Nusa Utara #02: Kembali Adalah Soal Bertemu Kenangan

Aku bangun pagi. Sesuatu yang tak biasa dalam hidupku yang selalu berjalan lambat, pelan dan tanpa rencana. Bangun dari tidur karena kesibukan luar biasa dari orang-orang di sekelilingku. Semua sedang bersiap untuk segera meninggalkan kapal ini dan menapakkan kaki mereka di pelabuhan. Satu hal lagi yang begitu berani menyelinap dan mengambil ruang dalam otakku. Bau yang sangat menyengat.

Menurut Cecep, itu adalah bau dari bangkai tikus yang mungkin saja berada tepat di bawah ranjangku. Dan memang sejak semalam, aku tahu bahwa ada yang tidak beres di sekitar sini. Tapi aku membiarkannya lewat begitu saja dan tak membiarkan hal tersebut mencuri perhatianku.

Ingatanku justru kembali ke masa beberapa tahun yang lalu. Masa di mana aku adalah seorang aktifis Marxis yang atas nama vandguard-isme yang ku elu-elukan, membuatku mau untuk tinggal di sebuah tempat pembuangan sampah yang menjadi destinasi dari seluruh sampah seluruh kota. Tinggal dan belajar banyak dari orang-orang tersebut tentang hidup. Sesuatu yang harus ku akui memberikan kontribusi yang tidak sedikit nilai-nilai hidup yang kujalani.

Kapal sudah berlabuh dan segera dari dalam perutnya, orang-orang berhamburan untuk berebut turun.

Kami masih duduk di atas ranjang, melihat kepadatan aktifitas yang semakin meninggi, melihat ke arah pelabuhan yang masih gelap. Ini jam lima pagi. Tapi sudah ada cukup banyak orang yang menunggu di pelabuhan. Para porter yang menawarkan jasa angkutan, para penjemput, atau mungkin juga mereka yang hanya sekedar ingin berada di sana.

Seorang ibu meminta botol bekas air mineral yang sudah habis kepada kami. Tanpa rasa ragu, kami memberikannya. Mungkin ia lebih membutuhkan benda itu dibandingkan kami.

Kami masih duduk di ranjang. Membiarkan banyak orang untuk lebih dulu turun dari kapal mendahului. Tak ada yang terburu-buru. Lagipula hari masih sangat muda. Matahari masih sedang bergeliat di timur sana.

Ponselku berdering. Ada sebuah pesan pendek yang masuk. Cepat jariku menari di atas tutsnya. Membalas pesan.

Itu pesan yang datang dari perempuan itu. Mengatakan bahwa jika mau, aku bisa turun bersama dengannya. Ku jawab tidak. Aku mencoba menghindar dari apa yang kurasa.

Lalu setelah itu, tak lama kemudian mata kami bertiga saling bertabrakan. Terlihat jelas bahwa ada pertanyaan tentang kapan kita beranjak dari ranjang ini dan menginjakkan kaki di beton dermaga yang menjadi labuh kapal ini.

Dua puluh menit kemudian, kami sedang berjalan kaki menuju sebuah penginapan. Aku menjadi yang paling depan berjalan. Hanya aku yang pernah ke tempat ini. Cecep dan Misael tidak pernah datang sebelumnya. Itu mengapa, semua rekomendasi dariku dengan cukup mudah mereka setujui.

Langit masih gelap, sementara kaki kami terus melangkah. Tahuna masih sunyi. Orang-orangnya mungkin masih banyak yang tengah lelap dipeluk lelah. Melewati kampung Tidore, ada perasaan yang seketika melintas lagi. Sepenggal wajah yang lain melintas. Ah, masa lalu lain yang masih hidup.

Perjalanan sekitar satu kilometer itu berakhir ketika kami telah berada di meja resepsionis. Menanyakan tentang kamar kosong dan juga mencari kecocokan harga dengan kantong.

Resepsionis yang melayani kami masih muda. Aku mengenalnya. Ia salah satu pemuda imigran yang bukan berasal dari Tahuna. Bahwa ekonomi membuat banyak orang terpaksa mesti datang jauh ke pusat-pusat ekonomi dan meninggalkan apa yang mereka cintai. Dia menyapa ringan dan sekedar menebak apakah aku masih mengingatnya atau tidak lagi.

