Tentang Kejujuran

Kebohongan. Berbohong. Lies.

Sesuatu yang dianggap momok oleh sangat banyak orang. Sesuatu yang dianggap biang ataupun inti dari kesalahan. Seseorang yang berbohong atau didapati telah atau sedang berbohong selalu diidentikan sebagai seseorang yang tak salah, murtad dan bahkan dalam beberapa kasus dianggap biadab.  Kebohongan dituduh sebagai sebuah pangkal dari ketidakseimbangan hidup dan relasi yang tengah dijalani oleh manusia. Oleh karenanya, kebohongan tidak bisa tidak merupakan sesuatu yang haram jadah –tidak hanya oleh agama, bahkan oleh mereka yang mengaku tidak beragama.

Pertanyaan berikutnya adalah; siapakah yang tidak pernah berbohong? Siapakah di antara manusia yang kini berjumlah lebih dari tujuh milyar di seantero planet yang tidak pernah berbohong? Aku akan dengan berani mengatakan bahwa tidak ada satupun manusia yang tidak pernah berbohong di dalam hidupnya.

Apakah hal ini berarti bahwa kita semua adalah pembohong?

Saat melempar pertanyaan ini ke tengah beberapa teman –yang dalam penilain subjektif saya cukup cerdas untuk tidak terperangkap pada fundamentalisme norma hidup-, juga agak kebingungan menjawab. Beberapa orang teman bahkan secara berani mengkategorisasikan kebohongan ke dalam dua jenis: kebohongan yang bertujuan baik dan sebaliknya. Sebuah tesis yang terlampau prematur bagiku hanya karena didasarkan pada keengganan untuk terdengar menjawab salah. Padahal, aku telah menegaskan sejak awal bahwa tidak ada penilaian benar-salah dalam pertanyaan ini.

Salah satu di antara mereka yang beruntung aku tanya bahkan menjawab secara reaksioner di luar perkiraanku. Ia dengan segera menuduh pertanyaanku merupakan jebakan. Ia berupaya menerka bahwa jika ia menjawab bahwa semua manusia pasti berbohong, maka dua nama yang ia kagumi: Muhammad SAW dan Isa Almasih juga akan termasuk dalam kategori itu. Sementara jika ia menjawab bahwa ada individu yang tak pernah berbohong, maka pertanyaan-pertanyaan dengan pola domino akan segera berhamburan memberondongnya. Sebuah ekspresi ketakutan yang berlebihan menurutku.

Seorang yang lain justru mengasosiasikan tindakan berbohong sebagai sesuatu yang tidak manusiawi. Berbohong dianggap bukan karakter alamiah manusia, melainkan bentukan dari situasi dan kondisi di mana seorang individu hidup. Bahwa berbohong merupakan aksi nyata pelecehan terhadap kemanusiaan yang luhur yang dinilainya, membedakan manusia dengan jenis hewan lain. Dia melihat bahwa berbohong merupakan pengingkaran atas kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan di antara dua orang dalam posisi yang paling horizontal. Bahwa berkata jujur baginya bukan hanya sekedar karena tuntutan moralitas, melainkan karena itu adalah falsafah hidup yang berlaku secara umum. Sehingga para pembohong secara otomatis akan terkucilkan dari lingkup pergaulan sosialnya.

Saya tak mengucapkan terima kasih ataupun berdebat tentang jawaban masing-masing mereka. Saya memilih menghargai pendapat tersebut meski secara individu, respek bagi saya tidak sinonim dengan persepakatan.

Namun dari variasi jawaban orang-orang tersebut tentang persepsi mereka mengenai kebohongan membuat ingatan saya terlempar menabrak sosok Paul Joseph Goebbels. Ia adalah menteri urusan propaganda di masa pemerintahan Nazi-Hitler di Jerman. Penemuannya yang terkenal adalah teknik propaganda yang dikenal dengan nama: argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai Big Lie Technique. Intisari teknik menurut Gobbels adalah apa yang disebut dengan kebenaran pada hakekatnya merupakan kebohongan yang terus menerus diucapkan hingga akhirnya dipercayai.

