Surat untuk Hujan #03

Dear hujan,

Hari ini aku kembali menulis surat untukmu. Tentang kabar seorang perempuan. Lagi, masih tentang jenis yang ini. Seperti keingintahuanku yang meluap.

Seorang yang terpisah oleh kontinen, namun mau menggantung origami kata kata hasil lipatanku di depan beranda tanyanya. Yang termediasi oleh citra penuh sandi dari pancaran gelombang yang ilutif. Sebuah cermin yang tak memantulkan apapun selain tipuan tentang semarak sekitar. Candu yang kini digemari banyak orang. Namun baginya itu adalah jendela dunia.

Entahlah. Tak soal ini benar atau salah. Ini sekedar terka yang tak butuh penilaian.

Ia anonim yang berbunyi indah di telingaku. Lewat dongeng seorang sahabat. Seorang teman yang untuknya pernah aku hadiahkan sajak pendek. Batu asah pertajam rindunya. Karena cinta itu selalu menarik buatku. Selalu penuh kisah.

Juga babad yang ini. Mengenai seorang homo sapiens betina yang tak sengaja mendapati ada rangkaian huruf demi huruf yang jadi prasasti masa lalu. Tentu saja itu monumen kecil dari ingatanku yang sempat dengan sadar aku simpan. Masa lalu tidak bisa dituduh bersalah. Individu yang menjalani adalah yang mesti bertanggung jawab atas potongan fase-fase tersebut.

Ini mengapa aku tersenyum mendengar kabar ini. Dengan bersemangat menuliskannya dan mengirimkannya padamu. Sekaligus mengabarkan kepada seluruh serpihan kenangan bahwa selalu ada tempat untuk mereka kembali. Kapan saja. Sepasang tanganku juga akan dengan girang merangkul setiap bagian yang pulang untuk menemui diriku hari ini. Yang berbeda tentu saja. Selayaknya binatang.

Juga terima kasih atas guyuranmu kemarin. Aku begitu menikmatinya. Tentu tak sendiri. Ada secangkir kopi pekat tanpa tambahan pemanis seperti biasanya.

Klasik. Itu kata seseorang. Kau tentu ingat siapa dia.