Aku Memiliki Karunia

Aku memiliki karunia. Dan aku menyadarinya dengan baik. Bahwa sepotong hatiku dapat menjadi rumah singgah dan pelarian dari berbagai hati lain yang enggan akui bahwa mereka sedang sekarat dan terjatuh karena peperangan yang sebenarnya bukan untuk dimenangkan. Tempat di mana banyak kisah akan meninggalkan jejak dan membawa pergi bersama mereka sekeping hatiku. Beberapa dari mereka memang aku yang memberikannya, sementara beberapa yang lain dengan paksa mengambilnya. Irisan yang menganga akan selalu ditambal dengan kepingan hati dari mereka. Jika saja matamu bisa jeli melihat, maka hatiku tampak lebam dan merah menghitam. Sesak karena kisah dan luka di saat yang bersamaan.

Aku memiliki karunia. Dan aku bangga karenanya. Jumawa karena aku adalah terminal di mana setiap yang lelah dapat berteduh dari derasnya hujan air mata dan kemudian berbagi cerita sebelum akhirnya pergi dan menghilang di ujung jalan untuk kembali ke peraduan yang mereka punya. Aku menganggap diriku adalah malaikat yang bertugas untuk mengantar setiap hati yang sedang terluka menemukan rumah senja mereka. Melihat diriku sendiri sebagai martir atas konsekuensi pilihan hidup yang telah ku ambil di masa lalu. Sepi dan sesekali disinggahi.

Aku memiliki karunia. Dan aku menyediakan kopi yang cukup karenanya agar setiap lelah yang datang akan terus terjaga sementara aku mencabuti semua jarum yang menusuk punggung hati mereka. Perapian yang terus menyala secara sengaja agar kedinginan yang ada di luar dapat terusir secara perlahan. Lalu aku akan mengajari mereka cara menyalakan api di dalam hati dan terus mengipasinya agar tak padam. Dan saat mereka telah mengerti cara mengipasi api mereka sendiri, itu berarti sudah saatnya mereka pergi dan melanjutkan babad hidup. Aku hanya sebuah nama yang kadang teringat dan sering dilupakan.

Aku memiliki karunia. Dan karenanya aku menemukan Tuhan nyata di dalam diriku. Tanpa melalui ibadah, doa dan semedi. Aku tak perlu membungkuk atau menutup mata untuk menemukannya. Hanya cukup melihat setiap air mata yang meleleh dan menyekanya hingga kering. Tak perlu ramuan atau ektase berlebih karena aku terlampau mengerti tentang nazar yang diingkari sinonim dengan kutukan. Aku memuja Tuhan dengan melilitkan perban pada setiap sayap yang patah, mengoleskan obat dan membacakan dongeng sebelum mereka tidur. Semuanya agar mereka cepat sembuh lalu terbang kembali ke angkasa, bertualang mencari kembali sarang dan berhenti untuk selamanya. Tak perlu kembali kepadaku untuk mengucapkan terima kasih, karena memang begitulah persimpangan.

Aku memiliki karunia. Dan aku tak menyesali apapun di dalamnya. Tak mengeluh meski gigiku telah ngilu menahan sakit setiap kali seseorang mengiris dengan sengaja hatiku dan membawanya pergi bersama mereka. Aku menutup mataku tiap kali itu terjadi hingga tak perlu aku menatap wajah perpisahan. Aku menyanyikan lagu untuk malam demi menghindari perih yang sesekali singgah karena luka yang belum sembuh. Terlalu cepat aku bangkit dari lubang di mana aku jatuh dan mengalami memar. Seluruh tulang yang ada di tubuhku telah terlatih dengan baik untuk menahan setiap benturan, setiap kali semakin keras. Ragaku telah ditempa dengan cambukan yang keras dan bertambah keras agar definisi rasa sakit terus berkembang dan tidak diam di satu titik. Kehidupan yang dinamis membawaku pada petualangan sakit yang juga dinamis. Aku bukan mesin meski aku juga bukan manusia sekedarnya.

Aku memiliki karunia. Dan aku meletakkannya di beranda hidup agar setiap orang bisa melihatnya, menyentuhnya, mengambil seperlu mereka dan akan selalu gratis. Tak perlu mereka meninggalkan bayaran karena cinta bagiku seperti angin yang tidak bisa dipeluk, bahkan oleh tangan yang paling suci sekalipun. Ia adalah energi yang kekal sesuai hukumnya, datang dan berubah wujud sesuai ruang dan waktu. Akan selalu hadir meski pintu dan semua lampu sudah dipadamkan. Akan tetap ia berada di depan dan mengetuk hingga ada celah terbuka, tak akan pernah menyerah.

Aku memiliki karunia. Dan aku tak akan menyiakannya. Karena dengan melindungi setiap ciptaan Tuhan, itu juga berarti aku telah memujanya dengan segenap hatiku. Bagiku kemunafikan dalam ibadah biarlah menjadi milik mereka yang mengejar kesucian, sedang aku akan belajar menggenggam api di kedua telapak tanganku agar setiap beku yang kusentuh dapat merasakan bahwa ada hangat yang tersedia. Mengusir setiap resah dengan kehangatan pelukan dan cerita biar mereka yang lelah dapat sejenak rehat sembari mengumpul tenaga untuk berlari di etape berikut. Aku adalah pelacur dengan restu penuh dari Tuhan.

Aku memiliki karunia. Dan aku tahu kesunyian akan menjadi pengunjung setia. Karib yang datang setiap kali luka dan duka telah memporakporandakan isi rumah singgah di hatiku. Ia akan membantu mengatur kembali setiap meja dan tempat duduk dan membantu menyapu pecahan beling di lantai agar tak terinjak. Kemudian kami akan menyeduh dua gelas kopi dan meneguknya sambil berhadapan dalam diam dan menyanyikan lelap dengan mata yang tertutup.

Aku memiliki karunia. Dan aku ingat hal ini lebih dari namaku sendiri. Hingga terkadang masingmasing kisah yang terdampar di beranda hati akan memberikanku nama sesuai keinginan mereka. Aku juga tak pernah membantah. Mereka juga akan menetapkan perayaan dan melibatkanku sepenuhnya meski terkadang kebingungan menjadi satusatunya parameter kesadaranku.

Aku memiliki karunia. Dan aku menganggap bahwa itu adalah anugerah yang mesti kubanggakan. Bahkan kalau perlu ku sombongkan. Bagiku, karunia itu adalah jalan yang membawaku hingga berada di persimpangan ini, di sisi jalan di mana aku bertemu denganmu. Berjumpa dengan sosok yang mengajarkan aku untuk lebih menghargai kehidupan yang sangat membosankan ini. Hidup di mana semua hal telah dilabeli dengan harga dan diperjual belikan hingga semua sudut ruang menjadi pasar transaksi. Dan kau membawa warna yang berbeda di tengah gelap yang terus menerus menjadi kelambu dalam tidurku selama ini.

Aku memiliki karunia. Dan itu mengantarkan tubuhku terdampar di sini. Di sebuah perahu tambatan untuk setiap orang yang menanti. Anehnya, aku tak tersakiti. Itu karunia baru yang baru kusadari bahwa juga kumiliki. Dan itu karenamu.