Hari Raya Kurban, Orang-orang Rantau dan Cerita Idul Adha

Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriyah, adalah salah satu momen yang dirayakan oleh kaum muslim untuk mengingat dan mengimplementasikan semangat pengorbanan. Diinspirasikan oleh kisah nabi Ibrahim yang dengan tulus bersedia mengorbankan putranya Ismail, ketika Allah memintanya. Lulusnya Ibrahim dalam ujian ini disimbolkan dengan digantikannya Ismail dengan domba sebagai kurban.

Idul Adha selalu dirayakan bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah, 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Pada hari tersebut, umat Islam diharamkan puasa.

Idul Adha sering juga disebut oleh muslim Indonesia sebagai Hari Raya Kurban. Ini adalah masa puncak ibadah Haji yang merupakan salah satu bagian dari lima Rukun Islam. Itu mengapa beberapa kalangan sering menyebut Idul Adha dengan nama lain: Lebaran Haji.

Di hari itu, perayaan Idul Adha akan selalu diawali dengan sholat Ied berjamaah di tanah lapang, persis seperti Idul Fitri. Setelah sholat usai dilangsungkan, penyembelihan hewan kurban akan dilaksanakan. Penyembelihan hewan tentu saja adalah simbolisasi dari teladan Ibrahim bagi seluruh muslim.

Di momen seperti Idul Adha, banyak muslim yang berkelebihan secara ekonomi akan menyumbangkan hewan kurban. Kambing, sapi dan ayam adalah hewan yang paling umum di Indonesia, mengingat domba bukan hewan endemik di Nusantara. Daging hewan kurban yang telah disembelih kemudian akan dibagi-bagikan. Mereka yang menjadi prioritas adalah para lansia, janda, anak-anak yatim, penyandang cacat dan mualaf -mereka meninggalkan keyakinannya yang lama untuk memeluk Islam.

Yang paling berkesan adalah bagaimana daging kurban ini akan diolah. Berbagai jenis masakan yang tentu mengundang selera akan tersaji di meja makan, beririsan dengan petuah tentang keikhlasan, ketaqwaan dan keyakinan sebagai seorang Islam.

Namun momen seperti yang diceritakan di atas tak bisa dinikmati semua pemeluk agama Islam.

Para mahasiswa yang sedang melanjutkan studi di tanah rantau, tentu adalah golongan yang termasuk. Mereka jauh dari kehangatan rumah serta dari ayah dan ibu.

Rustam Ade, mahasiswa asal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulang (Unsrat) adalah salah satu diantaranya. Selama menimba ilmu di Manado, nikmatnya sajian kuliner mama tercinta mesti dilupakan untuk sementara. Biasanya Ade hanya punya “jatah” pulang ketika Idul Fitri. Jadi jika Idul Adha tiba, Ade yang berasal dari Tidore hanya bisa tersenyum kecut.

“Ya, ini salah satu bentuk pengorbanan. Tidak bisa pulang karena sedang mengejar ilmu. Lagipula, orang tua menginginkan kita jadi sarjana. Mereka bisa maklum jika anaknya tak ada di rumah untuk makan bersama setelah sholat Ied.” kata Ade.

Bagi Rustam yang menimba ilmu di jurusan Antropologi, merayakan Idul Adha di luar rumah mengajarkan sisi lain tentang kehidupan.

“Banyak dari tetangga yang peduli dengan kami. Selalu saja ada yang mengantar lauk olahan daging kurban. Terkadang ada yang mengajak makan di rumah mereka. Mereka menganggap kami layaknya anak sendiri. Jadi kami punya keluarga baru yang sedikit banyak bisa mengurangi rasa rindu akan rumah di kampung.”

Meski memang Ade tak memungkiri, ada perasaan yang tak lengkap karena tak berada di rumah dan dikelilingi sanak keluarga.

Tama Aditya juga berpendapat hampir sama. Aditya yang berasal dari Bogor dan menimba ilmu di fakultas Ekonomi Unsrat melihat bahwa Ukhuwah Islamiyah sangat terasa baginya di hari raya kurban. Selama lima tahun tinggal di Manado, Aditya selalu menghabiskan Idul Adha di rumah para sahabatnya.

“Keluarga teman-teman yang mengajak untuk berlebaran Haji di rumah mereka. Jadi tak merasa sepi. Sebaliknya, malah merasa punya keluarga baru. Keluarga teman-teman saya juga sangat baik.”

Pria yang kini sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tahap akhir, memposisikan Idul Adha sebagai momen refleksi dan bukan hanya sekedar seremonial belaka.

“Kalau cuma sekedar makan daging, itu biasa. Kalo dapat uang kiriman lebih, tinggal cari rumah makan yang menyediakan menu daging. Pesan dan tinggal santap. Tapi bukan itu intinya. Idul Adha itu jadi saat untuk berefleksi. Bercermin dari Ibrahim dan belajar lagi tentang pengorbanan.”

Meski mengaku sangat merindukan masakan sang ibu yang memiliki rasa khas, Tama tak terlalu ambil pusing.

“Memang, ada rasa rindu dengan masakan ibu. Rasanya khas. Belum pernah ada bandingannya. Tapi kalau itu terus yang dipikir, malah bisa jatuh sakit dan tidak bisa merayakan Idul Adha. Tentu itu tak baik.”

Sementara Fajran Lamuhu punya cerita sedikit berbeda.

Meski berasal Gorontalo yang jaraknya terhitung dekat dengan Manado, tak membuat Lamuhu lantas memilih merayakan Idul Adha di kampung halamannya. Lamuhu yang pernah belajar di fakultas Hukum Unsrat, lebih nyaman berada di Manado saat Idul Adha.

“Tidak mesti pulang ke Gorontalo untuk dapat merasakan atmosfer Idul Adha. Di Manado juga bisa.”

Di sisi lain, Lamuhu juga mengkritisi mengenai degradasi makna Idul Adha. Ia menilai bahwa perintah untuk berkurban hanya secara simbolik dipahami dan tidak secara esensial.

“Sekarang ini Idul Adha jadi sekedar perayaan saja. Sensitifitas sosial dan solidaritas terhadap sesama manusia hanya akan terlihat di momen-momen seperti ini. Kalau sudah lewat, maka tiap-tiap muslim akan kembali ke kehidupannya yang semula. Kehidupan yang lebih mementingkan akumulasi kekayaan materi dan melupakan poin penting seperti empati sosial.”

Tapi Lamuhu tak mau menggeneralisir persoalan seperti itu. Secara jujur ia mengaku bahwa masih banyak orang yang mengajarkannya nilai-nilai fundamental Idul Adha.

“Beberapa orang yang pernah saya temui, mengajarkan saya banyak aspek mengenai nilai dasar Idul Adha itu sendiri. Mereka memang tidak tampil dan berceramah di TV, radio atau di masjid-masjid besar. Mereka juga bukan tokoh agama terkemuka. Mereka cuma orang kampung yang mengartikulasikan Islam dalam praktek hidup harian. Sederhana, namun langsung ke akarnya.”

Dan hari ini, tahapan menuju Idul Adha semakin dimantapkan. Banyak umat muslim sudah bersiap. Jumat besok (26/10/2012) seusai sholat, penyembelihan hewan akan dimulai dan Idul Adha akan tetap dirayakan. Entah secara makna atau lebih sebagai ritus.

 

*sebelumnya terbit di Cyber Sulut

Andre Barahamin