Surat untuk Hujan #06

Dear hujan,

Sudah beberapa hari ini kau terus saja mengguyur kotaku. Semakin lama, semakin banyak juga mulut yang kesal mengumpat karena merasa kau menjadi pengganggu aktifitas mekanik mereka. Aku hanya tersenyum nakal, karena tahu aku masih merindukanmu. Seperti saat di waktu lalu ketika rambut dan sebagian tubuhku basah kuyup kau peluk.

Namun tadi malam, entah mengapa kau tak singgah. Padahal aku menunggumu. Meski memang aku tak sendiri.
Tadi malam aku bersamanya. Perempuan yang akhirnya ku datangi meski hatiku masih kebingungan.

Dia adalah gadis yang pertama kali kutemui sekitar empat tahun silam. Saat itu ia masih remaja. Hatinya masih merah muda ketika pertama kali ku sentuh. Kala itu dia masih belum punya banyak pertimbangan dan cenderung menampakkan gelora yang tidak sekedar gelombang. Lebih dari itu, dia memiliki senyum yang membuatku betah memandangi wajahnya.

Namun empat tahun yang lalu, aku juga merupakan laki laki yang berada di titik persimpangan jalan hidupku. Memilih untuk mengejar dan merealisasikan mimpi serta imajinasi atau takluk di balik penjara yang dengan angkuh ku sebut cinta. Sesuatu yang akhirnya tidak bisa lagi ku tutupi, bahwa itu bukan cinta.

Aku meninggalkannya empat tahun yang lalu. Membiarkan diriku kembali di terbangkan debu jalanan dan angin menjadi kemudi satu satunya agar dia tak bisa menemukanku. Selalu seperti itu. Aku menolak untuk ditemukan oleh perempuan perempuan itu, karena hatiku terlalu cepat luluh karena ketulusan perhatian dan sentuhan mereka.

Saat perpisahan itu adalah bisu tanpa jejak. Interval ketika aku tanpa sepatah katapun menghilang untuk waktu yang belum bisa dipastikan, dan biarkan dia terus bertanya. Entahlah, mungkin aku juga menginginkan rindu yang seperti itu.

Hingga akhirnya aku mencarinya lagi ketika tubuhku berada kembali di kota ini.

Dua tahun setelah retak itu, aku memilih menyambung kembali temali yang membeku. Aku mencarinya dengan sadar dan membawa luka yang semakin dalam. Hatiku saat itu terlalu sering berdarah karena ada banyak tangan yang dengan kasar merampas sepotong dan menimpakan sepotong punya mereka. Memang tak selalu cocok, hingga menyisakan jeda menetesnya darah. Mereka adalah potongan yang membuatku mengingat mereka setiap kali rasa sakit itu datang dan singgah.

Tapi sayapku terlalu cepat terbawa tiupan angin. Hingga dengan sekelebat, kembali aku terbang pergi dan biarkan dia tersesat di dalam tanya tentang siapa dan mengapa kembali aku datang bertanya.

Aku membiarkan semua itu karena memang begitulah selalu kisah yang patah.

Dan dua tahun berlalu kembali. Kembali lagi aku dan dia dipertemukan oleh hasrat dan rindu yang selalu tak bernama. Aku dan keasingan menemui dia di persinggahan.

Tapi ia tak lagi sendiri. Ia telah memiliki hati yang lain untuk mengikatkan diri agar tak lagi terbawa badai. Ia telah siap menghadapi para pencuri seperti diriku yang datang tanpa pernah memberi tahu. Meski memang tak semua akan berjalan sesuai rencana.

Kedatanganku dengan kisah dan rindu yang sama membuatku tak sanggup untuk terus menjaga tali itu terikat. Dia dengan berani membiarkan aku melucuti satu demi satu simpul di hatinya yang melilit, meski akhirnya ia mengebaskan tanganku yang mencoba membuatnya terbebas dan terbang lagi seperti waktu pertama kami berjumpa. Ia telah tunduk terhadap ketakutan dan tak berani menghadapi aku yang akan membawanya berenang bersama gelombang.

Dia memang menerimaku. Membiarkan tubuhku datang dan berjumpa serta menghabiskan satu malam yang panjang sembari berpelukan. Kami sama sama menjaga mata agar tidak terlelap karena menyadari malam ini tak akan pernah terulang. Ini malam pertama sekaligus malam terakhir dalam empat tahun perjumpaan dan rasa kehilangan di sela sela itu.

Aku mengecup bibirnya dengan puas sementara ia mempermainkan rambutku.

Dan aku melihat matanya berpendar terang meski kelelahan mencoba menghalau kantuk. Tawa dan sentuhan jemarinya menghangatkan tubuhku hingga tubuhnya menyatu dalam pelukan erat yang membuat tubuh kami terikat, juga hati kami.

Beberapa jam kala langit di luar gelap tak mampu menjangkiti mendung ke dalam kamar di mana kami hanya berdua, membagi tawa dan bergulingan dengan jarak dekat hingga nafas kami saling memburu.

Meski memang aku memberi batasan jelas malam itu. Bahwa aku tak ingin meleburkan diri dan membiarkan dua tubuh ini menyatu. Aku mencintainya dengan alasan, yang tak perlu lagi dijelaskan.

Aku memilih memandanginya saja dengan dialog yang kujaga agar tidak mengungkap jalan hidup yang sudah terlalu jauh ku jalani.

Satu malam tak cukup baginya untuk mendengarkan kisah empat tahun ketika diriku berevolusi di titik nadir dan meresapi labirin pengetahuan layaknya ekstase.

Benar bahwa ketika pagi itu datang dan suara adzan yang menggema, aku menyadari bahwa ini saat di mana kisah Cinderella seperti menimpa diriku. Ini saatku pulang dan kembali lenyap. Hanya tanpa meninggalkan sepatu kaca. Hanya harum tubuhnya yang ada di ujung hidungku.

Aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang tersisa dari malam ini di ingatannya.

Andre Barahamin