Surat untuk Hujan #00

Dear hujan,

Di Jakarta sekarang sedang bulan puasa. Ada banyak orangorang yang menghabiskan harinya dengan menahan lapar haus, amarah, dan juga apa yang mereka sebut sebagai gairah setan. Selama sinar matahari masih menetes, mereka tak akan makan minum, kesal atau marah dan tak akan berhubungan seks.

Ah hal terakhir ini yang tak kumengerti. Kau tahu mengapa? Aku punya sepotong kecil cerita yang masih sempat kupungut saat jatuh. Ketika aku bertemu mantan pacarku beberapa hari lalu. Setelah saling janji beberapa hari dibelakang. Menyepakati tempat dan waktu yang tepat untuk masing-masing. Ada beberapa sms dan telpon yang jadi saksi.

Perempuan itu adalah seorang muslim. Itu mengapa ia berpuasa saat kami berjumpa di sebuah sore sebelum waktu berbuka tiba. Setelah terdengar adzan tanda berakhirnya waktu puasa, ia memintaku sebuah ciuman sebagai simbol puasanya yang berakhir. Indah bukan? Buka puasa dengan sebuah ciuman?

Setelah itu, kami segera menuju daerah Bandung. Di selasela perjalanan melewati tol yang agak sepi dari mobil, ada beberapa obrolan ringan yang terlintas begitu saja. Kebanyakan cerita ini membosankan. Tentang para aktifis Leninis dan Trotskyis yang hidupnya merapal mantra tentang sebuah negara yang diperintah oleh kediktatoran proletariat. Sebuah kamuflase dari kapitalisme negara dimana sekelompok kecil birokrat partai menentukan apa yang layak dan tidak untuk semua orang.

Perempuan ini adalah seorang pimpinan serikat buruh perusahaan dimana dia menggadaikan waktu, tenaga dan pikirannya. Dia cerdas juga lawan mengobrol yang mengasyikkan. Meski sering ada beberapa hal yang tetap saja tak bisa disatukan hingga menyulut debat. Sedikit olahraga adu argumen.

Maklum saja. Kami kenal cukup banyak orang yang sama hingga Jakarta terasa sesak buatku. Dia sangat bersemangat jika membicarakan persoalan politik. Tentang pertemuan, diskusi dan penilaiannya atas tiap karakter yang ditemui. Ia tahu aku akan mendengarkan tanpa kesulitan menggambar wajah orangorang tersebut di otakku.

Di masa lalu aku memang pernah menjadi seorang aktifis partai Leninis. Menghabiskan tahun-tahun dibawah instruksi dan aturan partai yang ternyata lebih dari cukup untuk mendidikku menjadi seorang yang keras kepala, tak mudah tunduk, tak disiplin dan seorang manusia. Aku tak menyesali semua itu.

Kini aku bukan lagi seorang Leninis yang mengerjakan sesuatu berdasarkan surat perintah partai. Bukan lagi seseorang yang dogmatis dan menganggap bahwa solusi kediktatoran komunis ala Lenin adalah jalan tunggal keluar. Jauh lebih dari itu, berbagai kebosanan atas birokratisme partai telah menjadi pondasiku untuk menyerang balik landasan pikir Lenin yang telah menjadi agama buat mereka.

Ya, aku kini sampai di kesimpulan bahwa kapitalisme privat yang kini populer disebut neoliberalisme sama jahanam dengan kapitalisme negara ala Lenin. Keduanya hanya akan memusatkan kekuasaan ditangan segelintir kecil orang. Masyarakat akan tetap berbentuk piramida. Hanya pergantian penguasa semata. Sedang aku menginginkan lebih. Sebuah masyarakat tanpa kelas, tanpa eksploitasi, tanpa relasi hidup yang koersif, penuh mimpi dan imajinasi, kreasi, cinta dan hasrat yang tak pernah padam.

Sedang perempuan ini, baru beberapa tahun terakhir saja mulai dekat dengan orang-orang itu. Momen pertemuan kami dengan titik singgah itu, berbeda sama sekali. Tapi masih banyak hal yang belum berubah. Tentang betapa dogmatisnya mereka percaya bahwa yang paling layak dan paling bisa mengerti kebutuhan orang lain, tentu saja tetap kelompok mereka. Aku semakin muak mendengar lagi bahwa mereka sangat yakin bahwa takdir sejarah dari revolusi dimasa depan telah menggariskan bahwa kelas pekerja akan berada di bawah bendera merah mereka yang konyol.

