Marxisme dan Antropologi

Mengapa Marxisme tetap relevan dalam Antropologi

Karl Marx, Engels dan Marxisme adalah nama dan terminologi yang mesti diakui tidak mendapat cukup perhatian sebagai salah satu sumber rujukan dalam studi antropologi. Kebanyakan para antropolog lebih cenderung pada pendekatan fungsionalisme yang digagas oleh Malinowski dan atau pendekatan strukturalisme ala Radcliffe-Brown. Sebagian kecil yang terinspirasi oleh perkembangan antropologi di Amerika Serikat menggunakan metoda yang diperkenalkan oleh Boas. Sementara pemikiran Marx dan Engels dianggap sebagai sebuah pendekatan usang sekaligus terlarang. Hal ini tentu merujuk pada asosiasi sederhana yang naif bahwa Marxisme selalu sinonim dengan komunisme. Sebuah ideologi bangkrut dan gagal setelah keruntuhan Uni Soviet pasca Perang Dunia II dan transformasi ekonomi Cina pada satu dekade terakhir. Di Indonesia sendiri, faktor penting lain yang ikut mempengaruhi adalah tragedi kemanusiaan pada tahun 1965 yang berakhir dengan pelarangan semua hal yang berkaitan dengan Marxisme. Menggunakan Marxisme dalam bidang ilmu apapun, di jenjang pendidikan apapun adalah dosa besar yang tidak bisa diterima. Singkat kata, Marxisme tak punya ruang hidup dalam spektrum ilmu pengetahuan.

Ini mengapa jika kemudian Marxisme hingga hari ini hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas. Mereka adalah para mahasiswa serta kelompok politik yang terlibat dalam gerakan sosial kritis yang menjadi kelompok konsumen paling besar. Namun hal ini bukan tanpa cacat. Marxisme justru menjadi tragedi di sebagian besar individu yang ada di kelompok menengah ini. Dengan hukum-hukum yang dianggap tetap dan selalu benar, Marxisme benar-benar menjadi sebuah dogma yang tidak tersentuh kritik dan analisa yang lebih radikal. Jika ada kritik yang datang, itu hanya muncul dari kalangan penentang yang menggunakan prinsip yang sama. Perlawanan itu didasarkan pada keyakinan bahwa Marxisme adalah ideologi para ateis yang menginginkan kekuasaan serta membayangkan bentuk pemerintahan seperti masa Lenin di Soviet.

Banalitas lain yang terjadi adalah bagaimana Marxisme diubah hanya menjadi sekedar Das Kapital, Manifesto Komunis, Leninisme dan Maoisme. Bagi mahasiswa dan sebagian besar dari mereka yang mengklaim diri sebagai Marxis, rujukan utama yang final adalah dua teks yang sudah disebutkan di atas. Hal “benar dan utuh” lain yang tersisa adalah pemikiran Lenin dan Mao. Dua tokoh yang dianggap paling sukses dan tepat dalam tafsir dan praktik ide-ide Marx dan Engel. Maka seperti menjadi hal yang wajar jika kita tak akan menemukan keragaman aplikasi Marxisme dalam studi ilmu sosial.

Ketika kritik tentang hal ini coba diangkat ke permukaan, terlihat begitu jelas ada ketimpangan yang secara ironis terus dimaklumi sekedar ketiadaan referensi belaka. Beberapa lain mencoba menunjuk pada tingkat kerumitan bahasa yang digunakan oleh Marx dan Engel sehingga membuatnya hanya layak menjadi jamuan makan malam para filsuf. Maka Marxisme berubah menjadi sekedar menu khusus untuk mereka yang ingin berolahraga otak dan pamer kemampuan retoris dengan pemaknaan melingkar yang makin menjauh dari esensi.

Sehingga menjadi wajar jika kemudian muncul pemahaman bahwa Marxisme tidak cocok digunakan sebagai salah satu teknik pendekatan dalam bidang studi ilmu sosial seperti antropologi yang dinamis. Bagi banyak mahasiswa dan sarjana antropologi, Marxisme adalah sebuah kegagalan yang tidak bisa lagi diulang karena tentu akan menghambat proses perkembangan ilmu pengetahuan dan keingintahuan tentang masyarakat. Hal ini masih ditambah dengan kecurigaan bahwa Marxisme selalu ditunggangi oleh ideologi komunisme yang bagi kaum ahistoris adalah bencana kemanusiaan. Sebagai sebuah pemikiran, Marxisme hanyalah alat untuk para aktifis anti pemerintah menganalisa kegagalan program pembangunan dan upaya merengkuh kesejahteraan belaka. Ia hanya sebuah pisau ekonomi politik belaka. Tidak lebih.

