Punk: Atheisme

Salah satu topik yang cukup panas namun sering dihindari di skena underground, adalah perbincangan mengenai agama dan atheisme. Tentang bagaimana posisi sebuah institusi yang memiliki hak elit untuk secara partikular mengontrol tentang apa dan bagaimana persepsi mengenai Tuhan. Di skena bawah tanah di Indonesia, perbincangan ini lebih sering didiamkan. Persoalan tentang agama telah dianggap final sehingga tidak pantas lagi diungkit.

Apalagi data menunjukan bahwa Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia, yang mana 80% dari 260 juta penduduknya merupakan pemeluk agama Islam dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Sisanya adalah Kristen Protestan dan Kristen Katholik dan minoritas Buddha dan Hindu serta Konghucu. Dalam catatan BPS, tidak disebutkan berapa presentasi atheis atau agnostik, karena memang di negara ini tidak memiliki agama adalah sesuatu yang tidak mendapatkan tempat.

Saya sendiri adalah seorang yang tidak beragama. Individu tanpa label religius tertentu, dan sudah barang tentu tidak memiliki kaitan dengan lembaga agama apapun.

Pendapat ini secara otomatis menggugurkan hasil pendataan numerik BPS bahwa seluruh warga negara Indonesia memeluk satu agama seperti yang dianjurkan. Sebagai atheis, saya adalah orang yang merasa tidak memerlukan Tuhan atau tuhan (baik huruf besar atau huruf kecil) di dalam berlangsungnya kehidupan harian yang datar dan membosankan. Saya juga tidak percaya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh sosok tersebut dalam sekejap. Juga tidak percaya bahwa sebagai makhluk ciptaan dari tuhan, saya mesti memiliki kewajiban mensyukuri dan terus menerus mengucapkan terima kasih kepadanya.

Namun itu juga bukan berarti bahwa saya menentang mereka yang mempercayai Tuhan atau tuhan.

Keyakinan dan pilihan untuk menjadi atheis tidak secara otomatis menjadikan saya memiliki hak ekslusif untuk menghakimi mereka yang mempercayai tuhan sebagai sesuatu yang salah. Tidak. Mengambil atau menetapkan pilihan dari sekian banyak opsi yang tersedia tidak membuat anda atau saya telah memilih yang terbaik.

Standarisasi dalam bentuk skala bertingkat yang ditetapkan dalam sebuah pilihan sebenarnya adalah sumber masalah itu sendiri. Tentang bagaimana kita memandang diri sendiri sebagai yang terbaik dari yang lain, yang utama dalam peringkat, yang terdepan di dalam barisan. Cara pandang yang menekankan pada perbedaan yang hirarkis membuat kita sering melihat bahwa pilihan individual seseorang berada di level yang jauh lebih baik atau jauh lebih buruk dari pilihan kita sendiri. Ini adalah kesalahan berpikir yang sangat mempengaruhi cara pandang, cara bertindak seseorang dalam menyikapi perbedaan pilihan yang eksis di sekitar dirinya. Ini yang dinamakan dengan fasisme.

Fasisme bukan hanya sekedar Hitler dan lambang swastika. Ia juga tidaklah sesederhana aksi Front Pembela Islam (FPI) yang menggebuki minoritas atau mereka yang berbeda paham. Fasisme bukan hanya polisi dan tentara dalam seragam dan senjata. Fasisme, adalah penyakit yang menjangkiti cara berpikir, cara berbicara dan cara bertindak dari seseorang. Fasisme tidak hanya muncul ketika ada sekelompok orang dengan kecacatan pola pikir dan menggabungkan diri mereka. Kanker kemanusiaan ini juga muncul secara individual. Karena dari situlah fasisme bermula, dari individu.

Di skena underground di Indonesia, secara jujur mesti dikatakan bahwa masih banyak mereka yang fasis. Sementara sisanya, masih terkesan mendiamkan aksi fasisme ini atas nama alasan-alasan moralis yang tak memiliki daya guna kritis apapun. Banyak dari mereka yang “mampu melihat semut di seberang lautan, namun tak melihat gajah di depan mata”. Mata mereka hanya mampu melihat hal-hal yang artifisial, sementara sudut-sudut yang esensial justru diacuhkan.

