Keresahan

Saya sudah lama tak menulis ringan. Takar soal berapa berat ringan yang dimaksud, tentu saja hanya saya yang paham benar. Tak usahlah mesti dibagi. Biar saja ini jadi kekayaan individu.

Namun, saya akhirnya memutuskan untuk kembali menulis yang ringan itu. Tentu saja ada alasannya. Nah, kalau soal yang ini tentu saya akan bagi. Biar tak dituduh terlalu pelit dengan orang-orang yang sudah mau merelakan dirinya untuk membaca catatan ini. Kalau hingga akhir tulisan ini tak jua ditemukan apa yang hendak dibagi, maka itu sudah barang tentu bukan tanggung jawab saya. Itu urusan pembaca sekalian. Saya tak mau ambil peduli.

Sebelum lanjut, saya juga hendak mengingatkan pembaca bahwa tulisan ini memang akan menabrak tata bahasa baku yang ada di dalam kamus atau buku panduan. Soal sengaja atau tidak sengaja, itu juga tak akan dijelaskan dalam tulisan ini. Jika ada kesempatan, mungkin pertanyaan atau rasa penasaran saudara sekalian akan terjawab. Walau saya tak mau memberi garansi. Memberi jaminan bukan tabiat saya. Maklum, saya tak paham dan tak mau menerka apa yang akan terjadi esok.

Biar terlihat keren, saya sitirkan sepotong syair dari dalam Bible yang masih tersangkut di kepala. Kurang lebih ia berbunyi begini: jangan kamu khawatir soal hari esok, karena hari esok juga punya kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari, cukuplah untuk sehari.

Jangan tanya ayat itu ada di surat mana dan ayat berapa. Saya sungguh tak ingat. Pembaca harap maklum. Sudah lama saya tak baca Bible. Jadi, jangan jadikan hal itu masalah. Sekarang, mari saya ajak semua masuk ke dalam beranda tulisan ini. Biar bisa lega saya ceritakan apa yang menggelayut dalam benak.

Awal muasalnya adalah perjumpaan dengan Andreas Harsono dan Imam Shofwan yang terjadi baru-baru ini. Tepatnya, adalah momen ketika saya dan teman-teman Mawale Movement berdiskusi singkat sembari menenggak bir di Lokon Inn, Tomohon yang jadi tempat bung berdua itu menginap. Obrolan ringan di Minggu malam, 17 Februari yang baru saja lewat namun tak kunjung lepas dari otak dan terus saja menggelisahkan.

Sudah barang tentu ada yang mengganjal. Tapi jangan dulu diartikan negatif. Atau jangan terlalu sumringah dan menilainya sebagai hal positif. Berikan saya waktu untuk memaparkan apa itu gerangan.

Yang jadi kegelisahan saya adalah soal anjuran bung Andreas untuk melanjutkan sekolah. Tapi bukan cuma itu yang buat saya gundah. Tapi soal pandangan jurnalis senior ini agar memilih sekolah ke luar negeri untuk menimba pengalaman. Lelaki berkacamata yang tulisannya sering saya baca ini, seakan mengulang kembali apa yang pernah dibilang oleh Alex Ulaen. Dua orang berbeda yang secara tidak langsung menemani pertumbuhan intelektual saya melalui tulisan-tulisan mereka, membicarakan hal yang sama. Seperti telah ada persepakatan sebelumnya. Mereka berbagi pandangan mengenai hal akhirnya membuat saya resah.

Andreas Harsono, adalah salah seorang deklarator Aliansi Jurnalis Independen. Ia juga merupakan salah seorang pendiri Yayasan Pantau. Lembaga yang mendedikasikan diri pada soal jurnalisme dan hak asasi manusia. Sejak 1997, Andreas mengoperasikan blog di Google. Memuat sebagian besar berisi artikel-artikel Andreas yang ditulis dengan gaya penulisan yang bisa dibilang baru di Indonesia. Gaya ini diistilahkan sebagai jurnalisme sastrawi. Teknik menulis yang menggabungkan disiplin ketat jurnalistik dengan keanggunan sastra. Perkawinan keduanya mengemuka jadi tulisan sederhana yang padat informasi namun tak bikin kepala migrain. Andreas juga menyunting buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach dan Thomas Rossentiel. Saya punya buku ini.

Sedang Alex Ulaen, adalah staf pengajar senior di Departemen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sam Ratulangi. Ia juga mengajar di Departemen Antropolog, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di universitas yang sama. Saya lebih akrab menyapa Ulaen dengan sebutan Opa. Ia adalah antropolog dan sejarawan yang sempat belajar di bawah bimbingan Dennys Lombard. Opa bisa dibilang adalah pakar sejarah budaya Nusa Utara, sebutan untuk gugusan pulau-pulau di bagian utara pulau Sulawesi yang berbatas pulau Mindanao, Filipina. Salah satu karya tulisnya berjudul “Nusa Utara: Dari Lintasan Niaga ke Daerah Perbatasan”. Dan sudah barang tentu, saya punya buku ini.

Sekarang, mari kembali pada soal keresahan saya. Ke persoalan anjuran untuk melanjutkan studi pascasarjana. Bahkan dengan tawaran yang lebih baik jika studi ke luar negeri. Namun, tentu saja hal perdana yang harus dijelaskan adalah siapa saya dan apa yang membuat saya layak resah dengan tawaran dari kedua orang di atas?

