Nusa Utara #04: Petualangan Selalu Baru Tiap Pagi

Tadi malam, Cecep dan Misael berencana ke gereja dekat sini. Mereka berusaha mengajakku. Tapi aku sudah menegaskan bahwa pilihanku untuk menjadi atheis hingga saat ini membuatku kehilangan minat terhadap tempat-tempat sejenis itu. Rumah ibadah adalah kepalsuan yang memuakkan buatku.

Ini adalah hari di mana sebagian besar waktu kami di habiskan di penginapan. Sempat ada rencana untuk jalan-jalan ke tempat wisata tapi akhirnya urung terlaksana.

Pusat kota kembali menjadi destinasi kami. Awalnya untuk makan siang, kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan biasa sembari berharap bahwa keberuntungan akan kembali menghentikan langkah kami dan menghadirkan tokoh baru dalam perjalanan ini.

Tapi sayang tak ada kejutan seperti itu.

Aku akhirnya menyadari bahwa kami selalu makan siang dan makan malam di tempat yang berbeda. Sebuah wisata kuliner tanpa sengaja. Tapi kini aku memiliki pengetahuan baru mengenai Tahuna. Tentang tempat-tempat di mana selera makanmu akan dimanjakan seperti seorang anak tunggal. Tanya aku saja.

Hingga akhirnya kami kembali ke penginapan. Ini adalah adegan di mana Cecep salah menyebutkan nama tempat yang sudah menjadi sarang mimpi kami selama tiga hari terakhir.

Dengan begitu percaya diri, Cecep mengeja Bintang Laut dan bukan Bintang Utara.

Sopir angkot yang kami tumpangi hanya tertawa melihat kelucuan ini. Sepanjang jalan, kami tak berhenti tertawa.

Sesampainya di penginapan, kami mendapatkan hal yang tak kalah lucu.

Ini bermula dari pertanyaanku kepada salah seorang pegawai penginapan mengenai tempat untuk laundry. Pertama kali aku menanyakan hal ini, perempuan itu sedikit bingung. Aku sedikit paham bahwa kata laundry masih kurang populer di sini. Itu mengapa aku menggantinya dengan kata “tempat” untuk mencuci baju “di sini”. Hal lucu pertama yang terjadi adalah jemari perempuan itu yang menunjuk ke arah kamar mandi. Dengan polos dan tanpa merasa ragu, ia mengatakan bahwa itulah “tempat” mereka mencuci baju. Ia mengatakan bahwa aku juga dapat mencuci baju di sini.

Mengetahui bahwa maksud dari pertanyaanku masih kurang dimengerti, kembali lagi pertanyaan mengenai “tempat” untuk mencuci baju. Tak lupa aku memberikan penjelasan mengenai sebuah tempat di mana aku dapat “meletakkan” baju milikku. Kali ini ia mengatakan mengerti dan akan bicara dengan beberapa temannya mengenai hal ini. Saat aku berpikir bahwa ia ingin mendapatkan informasi mengenai hal tersebut.

Beberapa menit kemudian, perempuan itu datang kembali dengan membawa sebuah loyang. Saat itu, kami bertiga sedang duduk di meja bambu yang terletak di belakang kamar Misael sembari berdiskusi.

Perempuan itu mengatakan bahwa loyang itu adalah “tempat” di mana aku dapat “meletakkan” baju-bajuku. Lalu tak lupa ia memberi tahu bahwa kamar mandi adalah tempat di mana aku dapat “meletakkan” loyang tersebut dan mencucinya. Sebuah miskomunikasi yang sempurna.

Yang terjadi kemudian adalah tawa kami bertiga yang meledak karena kelucuan yang baru saja terjadi. Aku tak menyalahkan perempuan itu. Tapi menertawakan kondisi di mana bahasa yang salah dimengerti akan membawa dampak terhadap sebuah komunikasi yang dibangun. Hal di atas adalah buktinya.

Momen ini tidak akan pernah aku lupakan.

* * *

Sore hari, kami sudah merencanakan apa yang kami lakukan esok. Mengingat pada besok hari, kami sudah akan melanjutkan perjalanan kami ke Marore. Perjalanan yang disesuaikan dengan jadwal kedatangan kapal di pulau-pulau yang kami tuju. Kami hanya punya sedikit waktu. Tak ada yang boleh disia-siakan.

Malamnya, Misael segera tidur. Ia mau bersiap untuk esok hari. Sementara aku dan Cecep dengan hanya beberapa botol bir, mencoba juga untuk tidur. Sayang akhirnya gagal.

Hingga akhirnya, pada dini hari berdua kami memutuskan untuk keluar dan mencari sekiranya masih ada warung yang masih buka. Jika ada, apa mungkin ada alkohol yang mereka jual?

Perjalanan konyol itu akhirnya membuat kami singgah di rumah dinas wakil bupati dan berdiskusi kecil dengan para penjaga keamanannya. Hal itu terjadi setelah kami dengan sembrono menghentikan sebuah motor yang tengah melintas di depan kami. Diskusi itu berlangsung hangat. Terutama karena beberapa informasi baru mengenai riset yang sekarang tengah kami jalani.

Kini aku dan Cecep telah berada berada di sebuah sekretariat para pemuda pecinta alam lokal Tahuna. Aku juga sudah pernah ke sini dan memang ada beberapa orang yang mengenaliku. Pemilik motor yang kami kira tukang ojek ternyata adalah salah seorang anggota mereka.

Kami melanjutkan aktifitas minum kami hingga subuh hampir menjelang. Semua warung sudah tutup meskipun kami tetap ingin melanjutkan aktifitas pesta alkohol tersebut. Hanya beberapa botol bir, menurutku tak ada yang salah.

Kembali ke penginapan dengan motor dan pengendara yang sama. Menekan bel karena pintu penginapan sudah tertutup. Ah, kami kembali merepotkan para pekerja di situ.

Lalu kembali ke kamar kami dan tidur. Esok sudah menunggu.

Sementara itu, jujur saja. Leherku masih menginginkan tegukan bir lagi.

Andre Barahamin