Fakta Utopis, Kekerasan yang Berulang dan Trauma yang Didiamkan

Mari mengurai agar jangan terperangkap pada kusut benang. Biar juga tidak ada prasangka bahwa para pekerja media terlalu melebih-lebihkan sesuatu, apalagi jika jurnalis yang jadi korban.

Soalnya sederhana.

Ada seorang warga negara, punya Kartu Tanda Penduduk (KTP), membayar pajak juga menaati hukum. Ini berarti ia seharusnya mendapatkan rasa aman dan perlindungan hukum, namun ternyata menjadi korban hingga harus meregang nyawa. 14 tusukan jelas bukan nominal yang sedikit. Kehilangan hidup akibat ulah para remaja yang sedang dipengaruhi alkohol, juga belum cukup untuk jadi alasan seorang perempuan menjanda dan seorang anak jadi yatim.

Di sisi lain, spanduk bertebaran di hampir seluruh sudut kota. Tulisan yang dicetak dengan huruf agak besar, cukup membuat semua pelintas dapat sekejap membacanya: Brenti Jo Bagate. Sponsor di bawahnya: Kepolisian Daerah Sulawesi Utara.

Plus, di berbagai media cetak, audio visual hingga online, para politisi dan tokoh masyarakat mengumbar cerita tentang sebuah kota yang nyaman. Kota yang bertepian dengan pantai dan dihuni oleh penduduk yang ramah serta santun. Belum lagi dengan bombastisnya seluruh utopi mengenai kerukunan, hingga sering disodorkan agar layak dicontoh seluruh wilayah republik garuda.

Lalu ada pertanyaan yang ingin disodorkan kepada kita semua.

Jika memang benar, ruang geografis ini aman dan layak sebagai tempat berteduh secara biologis dan psikologis, mengapa angka kekerasan terus meningkat di kurva imajiner masing-masing kita?

Mengapa perasaan setiap individu sering dihantui ketidaknyamanan untuk beraktifitas, terutama ketika matahari mulai terlelap? Kenapa gemerlapnya lampu kota di malam hari justru menampilkan muramnya teror?

Masing-masing kita mungkin dapat berbohong, tapi air muka tidak dapat menipu.

Bukankah ada rasa khawatir ketika kita bertemu dengan orang asing? Bahwa tiap-tiap orang sering merasa tak nyaman ketika secara fisik dekat dengan mereka yang tidak kita kenal? Dan ada ketakutan yang sering hadir saat kita berpapasan dengan sekelompok orang, apalagi ketika hari telah larut?

Sekarang mari bicara sesuatu yang baru saja terjadi. Fakta yang masih hangat di ingatan semua kita.

Matinya nyawa seorang jurnalis bernama Aryono Linggotu. Ayah dari seorang bocah lelaki yang bahkan belum genap berumur lima tahun ini, ditikam oleh para pemuda hingga meregang nyawa di lokasi kejadian. Lelaki pendiam berkacamata yang masih berumur 26 tahun dan ramah senyum ini, jadi korban aksi kekerasan ketika mencoba mencari sarapan pagi.

Linggotu yang adalah jurnalis di surat kabar harian METRO, memang bukan korban pertama penikaman yang berujung maut di Manado. Bahkan, peristiwa seperti ini terasa seperti lumrah, karena terus berulangnya kejadian serupa. Berita kriminal di Manado memang tak pernah sepi. Selalu ramai dan penuh bersimbah darah. Sudah banyak nyawa melayang dan mesti dirumahsakitkan, atau mengalami cacat permanen.

Telunjuk kita memang bisa menunjuk ke arah lain. Menyalahkan pihak tertentu sebagai biang kegagalan atas labirin kriminal tanpa jalan keluar. Rumusan demi rumusan sering terbentur oleh dissolusi yang melelahkan secara fisik dan mental. Lalu mendiamkan saja hal ini sembari pasrah dan berserah ketika kerabat atau orang yang kita cintai menjadi korban?

Kita juga bisa bilang bahwa ini adalah jalan yang telah digariskan Sang Pencipta. Atau tuding takdir sebagai pemeran antagonis di cerita yang ini. Tapi fakta di lapangan terus menambah hitungan jumlah korban yang berjatuhan. Lalu, masihkah efektif jika ajakan melakukan refleksi dan berbenah? Sementara di sisi lain, selalu akan jatuh korban di malam berikut?

Soalnya memang sederhana. Kembali ke diri kita untuk mengambil sikap seperti apa. Ini saatnya memutuskan!

 

*sebelumnya terbit di Cyber Sulut

Andre Barahamin