Surat untuk A

dari seorang ayah yang jarang pulang karena tak punya uang

Mempunyai seorang anak menurut banyak orang adalah sebuah kemuliaan. Berkah yang tak akan pernah mampu ditakar oleh dongeng ataupun puisi. Tak ada lukisan yang mampu mendefinisikan tentang perasaan itu. Kumpulan lagu-lagu terpilih sekalipun takkan sanggup. Benar-benar sensasional hingga luka dan suka bercampur tanpa lagi mampu dikenali.

Itu yang pertama kali aku rasakan ketika seonggok daging bernafas dan dengan mata yang masih belum terlalu terang mengenali sekeliling ada di pelukan. Tubuh telanjang dengan kulit lembut dan membuat aku seakan menjadi seorang paranoid kalaukalau ia terluka. Aku tiba-tiba menjadi seorang malaikat pelindung yang akan rela memberikan nyawanya kapan saja ketika diminta. Hanya karena baru saja sebelumnya ia menangis ketika pertama kali keluar dari rahim seorang perempuan yang hari ini menjadi musuhku. Seluruh dunia terasa berhenti seketika saat tangisannya menyusup ke dalam pendengaranku. Sensasi kebebasan itu kini berbentuk, bukan lagi utopi.

Pertama kali ditanya tentang nama yang bakal melekat dan jadi identitas seumur hidupnya, aku terdiam. Ada ribuan kata dan bayangan wajah yang berkelebat di otakku. Aku berubah menjadi idealis seketika. Ia harus menyandang nama besar. Sebesar impian, sebesar mimpi. Mengatasi realitas bahkan kalau bisa. Ini paradoks hidup mungkin yang pernah kulewati dan baru kini kusadari.

Finalnya, aku memberikan ia nama yang sering kugunakan ketika menulis dan bertarung lewat kata dengan orang-orang yang kuanggap begundal dan patut dibongkar boroknya. Lebih jauh dari itu, nama itu adalah simbol pembangkangan yang sekian waktu melekat menjadi identitas baru untukku. Label anonim yang kusandang dengan sadar akibat percampuran ketakutan dan ketidakinginan menjadi seseorang yang nyata.

Kenyataan adalah sesuatu yang berusaha kutolak karena ketidakmampuanku untuk membuang penyesalan tentang waktu dan semua yang pernah terlewati. Aku memusuhi masa lalu melampaui kemuakanku terhadap relasi hidup hari ini. Semenjak pertama kali aku memutuskan untuk menjadi sisi hitam dari hidup yang apa adanya, maka bibit dendam telah kutabur tanpa batas waktu akhir panen. Itu yang salah satu hal yang tak kusesali. Belum lebih tepatnya. Siapa yang bisa menerka besok? Aku hanya berusaha untuk hidup untuk hari ini saja. Pragmatis kata banyak teman.

Nama itu juga yang akhirnya sering membuat aku tanpa sadar menangis. Meneteskan air mata sendirian meski ada banyak orang disekitarku. Memilih menjadi sepi itu sendiri. Karena dengan begitu aku menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan rindu. Aku bangga menjadi lemah karena nama itu. Hanya nama itu, bukan yang lain.

Telah cukup banyak orang yang kubunuh dalam ingatan dan berlalunya hidup yang tak pernah tetap secara teritorial. Namun nama itu adalah sesuatu yang terus menerus kubawa dan mendapat tempat khusus dalam otakku yang dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Hingga akhirnya kuputuskan untuk merajam tubuhku dengan nama itu agar tak lagi memakan energi berlebih yang akan membuatku terlihat lemah. Aku munafik karena ideologi patriarkis itu berhasil membesarkan aku sebagai laki-laki yang tak boleh menunjukkan bahwa menjadi goncang dan limbung adalah kewarasan yang tak perlu ditanggapi. Semua orang itu lemah ketika sendirian. Aku? Salah satu produk sukses dari masyarakat hari ini yang membangun semuanya diatas topeng dan kedangkalan rasa.

Tetap saja aku memberikan sebuah area khusus ditubuhku agar nama itu eksis. Nama itu spesial, bukan hanya karena itu adalah sisi lampau kehidupanku. Lebih dari semuanya karena aku tak bisa menjelaskan tentang rindu ini. Ia bukan sekedar cinta buatku. Tak perlu definisi karena ia adalah manusia yang mestinya dihargai sebagai manusia. Bukan sebagai komoditi layaknya hari ini yang menghargai semua hubungan dengan nominal angka. Sama seperti hubunganku dengan perempuan yang melahirkan nama itu. Relasi kami adalah sinonim dari harga. Soal berapa jumlahnya dan kapan.

