Kebosanan Mou

Pagi ini bagi sebagian orang adalah pagi yang sama seperti kemarin. Ada matahari yang merekah, ada angin yang bertiup, ada awan yang berarak di giring tujuan, ada embun yang mencair di ujung ilalang karena mencium hangat suasana, ada serangga-serangga yang kembali sibuk dengan kegiatannya, dan tak lupa manusia-manusia yang kembali tenggelam dalam pekatnya aktifitas memburu rupiah demi bertahan hidup. Semua sibuk mengejar detik-detik yang dianggap hilang. Tak ada yang boleh gagap menyambut hari kalau tak ingin berakhir miris. Kini kejamnya hidup membuat semua harus memerah dirinya melebihi batas.

Mou juga sudah terjaga. Bahkan jauh sebelum matahari datang menunaikan tugasnya, Mou sudah bangun dan membasahi wajahnya dengan air wudhu kemudian pergi menunaikan rutinitasnya bersenggama dengan Tuhan. Sesudah itu, ia menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula agar ia tak dicintai sepi menghabiskan waktu menunggu anak dan istrinya pulang dari mimpi. Mou tak tega membangunkan istrinya hanya untuk sekedar meracik segelas kopi untuknya. Itu terlalu naïf dan egois. Ia biarkan perempuan yang telah menemaninya selama sepuluh tahun masa kemarin hidupnya, menyelesaikan petualangan penuh senyum dalam lelap.

Justru ada iri yang sempat berlari menampar dirinya setelah ia menyibak tirai pintu kamar mereka yang dua tahun lalu masih berpintu. Ketenangan wajah istrinya membangkitkan lesu hati seorang lelaki yang semalam tak mampu memejamkan mata karena diusik oleh pelbagai hal. Dan ini sudah berlangsung hampir genap seminggu. Mengatupkan mata seperti jadi sesuatu yang asing bagi Mou. Bukannya ia ingin menikmati malam layaknya cerita-cerita dalam puisi konyol tentang orang-orang yang sanggup menikmati malam.

Mou tak sanggup jadi resi yang menciumi setiap malam dan duduk berdialog dengannya. Kelelahan yang bersemedi di setiap otot dan urat syarafnya sepulang dari ladang telah membuat ia jadi manusia kebanyakan. Sesegera mungkin rehat adalah jalan terbaik sebelum kehilangan esok. Tenaganya harus segera terisi penuh agar ia bisa terus menganyam tali asa sejengkal demi sejengkal menyiasati dunia yang semakin keras mencambuki punggungnya. Memang tak ada suara yang terdengar karena perih itu seperti tenggelam oleh keinginan klasik yang bermetamorfosis menjadi keharusan untuk membahagiakan anak dan istrinya.

Tangan Mou yang berbungkus kulit hitam legam adalah saksi bisu bagaimana pertempurannya mengalahkan terik dan keringat yang terus menerus mengejeknya dengan sebuah mimpi tergantung tepat di depan batang hidungnya. Tangan itu kini dengan sedikit malas mengandeng gelas kopi yang sedari tadi menatap Mou yang memandang kosong ke jalan tanah di depan rumahnya. Belum ada manusia-manusia yang lalu lalang dengan tergesa-gesa memanggul cangkul dan parang menuju sebuah bukit di belakang desa mereka yang sudah seminggu ini gelap gulita. Maklum, angin keras seminggu terakhir ini membuat roboh tiang-tiang penyangga kabel listrik yang terpancang setengah hati di atas tanah di kebun-kebun hampir sebagian besar petani di desa ini. Kepala desa sudah menghubungi petugas PLN agar segera memperbaiki kerusakan itu. Tapi seperti biasanya, belum ada jawaban. Dan petugas yang ditunggu juga tak kunjung tiba. Ini keadaan yang sudah dimaklumi semua orang di desa ini. Orang-orang kota enggan mengunjungi desa mereka karena jarak tempuh yang melelahkan.

Desa ini biasanya akan ramai didatangi jika musim pemilu semakin dekat.

