Rokok, Warung dan Harapan

Tak ada pedagang kecil yang menolak fakta bahwa rokok adalah yang paling cepat laku. Warung Paidi yang terletak di depan kantor Yayasan Dian Rakyat Indonesia atau YDRI di Winangun contohnya. Sudah 14 tahun ia berjualan di lingkungan ini. Saat itu warung yang dikelola Paidi dan istrinya adalah satu-satunya warung kelontong yang menjual beberapa kebutuhan dasar termasuk rokok.

Saat kutanya di siang tanggal 12 Mei 2010 sembari membeli sebungkus rokok, Paidi yang kini sudah berumur 59 tahun menjawab dengan bahasa Manado yang masih kental dialek Jawa. Paidi mengaku rokok adalah jenis komoditi yang paling cepat laku dibanding dengan barang lain semisal beras atau gula pasir.

“Paling capat itu depe perputaran. Capat ja laku.” Paling cepat perputarannya. Cepat laku.

Istrinya ikut bicara dan menambahkan bahwa siklus perputaran modal dalam rokok yang tergolong sangat cepat sangat membantu mereka sebagai pedagang.

“Torang kan juga ada kebutuhan tiap hari. Kalo ba harap di beras ato gula, stenga mati. Plang usaha ba jalang. Roko ini yang so paling banya ba bantu.” Kami juga kan punya kebutuhan sehari-hari. Kalau hanya mengharap di beras atau gula, sangat sulit. Usaha lambat berkembang. Rokok ini yang paling banyak membantu.

Tante Eti juga sepakat dengan pendapat di atas. Perempuan bernama lengkap Nurhayati kini sudah menjelang 45 tahun masa hidupnya, telah menjual rokok di lingkungan fakultas ISIP – UNSRAT di bawah salah satu anak tangga di gedung perkuliahan selama 5 tahun terahir. Ia mengaku bahwa pilihannya untuk hanya menjual rokok berdasarkan analisanya bahwa ini adalah produk yang paling cepat laku. Ia memang membutuhkan siklus keuntungan yang bisa cepat mengingat itu dapat mewujudkan harapannya untuk ikut membantu suaminya yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di kampus yang sama.

“Qta ba jual di sini for baku tongka deng paitua yang jaga ba bersi di sini. Nyanda cukup kalo cuma mo andalkan paitua pe gaji.” Saya berjualan di sini untuk ikut menopang suami yang adalah tenaga kebersihan di sini. Tidak akan cukup jika hanya mengandalkan upah suami.

Maklum saja. Upah dari seorang tenaga kebersihan di salah satu fakultas di universitas negeri tidaklah cukup untuk menutupi pengeluaran rumah tangga.

Sedangkan Michael Lengkong tersenyum ketika mendengar pertanyaanku. Agak lama baru ia menjawab.

“Pa qta roko no yang paling capat ja laku. Kadua tu cap tikus.” Di warung saya, rokoklah yang paling cepat laku. Kedua adalah cap tikus.

Aku yang kini gantian tersenyum mendengar pengakuannya. Pria berumur 38 tahun ini sudah lebih dari 7 tahun berjualan. Kiosnya yang terletak di jalan masuk utama UNSRAT, sekitar 100 meter dari fakultas Sastra memang menjadi tujuan belanja cukup banyak mahasiswa. Ia berujar bahwa rokok adalah jenis produk yang sangat berjasa mengembangkan warungnya dan membantu menutupi pengeluaran rumah tangganya.

Sementara Kun yang ketika kutanyai sedang menunggui warungnya yang berada di samping RS Ratumbuysang, Manado juga mengaku bahwa rokok adalah jualannya yang utama. Ia bahkan rela begadang dan berjualan rokok 1 x 24 jam karena menurutnya semakin malam akan semakin banyak orang yang membutuhkan rokok. Pria yang sedikit mengalami gangguan pendengaran ini menjawab ala kadarnya pertanyaanku. Untung saja aku sempat membeli sebungkus rokok sebelumnya. Jika tidak, belum tentu ia akan mau melayani wawancaraku. Kun pasti akan lebih memilih menunggui warungnya.

