Nusa Utara #06: Mengunjungi Masa Lalu, Belajar tentang Hari Ini

Ini perjalanan  yang seharusnya membosankan. Namun kami bertiga adalah sekumpulan orang gila yang tak bisa takluk pada beku dan suasana. Kami menentangnya hingga tawa sering meledak dari ranjang beralas tikar plastik dengan beberapa tas dan sebuah kardus makanan di ujungnya.

Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Kapal yang berjalan pelan telah berhasil mengembalikan aroma laut yang pernah aku cumbu. Kadangkala untuk menghalau sepi, aku memilih melakukan pembicaraan konyol yang terlalu banyak dipenuhi kalimat tanya kepada gadis di ranjang sebelah. Sering ia tersenyum.

Namun jujur. Make up di wajahnya membuatku jijik.

Persinggahan pertama adalah pulau Kawaluso. Pulau eksotis dengan cukup banyak cerita. Dari laut dan dari angin yang akan mengajarkanmu bagaimana cara berlari di atas gelombang. Matahari masih muda. Ombak juga masih malu-malu dengan mendayun pelan. Hari yang cukup cerah.

Kami bertiga sempat turun di dermaga ketika kapal untuk sementara bersandar dan menurunkan penumpang serta muatan yang memang dialamatkan ke kampung ini. Mengambil beberapa foto dan hanya memandang ke arah perkampungan. Saat ini kami belum punya kesempatan untuk singgah dan menyapa orang-orang di situ. Hanya ada beberapa menit yang tersisa.

Aku sempat menjelaskan kepada Cecep mengenai kampung ini. Maklum, jika nanti benar ia akan menulis kisah mengenai para pemburu hiu di kepulauan utara, maka desa ini tak bisa dilewatkan. Salah satu pulau yang sering kudapati namanya tertulis jelas di beberapa literatur asing yang menceritakan tentang sejarah niaga di perlintasan batas ini. Saat ini aku akan kembali meski melewatkan beberapa pulau dan tentu saja cerita yang ada di dalamnya. Riset ini memang sedikit membatasi kami semua. Namun ini hanyalah awal. Belum semuanya.

Saat sore, kami menyambangi pulau Matutuang. Satu lagi perkampungan yang masih cukup muda jika harus dibandingkan dengan perkampungan pulau yang lain. Matutuang termasuk salah satu desa di kecamatan Marore. Ini berarti, kami sudah semakin dekat. Kecamatan Kendahe sudah berada di belakang. Tertutup oleh garis laut dan waktu yang berlalu.

Terus terang, ini adalah masa di mana kebosanan berhasil membuatku jatuh dalam keharusan menunggu dan menghabiskan waktu begitu saja. Namun aku berusaha untuk toleran. Persoalannya adalah perahu yang digunakan sebagai alat transportasi perantara kapal ke pantai mengalami kerusakan mesin. Padahal mereka hanya menggunakan satu buah perahu saja. Sementara itu, selain ada beberapa penumpang yang mesti turun di kampung ini, masih ada juga dua ratus karung semen, beberapa puluh karung beras dan besi. Tiga item terakhir akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan dermaga yang dari atas kapal baru saja selesai sekitar tiga puluh persen saja.

Dan begitulah aku hanya duduk, makan roti tawar, merokok dan membuat segelas kopi untuk menertawakan waktu. Aku ingin mengambil jalan memutar agar tak bertemu kebosanan. Ini gerilya yang mesti dimainkan. Sebuah tawaran strategi yang cukup sukses dijalankan.

Setelah sore muncul dengan membawa senyum girang karena berhasil memberikan sunset indah bagi semua penumpang di kapal ini, kami lalu mengangkat sauh dan melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian terdengar sebuah pemberitahuan dari pengeras suara di kapal ini. Destinasi kami berubah karena beberapa pertimbangan dari para kru kapal. Bukan menuju Kawio, namun langsung menuju Marore.

Bagiku ini berarti dua hal penting. Pertama, aku batal menunjukkan seperti apa rupa Kawio kepada Cecep. Kedua, kami jadi lebih cepat sampai tujuan dan akan segera memulai petualangan ini.

Aku mencoba tidur agar tak merasakan waktu yang pelan-pelan bergerak. Saat ini, semakin besar alasanku membenci aktifitas yang mesti ditakar oleh waktu. Biarlah. Ini pilihanku.

Sayang aku tak bisa tidur. Itu mengapa aku mengiyakan tawaran Cecep untuk naik ke bagian belakang, merokok di bawah hempasan angin dan berbagi pengalaman. Setelah sebelumnya kami merapikan beberapa hal agar sudah cukup siap saat sudah sampai di Marore. Aku benci terburu-buru. Jadi semuanya sudah kusiapkan sedari awal.

Sial.

