Sub Urbanisasi: Kekalahan Kaum Urban

Krisis yang tak terelakkan biasanya berasal dari tempat di mana secara resmi tak ada apapun yang sebenarnya sedang terjadi. Televisi dan pusat kota, sebenarnya didesain bagi mereka yang tinggal di daerah pinggiran kota. Keduanya didesain untuk menjadi satu satunya hal yang kita semua perhatikan, satu satunya hal yang kita anggap eksis.

Kota kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Manado, dll) semua akan berakhir dengan daerah pemukiman di pinggiran kota. Lokasi tersebut adalah tempat yang tidak mengakar, tempat yang memiliki peta ruang di mana nyaris semua orang akan tinggal dan tak diijinkan untuk melakukan apapun. Indonesia adalah lokasi koloni favorit yang menjadi sangat penting bagi para kolonial dari negara negara Dunia Pertama. Korporat korporat ambisius dari Amerika Utara, Eropa Barat dan Asia Utara telah menginjakkan kakinya di negeri di mana polisi korup mendapatkan kebebasan lebih dibanding tempat manapun di dunia ini.

Untuk dapat tetap seperti ini, Indonesia harus di rekolonialisasi secara konstan. Kota kota besar di Indonesia harus dibangun ulang secara berkesinambungan dengan tujuan untuk menciptakan sebuah kekakuan yang sempurna, membuat publik menjadi penurut tingkat tinggi. Seluruh sudut kota harus di cat kelabu, panas, didekorasi dengan pot bunga, pembabatan pohon pohon rindang, trotoar yang kaku dan gedung gedung apartemen serta mall mall yang di cat dengan warna terang, dibangun kokoh menjulang dan ditutup dengan kaca berkilau.

Mall mall yang berbentuk kaku, perumahan yang saling terasing, taman taman yang disemen dan berpagar tinggi, semua sengaja didesain agar tak perlu dipertanyakan lagi. Semua diorganisir dengan prinsip bahwa publik akan menerima degradasi yang separah apapun juga jika mereka melihat, dan tinggal dengannya setiap hari secara rutin.

Daerah pinggiran adalah daerah kolonisasi Indonesia. Di sinilah di mana penyingkiran kita diberi bentuk fisikal. Segala sesuatu dimagnetisasi oleh sistem ekonomi. Orang orang harus selalu diganti posisinya, dianggap tak penting dan disingkirkan, dipecat dari pekerjaannya atau juga rumah tempat ia tumbuh. Sekali saja engkau menerima hidup di mana segala sesuatunya telah direncanakan bagimu, tidak mengherankan apabila lantas engkau menemukan bahwa dirimu tidak berguna dan patut diganti. Engkau juga dapat dipindah pindahkan dari satu orang ke orang yang lainnya, dengan mudah.

Orang orang dengan sengaja dipindahkan dari tempat dimana mereka dibesarkan. Jalan layang, pembangunan perumahan, pelebaran jalan dan imaji imaji yang saling bertabrakan dan berlomba menjadi paling mencolok, sebenarnya justru memapankan sebuah ideologi kasat mata. Toko ditutup, mall dibuka. Jalan diperbesar, rute diganti. Taman publik ditutup, apartemen dibangun. Orang orang terus dibiarkan dan dibentuk agar merasa tak mampu untuk membentuk hidup yang mereka inginkan sendiri.

Ini adalah kolam jebakan. Gulag di Rusia, diciptakan dengan tidak memberikan ijin bagi siapapun untuk keluar kota atau bahkan juga negara. Gulag di Indonesia diciptakan dengan menyatakan bahwa siapapun yang tidak setuju dengan kebijakan yang disusun, agar pergi ke tempat lain: sebuah gerakan perpindahan yang konstan. Setuju dan jalankan atau pergi tinggalkan. Heineken atau Bir Bintang, Susilo Bambang Yudhoyono atau Aburizal Bakrie. Inilah wajah demokrasi. Jika tidak suka, pergi tinggalkan. Maka tak heran, saat logika publik dibangun dengan konsep demikian, maka akan dihasilkan komentar komentar sinis publik terhadap mereka yang tak mau tunduk pada aturan seperti berikut: anti Kapitalis? Pergi ke hutan sana!

Para non konformis, para ambisius dan mereka yang pembosan seringkali hidup berpindah. Tetapi kemanapun mereka pergi, mereka hanya akan menemui tempat yang didesain sama. Kolam jebakan yang sama namun hanya berbeda dalam sudut. Seluruh lanskap Indonesia adalah mesin raksasa yang ditujukan untuk menihilkan relasi antar manusia selain relasi dagang: penjual dan pembeli.