Aku lebih memilih untuk lebih banyak diam dan sesekali saja merespon. Akan lebih baik begitu. Seringkali aku menyela bibirnya yang bicara dengan ciuman. Perempuan itu kesal karena ia mengerti bahwa aku sementara memeluk kebosanan.

Tepat waktu berbuka puasa, kami sampai di Bandung. Lalu mencari sebuah tempat dimana perut bisa mendapatkan makanan. Sialnya, kami masuk ke sebuah resto yang menu utamanya adalah daging babi. Seorang perempuan muslim dan seorang lelaki vegan, memutuskan makan malam di resto daging babi. Bisa kau bayangkan?

Selesai makan malam, dengan kelucuan yang tersimpan karena salah memilih tempat makan, kami menuju sebuah rumah. Kediaman kawan perempuan ini. Seorang ibu dari tiga orang anak dari seorang suami yang kaya raya karena posisinya di pemerintahan. Kawannya adalah seorang perempuan kesepian dengan rumah mewah, uang yang hanya habis dihamburkan untuk ke salon dan gym, anjing peliharaan yang sebelah matanya buta, serta malam-malam penuh pesta untuk membunuh waktu.

Aku tak tertarik pada pembicaraan mereka berdua yang hanya berkutat di seputar party kaum borju, refreshing di club, salon dan spa serta beberapa gosip. Untunglah tak terlalu lama pertemuan itu yang ditutup dengan sebuah foto bareng oleh mereka berdua. Foto yang kemudian tak lebih dari lima menit kemudian telah di upload ke Facebook.

Kami kemudian mencari hotel di sekitar jalan Setia Budi, Bandung. Hotel yang tak sederhana yang aku tak terlalu ingat namanya. Cassa Lasandra kalau tak salah. Jika salah, tak terlalu jadi soal buatku. Ia memesan sebuah kamar dengan dua tempat tidur.

Setelah membersihkan tubuh masing-masing, kami mengobrol ringan sembari menyalakan tv yang selalu saja membosankan untuk ditonton. Perempuan itu hanya mengenakan gaun tidur sedang aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam. Entah siapa yang memulai, tapi kami tiba-tiba sudah berada di atas ranjang yang sama. Saling mencium dengan liar, saling meraba, hingga dalam sekejap semuanya menjadi tak terkontrol. Gairah menemukan taman bermain di antara desah dan nafas yang berpacu semakin cepat.

Kau tau? Kami berhubungan seks. Bukan karena aku memaksanya, namun karena memang gairah adalah sesuatu yang indah. Menyatukan lebih dekat dari apa yang bisa diperkirakan dan ditakar. Mengemas ribuan aksara menjadi satu dua tarikan nafas yang berlomba. Hingga kami terhempas oleh lelah di tubuh masing-masing. Hanya pelukan yang membuat kulit kami yang sempat berkeringat, berciuman dan melanjutkan dialog sementara bibir masing-masing kami membisu.

Seorang muslim berhubungan seks di bulan puasa dengan seseorang yang bukan pasangan resminya. Hanya seseorang yang memang pernah dekat di waktu kemarin. Dua manusia tanpa ikatan apapun, menyatukan pembangkangan di campuran orgasme vagina dan penis. Kami lalu tertidur bersama. Meninggalkan salah satu ranjang dalam keadaan bersih dan sepi. Menanggalkan jauh kemunafikan moralitas untuk merayakan kemenangan hasrat.

Dan ketika kami berdua terjaga saat matahari mulai menampar dengan sinarnya, kami melanjutkan pemberontakan ini. Kembali lagi menertawakan mereka yang mengekang dirinya sendiri. Mengangkangi semua wejangan moral yang pernah diberikan oleh agama. Setiap kali penisku memasuki vaginanya yang basah, aku menyadari bahwa sedang meludahi batas dimana aku dibesarkan oleh keluargaku. Menjadi seseorang yang tak pernah diharapkan oleh keluargaku. Lelaki yang hidup dalam pelanggaran dan merayakan semuanya sebagai kemenangan.

Andre Barahamin