Cengkih Dalam Nol Rupiah

Banya orang ba pikir kalo jadi petani cingke itu orang kaya. Padahal nyanda bagitu. Kalo cuma mo ba harap di cingke, nyanda mungkin jadi kaya”. Banyak orang berpikir bahwa jika menjadi petani cengkih itu orang yang kaya. Kenyataan tidak begitu. Kalau hanya bergantung di cengkih, tidak akan mungkin menjadi kaya.

Itu ungkapan Yohan Lanes. Satu dari ratusan petani cengkih di desa Kolongan Atas I, kecamatan Sonder, Minahasa. Ia mengungkapkan itu saat saya datang mewawancarainya di malam tanggal 4 Mei 2010. Anggapan publik yang sebenarnya juga sempat ada di kepala saya. Saya masih ingat dengan heboh harga cengkih ketika masa presiden Abdurrahman Wahid. Saat itu para penambang emas coklat terutama di Minahasa seperti mendapatkan ganjaran yang setimpal atas kerja kerasnya.

Rumah Yohan Lanes sederhana meski terdiri dari dua lantai. Ada halaman yang sesak oleh beberapa jenis bunga di depan rumahnya. Aku tak mengenali jenisnya. Halaman rumah itu berdampingan dengan sebuah warung kecil persegi panjang dengan ukuran 6 x 2 meter yang tak kalah sesak. Di dalam warung itu, Lanes menjual berbagai barang kebutuhan pokok. Ada dua karung beras yang berdempetan di depan sebuah meja kayu biasa yang berubah fungsi sebagai meja kasir. Ada juga sebuah rak ala kadarnya yang dirakit dari kayu yang di cat hitam sebagai tempat barang-barang sejenis gula, kopi dan garam. Rak ini terletak di samping kiri meja kasir. Di samping kanan meja kasir ada sebuah lemari kecil yang memajang berbagai merk rokok. Sedang di langit-langit, terdapat sebuah kayu kecil seukuran jempol tangan yang melintang tempat gantungan berbagai shampo, detergen dan beberapa merk kopi instan sachet. Di atas meja kasir, terletak toples-toples yang berisikan barang jualan lainnya. Dinding warung itu belum di lapisi semen sehingga masih tampak jelas susunan batu bata yang lengket oleh campuran semen dan pasir. Tampak jelas sisa-sisa air semen yang kini mengeras. Seperti ukiran alam.

Rumah ini adalah saksi hidup kejayaan harga cengkih pada masa lalu. Di tiap senti tersimpan cerita bagaimana kerja keras dan pengorbanan seorang petani cengkih. Lantai paling atas rumah itu terbuat dari kayu. Khas Minahasa dengan sebuah anak tangga yang ada di samping kanan. Gurat-gurat di kayu itu sudah kelihatan berumur. Lantai dasar rumahnya berlantai semen yang kini berwarna hitam karena sering bercampur tanah yang dibawa tiap alas kaki yang masuk ke rumah itu. Ada sebuah TV dengan ukuran 21 inchi yang terletak di paling atas meja kayu dengan tingkap-tingkap yang dipenuhi buku. Ada dua buah alkitab terlihat di sana. Tampak empat set kursi plastik yang berupaya di tata agar menarik meski ruangan tamu itu tetap sesak karena ada juga sebuah meja bulat rendah yang juga dari plastik. Ada sebuah lemari kayu yang kira-kira setinggi dua meter yang menempel di dinding sebelah kiri TV. Lanes lalu mengajak saya ke warungnya agar bisa diwawancara sembari menanti pembeli datang.

 

PUPUK DALAM RUPIAH

“Qta tiap 6 bulan musti ba pupuk cingke. 25 sak tiap kali ba pupuk. Karna urea nimbole talalu banya. Tiap karong yang brat 25 kilo, depe harga skarang 75 ribu per karong.” Saya mesti melakukan pemupukan cengkih saya setiap 6 bulan. 25 sak setiap kali pemupukan. Karena urea tak boleh berlebihan. Setiap karung pupuk beratnya 25 kg, harganya kini Rp. 75.000,- per karung. Yohan Lanes memulai penjelasannya sejak masa pra panen.

“Biasanya kwa itu cingke tiap dua taong ja ba bua. Mar ini so taong ka tiga baru ba bua. Pangaru cuaca stow. Kalo ujang trus, cingke memang stenga mati mo kaluar bunga. Napa rupa skarang ujang trus. Kage jatong samua itu depe bunga.” Biasanya cengkih berbunga dua tahun sekali. Tapi kini sudah tahun ketiga lalu mulai berbunga. Mungkin pengaruh cuaca. Kalau hujan terus menerus, cengkih sulit untuk berbunga. Sekarang misalnya hujan terus berlangsung. Bisa saja merontokkan semua kembang cengkih.

