Kundera dan Kemestian untuk Terus Menulis

Sebuah grup seni avant-garde bernama Situationiste Internationale pernah berucap: hidup yang hidup mestilah memiliki imajinasi. Agar tak banal atau bahkan kering.
Sekarang mari memulai cerita ini. Tentu saja dengan memutar ingatan ke masa lalu yang belum terlampau jauh.
Lima tahun lalu, tepatnya bulan Desember 2007, saat ibadah perayaan Natal mulai ramai di Manado. Kala itu Theater Club melakukan Musyawarah Umum Anggota (MUA) untuk kali pertama. Mereka yang merasa bagian dari kelompok ini berkumpul di Theater Hall, fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat). Tujuannya jelas. Melakukan regenerasi struktur kepengurusan organisasi sekaligus merumuskan program-program yang dibasiskan pada visi dan misi Club. Pada MUA pertama ini, tongkat estafet kepengurusan diserahterimakan dari tangan Dean J. Kalalo dan Christy Sondey ke tangan Huruwaty Manengkey dan Patricia Picauly.
Manengkey adalah generasi pertama dari Theater Class, sebuah mekanisme penerimaan anggota baru yang rutin diadakan tiap tahun. Manengkey resmi bergabung pada tahun 2006. Angkatan pertama Class ini berjumlah tiga orang. Ada Steven Mareoli dan Chrifilda Kekung yang juga ikut bergabung.
Sementara Picauly bergabung bersama Club di bulan September 2007 pada saat Class kedua dibuka. Jumlah anggota baru yang akhirnya bergabung ada empat orang. Satu orang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Selain Picauly, ada Hence Makalew –di kemudian hari lebih sering menggunakan nama pena Hanz Liberty–, Jeremias Naumbeni dan saya sendiri.
Regenerasi struktur saat itu terasa sangat beresiko bagi banyak orang. Bahwa terlalu berbahaya ketika kemudi organisasi yang masih berumur muda dibebankan kepada dua orang anggota yang baru seumur jagung pengalamannya. Tapi di sini letak menariknya.
Bagi banyak orang yang dengan sadar bergabung dengan kolektif ini, Theater Club adalah sebuah kelompok seni. Satu kumpulan dari orang-orang yang dengan sadar memilih meresikokan hidupnya untuk melampaui batas-batas ketidakmungkinan. Bahwa limit-limit tentang resiko sangatlah bergantung pada penilaian masing-masing individu. Menerobos ketakutan dan bayang-bayang ideal adalah upaya melampaui keterbatasan setiap partisan Club biar terbuka pintu-pintu kemungkinan. Tentu saja hal ini mesti dilakukan secara kolektif.
Meskipun Club memiliki struktur organisasional, ia sejak awal telah didesain lebih lentur dan harus cepat menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Ia tidak statis atau terus berada di dalam rel. Juga mesti dinamis dan responsif di tengah kondisi yang fluktuatif.
Memang tak dapat dipungkiri kalau Theater Club lahir sebagai jawaban kegelisahan beberapa orang saat mendapati kondisi seni pertunjukan dan sastra tengah pontang panting tak karuan paska vakumnya Teater Kronis dan Komunitas Pekerja Sastra (Kontra) semenjak tahun 2004. Para pendiri Club –Dean J. Kalalo, Christy Sondey, Fredy Sr. Wowor dan Hadi Gedoan– awalnya merupakan pekerja seni yang terlibat aktif di dua kelompok seni tersebut. Keputusannya kemudian adalah membanting keresahan itu ke lantai praktik. Salah satu kepingnya adalah kelompok baru yang dideklarasikan pada 30 April 2006 –bersamaan dengan kabar kematian Pramoedya Ananta Toer disebar angin.
Sekarang balik lagi ke cerita awal.
Selain mendengarkan laporan pertanggungjawaban dari struktur demisioner, memilih struktur pengurus baru dan merevisi dasar filosofi organisasi, semua yang hadir juga ikut mengusulkan radikalisasi visi dan misi Club. Satu yang terekam jelas dalam ingatan saya. Mempersiapkan Club sebagai batu pondasi awal menuju cita-cita terbangunnya ‘kelompok teater profesional yang beririsan dengan iklim teater dan sastra yang kondusif’.
Ini mimpi besar yang terdengar cukup mustahil lima tahun lalu.
Kini, mari melihat kondisi saat ini biar tak terkesan terpasung pada hari kemarin.
18 April 2012, pukul 14.30 waktu setempat. Cukup banyak anggota Club yang berkumpul di sekretariat. Ada hajatan maha penting saat itu. Yang berdiri di depan bukan lagi Manengkey, karena ia tak lagi menjabat Direktur Umum Theater Club. Tugas itu kini sudah disampir ke pundak Breyvi Talanggai. Ia adalah pemegang setir organisasi ke empat, melanjutkan apa yang belum sempat dicapai Pangki Ponggele di periode sebelumnya.
Tak ada pembacaan manifesto atau sejenisnya. Talanggai hanya berpidato singkat. Ia membuka dengan resmi workshop tiga bulanan yang dimulai hari itu.