Mou masih ingat dengan jelas betapa tiba-tiba ada seorang pria dengan peci dan setelan mahal menjabat erat tangannya seakan mereka adalah saudara sepenyusuan yang terpisah lama. Ia tak kenal nama orang itu karena baru sekali itu Mou melihatnya langsung ketika pidato di lapangan desa yang biasanya becek kalah hujan turun deras. Wajah pria itu beserta wajah-wajah lain yang juga sempat singgah di desanya terasa akrab karena banyaknya foto-foto mereka yang terpajang dengan ukuran besar di berbagai sudut kampung. Belum lagi stiker yang mereka bagi-bagikan agar petani-petani di desa ini mau menempelkannya di depan pintu rumah atau di mana saja. Mou tak tahu apa saja yang tertulis di situ karena ia tak bisa membaca. Kemiskinan yang jadi karib keluarganya membuat ia tak sempat merasakan bagaimana enaknya memakai seragam dan menenteng tas pergi ke sekolah terdekat yang ada di desa seberang. Lebih dari sepuluh kilometer jauhnya. Itu bukan jarak yang jauh bagi orang-orang di kampung ini karena otot-otot kaki mereka telah terlatih untuk mengalahkan jarak demi menjemput mimpi.

Itu mengapa Mou tak ingin anak semata wayangnya bernasib sama. Meski ia sadar, ongkos sekolah jauh lebih mahal dibanding dengan biaya makan mereka sekeluarga. Mou menjahit mimpi bahwa dengan sekolah, anaknya akan bernasib jauh lebih baik darinya. Ia pernah melihat iklan tentang murahnya sekolah dan masa depan yang terang benderang di ujung jalan itu ketika menonton di rumah Pak Haji. Orang paling kaya di kampung ini yang juga menjadi tempat bagi semua petani di sini untuk menjual hasil kebun mereka. Pak Haji juga jadi tempat bagi Mou dan kawan-kawan senasib untuk menyambung hidup dengan berhutang barang-barang kebutuhan jika lembar-lembar rupiah tak ada lagi dalam genggaman.

Mou mencoba menepis semua bayang hitam tentang betapa kemarin setelah pemilu, ia dan semua orang di kampung ini kembali terlelap dalam rutinitas biasa seakan janji-janji manis yang digembar-gemborkan oleh banyaknya calon yang datang dan kemudian dipersilahkan pidato di lapangan hanyalah impian kosong yang tak mesti lagi di kejar. Beras, gula, dan harga komoditi kopra yang sudah hampir sepuluh tahun terakhir terus terjerembab seperti tanpa akhir sudah cukup menjadi bahan gundah dan perbincangan yang tiada pernah sunyi dari keluh kesah semua mulut yang dikenal Mou dengan baik.

Ucapan kepala desa bahwa ada janji dari presiden bahwa harga kopra akan membaik kini sayup terdengar di telinga petani kecil seperti Mou yang semakin dewasa untuk kebal dan tak pernah menggantungkan asa pada janji. Semua tahu bahwa itu cuma khayalan murahan yang memang sering ditawarkan untuk membungkam teriakan-teriakan dari pelosok-pelosok desa karena perihnya lambung menahan lapar dan mata yang sembab karena menahan air mata. Kepala desa juga menyadari itu, namun selayaknya pemimpin yang lain ia harus tetap menjaga agar semangat semua petani di kampung ini tak padam.

Kopi di gelas sudah hampir kelihatan dasarnya dan matahari sudah mulai perlahan menapak naik untuk menjumpai manusia, termasuk menjumpai dan mengingatkan Mou bahwa ini sudah saatnya untuk segera memanggul pacul. Langkah kaki harus segera diayunkan meski kadang beban letih yang menggelayut kemarin masih terasa di setiap sendi dan syaraf di sepasang kaki tanpa alas yang telah mengenali setiap tapak jalan tanah di kampung ini. Tak boleh ada tawar menawar karena perut yang lapar tak pernah luput mengunjungi rumah. Mou tak ingin lagi terlalu keras di hajar kalap karena dapur yang melompong kosong tak berisi akibat habisnya persediaan. Setiap detik adalah pertempuran yang harus dijalani. Tak soal siapa yang menang. Mou sadar sepenuhnya bahwa menjadi petani adalah menjadi ksatria yang tak boleh patah arah meski berkali-kali lebam terpuruk.

