Surat untuk Hujan #08

Akhirnya tiba di titik ini.

Saat di mana mesti ada salam perpisahan untukmu. Untuk dirimu, ku alamatkan lambaian tangan yang dahulu sempat berupaya untuk menggapai pinggangmu dan berharap dapat menarik tubuhmu lebih dekat ke dalam pelukan ku. Ucapan selamat berpisah untuk hati yang pernah coba meyakinkan dirimu namun kini berupaya untuk merelakan jalan yang berbeda. Jalan yang sudah kita pilih, masing-masing dan tidak bersama.

Mungkin agak terlambat, tapi itu lebih baik dari tidak sama sekali. Itu pepatah tua yang coba ku bungkus menjadi pembenaran tentang tenggat waktu hingga aku menuliskan salam ini. Beberapa hal memang berubah saat ini, namun beberapa detil lain akan tetap sama seperti kemarin. Seperti ketika kau mendorong diriku untuk mengejar apa yang dahulu ku anggap sebagai mimpimu, mimpi orang-orang di sekitar kita berdua, dan bukan mimpi ku.

Kau tetap akan menjadi bagian dari ingatan akan kehidupan yang pernah ku jalani. Senyum, tawa serta emosi yang pernah meledak di dalam dirimu telah menjadi penanda masa lalu yang memiliki ruang tinggal di dalam kompilasi yang ku sebut; kenangan. Dirimu, tidak akan begitu saja hilang. Meski aku tak bisa memberikan garansi seberapa lama ia akan mampu tinggal. Setidaknya hingga hari ini, hingga ketika aku menulis surat pendek ini, ingatan tentang dirimu masih bersesak-sesak dengan cerita-cerita lain dari bagian hidupku yang lain. Kau kini ada di situ; di bagian yang lain.

Tak akan ada ucapan terima kasih karena aku meyakini bahwa apapun yang pernah terjadi di antara kita berdua, adalah kesengajaan. Pertemuan hingga perpisahan kemarin, adalah utopia yang sempat kita biarkan hidup meski dengan kemungkinan paling minimal. Dan itu membuatku merasa bangga telah memiliki sebagian dari dirimu di masa lalu.

Kau, optimisme dan keyakinanmu akan Tuhan, semua potongan peristiwa di mana aku menemukan dirimu, segala yang masih terekam di otak ku, kini bukan lagi sesuatu yang spesial. Karena titik ini, adalah saat di mana aku memberikan tempat kepadamu sebagai bagian dari hari kemarin.

Dan kemarin bagiku, adalah sesuatu yang hanya untuk dikenang. Bukan untuk dihidupi.

Andre Barahamin