Secara pribadi, saya melihat kelahiran antropologi di dunia akademis Eropa sekitar 150 tahun lalu adalah revolusi yang tidak sederhana. Ia melalui banyak rintangan yang tidak mudah. Muncul sebagai gugatan atas kemapanan pemikiran tua, antropologi pada awalnya terlihat hanya menjadi milik kelompok yang gagal mendapatkan ruang dalam kancah kekuasaan oligarkis. Hal ini merujuk pada beberapa sumber awal yang menjadi basis kemunculan antropologi. Teks-teks yang dipublikasikan oleh Darwin, Morgan, Bachofen dan tentu saja Marx dan Engels pada awalnya adalah sebuah serangan terbuka terhadap “kebenaran” umum yang dijaga oleh lembaga milik penguasa saat itu. Lahir mengiringi gegap gempita revolusi yang terjadi di dunia Eropa pada pertengahan tahun 1800-an, antropologi tentu saja tidak bisa menyangkal kontribusi pemikiran materialisme historis yang mengusung Marx dan Engels sebagai juru bicara utama.

Salah satu “fosil” yang dapat ditelusuri untuk memberikan bukti adalah bagaimana teori evolusi Charles Darwin hingga hari ini terus mendapatkan penentangan karena dianggap “melecehkan” kesahihan dogma mengenai penciptaan manusia oleh Tuhan. Bukti lain adalah gugatan oleh para antropolog awal yang menyerang tatanan masyarakat patriarkis hari ini dengan menyodorkan bukti-bukti tentang eksistensi masyarakat berburu-meramu yang berbasis klan yang hadir lebih dahulu sebelum bentuk keluarga yang dikenal seperti ini. Formasi keluarga yang dikepalai oleh laki-laki ternyata merupakan sebuah hasil yang berdiri di atas puing-puing kehancuran masyarakat matriarkal. Tesis ini dapat ditelusuri pada karya Lewis Henry Morgan dan diulas lebih jauh di tulisan Engels. Seorang etnolog berkebangsaan Jerman bernama Bachofen juga ikut menambah sengitnya serangan ini melalui publikasi bukunya yang berjudul Das Mutterech pada tahun 1861.

Meski dipungkiri, hal-hal diatas adalah pintu awal yang membuka penelusuran lebih jauh mengenai asal usul masyarakat hari ini. Melihat sejarah masyarakat untuk mencoba mengenali dan mendudukkan kritik tentang absolutisme hirarki yang eksis hari ini. Sesuatu yang sungguh sangat tidak berseberangan dengan prinsip-prinsip dasar antropologi yang menginginkan terjadinya perbandingan antara bentuk yang dikenal dan dihidupi hari ini dengan latar belakang yang sekiranya dapat menjelaskan bagaimana semua itu terbentuk. Nilai kekritisan yang mau tak mau sering dikumandangkan sebagai satu dari berbagai prinsip dasar yang melandasi studi ilmu sosial semisal antropologi. Ini adalah suluh yang dinyalakan walau memiliki beberapa kekurangan yang membawa penyelidikan ilmiah memiliki tujuan yang lebih berharga yaitu membongkar selubung mitos dan dogma yang selama ini bercokol.

Memahami dan menyempitkan penemuan Marx hanya dalam kerangka teori nilai lebih sungguh terasa tidak adil. Karena jika secara jujur mau melakukan pembacaan lebih jauh, akan terlihat dengan jelas bahwa Marx dan Engels juga menaruh perhatian yang tidak kecil terhadap studi sejarah masyarakat pra kapitalis. Memang hal tersebut dilakukan untuk lebih meradikalkan kritik yang dibawa oleh dua sejoli ini tentang terbukanya kemungkinan merubah tatanan masyarakat yang koersif. Marx dan Engels serta para Marxis awal terlihat dengan jelas menggunakan pendekatan antropologi dalam kritik-kritik mereka. Morgan dan E.B Tylor seolah memberikan suplemen untuk menguatkan daya serang dan membawa antropologi ke tingkatan esensial sebagai studi mengenai sejarah dan asal usul masyarakat.

