Surat untuk Hujan #09

Dear hujan,

Tak kusangka pertemuan kita berikutnya justru terjadi di sebuah tempat yang asing. Di mana, kau memiliki nama lain di sini dan aku berhadapan dengan kesulitan pelafalan. Sebuah kelucuan yang membuatku tersenyum sendiri saat telapak tanganku merasakan butir-butir air yang jatuh.

Tapi satu hal yang masih sama. Kehangatan yang kau berikan padaku meski lebih banyak orang yang mencibir kedatanganmu. Dan kini aku makin paham, bahwa kegilaan akan rutinitas telah membuat semua sudut kehidupan berbalik membenci. Mungkin tidak seluruhnya, tapi setidak-tidaknya hampir sebagian besar kehidupan urban berharap kau tak pernah menjenguk mereka.

Hari ini, aku ingin membagi ingatan yang baru saja singgah. Seperti biasa, aku ketakutan menghadapi karat yang akan menyerang otakku nanti dan akhirnya membuat kepingan cerita seperti ini mengalami resiko gagal dalam proses re-memorisasi. Dan tentu kau mengerti bahwa ini selalu merupakan cerita tentang betina mamalia dari spesiesku.

Perjumpaan dengannya belumlah layak untuk dikategorikan kenangan. Ia dan aku sendiri masih sering bertukar kabar atau sekedar mengucapkan basa-basi dalam beberapa potong kalimat. Meski kini telah berada di tempat yang jauh terpisah, setidak-tidaknya kami masih menjalin sesuatu yang oleh beberapa orang disebut: persahabatan. Ikatan antar dua orang manusia yang merasa bahwa ikatan metafisik yang menyatukan sisi emosional mereka hingga ada rasa nyaman untuk berbagi beberapa hal.

Kau tentu mengerti apa arti sahabat. Ya, mereka yang akan memberimu asam agar luka yang kau derita cepat sembuh. Atau mereka yang mencaci mu habis-habisan karena semangat yang urung padam sebelum pertarungan di gelanggang. Sahabat adalah tinju yang mendarat di wajahmu dengan telak karena kau tak siap menghadapi peperangan yang sesungguhnya dengan musuh-musuhmu. Sekaligus menjadi tepukan pertama yang akan mendarat di pundakmu ketika kau berhasil melakukan hal kecil yang luput dari pandangan banyak orang. Sahabat adalah itu: perilaku dinamis yang tidak berjalan di garis lurus seperti kereta yang melaju. Ia berjalan dengan arah yang berubah-ubah, dengan detakan yang silih berganti dengan dentuman dan kejutan-kejutan yang membuat kau menyadari hal-hal kecil di sekitarmu dan sejenak melupakan momen-momen besar yang menjadi tontotan sejuta umat.

Dalam waktu yang singkat, ia menjadi sosok yang paling rewel di dalam lingkar sosialku yang terbatas. Menjadi figur yang selalu tak ku pedulikan ucapannya namun terkadang membuatku merenung akan arti di balik semua itu. Ia juga menjadi dinding pembatas yang terus tumbuh dengan tantangan lisan agar aku memberanikan diri melampaui semua itu. Dinding rapuh yang sebenarnya dapat dengan mudah ku curangi namun tak kunjung kulakukan untuk alasan yang masih terus ku cari.

Entah mengapa pula, penolakan-penolakanku bersifat temporer di hadapannya. Di hadapan tubuh yang gagap diserang sakit namun dengan akting murahan ia berupaya untuk tetap tegar. Aku pernah menyaksikan bagaimana buruknya sebentuk wajah pucat tersenyum, dan itu dia. Dengan kebijaksanaan yang dikumpulkannya dari serpihan kitab suci, ceramah moralitas dan nilai-nilai etis lainnya, ia berupaya menjembatani dialog dengan diriku yang kadung mengubur semua itu beberapa tahun sebelum perjumpaan dengannya terjadi.

Aku terkadang tak paham, apakah ia atau aku yang terlanjur bebal untuk mendengar satu dengan yang lain. Apakah memang dialog ini hanya umpan semata dari takdir yang selalu berhasil ku tinju hingga meratap di pojokan? Atau ini memang sebuah penggalan kecil dari babad kehidupanku yang berantakan namun ku rayakan dengan sadar? Atau ini hanya sekedar pelangi yang datang setelah hujan singgah?

Hingga menulis ini, aku masih mencoba menguraikan semuanya di dalam otakku. Apa mungkin ini adalah cara bagaimana takdir bermain-main dalam tantangannya? Memberi jawaban prematur adalah sesuatu yang berupaya ku hindari dalam tantangan seperti ini. Tapi setidaknya, aku memahami satu hal.

Sepertinya, aku jatuh cinta pada tubuh ringkih itu.