Kebetulan hujan sedang rintik di luar ketika Lanes bicara. Ia mengekspresikan ketakutannya jika hujan terus berlangsung. Hujan terus menerus jelas akan berimbas pada hasil panen cengkihnya. Air hujan sering merontokkan setiap kembang di cengkih sehingga tak sempat dewasa hingga siap dipanen. Lanes juga tak habis pikir mengapa kini siklus panen semakin lama. Dari yang biasanya setiap dua tahun, kini ia harus menunggu lebih lama. Tiga tahun untuk sebuah penantian.

Panen raya di Minahasa terakhir memang terjadi pada tahun 2007. Kemungkinan besar panen raya akan terjadi pada tahun 2010 ini. Cengkih memang membutuhkan sinar matahari yang cukup agar dapat maksimal berbunga. Perubahan cuaca beberapa tahun terakhir memang ikut berimbas pada siklus panen cengkih. Di Minahasa, cengkih-cengkih yang tumbuh di daerah lebih rendah dan dekat dengan pantai sudah lebih dahulu bersiap memasuki masa panen ketimbang cengkih yang berada di daerah yang lebih tinggi. Desa Senduk yang ada di kecamatan Tanawangko misalnya, para petani cengkihnya sudah bersiap menyongsong panen yang diperkirakan bulan Juni nanti. Sedangkan di daerah Sonder di mana Yohan Lanes tinggal, diperkirakan mengalami panen sekitar bulan Agustus.

Mengharapkan hasil lebih saat panen cengkih membuat banyak petani seperti Lanes melakukan pemupukan. Sejak usai panen di tahun 2007, dengan jarak waktu setiap enam bulan sekali melakukan pemupukan maka telah enam kali Lanes memberi cengkihnya urea agar semakin lebat ketika berbunga. Jika ditotal dengan anggaran sekali pemupukan yang membutuhkan Rp. 1.875.000,- untuk membeli 25 karung pupuk urea yang masing-masing beratnya 25 kilogram, maka akan ada Rp. 11.250.000,- yang telah Lanes habiskan untuk hanya untuk membeli pupuk. Tapi hitungan di atas bisa saja bertambah jika masih harus ditambah dengan biaya kerja tenaga buruh yang disewa untuk melakukan pemupukan seperti yang di lakukan oleh para petani lain. Mereka umumnya adalah petani yang memiliki di atas 500 pohon cengkih.

“Untung le pa qta so nyanda mo sewa orang kalo ba pupuk. Ada anak yang jaga bantu. Kalo yang depe pohong cingke banya, dorang ja pake orang for ba pupuk.”  Saya beruntung tak harus menyewa orang lain ketika melakukan pemupukan. Ada anak laki-laki saya yang sering membantu. Kalau petani yang mempunyai banyak pohon cengkih, biasanya mereka akan menyewa orang untuk melakukan pemupukan.

Lanes tersenyum kecil mengingat bahwa anak laki-lakinya telah ikut membantu menghemat pengeluarannya sebagai petani cengkih. Setidaknya ia secara tidak langsung telah berhasil menabung. Maklum saja. Masih ada kebutuhan lain di daftar tunggu.

Yohan Rantung memiliki cerita yang tak jauh berbeda. Petani cengkih yang sekampung dengan Lanes ini harus merogoh Rp. 1.000.000,- untuk mengupah setiap orang buruh pemupuk setiap kali melakukan pemupukan. Ia menggunakan dua orang buruh yang akan bertanggung jawab terhadap 800 pohon cengkih yang ia punya. Rantung punya tiga lahan cengkih. Hanya satu kebun cengkihnya yang terletak di wilayah kecamatan Sonder. Sedangkan dua kebun cengkihnya yang lain terdapat di daerah Munte, Minahasa Selatan. Pemupukan ini biasanya dilakukan para petani cengkih untuk pohon cengkih yang sudah dikategorikan dewasa karena berumur lebih dari 20 tahun. Untuk cengkih yang masih dibawah 20 tahun belum menggunakan pupuk.

Dein Tujuwale adalah contoh petani yang tak menggunakan pupuk untuk pohon-pohon cengkihnya yang masih berumur 15 tahun. Menurut petani yang tinggal di desa Tincep kecamatan Sonder ini, keputusan ini dilakukan sebagai langkah penghematan biaya. Ia secara jujur mengaku bahwa pupuk telah menempati daftar urut di bawah hal lain yang lebih mendesak. Seperti kebutuhan dapur.

Yohan Lanes hanya punya 200 pohon cengkih yang tersebar di dua kebun yang masih berada di wilayah desa Kolongan Atas I. Total luasnya sekitar 1,5 hektare. Asumsinya, dalam setiap hektare akan terdapat 144 pohon cengkih jika ditanami dengan jarak tanam ideal 8 x 8 meter. Lanes sendiri tak tahu berapa ukuran pasti lahan cengkih yang ia miliki. Para petani cengkih memang jarang mengukur kebun cengkihnya berdasarkan luas tanah. Mayoritas dari mereka lebih ingat berapa jumlah pohon cengkih produktif yang mereka miliki. Rantung lebih mengingat angka 800 sebagai jumlah pohon cengkihnya yang produktif ketimbang ingat berapa total luas lahannya yang ditanami cengkih. Seorang petani cengkih lain di desa Tincep, kecamatan Sonder yang bernama Dein Tujuwale juga tak tahu pasti berapa ukuran lahan cengkihnya. Tapi ketika kutanya jumlah pohon yang ia miliki, ia dengan cepat menjawab: 100 pohon.