Masih juga ada cerita ketika aku dan Amato singgah untuk membeli sepasang baterai di desa Kombi di sebuah warung ketika dalam perjalanan menuju desa Kolongan. Sepintas lalu saja ku tanya soal jenis produk jualanya yang paling cepat laku. Seorang ibu yang menjaga warung itu tak ragu menjawab: rokok. Aku tak kaget. Ini sudah ku duga sebelumnya. Di rak kaca yang ada di depan warungnya terpajang berbagai jenis rokok. Mayoritas ku kenal dan pernah ku hisap. Namun ada juga beberapa jenis yang tidak ku kenal. Desa-desa di Minahasa memang sering menghadirkan pengalaman baru soal rokok. Kita akan menemukan berbagai jenis merk rokok yang mungkin tak pernah di dengar sebelumnya. Harganya rata-rata berkisar antara Rp. 6.000,- hingga Rp. 8.000,- saja. Apa harga rokok-rokok ini karena menyesuaikan dengan kantong petani yang sudah sering kalap dihajar harga jual komoditi pertanian yang memiriskan? Entahlah. Aku tak mau berspekulasi.

Setelah hampir 10 tahun merokok, kini baru aku sadari bahwa ada begitu banyak rumah tangga yang menggantungkan asa melanjutkan hidup di tiap batang rokok. Bukan hanya untuk sekedar menutupi pengeluaran rumah tangga. Lengkong misalnya memulai usahanya dari menjual rokok sebelum kemudian berkembang dengan lebih banyak item jualan. Rokok adalah menu utama di tiap warung-warung kelontong. Lebih dari sekedar pajangan di rak namun sebagai awal dari sebuah harapan akan masa depan yang dirajut. Di Manado, cukup mudah akan ditemukan warung-warung yang buka 1 x 24 jam dan menjual rokok. Tentu semua itu dimulai karena ada alasan kuat bahwa masih mungkin mengais rejeki untuk bertahan hidup meski ketika penguasa negeri ini sedang tidur.

Jika ditanya tentang jenis rokok yang paling laris, jawaban yang muncul dari mulut para penjual ini berbeda. Ini tak lepas dari pangsa pembeli di sekitar tempat berjualan mereka. Di warung Paidi, rokok Surya dari Gudang Garam, Sampoerna Mild produksi HM Sampoerna serta LA Lights dari Djarum adalah yang paling laris. Biasanya Paidi menjual hampir semua merk rokoknya dengan batangan, kecuali beberapa merk rokok tertentu yang dianggap sepi pembeli.

“Lebe untung kalo mo jual batang dari pada mo jual bungkus. Mar sadiki lebe lama no mo abis.” Lebih menguntungkan jika menjual rokok per batang dari pada dibandingkan yang di jual per bungkus. Paidi menjawabku.

Sedangkan untuk Nurhayati, jenis rokok yang banyak laku adalah Sampoerna Mild. Di bawahnya berturut-turut ada rokok Class Mild dan Surya.

“Yang ba bli kan mahasiswa, jadi banya yang ja laku roko puti.” Yang membeli kan mahasiswa, jadi yang paling banyak laku adalah rokok putih.

Nurhayati menganggap bahwa Sampoerna Mild dan Class Mild produksi dari PT N.T.I Indonesia adalah rokok putih. Seperti pedagang rokok lain yang kutemui, bagi mereka rokok putih dikenali lewat bentuknya yang kecil dan tentu saja berwarna putih. Ia tak tahu bahwa kedua jenis rokok itu juga adalah kretek. Rokok khas Indonesia. Sangat banyak penjual dan pembeli rokok yang salah kaprah dengan menganggap bahwa rokok putih ditujukan kepada jenis rokok yang menggunakan filter dan batang rokoknya yang berwarna putih. Itu sebabnya, LA Lights juga akan disebut rokok putih jika ditanyakan pada para perokok yang belum mengerti. Di kepala mereka, kretek adalah penyebutan untuk rokok-rokok yang tidak menggunakan filter.

Sedangkan di warung milik Lengkong, Sampoerna Mild dan Surya adalah jenis yang paling digandrungi. Ketika kutanyakan tentang Djarum, ia menggeleng.

