Saya dan Kretek

Saya seorang perokok kretek. Secara pribadi, saya tak cocok dengan rokok putih. Rokok yang tidak menggunakan cengkeh sungguh tak bisa saya nikmati. Ini pilihan selera. Kretek juga bukan hal asing dalam hidup saya. Almarhum kakek dan ayah saya juga perokok kretek, meskipun kini ayah saya sudah berhenti karena alasan ekonomi. Merokok sejak masih duduk di kelas dua SMA, hingga kini saya terus merokok kretek. Berbagai jenis kretek sudah pernah saya coba.

Rokok kretek Bentoel adalah jenis rokok yang paling awal mengakrabi saya. Dulu waktu kakek masih hidup, saya adalah orang yang sering disuruh membelikannya rokok di warung. Biasanya ia membeli sekaligus dua bungkus rokok. Kepulan kreteknya menjadi teman saat ia menjaga saya mengerjakan PR sepulang sekolah. Ingatan saya masih segar dengan memori itu. Biasanya kakek merokok sembari ditemani kopi hitam kental dari Kotamobagu. Ini jenis kopi paling populer di Sulawesi Utara. Kopi arabica ini punya rasa yang khas. Saya tak bisa mendeskripsikan secara jelas. Sungguh unik di lidah.

Sementara ayah saya adalah penggemar Gandum Mas. Kalau tak salah ingat, ini adalah jenis rokok terakhir yang ia konsumsi sebelum akhirnya berhenti. Alasannya sederhana. Murah dan kental dengan aroma cengkih. Meskipun sebenarnya, Gudang Garam Surya adalah jenis rokok yang ia gemari. Saya tak pernah menanyakan lebih jauh soal sejarah pertemuannya dengan rokok. Juga soal alasannya berhenti merokok. Tapi ibu adalah sebab yang paling mungkin mengapa lelaki ini berhenti merokok. Perempuan yang melahirkan saya ini tak terlalu suka dengan asap rokok. Saya juga cukup banyak menemui perempuan yang tidak suka dengan laki-laki yang merokok.

Waktu masih berseragam SMA, saya terhitung bengal di kelas. Beberapa kali harus berurusan dengan pihak sekolah karena melakukan beberapa tindakan indisipliner. Watak pembangkang ini terus terjaga hingga masuk kuliah. Termasuk terus menjadi seorang perokok. Terutama karena keterlibatan saya pribadi dengan organisasi mahasiswa, diskusi filsafat dan aktifitas demonstrasi hingga menulis. Yang terakhir ini sungguh membuat saya makin lekat dengan kretek, juga kopi. Saya bisa tidur dini hari karena menulis atau membaca. Tentu saja dengan ditemani rokok dan kopi.

Rokok pertama yang saya konsumsi adalah Gudang Garam Surya. Ini jenis rokok yang kemudian jadi langganan saya. Awalnya saya merokok sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan orang tua. Dulu saat jam istirahat di belakang sekolah bersama beberapa orang teman, kami biasanya merokok diam-diam. Biasanya satu batang rokok digilir untuk dua atau tiga orang. Ada juga yang kebagian tugas untuk berjaga, mengantisipasi ada guru atau orang yang lewat. Meski tetap saja, aksi ini akhirnya ketahuan guru juga. Tentu saja kami dihukum walau akhirnya tetap juga mengulang lagi aksi ini.

Semasa kuliah, rokok dibeli dengan sedikit tipu muslihat. Uang kiriman dari orang tua yang diperuntukkan untuk ongkos makan biasanya saya sisipkan beberapa untuk membeli rokok. Kadang jika kantong sudah cekak, beberapa teman jadi tujuan saya untuk meminta sebatang kretek. Banyak dari kami yang jadi akrab karena aktifitas minta meminta rokok kretek ini. Saat mulai bekerja dan mendapatkan gaji, rokok juga jadi barang yang paling sering saya beli. Saya juga jadi kenal beberapa pedagang warung yang menjual rokok hingga subuh. Bila kehabisan rokok tengah malam, mereka jadi tempat saya berlabuh. Karena terlalu sering, saya akhirnya sering menyempatkan diri mengobrol sejenak dengan mereka.

Ada pendapat bahwa kretek bisa mengakrabkan dua orang asing. Saya sepakat dengan hal itu karena punya pengalaman bagaimana kretek menjembatani dialog. Ingatan saya masih ingat bagaimana dulu sering duduk di kantin kampus sembari memesan kopi hitam, kretek yang ditawarkan akan mampu memecah kebisuan. Hal ini tidak terjadi barang sekali atau dua kali saja. Hal ini juga sering terjadi di beberapa tempat asing yang saya kunjungi.

