Surat untuk Hujan #02

Dear hujan,

Sepertinya kau semakin sering berkunjung. Aku tak mau bermain tebakan tentang ada gerangan apa yang melatarbelakangi semua itu. Itu jauh lebih baik agar sebisa mungkin kita menimalisasi dialog tak berguna yang sebenarnya cuma topeng kepurapuraan.

Kali ini aku mau berbagi kepadamu tentang kelanjutan surat yang kukirimkan sebelumnya. Tentang perempuan yang meminta foto tubuhku tanpa sehelai benang. Gambar bugil yang sebelumnya luput kutanyakan untuk apa. Tapi tak jadi soal. Lagipula konsepnya adalah saling menukar punya masing-masing. Jadi untuk apa dia gunakan tak lagi mengganggu buatku saat ini. Seperti bertukar kunci kamar. Posisinya seimbang.

Aku akhirnya mengiyakan tawarannya. Dan kini penantianku berkisar tentang menunggu gambar seorang perempuan telanjang. Dia yang pernah cukup lama menjadi lebih dari sekedar teman diskusi dan kritikus sengit terhadap hidup harianku.

Berkelebat dalam ingatanku meski agak samar. Bagaimana kemudian pernah ia meminta ijin untuk berhubungan seks dengan lakilaki lain. Setelah beberapa menit sebelumnya aku meminta ijin untuk pergi meninggalkan dia beberapa waktu karena ada mimpi egois yang ingin kurengkuh sendiri, kali ini tanpa dia. Sebuah permintaan yang cukup menyita beberapa waktu di malammalam pendek yang kuarungi setelah itu. Sedikit terhenyak dan kaget sebenarnya.

Ada banyak pertanyaan yang singgah dalam otak. Juga hadirnya lagi sisi buram rasa kepemilikanku yang ternyata belum hancur benar. Sesuatu yang dengan sombong pernah kudeklarasikan telah musnah dan berhasil dibunuh. Namun belum ternyata. Aku salah menerka karena kini aku seperti tengah berada dibawah ancaman sebilah pisau dileher.

Tapi aku belajar banyak hal dari situ. Bahwa revolusi adalah bagaimana kau memulai dengan merubah dirimu sendiri. Cara bicara, bertindak dan yang paling penting adalah bagaimana kau berpikir. Itu mengapa aku merelakannya. Membiarkan dia tidur dengan lelaki lain adalah sesuatu yang wajar dan bukan sesuatu yang buruk ataupun baik.

Itu mengapa kini tak pernah menjadi soal buatku jika seorang perempuan yang menjadi partnerku, juga memiliki hubungan dengan orang lain. Aku memahami bahwa aku tak akan pernah bisa menjadi seseorang yang sempurna untuk orang lain. Sama seperti bahwa perempuan itu tak mampu menjadi sempurna di hadapanku. Kami berdua masing-masing membutuhkan orang lain untuk menjaga keseimbangan itu. Dan tak ada yang salah dengan hal itu.

Aku mencintainya dan tak akan berkurang hanya karena ia tidur dengan lelaki lain. Saat itu ia pasti sedang membutuhkan seseorang yang bisa menemani dirinya. Menjadi pendengar dan teman berbagi karena memang begitulah manusia. Aku tak mungkin bisa dan jauh lebih bodoh jika aku berbohong. Sebab jika itu terjadi, aku tak hanya menipu dirinya, namun juga diriku sendiri.

Dan ketika aku pulang serta mendapati bahwa lakilaki yang diajaknya berkencan membatalkan janji, aku ikut sedih. Tak dapat kubayangkan bahwa ia untuk beberapa saat kehilangan teman, kehilangan genggaman tangan untuk meyakinkan bahwa ia tak sendiri. Tapi waktu tak dapat diulang. Penyesalan memang selalu datang terlambat karena memang begitulah perannya.

Kami berdua memang kembali berpelukan dan mencoba untuk tidur. Masingmasing mencoba menipu matanya agar terlelap. Saat itu dapat kurasakan bahwa ia terlampau lelah. Terlalu capai bahkan untuk mengeluarkan suara ketika menangis. Tapi air mata yang menetes dan sempat mengalir di sela punggung tanganku tak bisa dibohongi. Aku tak mengeluarkan sepatah katapun malam itu, hanya memeluknya jauh lebih erat lagi.