 

BERSIH ITU MAHAL

Jarak kebun milik Yohan Lanes tak terlalu jauh. Sekitar 2 kilometer ke arah timur kampung ini. Tepatnya di sekitar pegunungan Lengkoan. Kebun yang ia miliki adalah hasil warisan pembagian dari orang tuanya.

“Dulu qta pe papa yang ba tanam cingke. Mar serta qta so kaweng, qta so mulai ba tanam cingke. Karna qta pe papa dulu bilang, sapa yang da ba tanang cingke, tu kobong for dia.” Dulu ayah saya yang menamam cengkih. Tapi setelah menikah, saya mulai juga menanam cengkih. Karena ayah saya dulu bilang, siapa yang menanam cengkih, kebun itu akan jatuh padanya sebagai warisan.

Hampir semua petani cengkih di desanya mendapatkan kebun dari warisan orang tua. Cengkih yang tumbuh di atas dua kebun yang kini di miliki Lanes, di tanamnya ketika masih muda dulu. Ketika ia baru menikah. Sebab itu jadi syarat dari sang ayah. Siapa yang menanam cengkih, akan mendapatkan cengkih beserta lahan itu sebagai hadiah. Namun di desanya Kolongan Atas I memang telah banyak petani yang membeli lahan di luar wilayah Sonder. Ada yang membeli tanah sekaligus dengan pohon cengkih di atasnya, namun ada juga yang membeli lahan kosong kemudian menanaminya dengan cengkih.

Yohan Rantung ketika kuwawancarai di rumahnya di malam yang sama setelah wawancara dengan Lanes usai. Ia mengaku melakukan pembelian tanah di luar wilayah Sonder ketika ia mendapatkan keuntungan dari hasil panen cengkih. Alasan Rantung melakukan ekspansi sangat sederhana. Ia membeli cengkih di daerah yang dekat dengan pantai agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Harga tanah yang ia tebus juga bervariasi. Tergantung apakah masih lahan kosong atau sudah ditanami cengkih. Lahan yang sudah ditanami cengkih juga masih harus menilai umur dari pohon-pohon cengkih tersebut. Jika cengkih berada di umur produktif, tentu harganya akan semakin mahal. Tanah dengan pohon cengkih yang masih muda juga cukup mahal harganya. Apalagi cengkih yang sudah mulai berbunga untuk pertama kali. Biasanya umur cengkih sudah sekitar lima tahun.

Namun mengharap hasil panen yang baik sangat bergantung pada pemeliharaan dan perawatan kebun cengkih tersebut. Itu sebabnya setiap petani cengkih mempunyai jadwal tetap untuk membersihkan lahan cengkihnya dari rumput liar agar tak mengganggu perkembangan cengkih. Lanes juga demikian.

“Tiap kali se bersi kobong qta pake 30 orang. Tiap orang ja bayar 35 ribu. Itu cuma karja 6 jam. Kalo mo pake satu hari musti iko gaji hari. Skarang 50 ribu tiap orang. Qta tiap 3 bulan kase bersi kobong satu kali.” Setiap kali membersihkan kebun, saya mengupah 30 orang. Setiap orang dibayar Rp.35.000,-. Upah tersebut hanya untuk bekerja selama 6 jam. Kalau ingin menyewa mereka seharian penuh, mesti mengikuti upah harian yang berlaku di sini. Sekarang Rp.50.000,- per orang. Saya setiap 3 bulan sekali membersihkan kebun.

Aku membantu menghitung setiap pengeluaran yang Lanes keluarkan. Kalkulator di hapeku bergantian menekan angka dan memunculkan angka yang jauh lebih besar. Kami sama-sama kaget dengan banyaknya uang yang habis untuk biaya perawatan kebun cengkih selama rentang tiga tahun terakhir. Biaya pembersihan kebun untuk 200 pohon saja sebesar Rp.1.050.000,- setiap tiga bulan. Nominal itu belum final. Jika dalam setahun kebunnya dibersihkan sebanyak empat kali, itu berarti ada dua belas kali Lanes membersihkan kebunnya selama tiga tahun terakhir. Total jenderal, ada Rp.12.600.000,- untuk biaya pembersihan kebun. Itu bukan jumlah yang sedikit.

Namun ada juga petani cengkih yang membersihkan ladangnya setiap 6 bulan sekali. Dein Tujuwale adalah salah satu contohnya. Ia memilih rentang waktu yang agak lama karena pembersihan kebunnya dilakukan seorang diri. Lahan cengkihnya tak sampai satu hektare sehingga masih bisa ditangani sendiri. Lagipula, pekerjaan sampingannya sebagai seorang buruh tani di sawah membuat ia harus membagi waktu antar profesi ini. Sedangkan Yohan Rantung sendiri menetapkan empat bulan sekali untuk membersihkan lahannya. Setiap kali membersihkan 800 pohon cengkihnya, ia harus mengeluarkan Rp.5.000.000,- sebagai upah buruh tani yang ia pekerjakan. Mengingat biaya yang tidak sedikit inilah, sehingga Rantung tak mengambil pilihan seperti Lanes.

