Surat Untuk Hujan #05

Dear hujan,

Bagaimana kabarmu di sana? Bagaimana dengan lapisan langit tempatmu berlabuh?Pasti keadaannya buruk, seburuk pertanyaanku yang tentu saja kau mengerti adalah basa basi semata. Kau pasti tahu bahwa aku mengerti dengan jelas bahwa kondisi alam hari ini sedang sekarat. Asap pabrik dan kegilaan konsumsi komoditi tidak hanya menghitamkan rumahmu. Lebih jauh daripada itu, membuat kau juga ikut terluka.

Aku tidak akan menyangkal bahwa salah satu diantara para destruktor itu, terdapat namaku.

Namun aku berharap kita masih bisa jadi teman yang baik. Karena jelas aku sangat membutuhkanmu untuk menjadi telinga semua keluhku. Terutama saat ini.

Saat dimana aku kembali diserang rasa rindu. Kepada seorang bocah yang berumur tiga tahun setengah dengan senyumnya yang manis. Sepotong daging yang membawa imajinasiku menemukan landasan setelah terbang bertahun tahun.

Hari ini, sementara aku menulis surat kepadamu, semuanya telah genap seminggu. Tujuh hari penuh tanpa mendengarkan suaranya sedang berdialog denganku. Tak ada saling membalas kata antar kami berdua. Sesuatu yang tidak bisa tidak kuhiraukan. Jelas bahwa ada seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku.

Bukan tanpa usaha. Aku telah mencoba untuk sekedar menelpon dan berharap bisa mendengarkan suara kecilnya memanggilku: papa. Tapi tak bisa. Perempuan yang melahirkannya memberi alasan bahwa ia tak sedang ingin bicara denganku. Dan aku hanya bisa menunggu. Saat ini, hal itu adalah hal paling rasional sekaligus tak masuk akal buatku.

Sebagai individu yang mencoba merengkuh kebebasannya, aku juga tak ingin menyakiti kebebasan siapapun. Termasuk dirinya. Umur bagiku bukanlah parameter yang mesti diharuskan menjadi titik pangkal penilaian layak tidaknya. Kekejaman sejenis ini mesti dihentikan. Belajar dan tengah berupaya menghidupi hidup seutuhnya membuatku mengerti bahwa sebagai manusia, aku juga berhak menghargainya.

Aku memberikan respek terdalam atas semua pilihannya. Pilihan dari seorang bocah yang akan genap berumur empat tahun tahun ini. Apapun konsekuensinya bagi kami berdua.

Tak ingin telingaku mendengar suara sebagai simbol keengganan darinya. Bahwa ia ingin terus terjebak dalam imajinasi dan aktifitas bermain penuh kegembiraan dan belum ingin setengah berteriak di depan mikropon ponsel. Terlalu dangkal kiranya jika hanya karena kebutuhan sepihak dariku, mesti ia yang dikorbankan. Sebuah dialog bagiku berlangsung ketika dua pihak yang tengah berkomunikasi sepakat untuk melakukan pertukaran informasi. Dalam posisi yang sederajat tentunya.

Meski bagi banyak orang, ia masih terlalu mudah untuk dapat mengerti, bagiku justru sebaliknya. Sedari sekarang kami masing masing mesti belajar. Bersama sama tentunya. Aku dan dirinya. Aku dan bocah kecil itu. Aku dan anakku.

Sudah cukup bagiku bahwa masyarakat hari ini mengajarkan segala sesuatu serba terbalik. Mengajarkan hidup yang ironis dan dangkal serta membuang jauh semua keindahan dan kegembiraan. Bahwa sebagai seorang ayah, aku punya hak untuk mendominasi dirinya. Dan sebagai seorang laki laki yang menyumbangkan satu sel sperma dalam proses kemenjadiannya, aku memiliki kekuasaan. Tentu saja dalam bahasa apapun, aroma koersif tak akan pernah bisa disembunyikan.

Ini kegilaan yang tak bisa diberikan ruang tolerir, atau terhisap habis kedalamnya. Tanpa pernah ada harapan untuk bangkit lagi.

Tentu saja dalam setiap jalan yang dipilih, kita akan berhadapan dengan setiap konsekuensinya. Merengkuh pilihan dengan resiko yang menyertainya, bagiku adalah kenikmatan. Sejenis ekstase tak terbahasakan. Mesti dirasakan agar mengerti.

Perih hari ini, misalnya. Cekam rasa rindu kepadanya mesti kutanggung. Dihimpit masa lalu dan keengganan terjebak dengan kebusukan manusia mekanik memiliki rasa sakit yang setiap saat semakin kumengerti cara untuk menikmatinya.

Itu mengapa aku menghubungimu. Menuliskan sepenggal cerita ini agar bisa nanti kau sampaikan padanya. Juga ku titip sepotong puisi untuknya. Baca pelan sajak ini ditelinganya. Temani dengan rintik kecil. 

nyata mimpi di atas tanah
berbalut balada tua
kepak sayap patah  
di bungkus jerami kata

perih itu nyata  
waktu imajinasi temu muka
maka jangan pernah biar
harap itu jadi nyata
Jangan lupa, ciumi ia untukku. Tepat di bibirnya. Pelan dan katakan: “Presiden belum terbunuh. Papa belum bisa pulang.”

Andre Barahamin