Namun layaknya para perokok sekedarnya, saya juga tak tahu banyak tentang kretek. Apalagi jika bicara tentang sejarah kretek. Pengetahuan soal definisi kretek hanya terbatas soal di penggunaan filter pada sebatang kretek atau tidak. Jika tidak menggunakan filter, saya akan langsung mengenalinya sebagai kretek. Sementara jika kretek tersebut berwarna putih lengkap dengan filter di ujungnya, saya mengenalinya dengan sebutan rokok putih. Pemahaman ini lambat laun berubah seiring pengetahun yang semakin luas soal kretek. Terutama sejak terlibat dalam riset yang didanai INSIST soal cengkih dan industri rokok kretek secara umum. Kompilasi hasil penelitian ini kemudian terbit sebagai buku.

Kesadaran bahwa saya seorang perokok kretek semakin terasa saat saya berada di Manila, Philipina. Diundang untuk menghadiri sebuah seminar terbatas tentang ilmu-ilmu sosial selama lebih dari seminggu membuat saya benar-benar paham mengapa kretek itu berbeda dengan jenis rokok lain. Sungguh sial bisa dibilang. Selama di Manila, saya lupa membawa persediaan kretek. Yang tersisa hanyalah sebatang Dji Sam Soe yang sudah sempat dinyalakan namun kemudian urung saya hisap. Kretek satu-satunya yang kemudian jadi teman selama saya berada di negeri orang.

Satu batang kretek ini kemudian saya simpan hingga tiga hari lamanya. Saya sering mencium baunya yang khas. Mengingat lagi bunyi khas yang akan terdengar saat kita menyalakan ujung batang rokok sembari menghisapnya dalam-dalam. Ingatan saya juga kembali pulang ke Manado, ke Indonesia. Bagaimana mudahnya mendapatkan kretek di warung-warung hingga di gerai-gerai supermarket di sana.

Puasa ini akhirnya batal juga. Karena sudah tak tahan, saya akhirnya memilih menghisap kretek ini. Usai itu, ada sedikit rasa sesal karena ini berarti saya tak punya lagi cadangan kretek yang tersisa. Perasaan ini akhirnya mendorong saya sedikit konyol dengan menuliskan status di akun facebook. Isinya tentang kerinduan terhadap kretek. Lucu memang.

Saya bisa bilang bahwa saya adalah pemadat kretek. Dalam sehari, saya bisa menghabiskan sekitar 25 batang Dji Sam Soe atau Sampoerna Hijau. Kurang lebih dua bungkus. Terkadang bahkan bisa lebih jika aktifitas baca dan menulis dilakukan. Kebiasaan ini sudah berlangsung hampir enam tahun terarakhir.

Setiap habis makan, saya merasa wajib untuk merokok. Apalagi habis makan pedas. Bibir yang kemerahan dan rasa cabe yang tersisa di mulut tak cukup dihalau dengan air minum saja. Satu atau dua batang kretek jadi destinasi. Tinggal di Manado yang terkenal dengan makanan pedasnya, kretek semakin lekat dengan saya. Hingga kini saya masih belum punya penjelasan mengapa ada dorongan seperti itu. Yang jelas, ada nikmat yang susah untuk ditakar menggunakan kata-kata.

Lebih dari seminggu berada di Manila, saya sungguh tersiksa setiap kali habis makan. Selain karena tak jua mendapatkan masakan yang cocok dengan selera, tiadanya kretek membuat saya sedikit kelimpungan. Saya sempat mencari informasi ke beberapa pegawai hotel, petugas keamanan dan supir taksi tentang kemungkinan adanya toko yang menjual kretek. Sayang, semua orang yang ditanya tak punya kabar tentang keberadaan kretek.

Rokok Marlboro sempat saya coba karena terpaksa. Daripada tak merokok sama sekali, biar saja coba yang lain. Di Indonesia, beberapa teman juga merokok Marlboro. Mungkin bisa mengobati sedikit rasa rindu terhadap kretek.

Sayang rasa tak bisa bohong. Persis seperti potongan slogan dari sebuah iklan komersil di televisi yang sering saya tonton. Begitu juga dengan rokok. Ketiadaan rasa cengkih dalam batang rokok yang menyala di bibir, membuat saya semakin mengerti bahwa kretek itu unik. Rasa yang dikandungnya tak bisa disamakan begitu saja dengan jenis rokok lain. Cengkih yang ada di dalamnya sungguh jadi pembeda yang serius. Ini rempah yang jadi alasan orang Eropa datang jauh-jauh ke Indonesia.