 

HAMA ULAT BERARTI PENGELUARAN EKSTRA

Dan layaknya tanaman tahunan yang lain, cengkih juga rentan terserang hama. Ulat adalah hama yang sangat merepotkan banyak petani cengkih sebab menyerang batang pohon cengkih yang dapat mengakibatkan cengkih menjadi layu dan kering. Para petani seperti Lanes tidak menggunakan obat pembasmi hama untuk mengatasi persoalan ulat ini. Menurut anggapan mereka hal itu tidak efektif. Mereka punya cara sendiri. Yaitu dengan menyewa para pencari ulat.

“Kalo satu ekor, torang ja bayar saribu lima ratus. Pa qta taong ini bole tiga ratus ribu da abis for ongkos tu tukang cari ulat.” Untuk setiap ekor, kami membayar Rp. 1.500,- Tahun ini saya menghabiskan Rp 300.000,- untuk membiayai pembasmian ulat.

Ungkap Lanes ketika kutanyakan soal itu. Ia mengaku mengupah setiap pencari ulat dengan bayaran Rp.1.500,- untuk setiap ekor ulat yang ditemukan. Harga ini relatif. Seorang buruh tani yang ada di desa Kombi, kecamatan Kombi bernama Robby Tumilantow misalnya. Ia mengaku mendapat bayaran Rp.2.500,- per ekor ulat yang berhasil ditemukan di batang pohon cengkih. Namun semua nominal pembayaran upah itu benar-benar tergantung dari negosiasi awal dari si buruh tani dan pemilik lahan cengkih. Lanes sendiri mengeluarkan biaya hingga Rp.300.000 di tahun ini saja sebagai ongkos perang melawan hama ulat.

Sedang untuk Yohan Rantung, Rp.2.000,- adalah jumlah yang dianggapnya layak untuk setiap ekor hama ulat yang berhasil di keluarkan dari dalam batang pohon. Ia adalah salah seorang petani yang cukup dipusingkan dengan masalah hama ulat ini. Tahun ini saja, ia harus merogoh koceknya sebesar Rp.1.500.000,- untuk membayar pembasmian hama. Jumlah yang besar memang mengingat dalam satu batang pohon bisa saja terdapat hingga 10 ekor ulat yang jika tidak segera dibasmi akan berpotensi menghancurkan produktifitas cengkih. Dein Tujuwale sedikit beruntung karena pohon-pohon cengkihnya belum terjangkiti hama ulat. Jadi ia tak perlu pusing memikirkan pos pengeluaran untuk menyewa para pencari ulat. Terakhir kali sewaktu mengunjungi lahan cengkihnya, ia hanya mendapatkan satu ekor ulat saja.

 

SETIAP ANAK ITU BERNILAI

“Skarang kalo mo beking tangga, ngana musti se kaluar lima pulu ribu.” Sekarang kalau ingin membuat tangga, kau harus mengeluarkan Rp. 50.000.

Lanes seperti mengucapkan semuanya dalam satu tarikan nafas aku ketika kusodori tanya tentang berapa banyak biaya yang ia keluarkan ketika masa panen tiba. Ia memuntahkan semua beserta letupan emosi. Mungkin ia cemas dengan harga cengkih sekarang. Entahlah. Aku tak berani menebak. Tapi kegusaran itu tak serta merta hadir begitu saja. Lanes punya pengalaman bahwa setiap mendekati panen harga cengkih selalu jatuh. Harga akan kembali naik jika panen telah usai.

“Mungkin so ada permainan kang?” Mungkin saja telah ada permainan, ya?

Lanes malah berbalik bertanya padaku soal kemungkinan ada kongkalingkong harga beli cengkih hari ini. Aku tak menjawab pertanyaan itu. Hanya senyum ringan yang sebenarnya bukan jawaban yang ia harapkan.

Lanes harus membayar Rp.50.000,- untuk setiap tangga yang harus digunakannya. Setiap kali panen, ia membutuhkan 13 buah tangga. Tiga tangga adalah sebagai cadangan jika nanti dalam masa panen ada tangga yang rusak atau patah. Efektifitas waktu. Itu alasannya. Sebab jika terlalu lama, bunga cengkih akan segera mekar. Hal ini tak disukai oleh para petani cengkih seperti Lanes sebab akan membuat bobot cengkih berkurang jauh dan memburuk secara kualitas jika nanti dijemur sampai kering. Ini berarti ada lagi tambahan pos pengeluaran Rp.650.000,- untuk membiayai peralatan saat panen.

