Surat untuk Hujan #04

Dear hujan,

Aku menantimu seharian ini. Hari yang membosankan ini karena banyak orang yang sibuk berkumpul di jalan. Teriak sampai parau sembari memacetkan jalan. May Day. Itu nama lain yang membuat tanggal 1 Mei selalu terasa spesial dan berbeda. Terutama bagi mereka yang setiap hari selama setahun, terpenjara di tempat kerja. Tenggelam dan larut dalam alienasi kerja upahan.

Tapi, aku tak mau bicara tentang hal itu sekarang. Aku sudah muak!!! Setiap tahun, tanggal ini menjadi lakon banalitas para pekerja yang ditipu para aktivis Kiri. Lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut singa. Lepas dari tipuan para bos, masuk ke dalam perangkap para calon birokrat otoriter.

Aku mau bercerita tentang sebuah nama yang kembali muncul dalam ingatan. Saat bersama seorang teman, sedang tertawa mengingat waktu waktu yang pernah kami tinggalkan di belakang dengan kekalahan dan kemenangan. Bersama dengan itu, berbagai fragmen cerita datang bertubi tubi menghantam otakku. Berlarian keluar seperti sperma setelah ejakulasi di rahim wanita.

Terutama tentang peristiwa konyol itu. Empat tahun lalu. Saat aku masih bersamanya, berbagi kehangatan tubuh meski bukan mimpi.

Karena jelas, ia adalah sisi yang berbeda dari suramnya jalan yang kupilih untuk ditempuh. Dia berbelok di simpang yang berbeda.

Tapi semua oposisi itu seperti tak mampu untuk membuat masing masing kami saling menjauh. Kami tetap saling merengkuh. Meski setiap kali berpelukan, akan ada duri yang menusuk dan menimbulkan rasa sakit. Perih yang dengan sadar dinikmati berdua.

Hingga kemudian ia menjadi tak tahan.

Lalu memutuskan untuk bunuh diri dengan menenggak sebotol minyak wangi dan memakan obat anti nyamuk bakar.

Sebuah sikap menantang kematian dan hidup. Dan disaat yang bersamaan, menantang diriku.

Beberapa waktu sebelum kejadian itu, aku mendapatkan pesan dari salah seorang temannya. Memberitahu tentang apa yang bakal terjadi di lompatan waktu berikut, dan berharap aku dapat mencegah hal itu terjadi.

Tapi tidak.

Saat itu, aku lebih memilih tak mendengarkan peringatan itu dan terus tenggelam dalam ciuman kopi hitam di kedai kecil langgananku. Tanpa peduli bahwa saat itu, ada sehelai nyawa yang sedang melangkah menuju titik habis.

Hingga dering telpon selular di kantong celana berdering. Sebuah panggilan masuk yang memberi kabar bahwa seorang perempuan sedang terbaring lemah di rumah sakit. Perempuan yang pernah menemaniku duduk melewatkan senja di pantai. Perempuan yang pernah memelukku dalam ketelanjangannya untuk memberi kehangatan.

Respon awalku adalah tetap tak percaya. Maklum. Aku terlalu idiot untuk percaya bahwa ada orang yang mau menghabisi hidupnya hanya karena tak sanggup menaklukkan tekanan hidup.

Aku butuh beberapa telepon dan pesan singkat lagi, untuk benar benar dapat meyakinkan diri bahwa apa yang kudengar adalah benar. Ia sedang tergolek di ranjang rumah sakit setelah mendapatkan perawatan darurat atas tindakannya. Dan aku hanya butuh 90 menit untuk sampai ke tempat itu.

Tapi aku tetap tak pergi. Aku memilih menyongsong senja di tempat biasanya dia juga menemaniku.

Hanya sebuah pesan singkat yang ku kirim ke nomor ponselnya.

“Semoga cepat sembuh.”