Secara umum, pemikiran Marx dan Engels memang terpengaruh oleh sosialisme radikal Prancis, filsafat Jerman dan pendekatan ekonomi politik yang kala itu begitu populer di Inggris. Kedua orang ini juga tidak pernah memproklamirkan diri sebagai antropolog. Namun menyangkal kontribusi pemikiran keduanya sungguh terasa naif jika hanya didasarkan pada pentingnya klaim agar diakui. Saat itu tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan untuk menjelaskan awal mula terbentuknya kapitalisme dan bagaimana corak produksi ini memapankan posisinya di tengah masyarakat Eropa mendorong Marx dan Engels rela bertualang jauh hingga bersentuhan dengan karya-karya para perintis antroplogi semisal Morgan dan Tylor.

Teks utama Morgan yang berjudul Ancient Society ¬†yang terbit di Amerika Serikat sampai ke hadapan Marx dan Engels melalui tangan Maximovich sebagai hadiah. Teks berjudul Conspectus on Lewis Morgan’s Ancient Society yang ditulis oleh Marx adalah sebuah komentar setelah ia membaca karya tersebut. Dalam tulisan ini Marx seolah mendapatkan dukungan terhadap misinya untuk melakukan pembacaan ulang terhadap sejarah masyarakat. Pembabakan sejarah manusia Morgan yang dilandaskan pada kondisi material seperti penggunaan api, penaklukan hewan dan peralatan keramik adalah salah satu poin penting bagaimana pandangan materialisme terhadap sejarah mendapatkan tempat yang layak. Engels dalam bukunya The Origin of Family, Private Property and State lebih jauh mengulas dan meradikalkan temuan Morgan untuk menyokong penemuan teoritik yang telah dikerjakannya bersama Marx di masa sebelumnya.

Adalah hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa teks Morgan memberikan dukungan tidak langsung tentang tesis Marx dan Engels yang melihat bahwa sejarah manusia dapat dipahami melalui analisis mendalam atas kondisi materialnya. Hal yang sama dapat diterapkan untuk melihat bagaimana kondisi hubungan sosial manusia terkait erat dengan faktor ekonomi yang tentu saja menguatkan temuan Marx dan Engels mengenai pengaruh corak produksi terhadap bentuk masyarakat. Walau tidak bisa dibilang bahwa Morgan adalah satu-satunya picu terhadap hal ini. Karena jauh sebelum membaca Morgan, perselisihan Marx dan Engels dengan para Hegelian Muda yang menerima dengan begitu saja teori Hegel tentang negara membawa keduanya menelisik lebih jauh dan menyoroti hal yang lebih mendasar daripada negara yaitu bentuk masyarakat yang merupakan organisasi produksi dan distribusi.

Karya Marx berjudul The German Ideology dapat disodorkan sebagai salah satu bukti. Dalam tulisan ini, Marx mencoba memberikan perhatian kepada masyarakat feodal yang baginya adalah bentuk masyarakat yang mendahului bentuk masyarakat kapitalis Eropa. Ia juga sempat membahas bentuk masyarakat pra feodal meski masih belum mampu menyodorkan bukti-bukti yang lebih banyak dan beragam semisal bentuk dan corak produksi masyarakat Asia. Keterbatasan studi Marx dan Engels yang hanya berkutat pada masyarakat Eropa mestilah dipahami sebagai sebuah cermin dari kondisi keilmuan keduanya pada saat itu. Grundrisse yang dipublikasikan setelah kematian Marx dapat menunjukkan bagaimana sebenarnya Marx dan Engels telah berhasil meluaskan pengetahuan mereka hingga menyentuh masyarakat “primitif” non Eropa. Ini adalah salah satu benang merah ketertarikan dan keterkaitan studi materialisme historis Marx dan Engels yang juga sebenarnya menjadi adalah fokus studi antropologi.

Tuduhan sepihak bahwa pemikiran Marx adalah absolut sebenarnya sudah dibantah sejak awal oleh Marx sendiri. Ia menegaskan bahwa kerangka historis dan materialis-nya dibangun sebagai hasil pengamatan terhadap masyarakat Eropa -khususnya Eropa Barat- dan tidak merupakan skema yang universal. Roseberry mencatat peringatan Marx mengenai hal ini dalam Marx and Antropology bahwa pendekatan yang ia lakukan tidak bisa dipraktikkan secara mekanik. Basis penting untuk hal ini adalah penilaian Marx yang mendudukkan manusia sebagai makhluk sosial, yang melihat bahwa aktifitas manusia yang utama adalah aktifitas sosial sehingga kondisi material yang ia maksud adalah kondisi sosial di mana individu-individu sosial tersebut bertindak.