Dein Tujuwale mengaku mengeluarkan Rp.30.000,- untuk setiap tangga yang akan digunakan ketika panen. Lebih murah karena ia membuat sendiri tangga tersebut sebagai langkah penghematan. Tujuwale hanya mengeluarkan biaya untuk pembelian tali dengan panjang kurang lebih 10 meter yang akan digunakan untuk mengikat tiap sendi sambungan bambu dan anak tangga serta biaya untuk menebus sepasang bambu untuk setiap tangga. Tujuwale membayar Rp.10.000,- untuk tiap ujung bambu. Setiap tangga membutuhkan sepasang bambu. Lagipula, ia hanya membutuhkan tujuh tangga saja saat panen. Lima tangga disiapkan untuk para buruh pemetik, dan sisa tangganya adalah untuk cadangan jika ada tangga yang rusak atau patah saat pindahkan. Namun harga Rp.50.000,- yang dikeluarkan Lanes memang adalah umum. Yohan Rantung mengaku mengeluarkan jumlah yang sama untuk pembelian tangga. Ia membeli 50 tangga untuk menyongsong panen di mana harus mempekerjakan 40 orang untuk menyelesaikan proses pemetikannya. Sedia payung sebelum hujan.

 

LALU, BERAPA HARGA 1 LITER CENGKIH?

“Blum for ongkos tu tukang pete. Tiap liter skarang depe bayaran 1.500 pera sampe 2.000 pera. Blum lagi tu dorang pe roko tiap hari. 1 orang bole 1 bungkus tiap hari. Blum tamba dorang pe makang.” Itu belum termasuk ongkos buruh pemetik. Untuk setiap liternya sekarang bayarannya Rp.1.500,- hingga Rp.2.000,- Belum lagi ditambah dengan biaya rokok perhari. Ssatu bungkus rokok untuk setiap buruh pemetik.

Sedikit keras suara Lanes terdengar. Aku menangkap ketegasan. Ia ingin meyakinkan aku bahwa itulah harga sewa buruh pemetik belum termasuk biaya makan. Buruh pemetik dibayar Rp.1.500 per liter untuk setiap cengkih mentah yang baru dipetik. Yohan Rantung juga mengaku membayar dengan harga yang sama dengan Lanes untuk setiap liter cengkih yang baru dipetik buruhnya. Penetapan harga ini adalah hasil pembicaraan awal antara buruh pemetik dengan pemilik lahan sebelum kerja panen dimulai. Ini juga bukan harga yang tetap. Masing-masing harga ini akan beranjak naik menjelang masa akhir panen. Akan ada selisih kenaikan upah antara Rp.500,- hingga Rp. 1.000,- yang harus menjadi tanggungan pemilik cengkih. Hal ini dilakukan agar buruh pemetik mau melakukan pemetikan di pohon-pohon cengkih yang berbunga jarang. Patokannya adalah upah sewa harian buruh.

“Depe ukuran tatap gaji hari yang 50 ribu itu no. Kalo depe pohong ba bua sadiki barang 20 ato 30 liter trus tatap 1.500, nyanda ada yang mau. Kalo 2 ribu kan so bole mo dapa dorang pe gaji hari.” Ukurannya tetap adalah upah sewa buruh harian yang Rp. 50.000,- seperti sebelumnya. Kalau pohon cengkihnya berbuah sedikit, sekitar 20-30 liter namun buruh tetap dibayar Rp 1.500,- maka tak akan ada yang mau untuk bekerja. Kalau dibayar Rp. 2.000,- kan sudah bisa seperti membayar upah harian mereka.

Begitu alasan Lanes soal kenaikan upah buruh pemetik tersebut. Sesuatu yang akhirnya menjadi kesepakatan tak tertulis antara petani cengkih dengan para buruh petik yang datang mencoba peruntungan setiap kali musim panen tiba.

“Qta tu hari baru-baru da ba jual cingke yang so ta lebe dulu ba buah. Depe harga 48 ribu per kilo. Ya, so lumayan itu. Yang penting nyanda tombo.” Saya beberapa hari yang lalu menjual hasil dari beberapa pohon cengkih yang memasuki masa panen lebih awal. Harganya Rp.48.000,- untuk setiap kilogramnya. Ya, itu sudah lumayan. Yang penting tidak merugi banyak.

Kembali Lanes menjelaskan padaku soal posisi harga jual cengkih terakhir yang berada di titik Rp.48.000,- per kilogram kering. Ia memang tak mendapatkan untung jika harga jual tetap seperti itu. Namun sudah cukup untuk menghalau kegalauan bahwa ia tak merugi. Menanti selama tiga tahun namun merugi tentu ingin dihindari semua petani cengkih, tak hanya Lanes.

 

MENGHITUNG MAKANAN

“Ada 6 orang di ruma ini. Qta deng maitua, qta pe anak laki-laki deng depe bini, qta pe anak parampuang deng cucu satu. Kalo cuma torang, 30-40 ribu so cukup for makang tiap hari. Nyanda talalu mahal lantarang torang ja ba tanang rica deng batang bawang. Depe lebe ja jual di ni warong for ba tongka.” Ada 6 orang di rumah ini. Saya dan istri, anak laki-laki saya dengan istrinya, anak perempuan saya dan satu orang cucu. Kalau hanya kami berenam, 30.000-40.000 rupiah sudah cukup untuk biaya makan setiap hari. Tidak terlalu mahal karena kami juga menanam cabe dan batang bawang. Kelebihan dari panen itu di jual di warung ini untuk ikut menyangga.