Hingga dalam tiga tahun terakhir, aku menjadi sangat akrab dengan kerja dan bank. Memerah keringat di atas ambang batas kesadaran dan kewarasanku lalu membawa sebagian besar dari bayaran untukku ke bank dengan tujuan menginputnya kedalam sederetan nomor rekening yang kini kuingat meski berjejer cukup panjang. Rutinitas telah membuat otakku menjadi mesin yang siap. Seorang robot yang baik atas nama rindu?

Aku mengeksploitasi kemampuanku sendiri lalu melabeli itu dengan deretan rupiah agar orang-orang mengenaliku. Menyakiti diri sendiri untuk membenamkan detik sampai ketika tiba waktunya aku bisa memeluknya lagi. Menjadi seorang skizo yang mempunyai sekaligus dua kehidupan yang eksis bersamaan. Hidup yang berhadapan secara antagonistik dan aku menyadari itu. Dan hidup itu telah mempunyai terminal tetap kini.

Titik dimana aku selalu belajar untuk meluangkan waktu dan menunda semua keliaran petualangan yang muncul agar aku mendapatkan kehangatan ciuman, melihat senyum serta tidur mengalahkan malam bersama dengannya.

Silahkan menuduh aku pengecut dan pembangkang yang takluk. Aku tak peduli dengan semua cercaan. Aku menggilai pelukan dari tangan kecilnya, merindui wajah masamnya karena mengecap kopi tanpa gula punyaku dengan sembunyi-sembunyi, tawa renyahnya karena menahan geli, dan suaranya yang memanggil “papa”. Itu semua adalah surgaku.

Dan kerinduan itu kini tiba lagi. Sementara aku telah kalah dengan semuanya. Dengan cita-cita dan imajinasi yang pernah membawa aku terbang hingga sampai dititik saat ini. Karena aku tak sanggup menukar keringat serta waktu selama hari-hari kemarin dengan jumlah yang cukup untuk sekiranya membayar hutang. Hutang moral kalau tak salah. Itu yang pernah dikatakan perempuan itu padaku.

Perempuan yang pernah kusetubuhi dan dalam vaginanya, dan atas keyakinan kami bersama, kualirkan spermaku hingga rahimnya berisi sebuah kehidupan. Perempuan yang pernah menjadi temanku menghadapi semua serangan paling keras atas pilihan kami berdua yang memilih memiliki anak meski tak terikat tali pernikahan. Perempuan yang kini berubah menjadi sinonim dengan lintah darat karena membuatku paranoid pada setiap pesan atau telpon beralamatkan ia sebagai pengirim. Perempuan yang membuatku semakin mengerti tentang kerja, keterasingan dan rasa sakit.

Aku adalah terpidana seumur hidup karena mencintai seorang manusia yang untuknya akan kuberikan biji mataku meski tidak hidupku. Tak mengapa jika dunia menjadi gelap dan berwarna hitam saja, karena memang begitulah seharusnya warna dunia koersif saat ini.

Aku memutuskan menulis surat ini sebagai pengganti kesal karena hanya bisa mendengar ia memanggil “papa” lewat handphone. Meski sebenarnya tak sedikitpun itu bisa mengobati luka yang menganga karena keinginan untuk bersama dengannya melewati hari. Aku merindukannya hingga seakan ingin membunuh malam dengan mabuk hingga tak sadarkan diri. Sungguh. Tak ada yang mampu menjadi temanku bila saat-saat itu datang. Aku terlalu egois dan berbalik percaya pada alkohol dan kesepian.

Pernah kurasakan kerusakan rasa saat aku dengan kantong kosong tak mampu membeli biaya untuk mendengarkan suaranya. Hanya kemudian mengandalkan persahabatan yang selama ini kubangun menjadi sendi nafasku agar aku masih tetap bisa berdiri dan melanjutkan mimpi dengan mendengarkan satu suara saja.

Itu hanya suara seorang anak yang kini baru berumur tiga tahun. Tapi mampu kujelaskan dengan singkat mengapa aku begitu tergila-gila dengannya. Karena aku mencintainya. Melebihi kecintaan terhadap Tuhanku, karena ia adalah Tuhan kini bagiku. Semua pintanya kini adalah fatwa yang tak mungkin kutolak. Semua inginnya adalah sumpah dengan taruhan surga neraka buatku. Aku akan membunuh apapun dan siapapun jika memang ia menginginkannya.

Depok, Desember 2010