelas, tumpukan buku, pekerjaan rumah dan segala tetek bengeknya, aku telah nyata menyerah. Ya, menyerah.

Penyerahan diri yang benar-benar terjadi di puncak kulminasi ketika aku justru tengah diserang oleh beberapa orang yang dahulu pernah menjadi sahabatku. Tidak tanggung-tanggung, mereka datang dengan tuduhan bahwa aku adalah musuh mereka. Seorang bajingan yang telah menggadaikan harga diri mereka –dan seorang kawan lain yang telah meninggal, menjadi lembaran uang. Mereka telah membaptisku sebagai seorang pencuri. Mengambil segala keuntungan hanya diriku sendiri dan membiarkan yang lain menderita atas akibatnya.

Sesuatu yang sempat ingin membuatku menangis namun urung ku lakukan. Aku kembali mengeraskan hatiku dan menolak untuk takluk kedua kalinya. Bagiku, berserah diri pada kenyataan hidup yang biasa saja telah lebih dari cukup dan tidak mungkin lagi ada penyerahan diri untuk yang kedua kalinya.

Aku memang bisa berhadapan dengan mereka dan mengkonfirmasikan segala sesuatunya agar menjadi lebih jelas. Tapi secara sadar, hal itu urung ku lakukan. Aku –yang terlanjur di cap– sebagai orang bersalah, melihat bahwa tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk membela diri. Menyanggah dan menjungkirbalikan pemahaman orang yang terlanjur final, bagiku adalah sesuatu yang muskil selain membuang energi. Aku juga masih memiliki orang-orang yang bisa ku jadikan saksi bahwa tidak ada sepeser pun yang ku kantongi. Namun, bukankah dengan mengajukan saksi untuk mengkonfrontasikan bukti telah berarti bahwa kau melegalkan bagaimana sistem peradilan di negeri ini berjalan? Bukankah berlutut di depan sebuah perangkat norma hukum dalam bentuk yang sederhana sama saja artinya bahwa aku telah berlutut di hadapan institusi korup ini?

Entahlah.

Ya, hingga saat ini aku memang masih dilanda kebingungan. Sebuah posisi ketidakjelasan yang menghimpit antara rasa frustasi dan kesedihan yang membaur dengan batas-batas imajiner. Hal ini seperti mendaratkan aku pada sebuah labirin asing yang sama sekali enggan ku masuki, –namun pada akhirnya berhasil membuatku terjebak di dalamnya. Melingkariku dengan benang-benang halus yang tidak bisa ku kasari karena akan mengiris bagian-bagian tubuh. Irisan yang tipis dan dalam selalu akan menghasilkan rasa sakit yang sensasional dan bekas yang tidak akan pernah hilang sesudahnya.

Itu mengapa, beberapa malam ini aku terus menerus menyeduh kopi dan mencoba larut dalam kesendirian. Setidak-tidaknya, aku mencoba memilah soal apa yang mesti dan tidak harus ku lakukan. Di saat yang bersamaan, aku berupaya memberikan diriku sendiri alasan-alasan logis. Membiarkan minimnya jumlah suara di sekitarku akan mampu membuatku bercermin akan apa yang pernah terjadi kemarin dan resiko yang kini telah dan sedang ku hadapi.

Meskipun terkadang aku mencoba meramal akan apa yang mungkin terjadi di masa depanku, selalu saja tak ada cukup waktu dan stamina untuk bermain-main dengan prediksi seperti itu. Yang paling mungkin adalah melihat kembali semua kartu yang telah jatuh di atas meja dan menyunggingkan senyum, sepahit apapun itu.

Karena, setidaknya kini aku mengerti satu hal untuk diriku sendiri.

Andre Barahamin