Belum sampai lima menit kami duduk setelah berhasil menemukan tempat yang ideal, sudah ada pemberitahuan lewat pengeras suara bahwa kapal sudah memasuki Marore. Kampung tujuan kami sudah ada di depan mata. Juga banyak hal yang mesti kami kerjakan di pulau ini. Tentu saja dengan orang-orang yang ada di sini.

Setelah memastikan benar-benar bahwa pulau yang ada di balik kegelapan itu adalah Marore, aku segera meluncur turun bersama Cecep dan kembali ke ranjang kami. Tujuannya tentu saja adalah untuk segera merapikan segala sesuatu yang masih tersisa. Terutama tikar yang menjadi alas untuk beberapa momen tidur kami.

Perempuan yang ada di depan kami tersenyum kecut saat aku mengatakan selamat tinggal. Ia mengerti bahwa seharusnya itu adalah bagian dari dialognya. Tapi arah kapal yang berbeda telah membuatku menggeser perannya dan tampak menjadi tokoh antagonis yang tersenyum gembira karena telah berhasil mengecoh tokoh utama.

Lalu dengan bersemangat, aku menjadi yang paling pertama mencapai dermaga Marore. Sambil menunggu Cecep dan Misael juga turun, mataku liar memandang ke sekeliling kapal. Aku mencari sebentuk wajah. Wajah itu adalah kepala desa Marore yang beberapa saat sebelumnya baru kami ketahui bahwa ia juga berada di kapal yang sama semenjak dari Marore. Kami butuh menemuinya karena ia adalah kontak awal kami di pulau ini dan tiket untuk dapat melalui kerja di lapangan nanti tanpa gangguan berarti.

Setelah turun dari kapal, kami memutuskan untuk menunggu di salah satu sudut dermaga. Dekat dengan beberap gerobak barang yang sedang diparkir menunggu muatan. Tak ada para pemiliknya di situ. Mungkin mereka sedang sibuk mencari siapa yang mau menggunakan jasa mereka.

Ibu kepala desa akhirnya berhasil kami temui. Segera ia menyerahkan kami kepada salah seorang staf kecamatan yang akhirnya mengantar kami ke tempat yang akan menjadi persinggahan kami untuk riset selama beberapa hari ke depan. Aku paling depan membuntuti lelaki ini. Masalah minus pada mataku membuatku agak susah mengenali wajahnya. Hanya punggung tubuhnya yang terus menjadi titik pangkal agar aku yakin tak kehilangan bayangannya.

Sekitar seratus meter dari pantai, kami di suruh menunggu di depan sebuah rumah yang masih terlihat baru. Tepat di samping kantor kecamatan. Ternyata camat Marore sudah mengatur semuanya untuk kami. Tadi pagi ia sempat ada di sini dengan beberapa petugas pemilihan umum. Informasi ini kudapatkan dari lelaki yang tadi mengantar kami. Tapi sekarang ia sudah pergi meninggalkan kami bertiga duduk sembari tertawa kecil di kursi plastik di teras depan rumah tersebut. Ia mencari orang yang memegang kunci rumah itu. Janjinya tak lama. Meski itu kemudian terasa bohong di rasa bosan yang kembali hinggap karena waktu yang berlalu begitu saja.

Dari jalan yang cukup gelap di depan kami, seorang perempuan berumur tergopoh-gopoh datang membukakan pintu sembari meminta maaf karena keterlambatan yang terjadi. Kami membalasnya dengan tersenyum sembari mengatakan bahwa itu tak perlu. Tak ada yang perlu disesali dari apa yang sudah terjadi. Mengulangnya agar menghindari kesalahan adalah kemustahilan.

Begitu memasuki rumah itu, aku akhirnya tahu bahwa ini adalah rumah singgah untuk tamu yang dibangun oleh pemerintah kecamatan sekitar tiga tahun lalu. Dan ini berarti ingatanku mengenai kampung ini tidak bermasalah. Adalah benar bahwa bangunan ini tak tersimpan di memori otakku mengenai Marore terakhir kali.

Kami ditunjukkan sebuah kamar di bagian tengah dari tiga kamar yang ada. Ada sebuah ranjang yang cukup besar di dalamnya. Semua masih tampak belum tua namun sudah mengalami beberapa kerusakan yang tampak kalau tidak pernah diperbaiki. Tapi itu bukan masalah buatku. Tempat ini sudah cukup bagus. Lagipula aku pernah tinggal di tempat yang jauh lebih buruk di waktu kemarin.

Setelah perempuan tua itu meninggalkan kami bertiga sendirian, Cecep dan Misael mengajakku untuk mencari warung terdekat dan membeli sesuatu untuk mengganjal perut lapar malam ini. Menyusuri jalan setapak di depan rumah ini, kami akhirnya berhenti di sebuah warung yang masih buka. Terletak di depan gereja dan sebuah jalan yang mengarah ke pantai. Bersebelahan dengan kantor Border Crossing Aggreement milik Filipina. Itu tampak dari papan nama yang ada di situ serta bendera Filipina yang tampak samar-samar berkibar dalam kegelapan cahaya bintang.

