Nusa Utara #00 : Pertemuan

catatan kecil dari perjalanan yang belum ditempuh

Sudah seminggu. Sejak pertemuan itu. Ia adalah seorang mahasiswa dari Australian National University (ANU) yang akan kutemani untuk melakukan riset terkait disertasi doktoralnya di daerah Sangihe dan Talaud. Namanya Misael Rasines. Berasal dari Filipina namun berhasil memukau sejak percakapan awal dengan penguasaan bahasa Indonesia yang baik.

Seminggu sebelumnya, aku mendapatkan telpon dari Alex Ulaen. Antropolog sekaligus pendiri Marin CRC (Maritime, Indigenous People’s and Culture Research Centre), lembaga non profit yang memberikan kepercayaan padaku untuk menjadi asisten peneliti bagi Rasines. Telponnya singkat. Sekedar memberitahu bahwa Rasines berencana untuk datang ke FISIP Unsrat. Ada beberapa hal yang penting yang mesti diurus di situ. Ini saat yang tepat untuk bertemu sekaligus melihat apakah aku bisa membantu Rasines.

Aku memang dahulu sempat kuliah di Universitas Sam Ratulangi, atau biasa dipendekkan dengan Unsrat. Awalnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, lalu pindah ke Fakultas Sastra, sebelum menamatkan studi awal aku memulai studi. Di FISIP, aku juga dua kali pindah jurusan. Satu semester kuliah dengan kebosanan tingkat tinggi di program studi Politik. Lalu pindah selama setahun untuk belajar Sosiologi. Pindah belajar Sastra Indonesia, lalu akhirnya melepas jangkar untuk belajar Antropologi. Aku terlalu mudah bosan dengan sistem perkuliahan yang monoton serta seringnya bemasalah dengan beberapa pengajar.

Aku bangun pagi tak seperti biasanya. Kemalasan yang memang kugemari coba kutepikan untuk sementara. Aku juga mengenakan jeans yang lumayan bagus. Hanya sobek kecil di lutut kanan. Dipadu dengan sweater lengan panjang berwarna abu-abu. Cukup mengejutkan memang, mengingat dandanan dalam keseharianku adalah jeans sobek dengan kaos oblong yang semakin kumal karena sudah berumur tua.

Sedikit terburu-buru, aku meninggalkan rumah kontrakan yang sudah kutinggali selama setengah tahun terakhir. Terletak di batas kota Manado dengan kesunyian yang menenangkan membuat jarak menjadi sesuatu yang mesti dikompromikan. Aku berharap tidak datang terlambat karena aku juga paham dengan benar bahwa menunggu sangatlah membosankan.

Tapi Rasines belum ada. Menurut telpon dari Ulaen, ia masih berjalan kaki menuju kampus. Telpon kedua ini sangat jelas maksudnya. Ulaen ingin memastikan bahwa aku sudah berada di kampus tepat waktu. Ia kenal watakku yang sangat menyukai kelambanan.

Aku menutup telpon dengan mengucapkan janji bahwa ia akan segera kutelpon ketika Rasines sudah berjumpa denganku. Detil ciri-ciri Rasines terus kuulang di otakku. Jangan sampai salah orang. Tentu kisah itu tak menarik.

Akhirnya tak sampai setengah jam kemudian kami bertemu. Saling berjabat tangan dan menukar nama. Aku menggenggam dengan keyakinan tangannya untuk sekedar menitipkan simbol bahwa di petualangan hari depan, kami akan menempuh jarak dan menyeberangi lautan. Kami harus berteman karena itu adalah solusi agar seluruh kerja riset nanti bisa lebih mudah. Karena memang aku tak ingin mencari seorang bos. Aku mencari seorang sahabat.

Sekarang, jariku tengah menekan deretan tombol angka di ponselku. Aku ingin mengabarkan kepada Ulaen tentang pertemuan ini. Seperti janjiku tadi.

Andre Barahamin