Itu jawaban Lanes atas pertanyaanku. Jumlah pengeluaran untuk biaya makan sehari-hari memang tak terlalu banyak karena berhasil disiasati. Lanes dan keluarganya tak harus membeli cabe dan batang bawang karena itu bisa diambil dari kebun mereka. Ia memang menanam cabe, batang bawang dan jagung sebagai tanaman sela. Letaknya masih di lahan yang sama dengan cengkih. Di tanam di antara pohon-pohon cengkih yang menjulang. Minyak kelapa juga tak terlalu mahal biayanya karena keluarga mereka menggunakan minyak kelapa tradisional yang harganya jelas jauh lebih murah dibanding dengan minyak kelapa produksi pabrik. Belum lagi, ia masih menggunakan kayu bakar untuk memasak sehingga bisa menekan penggunaan berlebih minyak tanah. Lanes mengaku masih mempunyai dua buah tungku di dapurnya. Ada rasa syukur dalam hatinya karena keluarganya tak terlalu banyak bertingkah soal makanan. Sering memang ada masalah soal harga ikan laut yang mahal. Namun selalu Lanes berusaha mencari solusi.

Namun jumlah ini akan membengkak tajam ketika memasuki masa panen. Sebabnya tak lain karena Lanes harus juga menyediakan makan untuk 10 orang buruh pemetik yang dipekerjakannya.

“Mar kalo tamba tukang pete 10 orang, tu pengeluaran jadi 100-120 ribu per hari. Torang kan musti kase jaminan bagus pa tu tukang pete. Jadi 1 hari dorang musti 3 kali makang. Kalo nyanda, dorang mo lari. Blum tamba dorang pe roko. Mujur kalo dapa yang nyanda ja ba roko.” Tapi kalau ditambah buruh pemetik sebanyak 10 orang, pengeluaran akan membengkak hingga 100-12o ribu rupiah setiap harinya. Kami kan harus memberi konsumsi yang terbaik untuk para buruh pemetik. Jadi setiap hari, para buruh ini harus makan 3 kali. Kalau tidak, mereka akan kabur. Belum lagi ditambah dengan rokok untuk mereka. Akan beruntung jika mendapatkan buruh yang tak merokok.

Saya hanya tersenyum mendengar bahwa ada kasus buruh pemetik yang mangkir dari kerjanya karena pelayanan yang diberikan oleh majikan mereka tak sesuai dengan berat kerja yang harus mereka jalani. Biayanya membengkak hampir tiga kali lipat dari kebutuhan normal harian. Kisaran Rp.100.000,- hingga Rp.120.000,- setiap hari dikeluarkan Lanes untuk menyediakan makanan bagi buruh pemetik. Tidak boleh tak ada ikan. Itu semua masih harus ditambah dengan biaya pengadaan rokok untuk buruh pemetik. Jika satu bungkus rokok harganya Rp.7.000,- maka Lanes harus mengeluarkan Rp.70.000,- per hari untuk sepuluh bungkus rokok. Ia merasa tertolong jika ada buruh pemetik yang tidak merokok. Sayang sejauh ini tak pernah ia mendapatkan buruh pemetik yang tak merokok.

“Parna ada kajadian rupa itu. Bukang cuma 1 kali. Itu riki beking torang skarang ja bapikir kalo mo kase sadia jaminan for tu tukang pete.” Pernah sekali waktu ada kejadian seperti itu di sini. Bukan hanya sekali. Hal itulah yang membuat kami berusaha yang terbaik jika menyediakan konsumsi untuk para buruh pemetik.

Lanes menegaskan lagi soal itu ketika aku bertanya apa pernah di desa ini terjadi peristiwa buruh pemetik yang pulang dan tak jadi meneruskan kerja karena merasa tak puas dengan konsumsi yang disediakan oleh pemilik cengkih. Aku segera mengejar dengan pertanyaan apa ia pernah ditimpa musibah seperti itu?

“Mar untung pa qta blum parna.” Tapi saya beruntung belum pernah ditimpa kejadian itu.

Ia merasa beruntung tak pernah tertimpa kejadian seperti itu. Lanes menatapku yang sedang memperbaiki posisi alat perekam agar lebih dekat ke arahnya. Namun Dein Tujuwale menambahkan bahwa kadang ia harus mengeluarkan pengeluaran ekstra untuk buruh pemetik. Yakni menyediakan alkohol sebagai pengusir rasa dingin bila kehujanan. Alkohol yang biasa ia sediakan adalah cap tikus karena lebih murah. Cap tikus adalah arak tradisional fermentasi nira khas Minahasa.