Dan kini gelas yang menyisakan ampas kopi telah kembali dalam genggam tangan Mou.

Dengan tarikan nafas yang menguntai doa harapan pada Tuhan agar hari ini lebih baik dari kemarin. Tuhanpun pasti telah mengenali desah itu. Resah yang tertelan dan sembunyi di balik otot dan tulang yang sering pura-pura tak mengenal nyeri. Sepasang kaki tanpa alas menuntun tubuh Mou ke arah dapur yang hanya dibangun dari papan kusam yang setiap hari bertambah tua. Di tiap papan itu ada arca yang menuliskan kisah-kisah tangis yang tertahan di dada karena getirnya keadaan. Hanya Mou yang mengenali dan mampu membaca pahatan-pahatan itu. Alurnya adalah runut kehidupan minor yang dulu sempat di tantang bertarung agar kalah dan takluk. Tapi sebaliknya, Mou yang kalah dan takluk selama ini. Percaya bahwa kemiskinan ini adalah takdir yang Esa dan tak boleh ada sungut sebagai protes. Terlanjur yakin tak ada jalan keluar selain membunuh mimpi dan asa agar tak mengunjungi rumahnya.

Mata Mou menabrak parang yang tergantung di tatakan bambu di samping tungku tanah liat yang tiap retakannya menyanyikan teriakan yang seharusnya sedari lama keluar dari mulut Mou yang bungkam. Ini adalah karib yang telah menemaninya mengurai kerasnya hidup yang kusut. Tak ada rahasia antara mereka. Parang itu yang tahu berapa banyak keringat yang menetes di kebun kelapa Mou. Parang itu juga yang tahu bahwa di tiap buah kelapa yang dipanen jatuh ke bumi, Mou menuliskan surat kepada penguasa. Surat yang bukan terdiri dari huruf-huruf, namun dari kerontang perut yang kini lelah menunggu janji. Surat yang tak pernah di baca oleh penguasa yang terlalu dungu untuk mengerti. Kedunguan akut yang telah dimengerti oleh setiap petani di kampung ini bahwa itu penyakit yang tak bisa lagi disembuhkan. Lagipula itu telah mewabah dari presiden, berjangkit ke menteri-menteri, menular kepada para gubernur dan bupati hingga mereka tak mendengar bahwa tali tambat kesabaran para petani di kampung ini telah putus.

Itu sebabnya, Mou tak memanggul parang itu untuk ke kebun. Mou punya tujuan lain hari ini. Tujuan yang sudah disepakati jadi satu-satunya tempat di mana kaki para petani di kampung ini akan pergi. Bukan lagi ladang yang pasti telah bosan memandangi garis-garis letih yang tergambar di setiap wajah para petani seperti Mou. Hari ini adalah pertempuran lama yang pernah diingkari oleh Mou dan kawan-kawan senasibnya. Melunasi hutang akan di lakukan saat ini juga. Tidak bisa untuk lari lagi. Tak ada lagi cukup kekuatan yang dipunya. Karenanya saatnya menentukan sikap.

Bunyi truk samar-samar terdengar dari arah kejauhan. Mou paham bahwa ini tanda bahwa saat itu telah tiba. Ia dan semua petani di kampung ini akan berarak menuju tempat di mana mereka akan menagih janji untuk pertama kali dan tak akan berhenti sebelum itu ditepati. Dengan segera ia ke kamar dan menitipkan kecupan di kening anak dan istrinya. Di situ Mou menitipkan janji bahwa ia tak akan pulang sebelum kepunyaannya dikembalikan. Lalu dengan setengah berlari, Mou keluar dari rumah dan langsung naik ke atas truk tua yang mereka pinjam dari Pak Haji. Ia bergabung dengan kawan dan saudara sepenanggungan yang telah lebih dahulu berada di truk itu.

Destinasi mereka cuma satu. Menduduki kantor bupati.