Hal kedua yang berhasil ditemukan oleh Roseberry sebagai warisan Marx terhadap dunia antropologi adalah bagaimana esensi manusia sebagai makhluk sosial dapat terlihat dengan jelas dalam bentuk kerja. Kerja adalah rangkaian tindakan memenuhi kebutuhan yang secara alami dibatasi secara sosial. Manusia semenjak awal tidaklah mampu secara individual menghadapi pertarungan dengan alam. Sehingga atas kebutuhan tersebut, kolektifisme adalah menjadi kebutuhan yang membuat seorang individu terikat dengan individu lain untuk bertahan hidup. Melalui kerja, terlihat dengan jelas bahwa manusia bukanlah hewan pasif tetapi secara aktif mengubah alam untuk memenuhi kebutuhannya. Di saat yang bersamaan, manusia juga berevolusi dengan alam.

Ini semakin membuka keterkaitan basis pemikiran materialisme historis yang diletakkan Marx dan Engels yang melihat bahwa kondisi masyarakat tidaklah tetap. Ia selalu berubah secara kontinyu. Dengan bahasa lain, perubahan ini terjadi secara dialektik. Proses kerja untuk memenuhi kebutuhan pada akhirnya memang membawa dampak berubahnya kondisi alam atas intervensi aktif manusia. Perubahan ini pada akhirnya membawa manusia untuk kembali menyesuaikan diri termasuk mengubah pola intervensi yang dilakukannya. Inilah sebab mengapa sebuah pola pengelolaan alam sebagai pantulan dari aktifitas kerja manusia selalu berubah secara bentuk namun tidak secara hakikat.

Lebih jauh, kita dapat merujuk pada perkembangan teknologi dalam kehidupan manusia. Bentuk dan fungsi teknologi yang lahir tidak bisa diingkari di dasarkan pada kondisi material dan kebutuhan mendasar manusia untuk terus mempertahankan diri dari gejolak perubahan alam. Sebagai spesies yang bisa dibilang lemah, evolusi manusia dengan segala kelemahan biologisnya membuat lahirnya kebutuhan untuk menyandarkan diri pada alat-alat yang dapat membantu diri dan kolektifnya bertahan. Hal ini sudah diamati sejak lama oleh Marx dan terutama Engels. Kita tidak bisa mengatakan bahwa analisa perkembangan teori alienasi kerja yang dicetuskan Marx yang meluas hingga ke alienasi hidup harian hari ini yang salah satunya disebabkan oleh tingkat kerumitan teknologi tidak terkait sama sekali.

Pengamatan antropologi tentang masyarakat juga pada esensi akhirnya berbenturan dengan bentuk masyarakat serta hirarki yang eksis bersamaan dengannya. Hal yang dapat membantu sebenarnya dapat ditemukan pada Das Kapital serta hasil kerja lain yang ditulis oleh Marx dan Engels. Bahwa sebab munculnya kelas-kelas dalam masyarakat adalah hasil dari pertentangan produksi antara pemilik alat-alat produksi dan yang tidak. Marx khususnya telah memberikan penekanan bagaimana kepemilikan atas sumber daya dan pemilihan bentuk organisasi sosial yang bertugas mendistribusikan hasil kerja memainkan peran signifikan tentang hal ini. Maka tentu saja analisis Marx terhadap kelahiran dan perkembangan awal kapitalisme tidak bisa hanya dianggap sebagai “milik” studi ekonomi politik semata.

Gagasan Marx yang kaya sebenarnya menyediakan alat analisis untuk melihat bagaimana perjalanan panjang sejarah masyarakat dan manusia seperti juga asumsi dasar antropologi itu sendiri. Dapat ditelisik dengan jelas bagaimana Marx kemudian berhasil menyusun gagasan bahwa semua bentuk masyarakat hari ini memiliki esensi yang sama. Bahwa lembaga-lembaga sosial seperti keluarga, kepemilikan pribadi, agama dan negara bukanlah sesuatu yang wajar dan alami. Sebaliknya, semua itu adalah bukti material yang terjadi dari sebuah proses kesejarahan dan merupakan bukti dari aktifitas manusia dalam relasinya untuk bertahan hidup.

