Surat Kepada Kawan-kawan Muda di MarIn CRC

Saya tak mau bicara tentang sesuatu yang lebih luas. Justru telunjuk ini mengarah pada diri sendiri dan kita. Orang-orang muda yang hari ini ada dan menyatakan berkomitmen membangun MarIn CRC. Soal bagaimana membuat pusat kajian ini benar-benar punya kajian. Mengakui bahwa semenjak dulu dan hingga saat ini, kita punya masalah. Persoalan itu masih terus ada menantang serta tak segan menghalangi gerak maju kita.

Bahwa hari ini, kita kekurangan penulis muda yang tidak hanya bagus dalam menulis, tapi juga bisa menyediakan informasi yang kaya dalam tulisannya. Tulisan yang tidak hanya sekedar puitis, tapi juga bisa menjadi tempat orang untuk belajar. Menghasilkan reportase-reportase yang enak dibaca untuk semua kalangan. Bukan hanya sekedar mengumbar kata-kata ilmiah yang justru membuat orang semakin sulit mengerti. Bisa jadi sarana edukasi yang ramah dan tak garang.

Bukankah semua dari kita kemarin terkejut dengan kabar kemarin? Saat berita datang membawa kabar bahwa nakhoda sejarah maritim itu akhirnya berpulang pada 19 Juli 2011. Adrian B. Lapian pergi tanpa sempat pamit karena digempur penyakit dan fisik yang dimakan usia hingga akhirnya kalah. Meninggalkan kapal yang mesti terus berlayar. Masing-masing dari kita kemudian seperti tersadar bahwa kita banyak melewatkan kesempatan untuk dapat belajar dari orang seperti dia. Penyesalan selalu datang terlambat ketika waktu tak sanggup lagi diulang.

Lalu datang bulan Agustus. Seorang bernama Alex Ulaen yang sama-sama adalah guru bagi kita semua berulang tahun pada tanggal 3 kemarin. Angka 62 menjadi penunjuk bahwa ia tak lagi muda. Seperti tanda bahwa kita kembali harus bersiap sewaktu-waktu, kemudi kapal akan kembali kosong.

Padahal, Manado tak kekurangan anak muda. Kota ini juga punya dua universitas negeri yang menerima puluhan ribu mahasiswa setiap tahun. Seperti yang sekarang sedang berlangsung. Masih ditambah dengan puluhan universitas dan sekolah tinggi serta akademi yang tersebar di berbagai titik. Di universitas Sam Ratulangi, tempat kita semua belajar, ada jurusan sejarah dan jurusan antropologi. Meski terdapat di dua fakultas yang berbeda, tentu ini bukan jadi alasan.

Memang benar bahwa sejarah dan antropologi bukan bidang yang diminati banyak lulusan siswa baik dari SMA maupun dari SMK. Jumlah mahasiswa yang mendaftar hingga kemudian kuliah di kedua jurusan ini juga sering tak mencapai bilangan sepuluh. Tapi bukankah jumlah bukan menjadi ukuran?

Sejarah sudah mengajari kita banyak hal. Kuantitas bukan patokan umum sebuah kemajuan. Apalagi kalau kita bicara soal peradaban. Bicara soal kebudayaan. Bicara soal bagaimana menjaga warisan leluhur sembari mengumpulkan potongan-potongan yang hilang.

Tentu saja kita tak hanya bisa sekedar bicara. Karena bukan itu masalah yang sedang kita hadapi. Kita berhadapan dengan kondisi di mana, kita akan bicara melalui teks. Melalui tulisan. Yang tidak hanya dihasilkan dari studi di ruang perpustakaan semata, tapi mengkombinasikannya dengan aksi langsung di lapangan. Tulisan yang dapat menjadi potret sekaligus rekaman dari aktifitas langsung manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Kompilasi cerita yang datang langsung dari lapisan bawah dan bukan versi sebaliknya.

Namun bukan berarti ini menghilangkan nilai kritis yang menjadi pegangan kita selama ini. Sebaliknya, tulisan-tulisan ini merupakan adonan yang berimbang antara oksidentalisme kita, fakta serta kebaruan dalam setiap isinya. Tidak hanya sekedar mengulang-ulang sesuatu atau bahkan sampai menjiplaknya.

Problem berikutnya adalah produktifitas, konsistensi serta humanitas. Tiga hal yang mesti berjalan beriringan agar kita tak jadi seperti mesin cetak yang dikendalikan oleh tombol-tombol dan menjadi terobsesi dengan jumlah. Karena selain bahwa orientasi studi kita mengenai manusia, kita sendiri adalah manusia. Punya emosi.

Label sebagai antopolog atau sejarawan yang sering kita ucapkan disertai tanggung jawab. Tentu tak ada dari kita yang ingin ini menjadi seperti gelar-gelar adat yang secara serampangan dianugerahkan karena tendensi politik. Potret carut marut pemahaman yang sudah kepalang dianggap sesuatu yang wajar.

Lagipula, sudah ada beberapa orang yang telah merintis jalan. Kita tinggal meneruskan. Menyambung jejak-jejak yang sudah mereka tinggalkan untuk kemudian membuat jejak kita sendiri. Agar nanti, ada generasi berikut yang dapat belajar dari hal ini. Kita mesti mengambil pilihan untuk berlayar dan di saat yang bersamaan terus belajar. Mungkin kita akan sesekali berlabuh. Ini bisa jadi waktu rehat kalau sudah ada di antara kita yang bosan. Tapi tetap saja, kita mesti kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan jika saat mengangkat sauh sudah tiba.

Tentu ini bukan hal yang mudah. Tapi tak ada salahnya kita mencoba. Hingga batas di mana kita benar-benar mencapai titik maksimal. Soal hasil, itu tak perlu dipikirkan sekarang. Tak ada yang tahu bagaimana hari esok.

Andre Barahamin