Nusa Utara #01: Dan Perjalanan Panjang Itu Dimulai

Hari ini adalah awal perjalananku melakukan riset. Pekerjaan yang akhirnya kupilih untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup. Kapitalisme membuat seorang pembenci masyarakat seperti diriku tak bisa berkutik. Ya. Aku jadi lemah.

Namun tak mengapa. Bagiku menjadi lemah adalah menjadi manusia. Ketimbang dengan bodoh berpura-pura kuat dan mengingkari bahwa sesekali tubuh dan hati kita tak sanggup membopong beban yang terlalu berat.

Sejak semalam, aku sudah menyiapkan segala sesuatu yang akan kubawa. Enam buah kaos, dua buah kemeja, dua buah celana jeans dan tak lupa beberapa potong celana dalam. Semuanya teratur rapi di dalam tas berwarna campuran merah dan hitam saling silang. Paling dasar adalah sendal Eiger yang sudah setahun ini jadi kompatriot sepasang kaki milikku.

Mengapa sendal? Karena aku memilih untuk menggunakan sepatu. Sesuatu yang tak pernah kulakukan selama aku jadi mahasiswa. Namun ini berbeda. Aku dengan senang hati memilih menggunakan sepatu untuk memanifestasikan rasa gembira menyongsong petualangan di depan mata.

Sekali lagi aku akan meninggalkan Manado. Kota dengan sejuta kebohongan dan ribuan kenangan yang di saat bersamaan membuatku bisa merasakan muak dan rindu. Semuanya dalam satu tegukan nafas. Aku akan mengarah ke utara. Memeluk gugusan pulau-pulau yang eksotis namun jarang disinggahi oleh para oralis yang hanya mengumbar omong kosong di ruang-ruang kelas. Mahasiswa-mahasiswa idiot dengan cara berpikir ironis dan dangkal namun membiarkan dirinya disodomi oleh keterbelakangan rasa dan imajinasi.

Tidurku memang tak nyenyak. Lebih dari tiga kali aku terbangun. Seperti ada ketakutan kalau aku terlambat dengan janji yang kubuat. Tapi aku tak menyesal karena ketidaksabaran adalah yang mendorong jauh mimpi-mimpi hingga tak berani singgah.

Pagi hari terasa begitu indah di rumah kontrakan yang sudah setengah tahun kuhuni bersama beberapa teman. E adalah orang yang tersisa di rumah. Ia masih tidur di kamarnya dengan TV yang menyala. Menyiarkan kebohongan dan berbagai tipuan yang sesekali juga kugemari.

Aku mengambil remote dan mulai mencari tayangan yang sesuai seleraku.

Hingga kemudian E terbangun dan mulai usil. Tapi aku tak marah. Ia seorang pengganggu yang justru bisa membuatku tersenyum karena melihat dunia dari titik berbeda.

Kami akhirnya sepakat untuk bersama-sama menuju Manado. Menumpang vespa miliknya, kami membiarkan mesin menggantikan kaki untuk membawa tubuh berpindah tempat.

Hampir dua puluh menit kemudian, aku sudah harus berpisah dengannya. Destinasi kami berbeda. Di trotoar, ia mengucapkan salam perpisahan dalam bentuk titipan oleh-oleh jika aku kembali.

Di kampus, atau lebih tepatnya di kantin kampus, sudah ada Cecep yang sedang menikmati kopinya seorang diri. Ada dua orang asing di meja itu. Dua orang tua dengan dandanan menyedihkan seperti hidupnya. Sepasang laki-laki dan perempuan yang sepertinya adalah dosen. Aku tak kenal mereka. Juga tak butuh untuk mengenali siapa mereka.

Aku menanyakan tentang kabar Misael. Orang yang akan bersama kami berdua menuju realisasi petualangan tanpa tahu apa yang nanti akan mencumbui kami di sana.

Misael Rasines, mahasiswa asal Australian National University. Historian yang sedang menyelesaikan studi doktoralnya. Seorang teman yang memberikan warna berbeda dalam hidupku yang terasa monoton. Nada yang ia dentingkan membuatku memalingkan kepala untuk melihat sisi lain dari kemarin dan tentu saja hari ini.

Aku memesan segelas kopi sembari bertukar kalimat dengan Cecep untuk menghalau kebosanan agar tak singgah biar sejenak. Sementara itu, tepat di samping kami, dua orang menyedihkan itu masih ada. Menyelesaikan makan siang mereka sembari menjalin cerita. Sesekali terdengar nominal uang dari dialog itu. Konyol!