Satu lagi kebetulan. Pertemuan dengan mereka yang pernah ku kenal di waktu kemarin. Beberapa wajah melintas cepat. Aku mengebaskannya keluar. Belum mau diganggu.

Setelah menyelesaikan semuanya, dua buah kamar kelas ekonomi menjadi tempat kami membanting tubuh dan menyegarkan diri. Aku suka tempat ini. Satu-satunya penginapan yang sering menjadi persinggahan diriku jika berada di kota ini. Murah namun bersih dan mempunyai layanan yang cukup baik. Namanya juga unik. Punya emosi yang hidup dengan cerita panjang mengenai apa yang terjadi.

Bintang Utara adalah penginapan berwarna putih dengan dua lantai yang selayaknya penginapan yang lain, dipenuhi bilik-bilik kamar. Ada beberapa jenis kamar di sini. Aku tak ingat semuanya. Terletak persis di depan kantor Badan Urusan Logistik, tempat ini sangat dekat dengan berbagai kantor instansi pemerintahan. Sesuatu yang terlambat ku sadari.

Kami semua lalu beristirahat. Melanjutkan mimpi yang terpotong oleh sirene kapal.

Misael masuk dan membangunkan aku tepat jam sembilan pagi. Ini berarti aku terlelap selama hampir tiga jam. Kami mesti segera bergegas untuk pergi ke kantor sebuah instansi yang mengurusi segala persoalan mengenai perbatasan. Sebelum mereka tutup.

Kantor-kantor di seluruh bagian negara ini memang bermasalah. Tak pernah jelas kapan buka dan tutupnya. Belum lagi ditambah dengan praktik korupsi yang merebak dari situ. Jangan lupa tambahkan mengenai kerumitan tingkat tinggi dari sirkulasi administrasi yang membuat segala sesuatu berjalan lambat dan membosankan.

Sadar bahwa aku terlambat, secepat mungkin segera bangun dan ke kamar mandi. Membasuh tubuh biar segar. Lalu berpakaian serapi mungkin. Dua puluh lima menit kemudian, aku sudah berada di depan hotel bersama dengan Misael. Menunggu mobil angkot yang lewat untuk bisa di antarkan ke tujuan kami.

Kantor Badan Urusan Perbatasan. Itu namanya kalau tak salah. Aku dan Misael memang harus ke sini untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai Marore, Miangas dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut. Sejak dari Manado, kantor ini sudah masuk ke dalam list kunjungan wajib kami. Itu saran dari pak Ulaen. Ada banyak data dari segi angka, statistik juga demografis, mengenai Miangas dan Marore. Juga mengenai aktifitas perdagangan lintas batas antar kedua negara yang dilakukan oleh masyarakat di daerah perbatasan.

Ada sebuah kekonyolan yang terjadi. Tapi karena kami berdua sama-sama tidak tahu, maka kami melakukan kebodohan itu. Ini benar-benar sesuatu yang memalukan. Dengan bodohnya aku dan Misael naik angkot dari hotel menuju kantor urusan mengenai perbatasan. Ternyata kantor itu hanya berjarak seratus meter dari hotel. Kami membayar empat ribu rupiah untuk kebodohan kami. Karena tidak tau letak kantornya. Memang anjing.

Sampai di tempat itu, lelaki bernama Niko yang ingin kami temui sedang tidak berada di tempat. Ia adalah kepala dari instansi ini. Menurut salah seorang bawahannya, Niko masih berada di Manado. Mereka menyarankan kami berdua kembali hari Senin saja.

Misael meninggalkan kartu nama dan nomor ponselnya. Ia ingin segera di kabari jika Niko sudah kembali di Tahuna.

Gagal mendapatkan data, kami berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kantor bupati. Kali ini, kami mencoba untuk tidak lagi mengulangi kebodohan yang pertama. Itu mengapa, aku tak ragu bertanya di mana kantor bupati.

Ini juga kali pertama buatku datang ke kantor bupati. Sebelumnya tidak pernah. Dulu, jika aku datang ke kantor sejenis ini, pasti karena sedang ada demonstrasi yang dilakukan. Tidak ada urusan lain. Itu mengapa, ada perasaan canggung yang membuat sepasang kaki milikku seperti kaku melangkah. Kantor bupati di Tahuna terletak di bagian dataran yang cukup tinggi. Gedungnya juga mewah dan tampak sombong.