Pemikiran Marx dan Engels yang menyerang habis gagasan tentang absolutisme negara memang membawanya berhadap-hadapan dengan para antropolog yang dibesarkan dalam kegemilangan masyarakat borjuis. Dapat dimaklumi karena hal ini juga pada masanya menggangu dan merisaukan tidak hanya “kelompok kanan” tapi juga para revolusioner. Mereka yang berpikir bahwa dengan merubah negara maka akan mencapai keseimbangan, benar-benar dilumpuhkan oleh gagasan Marx dan Engels yang melihat bahwa negara adalah hasil dari kondisi masyarakat yang terjadi akibat ketimpangan tersebut. Bagi Marx dan Engels sebagai sebuah proses sejarah, negara bukanlah sesuatu yang alamiah atau sudah semenjak awal menjadi kebutuhan dan elemen penting dari sebuah bentuk masyarakat. Negara yang merepresentasikan kepentingan sebuah kelas akan selalu membawa serta konflik dalam keberadaannya. Konflik ini sendiri bagi Marx dan Engels adalah bentuk dari interaksi sosial. Kehadiran konflik-lah yang membuat masyarakat bergerak terus menerus dan menggambarkan dengan jelas pertentangan kelas di dalamnya.

Sungguh tidak akan ada gunanya jika kemudian para antropolog lari dan bersembunyi di balik “fatwa” netralitas ilmu pengetahuan. Sebab hal ini juga telah dikupas habis oleh Marx dan Engels yang memandang bahwa setiap gagasan yang lahir dalam masyarakat akan selalu merepresentasikan pandangan dari sebuah kelas. Ketidakmampuan untuk memperjelas posisi tersebut yang membuat antropologi adalah penyerang malu-malu yang di satu sisi mengkritisi dengan hebat masyarakat feodal, namun di sisi yang lain memberikan pembelaan tersembunyi -terkadang justru sangat vulgar- terhadap relasi sosial dalam masyarakat borjuis hari ini. Ikatan historis antara antropologi dengan masa Pencerahan di Italia dan Revolusi Prancis 1789 disertai Revolusi Industri di tanah Inggris membuatnya membawa karakter borjuis yang terus menunjukkan kegamangan ketika mesti mempertajam dan meluaskan kritik sebagai hasil dari pembacaan dan pengumpulan data etnografi masyarakat.

Tulisan singkat ini juga tidak berkeinginan untuk kemudian memperlihatkan bahwa Marxisme adalah kitab suci paling benar. Sebaliknya, membawa kembali gagasan-gagasan yang sudah lebih dahulu diletakkan oleh Marx dan Engels yang kemudian dilanjutkan oleh orang-orang seperti Kautsky, Althuser hingga Bloch yang dengan cerdas menunjukkan bahwa ikatan antropologi dengan Marxisme bukanlah sesuatu yang ahistoris. Prinsip materialisme historis yang dialektik sungguh bisa -dan semestinya- digunakan di lapangan antropologi sosial dan tidak hanya layak untuk sudut diskursus filsafat semata. Sebagai sebuah gagasan awal dengan tidak menyangkal segala kekurangan yang dimilikinya, Marx dan Engels telah menunjukkan bahwa antropologi juga dapat digunakan untuk mejelaskan pendekatan Marxisme kepada mereka yang dianggap “awam”. Terminologi Marxisme Antropologi juga bukan sesuatu yang usang atau bahkan haram. Menggunakannya sebagai pisau analisa justru akan mendorong studi ilmu sosial ke tingkatan yang baru dan memiliki tujuan-tujuan yang -mungkin saja- baru.

Terus menerus membiarkan pelupaan dengan sengaja terhadap Marxisme juga pada akhirnya akan membawa antropologi kembali terjebak dalam dogmatisme pemahaman. Sesuatu yang justru membawa para peletak fondasi antropologi semisal Morgan dan Tylor mengarahkan kritik mereka. Menggunakan Marxisme dalam antropologi di “sisi moral” dapat menunjukkan “kerendahan hati” untuk mengakui bahwa Marx dan Engels memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Ini bukan soal hutang budi atau balas jasa. Tapi sekedar membuka kemungkinan yang lebih luas ketimbang memilih pada pilihan yang itu-itu saja. Sebab jika hanya tersedia satu pilihan saja, maka kita tak akan pernah bisa memilih. Alternatif selalu lahir sebagai pembanding dari ketunggalan pilihan yang ada, begitu juga Marxisme dalam antropologi.

Andre Barahamin