Nusa Utara #05: Hidup Adalah Soal Hari ini dan Bukan Kemarin

Pintu kamar di ketuk dan Misael datang dan membangunkanku. Sudah ada sarapan yang menunggu. Ini sarapan terakhir kami di penginapan ini. Sebentar malam, kami sudah berpindah tempat di kapal yang akan menuju Marore. Dan karena tahu agenda hari ini cukup padat, sebelum jam sembilan, kami semua sudah menghabiskan sarapan dan mandi. Kini saatnya merealisasikan rencana kemarin.

Misael tak lupa menyampaikan kebingungannya ketika mengetahui bahwa aku dan Cecep sempat keluar penginapan untuk mencari bir. Ia tak percaya kami tak mengajaknya. Tak marah hanya saja kecewa ia tak diikutsertakan. Dia juga gila seperti kami dan riset ini semakin menyenangkan.

Kantor BAPPEDA menjadi tujuan kami pertama. Aku sudah tahu lokasinya hasil dari menenggak beberapa botol bir dengan teman-teman pecinta alam semalam. Maklum saja. Sekretariat mereka tak jauh dari tempat itu.

Kepala BAPPEDA kebetulan sedang berada di tempat. Mengenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sedang bengkak. Entah karena penyakit, digigit binatang atau dihajar tinju seseorang. Tak ada dari kami yang mau bertanya. Hanya beberapa pertanyaan mengenai riset kami yang sebagian besar dijawabnya dengan melemparkan tanggung jawab ke instansi yang lain. Orang ini tak mengerti apapun. Berada di tempat dan waktu yang salah serta memiliki pemikiran dangkal bahwa ia tak salah. Karakter umum para pejabat di negara ini.

Hanya sebuah buku yang berisi deretan angka yang diberikannya kepada kami. Ia mengatakan bahwa semua pertanyaan kami dapat dijawab oleh buku itu. Sedikit tertawa masam, kami berlalu meninggalkan kantor instansi tersebut. Tujuan berikutnya sudah menanti.

Ternyata bukan Niko melainkan Philip Imanuel Makahanap yang merupakan kepala Badan Pengelolaan Daerah Perbatasan. Seorang lulusan ilmu hukum dari pasca sarjana Universitas Sam Ratulangi yang cerdas menurutku. Nada bicaranya begitu tenang dan meyakinkan. Ia juga paham betul mengenai semua pertanyaan kami. Jawabannya memuaskan. Tak bertele-tele. Ingatan mengenai semua bentuk-bentuk perundang-undangan serta aturan hukum terkait institusinya juga tampak sangat dimengerti oleh dirinya. Ia kenal pak Ulaen. Kami cukup puas melakukan wawancara dengannya.

Ia seorang master dari program pasca sarjana universitas Sam Ratulangi dengan sebuah tesis mengenai segala perundang-undangan terkait aktifitas perdagangan lintas batas di daerah perbatasan. Dengan bangga ia menceritakan bahwa dirinya adalah mahasiswa angkatan pertama di program studinya karena baru saja dibuka hasil kerja sama dengan universitas Airlangga, Surabaya. Kami meminta agar sekiranya dapat diberikan satu buah kopian tesis yang ditulis olehnya. Mengangguk sembari mengatakan ya, pak Makahanap memberikan jawaban. Kini senyum kami adalah senyum puas.

Itu sebelum terjadinya kedatangan pak Camat kecamatan Marore. Kecamatan yang baru saja terbentuk dengan tiga buah desa saja. Camat yang hanya tampak sibuk mengutak-atik ponselnya ketimbang menjawab pertanyaan-pertanyaan kami mengenai masyarakat di desa Marore.

Pak Makahanap memberitahukan bahwa kami bertiga akan menuju Marore hari ini juga. Riset yang tengah kami jalani akan dilanjutkan di desa itu. Hanya anggukan dan menoleh sejenak saja. Camat Marore yang namanya tak sempat kuingat karena hanya sekali saja disebutkan oleh pak Makahanap.

Setelah menunggu surat tugas kami yang ditandatangani dan diberikan cap, kami melanjutkan sedikit pembicaraan. Terutama soal rencana Cecep yang ingin melakukan riset terkait skripsinya tentang para pemburu hiu di daerah Kawaluso, Matutuang dan Kawio. Pembicaraan ini semakin menarik karena satu realitas lagi yang kemudian disuguhkan oleh pak Makahanap. Konservasi satwa jenis hiu yang kemudian berbenturan dengan ketergantungan ekonomi masyarakat serta panjangnya rentetan sejarah di balik semua itu. Aku melihat wajah Cecep begitu sangat antusias.

Sesudah itu, kami memutuskan untuk kembali lagi ke pusat kota. Mencari tempat untuk mengisi perut karena hari sudah siang, sembari melanjutkan untuk berbelanja bekal saat di kapal menuju Marore.