 

CENGKIH KERING, UANG BERKURANG

“Kalo somo oras ba pete, qta le musti se sadia tarpal for pake nanti ba jumur. Qta biasa ja pake 6-7 tarpal. 1 tarpal depe harga 25 ribu. Itu yang ukuran 2 x 3 meter. Qta biasa ja jumur di kobong karna kalo jumur di kampung, so nyanda ada tampa.” Kalau sudah memasuki musim panen, saya juga harus menyediakan terpal yang akan digunakan untuk menjemur cengkih. Saya biasanya menggunakan 6-7 buah terpal. 1 terpal kini harganya Rp.25.000,- Itu yang berukuran 2×3 meter. Saya biasa menjemur cengkih saya di kebun karena jika menjemur di kampung, sudah tak ada lagi cukup ruang.

Hitungan belum selesai begitu saja. Masih ada soal pembelian terpal yang akan digunakan sebagai alas untuk menjemur cengkih. Lanes biasa menjemur cengkihnya di kebun karena ia tak punya cukup ruang jika harus menjemur semua cengkihnya di halaman rumah. Untuk menjemur seluruh hasil cengkihnya, butuh enam sampai tujuh buah terpal dengan lebar 2 x 3 meter. Harganya sekarang Rp.25.000,- per eksemplar terpal. Biasanya terpal-terpal itu dibeli Lanes di Manado. Untuk pengadaan enam lembar terpal, Lanes butuh Rp.150.000,-.

Karena dijemur di kebun, otomatis Lanes harus mengangkut cengkihnya ke rumah. Untuk hal ini, ia masih harus menambah lagi satu item pengeluaran.

“Jadi masi da tamba le ongkos for mo se kaluar tu cingke dari kobong ka kampung. 50 ribu dorang ja minta for tiap karong yang depe barat 50 kilo kiring. Co ngana kali jo kalo qta pe cingke ada 2 ton. Musti tamba le 2 juta.” Jadi masih lagi harus ditambah dengan biaya untuk mengangkut cengkih dari kebun ke kampung. 50 ribu rupiah mereka minta untuk setiap karung yang beratnya 50 kilogram cengkih kering. Coba anda kalikan jika cengkih saya sebanyak 2 ton. Mesti menambah lagi 2 juta rupiah.

Setiap karung yang berisi cengkih kering seberat 50 kilogram, Lanes dikenakan biaya angkut sebesar Rp.50.000,- oleh para pemilik gerobak sapi yang ia sewa. Ini berarti harus ada Rp2.000.000,- dikeluarkan Lanes untuk dua ton cengkih keringnya.

Aku hanya terdiam mendengar uraian biaya yang harus dikeluarkan seorang petani cengkih. Lanes mengeja satu persatu dengan teliti semua berharap bahwa ia tak melewatkan satupun poin pengeluaran perawatan hingga masa panen. Kami berdua sepakat bahwa semuanya harus di rinci. Aku menawarkan rokok Djarum yang sedang ku hisap. Lanes menampik dengan sopan.

“Qta nyanda ba roko. Supaya hemat.” Saya tak merokok. Supaya hemat.

Saya tak kaget dengan hal itu. Alasannya adalah sesuatu yang tampak masuk akal. Tapi pernyataan itu tampak menjadi ironis ketika seorang petani cengkih ternyata tak bisa menikmati hasil panennya yang kini berubah bentuk. Mungkin saja ada sepotong cengkih dari kebunnya dalam sebatang rokok yang sedang kuhisap. Asap putihnya kuhembuskan ke samping. Aku mencoba agar tak mengganggu Lanes yang sedang duduk di bangku kayu yang tua. Setua dirinya yang telah berumur 66 tahun.

“Qta biasa ja pake 2 orang kalo mo ba jumur. Tiap orang qta bayar 1 juta per bulan. Jadi masi ada 2 juta le mo kase kaluar.” Saya biasanya menyewa 2 orang buruh untuk menangani masalah penjemuran cengkih. Setiap orang dibayar 1 juta rupiah per bulannya. Jadi masih ada lagi 2 juta rupiah yang harus di keluarkan.

Lanes menambahkan lagi sekian rupiah dalam catatanku. Pulpenku semakin cepat menggoreskan angka. Ada begitu banyak nol yang sekarang berurut ke bawah di catatanku. Tapi itu masih belum selesai. Ada lagi. Ternyata hitungan belum selesai. Masih lagi ada lagi Rp.2.000.000,- yang harus dikeluarkan untuk mengupah dua orang buruh yang akan bertugas menjemur semua cengkih hingga benar-benar kering selama sebulan. Semua seperti rentetan kejutan dari Lanes untukku. Tapi ada juga petani cengkih yang hanya memiliki sedikit cengkih yang kemudian memilih menjemur sendiri cengkihnya untuk menghemat biaya. Hal ini misalnya di lakukan oleh Dein Tujuwale. Dengan 100 pohon cengkih yang ia miliki sekarang, ia bisa memanen hingga 600-700 kilogram cengkih kering.

Namun Yohan Rantung mengeluarkan biaya jauh lebih banyak ketika masa panen tiba. Ia mencoba merinci satu persatu semua rupiah yang mesti ia habiskan untuk cengkih semenjak masa perawatan hingga panen tiba.