Banyak teman duduk di meja lain. Meneguk kopi mereka. Telingaku tak menangkap apa pembicaraan mereka.

Tak lama kemudian beberapa teman yang lain datang untuk berbagi ruang di meja ini. Tentu saja setelah dua orang menyedihkan itu pergi.

Mereka sudah tahu bahwa ini hari terakhir kami di Manado. Bahwa esok tak akan ada celotehan yang mereka dengar dari sepasang mulut karena pemiliknya membawa tubuh itu merengkuh imajinasi.

Sesekali ponsel milikku bergetar. Ada pesan singkat yang masuk. Seorang teman yang kini juga tengah membiarkan dirinya datang untuk bertemu terakhir kali.

Ia bernama Nono. Cukup aneh memang nama itu terdengar. Tapi memang begitulah ia disapa. Juga itu kata yang sering ia ucapkan kalau ada yang menanyakan namanya.

Hingga kemudian, lelaki berkulit gelap dengan tas di punggungnya tampak. Misael sudah datang. Ia sudah check out dari hotel tempatnya menginap selama lebih dari seminggu.

Kami bertukar sapa dan memulai kegirangan dari dialog horizontal di mana semua orang yang ada di meja itu adalah pemilik pesta.

Misael menginterupsi dengan memesan makan siang. Juga aku. Perut memang mesti diberi makan. Tubuh ini butuh tenaga. Butuh kalori.

Waktu menunjukkan jam empat lewat tiga puluh menit saat aku menutup pertemuan hangat itu dengan perpisahan. Bertiga dengan Misael dan Cecep, aku akan mengarungi lautan menuju sebuah pulau eksotis. Semua orang melambaikan tangan dan melepas senyum serta riang persahabatan yang selama waktu kemarin membuatku betah untuk duduk selama berjam-jam dengan mereka.

Selanjutnya adalah tiga tubuh yang dibawa lari angkutan umum menuju pusat kota. Kemudian berjalan kaki sekitar empat ratus meter untuk mencapai pelabuhan.

Mimik wajah Cecep begitu gembira. Ini pengalaman pertamanya ikut melakukan riset dan adalah wajar jika ia kemudian sangat riang. Ia terus mengoceh sepanjang jalan. Tentang bagaimana nanti perjalanan ini akan mampu membungkam mulut-mulut di kampus yang dimiliki oleh mereka yang hidup gersang. Tentang ketidaksabarannya untuk segera melihat pantai dan bagaimana orang-orang yang nanti akan dia temui.

Kepalaku menggeleng kecil tanda tak percaya. Melihat kegilaan kami dan bagaimana kini secara langsung, meletupkannya dalam gelembung tanpa ujud.

Tak ada yang ingin terlambat. Itu mengapa tepat jam lima, tiga tubuh kami sudah melangkah masuk di gerbang pelabuhan. Menunjukkan tiket kepada petugas jaga di pos depan, lalu menuju ruang tunggu. Sebuah awal untuk kembali.

Karena di sana, ada sebentuk wajah yang begitu aku kenal. Milik seorang perempuan dengan rambut sebahu, mengenakan kaos warna merah muda dan celana jeans yang digulung hingga lutut. Aku meyakinkan diri bahwa aku tak salah mengingat. Dan iya.

Aku menyapa namanya. Dia menengok, melempar senyum juga menyebut namaku.

Itu tanda bahwa aku bisa segera membawa tubuhku duduk tepat disampingnya. Bicara tentang kemarin, kenangan dan semua yang sudah berlalu. Meski belum semuanya.

Misael dan Cecep membuyarkan percakapan itu. Soal bagaimana mendapatkan makan malam. Akhirnya kami keluar untuk mencari makan. Membungkusnya lalu balik ke ruang tunggu. Duduk ditempat yang sama.

Dia juga masih ada di sana.

Hingga akhirnya mulut kami kembali bertukar kata. Sesekali diselingi tawa. Ia yang tertawa. Aku hanya tersenyum tipis. Seakan tak percaya dengan pertemuan yang tak disengaja ini.

Namanya L.

Tujuh setengah tahun yang lalu, aku mencintainya. Menjalani hubungan dengan begitu banyak letupan karena temperamenku yang mudah sekali marah. Ia pernah kuteriaki, melihatku menenteng parang dan mengamuk, mabuk berat hingga lupa segalanya, hampir kutampar juga begitu banyak tingkah laku lain yang tidak masuk akal.

