Surat untuk Hujan #01

Dear hujan,

Terima kasih untuk rintik kemarin sore. Kau begitu baik hingga membuat begitu banyak orang mau berhenti dari padatnya aktifitas dan menikmati sedikit waktu luang. Pasti banyak yang marah padamu. Tapi yakinlah, aku berbeda. Aku justru berharap kau akan lebih sering untuk melakukan itu. Menyirami bumi yang sudah semakin gersang ini dengan harapan dan kemalasan. Aku suka itu.

Kau tau, tadi aku baru saja mencoba mengingat lagi perempuan-perempuan yang pernah tidur denganku. Melewatkan malam-malam dan bersama bertualang dalam percintaan yang hangat ditengah hidup yang membosankan. Dan ingatanku sempat berhenti pada sebentuk wajah yang masih tetap tak asing.

Beberapa waktu yang lalu, ia mengirimkan permintaan pertemanan ke akun Facebook milikku. Sudah agak lama sebelum kukonfirmasi. Pertimbangan konyolku adalah karena aku tak ingin menjadi pengusik ketenteraman hubungan cintanya dengan seorang lelaki bernama sama seperti nama yang dulu kuberikan saat ia mencoba mengenalku. Seseorang yang kini dia pilih untuk menggantikan posisi yang pernah beberapa saat kutempati. Dulu.

Perempuan ini kutemui disebuah kota kecil saat aku menjadi pelatih teater di sana. Ia adalah salah seorang muridku saat itu. Selain dia, masih ada sekitar enam belas orang lain yang juga bersama dengannya setiap dua kali seminggu mengikuti kelas latihan teater yang kuampu. Waktu yang membuat kami dekat dan akhirnya berpisah.

Entah mengapa, tangan ini serasa masih hangat sama seperti saat terakhir aku memeluk tubuhnya di sebuah kamar menyambut pagi. Saat pertemuanku yang terakhir sebelum aku pergi meninggalkan dia hingga saat ini. Tubuh yang pernah menyerahkan vaginanya yang masih perawan untuk disembelih penisku berkali-kali atas nama sedikit cinta dan letupan gairah yang sama-sama kami mengerti saat itu.

Aku mengkonfirmasi dan memberikan bonus berupa nomor handphoneku yang terbaru. Agar bisa dia menghubungi aku kapan saja jika seandainya dia butuh teman untuk mendengarkan semua amarah dan kekesalan. Sahabat yang dapat menemaninya bertukar cerita dan bersama menertawakan hidup seperti masa lalu.

Aku bahkan sempat menelpon dia sekali dari kantorku. Memperdengarkan suaraku dan mendengar lagi suaranya. Suara yang tak asing bahkan dalam desah karena memang desahan itu pernah bersama pelukan erat dan keringat menjembatani semua detik yang dipecundangi atas nama cinta. Di akhir pembicaraan yang singkat, dia berharap dapat menelponku dan bertukar dialog suatu saat nanti. Aku mengiyakan meski sebenarnya itu agak berat buatku. Mencoba jujur, aku jelaskan alasan bahwa aku tak mau menjadi pemicu keretakan hubungan cintanya dengan lelaki bernama sama sepertiku.

Dan benar. Beberapa hari kemudian, ia mengirimi pesan via Facebook kepadaku bahwa pacarnya sangat marah ketika mengetahui bahwa masih ada terjalin komunikasi denganku. Keberadaan namaku di daftar kontak ponselnya sudah cukup menjadi pemicu ledakan amarah cemburu dari lelaki tersebut. Ketakutan berlebihan bahwa telah datang seseorang dari masa lalu perempuan itu yang dapat mengancam mencuri sesuatu yang sebenarnya tak pernah ia miliki. Benar aku merasa seperti itu. Bahwa lelaki itu sebenarnya tak pernah bisa memiliki hati dan mimpi perempuan tersebut.