Misael meyakinkan aku bahwa hal seperti ini sudah biasa bagi dirinya. Bertemu para pejabat daerah untuk diwawancarai terkait disertasinya. Aku hanya mengangguk lemah. Tak mengapa. Selalu ada yang kesempatan pertama untuk mulai belajar.

Setelah beberapa menit kebingungan mesti melangkah kaki ke mana, aku memutuskan bertanya kembali. Di mana letak ruangan bupati dan wakil bupati.

Seorang pria paro baya menunjuk dengan tangannya. Mataku mengekori dan melihat ke arah yang ia maksud. Sembari mengucapkan terima kasih, aku melangkah pergi. Dengan Misael tentu saja.

Sampai di depan ruangan tersebut, ada dua orang perempuan yang tampak seperti penjaga pintu. Seragam mereka selalu tampak tak menarik buatku. Ini personal.

Kami bertanya kepada mereka.

Jawabannya juga sama. Bupati dan wakil bupati belum ada di tempat. Mereka masih di luar daerah.

Bagiku ini adalah sesuatu yang sering kudengar. Para bajingan tengik itu memang tak suka ditemui oleh orang-orang biasa. Jika memang harus, maka ada kerumitan birokrasi yang mesti dihadapi. Itu semua belum cukup untuk dapat memastikan bahwa kau akan bisa mendapatkan jadwal tatap muka dengan mereka. Kau mesti punya kontak dengan orang dalam. Jika tidak, maka jangan berani berharap.

Hal terakhir di atas yang kemudian kami lakukan. Misael segera menelpon anak perempuan dari wakil bupati. Mereka saling kenal. Mencari tahu tentang informasi keberadaan ayahnya dan melihat kemungkinan apa kami berdua bisa melakukan wawancara.

Kami segera berlalu dari tempat itu dengan tangan kosong. Tidak ada yang kami temui. Tidak ada data yang berhasil kami temukan. Dalam perjalanan pulang ke penginapan, Misael bertanya tentang sebuah surat.

Surat yang ia maksud adalah surat permohonan untuk jadwal tatap muka dengan bupati. Ia memintaku membuatkan untuknya. Karena ia tak paham bagaimana etika menulis surat di Indonesia. Aku menyanggupi permintaannya.

Beberapa saat kemudian, surat itu selesai sudah.

Misael memutuskan untuk mengantarnya sendiri ke kantor bupati. Aku mengiyakan. Aku juga mau tidur untuk sebentar. Mataku masih terasa perih karena belum cukup beristirahat.

Hampir satu jam kemudian, Misael sudah datang dengan wajah yang tampak kurang gembira. Tapi ia masih tersenyum saat mata kami bertemu. Aku paham dan tahu alasannya. Kantor pemerintah memang selalu cepat tutup. Apalagi di hari Jumat seperti ini.

Ia lalu mengajak kami untuk mencari tempat makan siang di luar hotel sekaligus mencari kejutan.

Tujuannya tentu saja adalah pusat kota. Tempat di mana ada sebuah bangunan yang menyerupai mall. Lantai dasarnya di sulap menjadi tempat bagi para penjual makanan mendirikan lapaknya. Berdempetan satu dengan yang lain. Sudah ada cukup banyak orang di tempat itu. Masing-masing orang memilih tempat sesuai seleranya.

Bertiga kami mendekati sebuah bilik kecil. Ada jenis lauk yang menarik perhatian kami. Dan beberapa saat kemudian adalah sebuah aktifitas mengunyah, minum dan sesekali saling mengejek. Kami melewatkan makan siang ini dengan lahap. Ini makan siang pertama kami di Tahuna.

Terminal angkutan kota menuju kecamatan Tabukan adalah tempat di mana tubuh kami berada setelah makan siang kami habiskan dengan lahap. Aku butuh memastikan beberapa hal di sini. Pertama, bahwa aku belum lupa dengan tempat di mana mobil yang dapat membawa kami ke Petta berada. Kedua, berapa ongkos yang mesti kami bayar untuk perjalanan nanti. Ketiga, aku ingin memastikan nama desa di mana beberapa kawan lama berada. Semua informasi ini ku dapatkan dengan mudah. Semudah mendapatkan pantai indah jika kau ada di salah satu pulau di gugusan Nusa Utara.

Berikutnya, kami menuju sebuah supermarket. Ini toko paling besar dan lengkap di sini. Ia penguasa tunggal dari aktifitas transaksi komoditas ekonomi di pulau Sangihe ini. Kami juga masuk ke dalam.