Fasisme ini tampak jelas ketika membicarakan soal agama dan ketidakberagamaan seseorang.

Banyak dari mereka yang masih beragama, enggan menerima kenyataan bahwa institusi agama tersebut adalah korup dan menindas. Bahwa keyakinan spiritual seseorang sebenarnya berada di trek yang berbeda dengan keharusan memiliki agama. Bahwa menjadi seseorang yang religius sama sekali tidak memiliki relasi apapun dengan apa agama seseorang. Singkat kata, seseorang tetap dapat memiliki keyakinan religius tanpa mesti memiliki agama.

Bahwa mengikuti atau berada di bawah sebuah agama tertentu sebenarnya merupakan bentuk ketertundukan yang membuat seseorang menjadi tidak lebih dari sekedar budak. Memiliki agama, berarti juga merelakan dirimu untuk dipimpin seseorang tanpa mesti mendapatkan persetujuanmu terlebih dahulu. Memberikan hak istimewa kepada mereka yang mengaku mengantongi pengetahuan soal di mana letak surga itu, dan membuat dirimu seperti hewan ternak yang tak memiliki hak atas dirimu. Di bawah kontrol agama, seseorang hanya akan mendapatkan teror, teror dan teror. Di dalam institusi agama, kau dilarang untuk berpikir kritis karena akan ada tembok-tembok yang membatasi semua itu. Agama adalah penjara material dan imaterial di saat yang bersamaan dan siapapun yang mengaku memiliki agama adalah tahanan sukarela di dalamnya.

Agama adalah institusi koersif dan kenyataan ini terlalu telanjang untuk ditutup-tutupi. Agama adalah sebuah organisasi hirarkis yang memiliki agenda dan tujuannya sendiri, terpisah dari apa yang dicita-citakan oleh mereka yang mengabdikan diri di dalam agama. Sebagai institusi yang kemudian berkembang menjadi otonom, agama memiliki perangkat yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Siapapun individual yang ingin mengendalikan agama, justru hanya akan terserap ke dalamnya dan melemah dengan sendirinya. Agama tidak dapat direformasi karena memiliki logikanya sendiri, logika yang terpisah dari logika mereka yang merasa mampu mengintervensi alur arah agama. Dalam sejarahnya, agama membangun diri dan kekuatannya dengan menghisap energi kehidupan dari manusia dan mengkonversi manusia menjadi zombie. Pilar-pilar agama dibangun dari tumpukan bangkai mereka yang dianggap berbeda atau yang menolak tunduk.

Seiring waktu, agama juga mendandani dirinya agar terlihat manis di mata para pemberontak muda yang kesepian. Dengan kemampuan retorik dan akrobatik ide dan praktik, agama menjadi oase bagi mereka yang terlalu penakut untuk mempersenjatai hasratnya. Agama adalah taman bermain penuh warna dengan bola-bola plastik yang akan melindungimu dari memar dan cedera ketika terjatuh. Memelukmu dengan ilusi dan mencium bibirmu dengan kepalsuan hidup. Semua yang terlalu khawatir akan hari esok akan memilih agama, karena ia menjadi hotel paling mewah dengan pelayanan paling sempurna. Sementara mereka yang enggan menerima rasa sakit akan berteduh di bawah payung agama, karena selayaknya heroin ia akan memberimu ketenangan temporer hingga kau mesti mengkonsumsinya lagi dan lagi hingga kecanduan.

Saya berani bertaruh bahwa tidak ada satupun yang dapat mendaku bahwa agama membiarkan imajinasi dan praktik mu terbang liar seperti Ikarus. Agama adalah rantai yang membelenggu sayap-sayap kebebasanmu. Menanggalkannya, berarti membuat dirimu merdeka dan selangkah lebih dekat dengan kebebasan.