Itu benar sepanjang masih saja ia memperlakukan perempuan itu seperti kebiasaan umum. Memotong benang-benang mimpi dan kebebasan yang suatu waktu dapat berubah menjadi kudeta cinta paling menyakitkan. Lelaki itu bertindak bodoh jika mengira bahwa perempuan itu akan tunduk dan diam tanpa protes ketika hubungan itu dibangun menurut konsep dari satu pihak saja. Sebuah patriarkisme yang memang menjadi titik nyaman dari setiap lelaki pengecut. Aku kenal perempuan itu. Ia tak ingin hubungan yang sekedar baik-baik saja. Keinginannya lebih dari itu.

Sewaktu kemarin aku masih menjadi tubuh yang akan dipeluknya ketika malam, tak ada sesuatu yang biasa saja dia temukan. Adrenalin yang memacu ketegangan dipadu dengan kegilaan akan sensasi seks serta keinginan menemukan pengalaman tiada tanding dalam hidup kami berdua yang hanya sementara telah membawa perempuan itu dititik yang tak sama lagi.

Sempat aku bertanya pada perempuan itu, apakah dia telah tidur dengan pacar barunya itu. Meski agak segan menjawab pada awalnya, dia menuliskan kata ‘tidak’ di kotak pesan Facebook yang dia kirimkan padaku. Dia mengatakan bahwa lelaki yang dia pacari adalah seorang muslim yang baik. Seseorang yang meletakkan seks sebagai benda suci yang nanti layak dijamah ketika pernikahan atas nama Tuhan dan negara telah dijalani. Ritual ikatan semu yang menjadi pelarian banyak orang dan membiarkan hidup mereka berhenti di satu titik saja.

Aku tentu saja adalah sisi gelap dari lelaki itu. Seorang amoral dan pelanggar hukum yang baik. Dan aku tak bangga maupun menyesali hal ini. Atau berniat merubah diriku menjadi lebih baik atau lebih buruk dari apa yang telah kupunya sekarang.

Aku pernah mengajaknya melewati batas ketakutan ketika berhubungan seks di dalam toilet sebuah mall. Sebuah awal yang kemudian sedikit banyak menghancurkan tembok ketakutan yang pernah lama bercokol dalam kepalanya. Pernah juga ia menyanggupi tawaranku untuk berhubungan seks di sebuah kuburan Cina. Lucu dan nekad memang mengingat terdapat beberapa kuburan baru yang tampaknya masih segar. Tapi setelah pengalaman itu terlewati, berdua kita semakin mengerti bahwa rasa takut hanyalah sebuah tipuan dari pikiran kita berdua yang besar di tengah masyarakat yang konservatif.

Hubungan kami berdua juga diakhiri atas keputusannya. Bentuk penolakannya terhadap aku yang tak bisa berdiam diri dan membangun kemapanan di sebuah tempat. Aku meminta maaf karena masih terlalu berkawan dekat dengan petualangan. Aku merindukan perjumpaan yang asing dengan orang-orang baru dan kemudian saling barter cerita. Aku benarbenar tak bisa menolak tawaran hidup sebagai seorang nomaden ditengah masyarakat yang pengecut dan terlalu kecil nyalinya untuk melompati pagar ketakutan di dalam dirinya.

Perpisahan itu menyakiti kami berdua yang masing-masing dengan keras kepala mempertahankan apa yang telah kami namakan keyakinan. Tapi aku bangga dengan perempuan itu. Metamorfosisnya dari seorang perempuan rumahan yang hidup dengan berbagai aturan hukum keluarga dan agama menjadi seorang yang keras dan tak lagi takut merasakan sakit ketika jatuh.

Itu mengapa aku tersenyum kecil ketika sebuah pesan singkat masuk di inbox ponselku tertanda namanya. “Kita tukeran foto telanjang yuk. Kan udah lama gak ketemu. Sekalian ingin lihat tato baru punyamu.”