Di Indonesia sendiri, kretek kini sedang dirundung masalah. Lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa haram bagi kretek. Ada juga selentingan isu bahwa industri rokok akan ditutup. Alasan kesehatan juga jadi salah satu pertimbangan yang didorong ke permukaan. Kini silang pendapat mengenai kretek semakin sering terdengar. Ada yang setuju, ada juga yang tidak.

Saya memang bukan ekonom, juga bukan pakar pembangunan atau akademisi kampus. Tapi dibesarkan di Sulawesi Utara yang punya banyak cengkih, saya jadi paham bahwa ada banyak orang yang menggantungkan harapan pada rempah jenis ini. Banyak petani di Sonder dan Kombi misalnya, sering gundah jika harga jual cengkih menukik turun. Panen cengkih yang dua tahun atau terkadang tiga tahun sekali, sering tak jadi garansi bahwa pengeluaran jutaan rupiah untuk merawat tanaman itu bisa balik pulang ke kantong mereka. Ini mengapa jika banyak petani cengkih tak kunjung sejahtera.

Sewaktu melakukan riset untuk INSIST, banyak petani yang saya wawancarai terkejut dengan isu bakal ditutupnya industri kretek. Mereka paham, kretek adalah pembeli paling besar produksi cengkih mereka. Perwakilan pabrik rokok sering jadi sandaran mereka untuk menjual cengkih. Mereka masih belum tahu, kemana menjual hasil panen mereka selain tempat itu. Para petani kecil adalah yang paling khawatir.

Di Minahasa, cengkih bukan sekedar tanaman. Ada banyak hal bertaut di balik itu. Soal identitas dan warisan sejarah yang tidak bisa begitu saja dipandang sebelah mata. Banyak petani cengkih di Sonder dan Kombi mewarisi perkebunan itu dari orang tua mereka. Orang tua mereka juga mewarisi tanaman itu dari orang tua mereka, dan begitu seterusnya. Leluhur mereka meninggalkan petak kebun cengkih hingga generasi hari ini, sebagai titipan historis dan saksi sejarah.

Cengkih di Minahasa memang punya kisah panjang. Ada kisah perlawanan juga penaklukan serta penjajahan oleh bangsa Eropa. Cengkih yang datang dari Maluku juga jadi saksi bagaimana tanah-tanah adat dirampas sepihak oleh Belanda dan diubah jadi industri perkebunan. Ini mengapa tak mudah untuk sekedar menyarankan agar para petani mengganti jenis tanaman mereka. Meninggalkan pertanian cengkih lalu beralih ke jenis tanaman lain sungguh tak seenteng pemikiran para pengambil kebijakan. Persoalan hajat hidup orang banyak memang tak ada yang mudah. Silang sengkarut yang perlu pendekatan dan telaah lebih jauh ketimbang pendapat-pendapat yang membabi buta.

Itu mengapa, saya sepakat dengan Puthut EA bahwa banyak orang sudah gelap mata terkait persoalan rokok ini. Mengkerdilkan begitu saja rantai ekonomi yang jadi tempat jutaan orang di Indonesia menggantungkan harapan, sungguh bukan sikap yang bijak. Meletakkannya hanya sebatas isu kesehatan dan persoalan hukum haram dalam Islam, akan menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan tak sensitif dengan fakta bahwa akan ada dapur dari banyak rumah tangga yang bakal tak lagi mengepul.

Dengan sederhana bisa dibilang bahwa banyak orang yang bisa makan hingga hari ini karena kretek. Selain petani cengkih dan petani tembakau, ada juga buruh-buruh di pabrik rokok yang tentu bakal kelimbungan jika sampai benar kabar tak sedap itu. Ini belum ditambah dengan banyaknya pedagang kecil yang menjadikan rokok sebagai salah satu sumber pendapatan. Jika sudah begini, hitungan sederhana lain adalah: menutup industri kretek sama dengan membiarkan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Itu artinya, membunuh jutaan orang secara tidak langsung. Saya tak berani menerka apa mereka tahu hal ini.

Andre Barahamin

5 Comments

  1. Boleh minta referensi pustaka tentang kretek?
    Kasihan bapak dimusuhi ibu karena kretek….

  2. Dear sir,
    If you dont know how many harmfull effects of smoking can be. Please search those words on Google Scholar, you can find more than 600.000 results within 1 second.
    If you want me to name all… Just let me know.

    • Smoking white cigarette? Or smoking kretek. Those is two different things. You have to make it clear.

    • You are talking about smoking cigarette? I am talking about Indonesian cigar. So we’re discussed two different entities.

Comments are closed.