Nusa Utara #03: Pertemuan Mengingatkan tentang Perpisahan Dahulu dan Yang Akan Terjadi

Kami bangun pagi lagi. Aku begitu senang meski ada beberapa kekonyolan akibat mabuk semalam yang mesti kubereskan dahulu sebelum melanjutkan aktifitas. Kedua kalinya aku dapat bangun pagi meskipun tidak sepagi mereka yang mesti bekerja tetap dan konstan seperti mesin. Tapi aku tak menyesal dengan mengorbankan tidurku yang lelap. Hari ini, ada petualangan baru yang mesti dipinang. Aku sudah tak sabar.

Tujuan kami hari ini adalah desa Likuang. Dua desa sebelum Petta. Di antaranya ada Enemawira. Ketiga desa ini sudah pernah ku kunjungi sebelumnya. Tapi kali ini akan berbeda. Ini mengapa aku jatuh cinta kepada petualangan. Ia selalu perawan.

Mobil yang membawa kami penuh dengan penumpang. Itu setelah kami mesti menghabiskan hampir satu jam untuk menunggu penumpang yang lain berdatangan. Aku sempat membunuh waktu dengan membeli tiga jenis koran yang berbeda untuk dapat dibaca sebelum bosan jadi tiran. Ah, itu sangat berbahaya.

Pohon-pohon kelapa menari di samping kiri kanan. Seperti kilatan cahaya kamera saat kau berjalan di karpet merah menuju gedung utama acara saat piala Oscar berlangsung. Aku mencoba menangkap benar satu atau dua bayang di antaranya. Gemulai ini tak mungkin akan kau dapatkan jika hidupmu berada di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter di sebuah gedung bertingkat dengan pendingin ruangan dan kemeja bersih serta ikatan dasi. Aku merasa diriku beruntung telah menolak kerja sejenis itu.

Aku terutama memberikan fokus ke sebelah kanan. Tak ingin tempat yang menjadi destinasi kami terlewatkan. Itu tentu akan jadi sebuah komedi yang dimainkan para pejabat. Selain tak lucu, juga akan muncul rasa jijik.

Kendaraan ini melaju begitu cepat. Mataku yang sudah minus tiga mesti sering menyesuaikan dengan hal ini. Apalagi tanpa kacamata yang menggantung di hidupku. Menolak menggunakan kacamata adalah salah satu alasan yang tidak perlu ku jelaskan. Ini sebuah pilihan yang akan sulit dimengerti jika kita tidak pernah bertatapan serta berangkulan lewat angin secara langsung.

Hingga sebuah papan kecil membuatku menghentikan laju kendaraan. Tepat di samping kanan mobil kami, rumah itu sudah terlihat. Aku belum lupa.

Rumah sederhana itu pernah ku singgahi dua tahun lalu. Saat itu, aku juga datang dengan maksud yang sama. Melakukan sebuah penelitian meski kali ini berbeda.

Lelaki tua yang kucari tak ada di rumah. Ruang depan rumahnya juga kosong. Sebelum akhirnya beberapa menit kemudian, anaknya yang bungsu keluar menemuiku. Ia masih mengenaliku dan tersenyum renyah. Kami berbincang beberapa saat sembari ia mengirimkan pesan pendek kepada ayahnya. Tujuannya sudah jelas. Mengabarkan bahwa ada seorang pecundang dari hari kemarin yang kembali datang menemuinya.

Kabar dari masa lalu menjadi topik yang merekatkan pembicaraan kami. Beberapa saat sebelum sebuah motor memasuki teras rumah itu. Ah, orang itu. Dia sudah kembali.

Tangan tuanya yang sudah kusam kugenggam erat. Aku tersenyum lebar. Mungkin lebih mirip tertawa. Menertawakan pertemuan ini. Merayakan ingatan yang membuatku kembali berjumpa. Ia juga tertawa. Meski terlihat jelas bahwa gigi-giginya sudah semakin banyak yang tumbang.

Dua orang temanku, Cecep dan Misael, tak lupa kuperkenalkan padanya. Mengapa aku di sini, tentang aktifitas yang kulakukan setelah pertemuan terakhir dan beberapa kisah jadi suguhan pembuka. Meski tanpa teh, aku merasakan kehangatan yang masih tetap sama seperti dua tahun lalu.

Kami akhirnya berbincang banyak hal. Sangat banyak. Namun aku tak ingin menuliskannya di sini. Aku memberi cerita itu sebuah penjara terbaik yang nanti akan ia tempati. Catatan ini adalah sketsa perjalanan yang masih terus dilukis. Sedang kisah itu, ia terlalu menggairahkan untuk dibauri dengan berbagai peristiwa.

Kopi hidangan dari anak perempuannya mengisi sela-sela pembicaraan kami. Juga sebuah botol bir berukuran jumbo yang tidak pernah aku rasakan. Nama bir ini juga tak ingin ku beritahu. Ia terlalu pemalu. Lagipula, bir tersebut merupakan bagian utuh dari cerita panjang dengan orang tua itu.

Akhirnya, makan siang menginterupsi semuanya. Sebelumnya, seorang lelaki tua yang lain juga ikut datang. Aku juga mengenalnya, tapi ia sudah agak samar mengenaliku. Mungkin karena sudah dua tahun lalu.

Ini waktu di mana wajah penyesalan muncul ke hadapanku sambil tertawa. Ia menertawakan diriku yang sedang berusaha membuat agar namaku kembali tak asing bagi telinga lelaki itu.

Setelah makan siang, kami masih melanjutkan pembicaraan itu. Ada banyak hal yang masih terus digali dari kuburan masa lalu.

Di sela-sela pembicaraan, anak lelaki keduanya muncul dan ikut sebentar mendengarkan pembicaraan tersebut. Tak lupa ia menyapaku. Menanyakan tentang kabar semenjak pisah itu dan beberapa hal lain. tak perlu semuanya ku jelaskan dalam tulisan ini.

Hingga akhirnya siang mulai diusik oleh sore, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ke Petta. Ada beberapa hal yang mesti kami lihat di sana.

Semua orang di rumah itu mengantarkan kami. Juga mengingatkan agar kembali jika ada waktu. Lagi-lagi aku tak mau berjanji. Siapa yang tahu soal masa depan. Bukankah masa depan belum tertulis?

Dan Petta menjadi tempat terakhir sebelum kami kembali ke Tahuna.

Berjalan-jalan di pasar tradisionalnya, melihat berbagai barang yang dijual di sana. Telingaku terus siaga mendengarkan celoteh orang-orang di pasar. Siapa tahu ada cerita menarik.

Aku membeli satu buah celana di sana. Benda yang akan menjadi pengingat semua cerita yang terjadi hari ini dan mungkin esok. Mungkin saja, atau akan ada penanda lain.

Misael sempat berfoto di depan kantor Kapitalaung di sana. Itu sebutan masyarakat lokal untuk gelar kepala desa. Satu lagi sebuah upaya tak serius dari negara untuk berpura-pura mengerti tentang ekspresi budaya lokal orang-orang di sana. Tapi aku paham. Tak ada satupun hal serius mengenai negara kecuali eksploitasi.

Saat perjalanan pulang ke penginapan, kami menyempatkan diri untuk memperjelas beberapa hal. Tapi tak terlalu banyak. Dialog kami dalam bahasa Inggris terlalu menarik perhatian. Itu mengapa kami memutuskan agar melanjutkan saja itu nanti setiba kami di tujuan.

Malam ini, kami kembali duduk dengan beberapa botol bir untuk mencambuk malam. Kali ini, tanpa mabuk berat.