Siapa saya? Tentu itu adalah pertanyaan yang paling pertama mesti dijawab setelah menjelaskan panjang lebar soal kedua orang di atas. Namun sebenarnya, ini adalah bagian yang paling sulit. Saya selalu tak punya kemampuan yang baik untuk mendeskripsikan siapa pribadi di balik tubuh ini. Setiap kali ditanya apa kemampuan atau kelebihan diri, saya selalu kehabisan kata. Soalan ini juga tak kunjung menemukan solusi dalam diri saya. Seperti ada ambiguitas yang eksis namun lebih serupa parasit dalam diri saya. Pelan tapi pasti, ia saya sadari mulai menggerogoti namun dibiarkan begitu saja.

Di sisi yang lain, saya mampu berdiskusi atau berdebat hingga berjam-jam lamanya. Banyak saksi yang bisa saya ajukan jika ada yang meragukan hal tersebut. Saya juga senang membaca buku, meski terbatas pada buku yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Soal menulis, saya bisa bertepuk dada pelan. Bisa dibilang, lumayan untuk orang seperti saya. Tak lupa untuk disebut, adalah blog. Lebih tepatnya beberapa blog. Setiap blog yang saya operasikan sengaja dipisah menurut tema yang disenangi. Mayoritas blog tidak mencantumkan nama karena saya lebih memilih menggunakan pseudonym. Tak ada alasan khusus. Hanya soal karena saya merasa lebih nyaman dengan hal tersebut. Belajar hal baru juga merupakan salah satu kesenangan saya, meski tak semua hal lantas diseriusi. Secara sadar membatasi diri pada filsafat kritis, sastra, antropologi, jurnalisme dan kuliner. Kedua orang yang saya perkenalkan di atas juga berasal dari dua disiplin ini; jurnalisme dan antropologi.

Padahal menurut seorang teman, dalam dunia hari ini di mana segala sesuatu diperlakukan sebagai barang kita mesti pandai menjual diri. Cara menjual diri tentu adalah metafor meski juga bisa diartikan secara harafiah. Seseorang mesti memikat dan mampu meyakinkan buyers bahwa dirinya layak untuk dibeli. Tidak hanya cukup dengan keunikan atau ciri khas, tapi juga promosi yang meyakinkan. Ini sudah hukum pasar.

Sebuah produk mesti diiklankan agar para calon konsumen tahu layak tidaknya ia dibeli. Promosi memang kadang tampil spektakuler. Tapi ia tak boleh menipu secara serampangan. Jika ada perbedaan dengan apa yang tampil di iklan, ia mestilah setipis kulit ari agar tak menuai kecewa. Sebab jika kepercayaan pasar gagal direbut, maka bayangan kebangkrutan sudah pasti direnggut. Ada semacam moralitas di sini. Tapi bentuknya berbeda dengan apa yang ditulis dalam kitab-kitab suci. Pasar memang membentuk logikanya sendiri dan menyeret semua orang ke dalam pusarannya.

Sudah jelas, bahwa ketidakmampuan untuk menjual menjadi tembok penghalang keinginan untuk melanjutkan studi. Sebabnya, saya termasuk kategori pemalas untuk aktif menjajakan diri kepada para calon konsumen. Bisa dibilang, saya percaya bahwa jika memang layak, maka tak perlu membungkuk dan mengemis. Arogan memang. Tapi saya membahasakan ini sebagai prinsip. Nilai yang membuat saya kemudian masih memiliki keyakinan atau idealisme dalam bahasa beberapa orang. Keyakinan inilah yang kemudian mendidik dan mengeraskan pilihan saya untuk memilih jalan yang sudah ditinggalkan teman-teman lain. Jalan sunyi ronin.

Keyakinan untuk terus menjalani pilihan ini saya sadari secara penuh. Bahwa pilihan ini mensyaratkan mahar yang sungguh mahal. Pilihan ini membuat saya bahkan mesti merelakan perempuan yang pernah saya nikahi berpisah karena bersimpang jalan. Kehilangan hari-hari menikmati bagaimana seorang bocah lelaki yang masih berumur tiga tahun menjalani masa kecilnya. Anak laki-laki harus kehilangan ayahnya akibat pernikahan yang kandas karena perbedaan mimpi dan harapan antara ibu dan ayahnya. Saya memutasikan rasa kehilangan itu dengan merajah nama bocah itu di lengan kiri: Ananta Moedya Sastra.

Saya ingin sekolah. Apalagi jika sampai dapat beasiswa untuk sekolah gratis di luar negeri. Bahkan keinginan itu cukup besar meski saya mencoba tak larut di dalamnya. Saya tetap realistis meski memelihara nyala lilin optimisme. Tapi tak saya letakkan lilin itu di beranda untuk dinikmati setiap orang. Saya menjaga nyalanya di sudut yang hanya beberapa orang yang tahu. Mereka yang dalam penilaian saya layak untuk mendapatkannya.

Namun, saat menuliskan catatan ringan ini saya paham bahwa akan lebih banyak orang yang tahu hal itu. Tapi tak mengapa. Karena saya beranggapan bahwa ini sudah saatnya keluar ke teras rumah dan menjumpai mereka yang berlalu lalang di depannya. Tentu akan ada satu dua orang yang akan bertanya. Jika saat itu tiba, saya sudah siap dengan jawaban-jawabannya.