Tapi ia bertahan. Ditengah begitu banyak ketidaksukaan orang-orang terhadapku. Teman-temannya, keluarganya, juga lingkungan di mana ia berada. Pilihan yang tidak masuk akal bagi mereka.

Hingga kemudian ia pergi tanpa bilang apapun. Menghilang.

Membiarkan aku dengan kebingungan tentang apa yang terjadi. Menyerang semua orang dengan tanya kemana ia pergi. Tapi tak ada kejelasan.

Dan aku belajar untuk merelakan hal itu. Melupakan tentang dia, bertemu gadis lain dan melanjutkan hidup. Semuanya berlangsung selama tujuh tahun setengah hingga hari ini. Karena perjumpaan di ruang tunggu di pelabuhan.

Semuanya seperti kebetulan. Perjumpaan yang kebetulan di mana ia juga memiliki tiket yang sama denganku. Memiliki tujuan yang sama. Dan itu berarti bahwa aku memiliki hampir dua belas jam untuk meluapkan semua tanya dan ingatan yang membeku. Laut di mana kapal kami mengapung telah membuka pintu agar kenanganku keluar satu persatu.

Misael, Cecep dan aku segera menaiki kapal. Mencari nomor ranjang seperti yang tertera dalam tiket dan meletakkan barang bawaan kami. Konsentrasiku pecah. Wajahnya terus muncul secara acak di otakku. Beberapa pembicaraan dengan Misael dan Cecep tak mampu ku simak dengan baik. Aku tak sabar menunggu keberangkatan kapal ini. Karena dengan begitu, aku dapat segera mengeluarkan pertanyaan yang sekian lama ku pendam.

* * *

Kapal bernama Terra Sancta adalah tumpangan yang akan membawaku kembali ke Tahuna. Tempat sederhana yang terakhir kali kudatangi dua tahun lalu. Penuh kenangan akan kisah pelarian seorang pecundang yang gemar menertawakan hidup.

Di atas kapal yang mulai berjalan, ada rasa gusar yang menghampiri. Aku butuh untuk bertemu dan bertukar banyak kalimat dengannya. Maka kuputuskan untuk mengirimkan pesan ke ponselnya. Sekarang. Sebelum signal ponsel itu menghilang karena kapal semakin menjauh dari daratan.

Pesan itu berbalas. Sederhana. Hanya nomor ranjang dan penjelasan singkat bagaimana menemukan dia. Sebuah perjalanan memunguti kisah-kisah lama.

Aku berbohong pada Misael dan Cecep. Mengatakan bahwa aku ingin melihat ombak, ditampar angin, menyaksikan malam di haluan kapal. Tapi tidak. Aku tak ke sana. Langkah sepasang kaki milikku begitu yakin mencari sebuah nomor dan sebentuk tubuh.

Tubuh yang pernah singgah dalam pelukanku. Dulu.

Aku menemukan dia. Sedang berbaring dan menyambut kedatanganku dengan segumpal senyum hangat hingga membuatku sadar bahwa jendela yang tepat berada di depan ranjang miliknya membuatku dingin.

Sebatang rokok mulai ku nyalakan. Cerita segera harus di mulai.

Berdua. Berbalas kisah mengenai apa yang terjadi setelah perpisahan itu. Mengenai orang-orang yang akhirnya singgah di kesunyian hati. Babad mengenai perjalanan dua orang manusia yang tanpa sepatah kata, memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengan yang lain.

Aku akan menceritakan tentang dia dan perjumpaan itu di bagian yang lain. Ini bukan tempat yang bagus menurutku.

Malam ini kuhabiskan dengan dia. Bercerita dan saling mendengar kisah. Kami sadar benar. Ada banyak yang terjadi semenjak perpisahan itu.

Aku kembali ke ranjang saat waktu menunjukkan jam dua belas malam. Mengambil makanan untuk makan malam yang terlewatkan.

Cecep dan Misael tak mengerti dari mana aku selama beberapa jam terakhir. Namun aku membiarkan kebingungan itu. Biarkan ia menguap perlahan.

Setelah makan malam yang sudah sangat terlambat itu, aku pergi ke haluan kapal. Dengan Cecep. Menyalakan rokok, saling bertukar cerita tentang apa yang kami tinggallkan dan melihat gelap malam. Hingga kemudian aku memutuskan untuk pergi tidur. Membiarkan Cecep sendiri di salah satu sudut di haluan kapal. Meninggalkan ia sendiri dicambuk angin.