“Qta musti ja sewa orang for mo lia tu kobong-kobong jao. Ada depe mandor bagitu.” Saya mesti menyewa seseorang untuk mengawasi kebun-kebun yang jauh. Seperti mandor begitu.

Ia harus membayar mandor yang akan bertanggung jawab untuk keseluruhan proses panen dari awal hingga selesai. Gaji yang diberikan kepada mandor adalah Rp.1.000.000,- per bulan. Rantung mengaku bahwa ia membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk menyelesaikan semua tahapan panen. Hal itu mengingat banyaknya jumlah pohon cengkih yang ia miliki dan jarak kebun yang jauh sehingga membutuhkan waktu dan biaya untuk pengangkutan. Jadi ada Rp.2.000.000,- yang harus dibayar Rantung sebagai tambahan biaya pengeluaran.

“Qta kwa ada oto to. Jadi kalo mo angka tu cingke yang dari Munte, qta nyanda talalu susa. Kobong le kwa dekat jalang. Jadi nyanda ja pake orang ba pikul.” Saya beruntung karena punya mobil. Jadi kalau mengangkut cengkih yang dari Munte, saya tidak mengalami kesusahan. Kebun saya juga dekat dengan jalan raya. Jadi tidak menyewa buruh pikul.

Rantung menjawab pertanyaanku soal permasalahan pengangkutan hasil panen karena jauhnya jarak kebun yang ia miliki. Beruntung Rantung mempunyai sebuah mobil pick up Suzuki yang digunakannya untuk mengangkut hasil panen. Ia hanya perlu menambah Rp.1.000.000,- untuk upah sopir plus sekitar Rp.500.000 untuk biaya bensin mobil.

Lalu masih ada pengeluaran lain. Dengan mempekerjakan buruh hingga 40 orang, Rantung menyewa jasa buruh perempuan untuk memasak dan menyediakan konsumsi bagi para buruh pemetik. Ia mengupah Rp.500.000,- per bulan untuk setiap orang. Keseluruhan pengeluaran yang harus dikeluarkan Rantung untuk buruh pemasak adalah Rp.1.500.000,- karena ia membutuhkan 3 orang buruh perempuan menangani masalah tersebut. Hal ini ia lakukan karena tak ingin merepotkan istrinya yang juga punya kesibukan lain sebagai guru salah satu SD di kampung itu.

 

TAK MUNGKIN KAYA DENGAN BERTANI CENGKIH

Semua rupiah-rupiah di atas kemudian akan dideret berjajar dari atas sampai ke bawah untuk mengetahui berapa total jumlah pengeluaran masing-masing petani cengkih. Total pengeluaran Yohan Lanes sebagai seorang petani kecil yang hanya mempunyai 200 pohon cengkih yang mampu menghasilkan hingga 2 ton cengkih kering selama rentang tiga tahun sejak panen terakhir akan merujuk pada angka Rp.84.225.000,- sebagai hasil akhir. Jika harga jual cengkih berada di kisaran harga Rp.48.000,- seperti kondisi terakhir ketika Lanes menjual sebagian kecil hasil cengkihnya, adalah Rp.96.000.000,- saja. Ini berarti total untung Lanes sebagai seorang petani cengkih sebesar Rp.11.775.000,- selama tiga tahun.

Seringkali jika para petani cengkih sedang kehabisan uang untuk keperluan belanja selama masa panen tersebut, mereka akan menghutang segala kebutuhan tersebut di warung-warung yang memberikan bantuan. Cara membayarnya akan tergantung pada hasil negosiasi di awal pembicaraan. Karena masa panen cengkih, ada beberapa warung yang meminta bayaran hutang tidak dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk cengkih kering siap jual. Beratnya mengikuti harga jual saat itu dan banyaknya hutang si petani cengkih.

“Kadang kalo nyanda ada doi di tangan, ja ba ambe dulu di warong no. Nanti baku tutu deng hasil cingke.” Kadang jika tak punya uang di tangan, terpaksa menghutang dulu di warung. Nanti dibayar dengan hasil cengkih nanti.

Itu kalimat terakhir Lanes sembari menutup penjelasannya. Namun wajahnya tampak tak tenang. Mungkin hitungan rupiah demi rupiah semenja tadi mengganggunya. Pikiranku juga melayang jauh. Membayangkan bagaimana jadinya jika benar jadinya pemerintah menutup usaha rokok kretek. Lanes, Rantung dan banyak petani lain pasti kena imbas. Mereka adalah bagian dari mata rantai ekonomi industri rokok kretek di negeri ini. Negeri yang atas alasan kesehatan, kini sementara memadamkan kepulan asap dari dapur rumah para petani cengkih dan banyak lagi yang lain.

* * *

Catatan ini adalah salah satu hasil laporan saat melakukan riset mengenai Cengkih di Minahasa, khususnya di kecamatan Sonder dan Kombi. Penelitian ini disponsori oleh Indonesian Society for Social Transformation (Insist) Jogjakarta. Laporan ini setelah disunting, bersama laporan tim yang lain kemudian dipublikasikan dalam sebuah buku yang berjudul Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota.

Andre Barahamin