“Susah mo laku di sini.” Susah untuk laku di sini.

Menurutnya, rokok jenis itu jarang di minati dan menjadi resiko jika mengambil rokok produksi Djarum untuk dijual di warung. Meski tetap akan laku, tapi membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding dengan rokok jenis lain. Aku melihat ada LA Lights di situ. Ku tanyakan hal yang sama tentang LA Lights, ia mengatakan bahwa merk itu cukup laris. Terutama di kalangan remaja perempuan. Ia tak tahu kalau itu salah satu dari sekian jenis rokok Djarum yang aku tanyakan tadi. Ketika kutanyakan lagi soal apa yang ia tahu dan mengerti tentang Djarum, ia spontan menjawab: Djarum Black. Aku kini mengerti. Pabrik rokok akan lebih dikenal jika salah satu produknya menggunakan nama perusahaan seperti di atas misalnya. Tapi mungkin saja aku yang berlebihan.

Rokok memang berbeda dengan jenis produk yang lain. Ia tak akan kadaluarsa meski sudah melewati rentang waktu yang tak singkat. Malah bagi beberapa perokok, semakin lama rokok malah akan semakin nikmat. Alex Sartono adalah satu yang mempunyai pendapat seperti itu. Aktifis di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Manado ini justru menikmati setiap hembusan asap rokok yang sudah cukup lama mengendap di warung.

“Rokok tak akan menimbulkan keracunan seperti mie instans, kopi sachet instan atau nasi dan lauk yang ada di warung makan karena tak ada batas kadaluwarsanya.” Ia menjawab sembari menghisap dalam-dalam rokok kreteknya.

Para pedagang rokok tak perlu khawatir akan berlomba dengan waktu ketika berjualan. Tak ada ancaman merugi karena item jualan harus segera di buang jika telah melewati tengat waktu. Rokok tak menggunakan bahan pengawet. Hanya ada tembakau dan cengkih yang bagi orang sepertiku dapat membantu jari jemari berdansa di atas tuts-tuts keyboard laptop.

Terlepas dari itu semua, rokok telah jadi bagian yang tidak bisa tidak sangat berjasa bagi kehidupan banyak orang. Mereka bertahan dari serbuan kebutuhan hidup yang semakin mahal dengan siklus keuntungan dari penjualan rokok meski kecil. Mereka adalah satu mata rantai dari sebuah lingkaran besar industri rokok di negeri ini. Mereka tak mengerti banyak soal isu bahaya kesehatan akibat rokok yang sekarang sedang ramai digembar-gemborkan.

Bagi orang-orang di atas, lebih penting adalah dapur yang terus mengepul ketimbang larut dalam perdebatan intelektual soal angka dan hasil penelitian.

“Kalo sampe roko nanti dapa larang, beso-beso kage sampe supermi somo dapa larang. Kan supermi le pake pengawet. Berarti somo bale ka jaman dulu dang torang.” Kalau sampai nanti rokok di larang, besok-besok pasti sampai mie instan akan dilarang. Ini berarti kita semua akan kembali ke jaman dahulu kala.

Itu ungkapan Nurhayati ketika ku jelaskan bahwa aku sedang melakukan penelitian terkait industri rokok kretek. Ia benar. Kini tak ada lagi produk jualan yang tak menggunakan pengawet. Jika rokok yang tak menggunakan pengawet akan dilarang, mungkin besok lusa semua yang menggunakan bahan pengawet akan dilarang juga. Aku tak sanggup membayangkan hal itu. Sebab jika hal itu benar terjadi, mungkin Nurhayati adalah orang pertama yang akan menutup warungnya dan berhenti jualan.

* * *

Catatan ini dibuat sebagai suplemen saat melakukan riset mengenai Cengkih di Minahasa, khususnya di kecamatan Sonder dan Kombi. Penelitian ini disponsori oleh Indonesian Society for Social Transformation (Insist) Jogjakarta. Lebih lanjut mengenai rokok, cengkih dan tembakau dapat dibaca di buku yang berjudul Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota.