Menyerah

Setidak-tidaknya, hidup adalah yang tersisa hari ini.

Aku memang tidak lagi seperti dulu. Penuh gairah, penuh amarah dan cinta. Segala sesuatunya kini telah berubah meski tidak seratus delapan puluh derajat. Namun selayaknya sebuah perubahan, telah ada pergeseran yang membuatku beranjak dari kehidupanku yang dahulu: hidup yang tak datar, tak sekenanya, penuh luka dan tawa di saat bersamaan serta penuh bahaya dan letupan. Kini, seperti juga kebanyakan orang lain, aku telah memiliki sebuah ruang nyaman yang berhasil membunuh sebagian besar nyali dan insting di dalam diriku. Secara sadar, sisi liar kebinatangan yang dahulu hidup di dalam diriku dan menjadi warna dalam moda hidupku berhasil direduksi oleh penghasilan yang lumayan sebagai kelas menengah yang menjual ide dan kemampuan otaknya untuk bertahan hidup.

Sekedar bertahan hidup.

Sekedar bertahan hidup. Hal itu dahulu sering sekali ku hindari. Meski tidak sepenuhnya berhasil, namun setidak-tidaknya aku tidaklah sepengecut hari ini. Pada masa lalu, aku memilih hidup yang benar-benar hidup. Hidup bagiku tidak selurus garis khatulistiwa atau datar seperti meja minum kopi di kedai langgananku. Hidup bagiku adalah sebuah naik turun yang tidak terprediksi. Penuh kecurangan, keterkejutan, tegangan, dekapan, rasa sakit dan sedih namun penuh tawa serta cinta di setiap titik penghubungnya. Hidup bagiku adalah jalan kecil sunyi yang hanya sesekali saja mempertemukan kita dengan orang lain, entah berpapasan, seiring atau bahkan berseberangan jalan. Jalan sepi yang menawarkan dahaga kebebasan dan rasa sakit secara bersamaa. Jalan yang menjadi ajang bagiku untuk mengkondisikan makna utopis tentang hasrat kebebasan. Eskapisme yang secara sadar ku pilih atas nama pemberontakan hidup.

Tapi lagi-lagi, itu kemarin. Ketika semuanya belum baik-baik saja.

Kini, aku telah berdamai dengan kenyataan. Menjalani hidup yang baik-baik saja. Meski memang, sesekali api kecil yang sengaja ku biarkan hidup memercikan api yang kembali membawa gelora masa lalu. Meski tensinya telah jauh berbeda. Hidupku kini hanya sekedar bertahan hidup dan tidak menghidupi hidup memang terasa menyakitkan, namun juga memberiku kepuasan di sisi yang lain. Kini, aku tak lagi mengalami masalah uang yang menipis. Tidak ada juga masalah mengenai perasaan lapar, ketiadaan tempat tinggal dan hal-hal sejenis yang disebabkan oleh karena ketiadaan uang. Memilih secara sadar untuk hanya sekedar bertahan hidup memang telah berhasil membuat diriku mampu membayar sejumlah uang untuk zona nyaman. Zona yang juga dimiliki oleh banyak orang yang dahulu menjadi sasaran kritikku selama ini.

Kini semua tak lagi sama. Aku telah nyata dan sadar hanya bertahan hidup.