Dua buah kopi tanpa gula dan segelas teh. Itu pesanan kami. Namun yang disuguhkan adalah dua gelas teh dan segelas kopi tanpa gula. Aku tetap mengambil kopi. Aku tak terlalu suka teh panas. Namun sebelum meminumnya, aku meminta mereka menambahkan beberapa sendok kopi ke dalam gelasku karena indra pengecapku mengatakan kopi ini masih terasa tawar.

Kemudian dengan gelas di tangan, kami segera duduk di luar warung dan akhirnya terjebak dengan pembicaraan yang cukup hangat dengan dua orang perempuan Jakarta yang juga ikut dengan kapal ini. Sayang tujuan mereka bukan di Marore. Berada di warung kopi ini adalah salah satu solusi mereka mengatasi penantian kapan kapal ini akan melanjutkan perjalanannya.

Perempuan-perempuan ini sekarang tengah terlibat dengan sebuah program besar bernama Indonesia Mengajar. Satu lagi upaya bodoh dan sok tahu dari mereka yang berada di titik pusat kekuasaan mengenai apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Dalam hal ini adalah masyarakat yang berada di pedalaman. Kampung-kampung yang sebelumnya tidak pernah mereka dengar, baca atau sedikitpun terlintas dalam pikiran bahwa tawaran upah yang cukup menarik membuat mereka berpura-pura rela bahwa adalah keinginan mereka sendirilah yang menuntun tubuh mereka datang ke sini. Meski mereka berupaya menutupi, tapi aku dapat menangkap dari wajah-wajah itu bahwa jika tersedia pilihan yang lebih baik maka bukan petualangan ini yang mereka genggam.

Keduanya berasal dari Jakarta. Kuliah di Universitas Indonesia meski berasal dari fakultas yang berbeda. Seorang bernama Jessica. Ia baru saja lulus dan departemen Sosiologi di fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tujuan perempuan ini adalah desa Kawio. Ia akan tinggal di sana selama setahun dan menjadi tenaga bantu mengajar. Ini adalah kali pertama ia bertualang jauh.

Seorang lagi bernama Ami. Adalah pengawas dan merupakan orang yang diberikan tanggung jawab untuk memastikan agar semua tenaga relawan itu sampai ke desa-desa yang sudah ditunjuk. Jessica adalah orang terakhir yang akan diantarnya. Namun ia tak bertahan di sana. Ia akan langsung menuju ke Tahuna. Mengganti tumpangan dengan kapal yang jauh lebih baik menuju Manado dan kemudian kembali ke tempat nyaman bernama Jakarta.

Banyak pendapat mereka kudebat habis-habisan. Aku menunjukkan dengan jelas bahwa ada ketidaksukaan yang meletus karena argumentasi dangkal dan ironis mereka mengenai orang-orang yang mereka sebut: orang pedalaman. Bahwa persoalan edukasi, kesejahteraan serta peningkatan lain yang mereka targetkan tidaklah sesederhana yang mereka lihat di keseharian hidup mereka di Jakarta. Tidak juga semudah teks-teks yang dituliskan oleh berbagai majalah, koran atau bahkan oleh para peneliti seperti diriku.

Kalian bisa berasumsi banyak hal mengenai sebuah tempat. Namun kondisi lapangan serta interaksi aktif akan menghancurkan semuanya dan menyuguhkan sebuah tatanan yang benar-benar akan tidak mudah kau prediksi. Aku berani menggaransi hal ini.

Diskusi ini semakin hangat ketika Cecep dan Misael yang tadi pergi mencari warung untuk membeli makanan, kembali dan ikut bergabung. Beberapa kali mereka tertawa ketika mengetahui bahwa ada banyak hal yang terdengar baru di telinga mereka yang lebih akrab dengan siaran radio gaul atau juga deretan tangga lalu populer.

Hal itulah yang juga membuatku enggan memberikan nomor ponselku ketika Ima memintanya. Ia ingin mendiskusikan lebih banyak hal lagi denganku. Aku lebih memilih agar menyerahkan alamat email. Itu jauh lebih baik. Semua itu terjadi ketika kapal Daraki yang membawa kami sudah kembali membunyikan sirene sebagai tanda bahwa perjalanan akan kembali dilanjutkan dengan destinasi Kawio.

Dua perempuan itu setengah berlari menuju ke kapal. Sementara di jalan yang berbeda, kami berjalan pelan dengan beberapa barang hasil belanja di warung. Menuju tempat yang sudah ditunjukkan agar kami bisa tidur dan menghabiskan malam di sana.

Tapi sayang, kami tidak langsung tidur. Masih ada beberapa hal yang segera mesti ditulis sebelum menguap percuma. Juga masih ada sebotol Tanduay dan es yang menjadi teman diskusi keempat. Ada banyak cerita dan pengalaman yang dibagi.

Satu hal yang semakin jelas. Misael semakin gila. Cecep semakin parah.

Andre Barahamin