“Ini batu loncatan menuju ‘mini akademi teater dan sastra’ sekaligus laboratorium eksperimen,” tegas Talanggai.
Ada lima materi yang dipilih untuk dipelajari dan didiskusikan setiap minggunya. Ada tiga hari yang dipilih: Selasa, Kamis dan Jumat. Materinya soal Manajemen Organisasi, Penulisan Kreatif, Sejarah dan Teori Teater, Pengantar Filsafat dan Dasar-dasar Logika juga Dasar-dasar Akting. Sementara Senin dan Selasa akan digunakan untuk latihan rutin teater. Setiap minggu juga akan dilakukan bedah naskah. Waktu memang tentatif namun bukan berarti menjadi alasan untuk bisa mengingkarinya.
Terdengar gila dan sangat padat.
Namun sekali lagi, ini adalah upaya untuk melampaui keterbatasan. Mendorong kemampuan diri hingga ke titik paling maksimal agar batas dapat jernih terlihat. Jika tak pernah dicoba, maka tentu kita tak akan pernah tahu apa kekurangan dan kelebihan secara individual dan organisasional. Sebagai starting project, ini ibarat bayi sulung yang hadir sebagai realisasi mimpi sepasang suami istri yang sejak lama mendamba anak. Mereka yang bekerja di bidang periklanan menyebutnya gimmick. Percobaan berani untuk pertama kalinya.
Tak ada donatur tetap yang akan membiayai program ini. Tak ada maecenas yang mau menyisihkan kekayaannya untuk membantu mimpi-mimpi di kelompok ini terealisasi. Tak ada proposal permintaan bantuan dana menyokong keberlangsungan workshop yang dititipkan ke kantor-kantor pemerintah atau badan usaha lain. Setiap anggota yang memiliki kelebihan di kantongnya dengan sukarela ikut patungan untuk sekedar menambal biaya penggandaan materi atau tetek bengek lain yang dibutuhkan agar kelas-kelas ini dapat terus diadakan secara reguler.
Saya beruntung menyaksikan peristiwa penting ini.
Untuk mereka yang berada di luar Club, pencanangan workshop adalah hal biasa saja. Toh, Rendra sudah lebih dulu melakukannya kala membangun Bengkel Teater. Taktik ini juga banyak direplikasi dengan perubahan sana-sini oleh banyak kelompok seni pertunjukan lain di Indonesia. Lagipula tentang akademi seni, lebih dulu sudah ada Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia (ISI) dan beberapa lain tersebar di Indonesia.
Soalnya sekarang adalah bumi yang mesti dipijak. Ini disadari benar oleh partisan Club. Bahwa menara ide yang ada di langit tiada guna. Terus menerus menengok sukses orang lain sembari berkhayal andai itu juga dimiliki diri, sama juga tak bermakna. Kondisi Manado –tempat Club beraktifitas dan menjaring apresiannya– agak berbeda dengan tempat lain. Di sini, seni pertunjukan dan sastra hanya sekedar tambalan yang kapan saja dapat dikupas lalu dikeranjangsampahkan.
Sebagai contoh, mata kuliah teater baru saja dimulai tahun 2005 di Unsrat. Itupun hanya ada di fakultas Sastra. Di Universitas Negeri Manado (Unima), beda kondisinya setipis kulit bawang. Kelompok-kelompok seni pertunjukan dan aktifitas kesustraan hanya pengisi waktu luang kala masih duduk di bangku kuliah. Jika sudah tamat, menjadi peteater atau penulis bukanlah pilihan yang cerdas kalau tak mau dibilang gila. Tak ada jaminan penghasilan tetap. Juga kondisi iklim apresian yang terus menuju bergerak minus ke titik nadir. Jika berani meresikokan diri, siap-siap saja jadi gembel.
Membangun ‘mini akademi teater dan sastra’ di kota yang mengalami demam konsumsi tanpa interupsi, ibarat lakon Tom Cruisse di trilogi film Mission Impossible. Harapan jangan terlalu ideal, waspada juga mesti terus dijaga. Kepala mesti sering menengok ke belakang agar dapat belajar dari pengalaman. Tapi jangan terus menerus melihat masa lalu. Sesekali tak ada salahnya menunduk agar tak tersandung kerikil. Tatapan ke depan juga harus pasti walau tak boleh takabur atau berbangga diri karena masih dini. Ini mengapa evaluasi menyeluruh jadi vital letaknya.
Tapi satu hal penting untuk digarisbawahi. Mungkin tak ada salahnya mengutip yang pernah dituliskan Milan Kundera dalam novelnya Kitab Lupa dan Gelak Tawa: menulis adalah upaya melawan lupa. Momen-momen penting seperti ini mesti dicatat. Reportase-reportase singkat biar nanti tak gagap saat perlu melakukan oto-kritik diri dan kolektif. Biar tak ahistoris kata beberapa orang.
Itu kenapa tulisan ini hadir. Lagi-lagi sebagai provokasi.

Andre Barahamin