Bom, Bali dan Alpanya Sang Presiden

12 Oktober sepuluh tahun lalu. Denpasar, Bali. Ketika itu, sebuah ledakan bom terjadi dan memakan korban dengan jumlah yang tidak sedikit. Para militan konservatif muslim di bawah nama Jamaah Islamiyah dikemudian hari mengaku bertanggung jawab atas aksi itu. Sebuah tragedi kemanusiaan.

Sepuluh tahun lalu, Bali dan Indonesia menangis bersama. Dunia terhenyak menyaksikannya.

Kini tahun sudah menunjuk 2012. Satu dekade telah dilewati para korban yang selamat atau keluarga para korban yang meninggal akibat peristiwa itu. Namun mereka tidak tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan. Setiap tahunnya, sebuah seremoni khusyuk diadakan. Mereka berkumpul untuk mengenang sekaligus kembali saling menguatkan.

Peristiwa ledakan yang terjadi dini hari di depan Sari Club dan Paddy’s Club yang berada di Legian, Kuta, menelan 202 jiwa. 88 orang yang ikut menjadi korban adalah warga negara Australia yang sedang berlibur di Bali. Namun efek kerusakannya menyasar hingga sisi psikologis dan ekonomi. Ground Zero, yang menjadi nisan prasasti atas peristiwa ledakan tersebut tak cukup menggambarkan seberapa dalam kekelaman itu.

Akibatnya, industri pariwisata di Bali sempat keok. Penurunan drastis terjadi. Turis asing selalu diliputi kekhawatiran menjadi sasaran dari aksi-aksi militan Islam fundamental. Pelancong domestik juga ikut menghindar karena tak ingin menjadi korban. Bali ditinggal.

Namun Bali yang luka dan masyarakatnya kemudian bangkit. Hasilnya mulai nampak beberapa tahun kemudian. Mereka membangun kembali industri pariwisata yang masih pontang panting. Bali menyusun kembali presitisenya sebagai tempat liburan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, namun juga kerja keras masyarakatnya untuk tidak berdiam dalam luka.

Hasilnya, kini Bali kembali jadi destinasi wisata. Denyut pariwisata yang sempat berdetak lemah kini berlari kencang.

Bali mengajarkan pada Indonesia dan dunia bagaimana cara bangkit dari trauma. Masyarakatnya menunjukkan terjalnya sebuah upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi yang tidak sekedar dibungkus dengan kata: maaf. Semua yang merasa memiliki pulau Dewata saling memberikan diri dan merumuskan solusi bagaimana memulihkan Bali secara psikologi dan ekonomi.

Sepuluh tahun sejak peristiwa itu. Keluarga korban juga masih tetap datang dan berkumpul di Legian. Membawa karangan bunga, menitikkan air mata dan kembali tegar. Beberapa dari mereka bahkan menjadi akrab pasca tragedi kemanusiaan itu. Masing-masing membawa kenangan dan bekas luka karena menjadi korban atau kehilangan orang terdekat. Tidak ada satupun yang lupa dengan rasa sakit itu.

Mungkin yang lupa hanyalah presiden Indonesia sehingga tak menyempatkan diri hadir pada perayaan ini.

 

*sebelumnya terbit di Cyber Sulut

Andre Barahamin