Surat untuk Hujan #07

Dear hujan,

Kedatanganmu tadi malam sungguh membuat hatiku berbinar. Dingin udara yang kau tebarkan membuat dia benar meresapi pelukanku. Ya, perempuan itu. Rambut sebahu hitam yang tetap tak berubah sejak pertemuan perdana empat tahun lalu. Rambut sebahu hitam yang masih sama ketika dua tahun lalu kami bertemu lagi.

Tadi malam, aku mengecup bibirnya. Mencegah agar tak ada lagi kata-kata yang keluar untuk saling menyalahkan. Ciuman itu adalah perayaan atas perjumpaan, sekaligus monumen untuk mengenang perpisahan tanpa alasan yang terjadi dulu. Aku secara sepihak menuduh dirinya juga menginginkan pertemuan terlarang ini. Dia berbohong untuk detik-detik di malam ini, seperti juga diriku.

* * *

Sejak dua tahun lalu, dia telah menemukan orang yang dipilih sebagai bandar terakhir perahu hatinya. Perempuan ini dengan sadar telah menyimpan semua dosa yang pernah kami lewati bersama di sudut gelap. Segelap malam ini. Tapi dia tetap tak menolak saat bibirku dengan pelan mengecupnya. Telinganya juga tak tuli saat aku mendesah pelan sembari merapikan potongan poni rambutnya. Aku yakin, empat tahun tak cukup untuk menghanguskan perjumpaan itu.

Namun, sepasang matanya kembali menghakimiku setelah semua dendang pembangkangan terhadap kesetiaan kami lantunkan. Mata yang dahulu sering terpejam ketika batasan surga dan neraka, ku perlihatkan padanya, berkali-kali. Dua biji mata berwarna hitam yang pernah menangis dan berbinar. Indera pelihat yang menjadi saksi bagaimana aku melecehkan norma.

Kali ini, mata itu bertanya.

“Mengapa kita berdua tak kunjung saling membenci? Kenapa pertemuan terlarang seperti ini terus terjadi?”

Aku memang mencintainya. Sejak dulu dan hingga kini. Meski takarnya telah berbeda, namun hatiku selalu menerima kepulangannya. Sebagai pengembara, hatiku telah memberkahinya menjadi perteduhan. Persinggahan yang hanya akan terjadi saat kami sama-sama lelah dan muak akan hidup.

Aku memang mencintai dia, sama seperti aku mencintai perempuan-perempuan dari waktu kehidupanku yang tak pernah kembali. Setiap mereka adalah malaikat yang membasuh luka dan memberiku ciuman serta kehangatan untuk musim dingin luka. Tapi setiap mereka adalah juga iblis yang berhasil mengajarkan rasa sakit, keangkuhan, dusta dan pengkhianatan kepada jiwaku. Perempuan-perempuan itu adalah kereta hidup yang membawa tubuhku bertahan hingga hari ini.

Aku mencintai dia dan semua perempuan itu sama seperti kecintaanku pada masa lalu. Setiap inci kenangan dengan tiap mereka adalah nafas dan antibodi yang membuat aku mengerti tentang hidup. Semua dusta, perselingkuhan ataupun dosa, telah ku lebur dalam tubuh penuh keringat usai bercinta dengan masing-masing mereka. Mereka –dia dan perempuan-perempuan itu– adalah Tuhan dan Setan di rima hidupku. Para guru yang membantuku merengkuh totalitas hidup.

Itu sebabnya aku hanya memandangi punggung telanjangnya yang tampak mengkilap karena keringat. Tanganku tak merangkul agar dinding putih kamar hotel ini dapat bercengkerama dengannya tanpa interupsi. Ada jarak yang sengaja ku berikan agar dia dapat menyelesaikan tangis yang sempat tertahan karena bertabrakan dengan pandanganku.

Hanya selembar selimut tipis yang ku salutkan ke tubuhnya. Biar dingin hujan dari luar ruangan persegi ini tak ekspansi dan mengganggunya. Meski sesekali aku mencuri gerak meresapi harum rambutnya. Rambut sebahu yang dipotong sama seperti empat tahun lalu, dengan poni pendek. Rambut hitam yang memiliki harum yang tetap sama hingga hidungku tak asing.

“Bulan depan aku menikah,” katanya luruh sembari membalik tubuh. Dadanya yang ranum dan tanpa kutang tak mampu mengusir keterkejutanku. Mataku justru lurus memandang ke dinding di belakang telinganya. Mungkin jawabannya ada di balik kusat cat, entah.

Benar. Aku merasakan sakit yang tiba-tiba karena kabar itu. Ini sakit yang hampir sama dengan perpisahan dua tahun lalu. Tapi keangkuhan patriarkis menang dalam pertarungan di otakku. Aku mesti tegar dan berpura-pura tak goyah.

Sayang, hal itu hanya untuk beberapa saat saja.

Aku memutuskan untuk jujur padanya. Bahwa ada luka baru malam ini. Kekecewaan karena ia memilih laki-laki lain dan terlalu yakin untuk mengikatkan diri dalam belenggu. Luka yang belum mampu ku takar seberapa dalam, namun cukup untuk membuat tanganku segera menarik dirinya ke dalam pelukanku. Rasa sakit yang akhirnya membuatku bercinta lagi dengannya hingga beberapa kali sampai kami terhempas waktu dan tersadar ketika hari telah berganti dan hampir sore. Rasa kalah yang meracuni otakku membuat aku kalap dan mengemis padanya untuk satu malam lagi.

Dia menolak. Dan aku tak sanggup memaksa, seperti biasa. Hatiku yang sedang bernanah sadar betul bahwa Cinderella mesti pulang sebelum gelap. Sudah ada pangeran tampan yang menunggu dirinya pulang ke rumah. Pangeran yang memiliki sepatu kaca dan harapan hidup bahagia selamanya seperti dalam dongeng purba. Ia mesti beranjak turun dari ranjang yang alasnya telah kisut sejak kemarin malam. Dan aku, sendiri lagi di sini. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan.

“Aku bisa datang kan? Dapat undangan kan?”

Rambut hitam basah tampak pelan tampak dari balik pintu kamar mandi dan menatapku luruh. Sorot matanya yang menjawab. Kepalanya juga menggeleng.

Akan lebih baik jika aku tak hadir katanya. Biar bisa mengurangi rasa sakit juga agar ia tak gugup. Kali ini, aku yang ganti mengangguk pelan meski dia tak melihat. Aku mengerti. Mencoba untuk mengerti karena tak ada opsi.

“Apa kita masih akan bertemu? Maksudku, yang seperti ini?”

Ia baru saja usai membasuh tubuhnya. Pertanyaanku tak dijawab. Sebaliknya, ia menyuruhku untuk juga membersihkan tubuhku dengan air. Sepasang jarinya yang halus bergerak menjepit hidung yang tidak terlalu mancung itu. Tangan yang satu lagi tampak mengebas. Tanda bahwa bau tubuh ini telah mengganggu dirinya. Namun aku yakin, ia tak serius dengan hal itu. Tapi tetap saja aku beringsut pelan. Memasuki ruang lembab yang berukuran lebih kecil. Kamar mandi.

Dari balik dinding yang ditempeli marmer setengah, ku dengar sayup suara langkah yang perlahan menghilang. Dia pergi. Seperti biasa, tanpa pamit. Biar tak gampang rindu katanya, suatu waktu ketika ku tanya. Aku meneruskan mandi. Membiarkan sisa tubuhnya yang menempel di tubuhku larut ke lantai bersama air.

Andre Barahamin