Hal terakhir ini juga tak kalah lucu. Kami membeli begitu banyak perbekalan karena sebelumnya aku menakut-nakuti Cecep dan Misael bahwa akan ada dua malam dan satu hari yang mesti kami habiskan di atas kapal. Fakta tambahan adalah bahwa kapal perintis bekas ini tak menyediakan makanan bagi para penumpangnya. Suasana belanja yang ramai.

Kembali ke hotel dengan sebuah kardus besar yang berisikan berbagai jenis makanan siap makan. Ada tuna dalam kaleng, ikan sarden, roti tawar, mentega, sebotol susu untuk Cecep, beberapa apel, sebungkus besar kopi dan masih banyak lagi. Misael mengatakan padaku bahwa dia belum pernah melakukan penelitian lapangan dengan membawa bekal sebanyak ini. Aku hanya tertawa.

Setelahnya, aku melanjutkan seorang diri ke pelabuhan untuk mengecek kapal dan memastikan tempat di mana nanti kami akan tidur. Misael menawarkan opsi apa mungkin kami dapat menyewa kamar. Aku menuruti kemauannya. Melihat kamar yang mungkin dapat disewa sekaligus mengecek berapa harganya.

Beberapa saat kemudian adalah tawar menawar lewat ponsel karena terlalu makan waktu dan tak efektif jika aku mesti kembali ke penginapan hanya untuk menyampaikan harga. Beberapa kali tawar menawar harga, akhirnya kami sepakat untuk batal membeli. Aku juga sepakat. Aku lebih memilih kelas ekonomi seperti penumpang kebanyakan karena itu adalah sesuatu yang lebih mahal. Pengalaman dan sensasi yang tidak akan mungkin kau temui jika kau berada di puncak piramida dari sistem masyarakat menindas hari ini.

Hampir satu jam kemudian, aku sudah berada kembali di penginapan. Mengecek kembali barang-barang kami jangan sampai ada yang ketinggalan. Kemudian membawa tubuh kami di dalam angkutan penumpang menuju pelabuhan.

Sampai di sana, kami memilih beberapa ranjang yang masih kosong. Ranjang yang benar-benar kosong secara harafiah karena tidak akan kau temui kasur-kasur di situ. Jumlah kasur di kapal ini tidak sebanding dengan jumlah ranjangnya. Hanya tersisa sebuah kasur yang berhasil ditemukan oleh Misael dan sebelum kemudian aku mendapati tubuhku tengah berada di angkutan kota yang menuju pusat kota. Membeli tikar untuk alas tidur kami di kapal ini.

Setelah mendapatkan semuanya dan merapikan barang-barang kami, masih ada rasa bosan menunggu karena sudah diputuskan bahwa jam sembilan malam adalah waktu kapal ini mulai melepas sauh dan meninggalkan dermaga.

Semakin malam semakin banyak penumpang yang berdatangan. Banyak dari mereka yang kemudian hampir tidak menemukan tempat karena begitu sesak. Aku memandangi kejadian itu sembari mengutuk semua yang sering ku sumpahi. Negara dan kapitalisme. Dua unsur ini adalah yang mesti bertanggung jawab atas semua kejahatan hidup yang terjadi.

Aku memilih tidur di ranjang mesti kapal belum juga menjauh. Misael dan Cecep memutuskan untuk mencari makan malam sembari menghalau waktu di dermaga. Aku terbangun ketika Misael menepuk pundakku dan menyarankan bahwa sebaiknya juga mencari makan malam sebelum kapal benar-benar berangkat. Seperti biasa molor.

Tubuhku sudah ada di dermaga dengan mata yang menghambur pandangan mencari tempat pembuangan air. Perutku begitu melilit dengan sisa makanan yang tidak berhasil dicerna oleh tubuh yang sedang meronta keluar. Tapi sial. Tak ada.

Memilih pura-pura tak merasakannya adalah pengingkaran bodoh yang terus kutertawakan saat itu.

Dua jam kemudian, tepat jam sepuluh lewat dua puluh menit kapal mulai menyalakan mesin dan bergerak. Aku sudah berada di atas ranjang. Tak peduli dengan pemandangan pelabuhan Tahuna yang semakin mengecil. Sudah terlalu biasa dan tak lagi menarik. Lagipula tak ada yang perlu ku sesali. Perjalanan di depan mata justru yang lebih menarik perhatianku.

Mataku sudah terlalu lelah berjaga seharian.

Begitu juga hatiku yang semakin terlilit dengan beberapa peristiwa dari masa lalu yang begitu mengganggu. Semua kenangan tiba-tiba menari dan mencoba menggali lagi bagaimana pelarian dari kehidupan liarku telah meninggalkan ceruk untuk beberapa orang. Perempuan-perempuan yang kini oleh waktu dihadapkan lagi dalam pertemuan yang benar-benar tak berhasil ku cegah. Teknologi sialan ini juga ikut membantu dengan terdeteksinya nomor ponselku yang sudah beberapa kali ku ganti.

Ah, hidup memang soal kemarin dan hari ini. Bukan esok.