Toko besar ini bernama Megaria. Aku cukup mengenal tempat ini, karena terakhir kali aku datang ke sini, ada seorang teman yang sering sekali ku sapa. Seorang perempuan yang sering menjadi tempat di mana, aku belajar bahwa ada banyak hal sederhana yang akhirnya ku dapat dari pertemuan yang penuh kejutan sebagai mana hidup yang kini tengah ku arungi. Perempuan itu adalah salah satu orang yang mengajarkan aku.

Tapi kami tidak berpacaran atau sedang membangun relasi sejenis itu. Hanya sekedar teman. Seorang dengan banyak cerita yang membuat hadirnya begitu banyak alternatif cara pandang akan hidup dalam perjalananku semenjak itu hingga hari ini.

Setelah itu, kami berjalan menuju pasar tradisional karena Misael begitu ingin melihat pasar tradisional Tahuna. Tapi sayang, baru beberapa saat berjalan, kami sudah diguyur hujan. Tepat di depan sebuah toko bernama Gaisano.

Nama ini akhirnya ku ketahui dari Misael adalah nama sebuah tempat di Filipina. Ada kemungkinan, tempat ini menyediakan barang-barang dari sana.

Selama hujan menghambur, kami bertiga duduk sejenak di sebuah bangunan supermarket yang masih kosong karena pembangunannya belum rampung. Saling bercerita tentang banyak hal. Terutama mengenai riset ini. Aku berusaha untuk mencoba lebih dalam mengerti tentang persoalan ini. Satu lagi pengalaman yang tidak akan mungkin ku temukan jika masih terus terjebak dengan bangku kuliah.

Setelah hujan reda, aku dikejutkan dengan hal lain. Bertemu dengan seorang teman. Satu karakter lagi dari masa lalu. Kami dahulu sempat indekost di tempat yang sama. Berbincang sedikit dengan agak canggung dan akhirnya saling bertukar nomor ponsel. Ia sempat berkali-kali sempat mengatakan agar meluangkan waktu singgah di tempatnya nanti. Aku tidak langsung mengiyakan. Hanya kepastian bahwa jika nanti aku sempat, rumahnya akan menjadi alternatif persinggahan. Aku bosan berbohong. Lagipula, semua sudah berbeda saat ini.

Kami bertiga akhirnya kembali ke penginapan kecil tempat kami menginap. Bintang Utara. Kembali dengan begitu banyak hal yang menggantung dalam pikiranku. Ada begitu banyak hal yang mencoba ku rangkai satu demi satu selama pengalamanku datang ke kota kecil ini.

Ada satu orang yang akhirnya ku ingat. Ku harap kami dapat menemui satu orang ini. Ada sebuah cerita yang pernah dia katakan padaku. Misael pasti tertarik.

Malam tiba, kami menghabiskan waktu dengan menenggak bir sembari bertukar banyak hal. Misael mendiskusikan beberapa pengalamannya selama melakukan riset. Terutama mengenai riset terakhir yang ia lakukan di Filipina.

Orang ini sedikit gila. Hampir mirip dengan tuduhan banyak orang di kampus juga orang-orang di lingkungan bergaulku. Tapi aku merasa nyaman dengannya. Tak perlu ada kepura-puraan. Kami masing-masing menjadi diri sendiri.

Makan malam kami diselesaikan di sebuah warung di kampung Tidore. Tapi aku tak sampai selesai dengan mereka. Hanya makan beberapa tahu sebelum akhirnya dengan sedikit terburu-buru mesti ke pelabuhan.

Sebuah pesan pendek dari gadis itu kembali memaksaku untuk membela kenangan.

Aku ke dermaga itu. Menghabiskan beberapa jam dengan dirinya. Lalu kembali ke penginapan.

Di sana, Misael dan Cecep tengah menghabiskan beberapa botol bir sembari bercerita dengan salah seorang pegawai di situ yang ternyata memberikan kami banyak informasi mengenai riset ini. Kebetulan aku mengenalnya dengan cukup baik.

Sebuah meja dari bambu dengan empat buah kursi yang ada di belakang dua kamar kami jadi saksi awal. Beberapa bol bir ini juga akan membela kami nanti. Bahwa kini, ada tiga manusia yang telah menjadi sahabat.

Aku akan melewati malam ini dengan mabuk total.