Surat Untuk Kawan Sepermainan

Ditulis ketika aku kehilangan kawan dan tanah lapang untuk bermain kelereng

Aku ingin mengajakmu berlari sepuasnya. Mungkin dengan trik sederhana, tubuhmu yang menghilang dari pandanganku karena disembunyikan alang-alang. Dan aku menemukanmu karena rambutmu yang menari bersama angin. Kemudian aku akan menuju kesana lalu menabrakmu dengan pelukan sembari tertawa melupakan waktu.

Tempat di mana kita berkumpul sore hari, selepas kegiatan rutin terasa begitu membosankan. Kita bertemu di taman ini untuk sekedar berkupul dengan teman-teman dan melakukan aktivitas yang kita suka. Berlari mengejar bola, berbincang, melihat bocah-bocah berlari kegirangan, atau menikmati jajanan sekitar.

Ah, betapa beruntungnya kita masih disisakan sedikit ruang itu. Tapi minggu depan? Bulan depan? Tahun depan?

Atas nama pembangunan maka sekejap kita semua akan terusir dari sini. Atas nama pembangunan pula, setiap harinya harus ada yang menangis karena terpaksa terusir dari rumahnya, kampungnya, dan semua kenyamanan akan berakhir pada kenangan. Semua akan jadi mimpi-mimpi mahal jikalau kau dan aku menggenggam sejumlah uang untuk membelinya. Untuk membeli makanan dalam mall, untuk membayar tiket parkir, membayar segala yang tadinya bisa kita raih dengan gratis, mudah dan murah. Untuk ini semua, kita diharuskan bekerja bak mesin tanpa lelah, menabung dengan sabar sehingga dengan rasa kalah menyerahkan uang tersebut untuk membeli sesuatu yang dicuri dari kita.

Kini saat bercermin di antara bangunan-bangunan beton, terlihat sudah betapa hidup kita sungguh menyedihkan. Bahkan sekedar berbagipun adalah hal yang perlu diperhitungkan. Semuanya terasa amat menyesakan.

Tak ada lagi lapangan luas dimana semua kawan dapat bermain bola bersama orang yang baru dikenalnya. Dan setelah semua berkeringat, bau tubuh akan mengepul ke angkasa mengabarkan tawa-tawa pembangkangan.

Tak ada ruang untuk kau, aku serta semua. Sekedar berteriak dengan sumbang semua keluh dan rasa marah karena mimpi direbut dan hasrat yang menjadi beku.

Bukankah ini hanya sederhana ?

Bahwa kita membutuhkan taman dan tanah lapang. Karena taman, rumah, sekolah, kampus, dan tempat kerja begitu membosankan. Kita membutuhkan permainan dan sahabat, Karena TV, majalah, kosmetik dan internet tidak bisa membuat kita benar-benar hidup.

Andre Barahamin