Jika merunut pada apa yang dikatakan oleh Gobbels, maka kebenaran yang ada di sekitar situasi dan kondisi kita merupakan konstruksi. Sebuah proses yang penuh kesengajaan untuk mengkreasikan sesuatu yang akhirnya dikenal sebagai: kebenaran. Sementara itu, segala sesuatu yang berada di luar kreasi itu sendiri di kemudian hari dipahami sebagai: kebohongan. Oposisi biner –semisal wajah dewa Janus– yang telah hadir jauh sebelum masyarakat industrial modern menemukan internet untuk merayakan keterasingannya.

Kenapa seseorang mengacuhkan kebohongan? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa karena bagi kebanyakan orang, kejujuranlah yang terutama, paling terdepan dan memiliki nilai positif. Kita menghindari kebohongan dan di saat yang bersamaan membunuh sisi lain dari kemanusiaan kita. Bahwa dengan berbohong adalah faktor yang telah membuat manusia dapat terus bertahan hidup dan sukses menjalani proses evolusi yang maha itu. Dan berbohong merupakan sikap kebinatangan yang sungguh tidak sesuai.

Lalu, jika manusia bukan binatang, maka jenis apakah ia? Apakah ia bukan lagi mamalia bertulang belakang? Jika demikian, secara biologis, dikategorikan ke dalam kingdom apakah manusia? Animalia ataukah Plantae? Atau di luar keduanya?

Satu hal yang lucu bagi saya adalah, ketika pertanyaan ini dilayangkan, tanpa sadar individu-individu itu tengah menjawab dengan penuh kebohongan. Berupaya menyembunyikan sisi kelam di mana dusta atau kebohongan itu merupakan salah satu perilaku yang menginjeksi sensasi tanpa definisi. Dan kemudian, berupaya tampak bijaksana di depan sebuah pertanyaan yang tidak ingin menilai dan dinilai. Berupaya menjadi seperti orang lain –meski itu utopis– dan melupakan nikmatnya menjadi diri sendiri.

Ini salah satu alasan mengapa aku akhirnya memutuskan menuliskan soal kebohongan. Tentang sesuatu yang sejatinya dalam penilaian individual saya, merupakan bagian integral dan akan terus melekat dalam hidup harian tiap-tiap individu. Soal yang kemudian muncul adalah bagaimana kebohongan berupaya diacuhkan, dibunuh, ditelantarkan atau disudutkan ke ruang tanpa udara hanya semata karena tekanan nilai moralitas biner masyarakat di mana kita hidup.

Manusia-manusia menjadi takut dan enggan bersentuhan dengan kebohongan dan nilai-nilai yang menyertainya, hanya karena tekanan moralis yang datang secara hirarkis dan koersif. Kita meletakan kebohongan dalam dua tatak timbangan di mana, dengan sengaja kejujuranlah yang akan menang. Kita telah menyapu rata semua penilaian ke dalam dua wajah mata uang, tanpa membuka kemungkinan hadirnya pertimbangan di luar kerangka yang telah dianggap hukum oleh mayoritas orang. Penerimaan penuh kepasrahan menurut subjektif saya.

Lagipula, bukankah orang-orang lebih mudah menerima kebohongan dibanding dengan apa yang disebut dengan kejujuran?

Satu-satunya yang tak bohong dalam kebohongan menurutku adalah keabadiannya. Ia imortal dan mengatasi jejaring kejujuran yang rapuh. Ia akan terus hadir dalam segala tipuannya yang paling picik untuk mengajari seseorang tentang rasa sakit, kehilangan, amarah dan kebencian. Dan jika ada yang berani menolak datangnya kebohongan, maka kejujuran yang berada di dalam dirinya akan merasakan kesepian yang akut sebelum mati menggenaskan.

Maka, berbohonglah. Sebelum kejujuran membunuhmu!

Andre Barahamin