Kota sebagai pusat, memang tak lagi memegang peranan penting dan tak lama lagi hal demikian tak akan lagi eksis. Masyarakat yang santai, tenang dan ruang ruang publik akan segera disapu seluruhnya. Kita bisa melihat Taman Kebangkitan Bangsa (TKB) di Manado yang kemudian dahulu menjadi tempat aktifitas publik untuk sekedar duduk duduk santai, tempat berlangsungnya iven iven publik yang terbuka, kini menjadi ruang berijin yang membutuhkan mata rantai birokrasi super rumit. Toko buku menjadi sekedar fashion statement di mana tak lagi ada kemungkinan bagi orang orang biasa untuk dapat memiliki waktu yang dapat digunakan untuk benar benar dapat membaca sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.

Beberapa kota tradisional yang memiliki alun alun sebagai pusat kota, sebuah ruang di mana publik dapat berkumpul, berinteraksi dan memanfaatkan ruang tersebut untuk mengapresiasikan dirinya dengan bebas. Tetapi seperti Manado misalnya, sebuah kota yang oleh para birokrat tata kota akan difungsikan sebagai pusat perbelanjaan sebenarnya telah menjadi sebuah kota yang tak lagi memiliki pusat kota dalam pengertian urbanisme tradisional: ia tidak lagi memiliki pusat.

Pengembangan perumahan adalah usaha terakhir dari kapitalisme lanjut dalam usahanya untuk membekukan sejarah. Kekalahan seluruh pemberontak di masa lalu, harus diinkorporasikan ke dalam sebuah kekalahan yang terjadi saat ini. Serikat buruh, demokrasi langsung dan partai partai komunis jelas merupakan virus pemberontakan yang telah dimatikan. Mereka kemudian diinjeksikan ke dalam tubuh kaum muda di sini agar mencegah mereka memberontak secara nyata. Dan oleh karenanya, kini kita hanya tinggal memiliki kerusuhan sebagai satu satunya senjata andalan yang tersisa.

Kekalahan total yang kita derita, ditransformasikan ke dalam kultur anak muda yang sama sekali impoten di hadapan kekuasaan dominan para korporat.

Daerah pinggiran adalah zona di mana kegagalan telah direncanakan dengan baik. Kekalahan di masa lalu disimulasikan di sini. Para intelektual kita saat ini begitu gembira untuk mendiskusikan betapa pasar bebas adalah satu satunya sistem yang dianggap mungkin saat mereka telah hidup dengan penuh kekalahan.

Para revolusioner tidak dapat lagi merasa tertarik dengan ide ide ataupun tren baru bagi diri mereka sendiri. Hanya ada satu perubahan kualitatif di tengah kultur yang eksis dewasa ini, kalau bisa disebut demikian. Perubahan adalah segala sesuatu yang dapat berekspansi secara kualitatif. Memang hal demikian bukanlah hal yang baru, dan dengan demikian hidup kita semakin bertransformasi menjadi kisah kisah lama yang membosankan dan semakin memuakkan.

Kultur anak muda seperti punk misalnya, memang memiliki sedikit nilai lebih karena memiliki tendensi nihilistik dalam melihat kultur secara general. Tapi kurangnya pembaruan pembaruan saat ini berarti juga para anggota kulturnya tak perlu lagi mencari nilai orisinal dari kultur tersebut. Mereka tinggal mencari arah yang tepat yang dapat memberikan banyak profit dengan memanfaatkan imaji punk itu sendiri. Mereka yang tumbuh dewasa ini dan mengidentifikasi diri mereka sebagai punk, telah merengkuh sesuatu yang kemarin disebut sebagai kontra revolusioner.

Tapi sesungguhnya juga, pemberontakan tidak pernah mati. Ia hanya perlu menemukan suaranya dirinya sendiri. Dan ia masih berbahaya sebagaimana hari hari kemarin.

Sekali saja ide ide tentang dunia baru hadir, sekali saja ide ide tentang pusat telah menguap, kekuatan nyata di daerah pinggiran, sebuah resistensi terhadap keseluruhan lingkungan, dapat dijelaskan dengan bebas.

Spectacle akan selalu memanfaatkan setiap penentangan terhadapnya dengan merengkuh hal tersebut ke dalam pelukannya, tetapi aku tidak akan dapat memaafkan diri sendiri karena telah menjadi bagian dari spectacle itu sendiri. Aku masih merasa kalah karena tak mampu untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih baik. Ini adalah karena aku masih berpikir bahwa hidup yang lebih baik akan membawa sesuatu yang lebih baik. Tapi kini adalah saatnya menghadapi kenyataan bahwa seluruh dunia sedang mengalami peminggiran: suburbanisasi. Semenjak kita semua tak lagi memiliki akar, maka akar kita dapat berada di mana saja, di mana saja yang dapat menjadi tempat pertama yang eksis saat kita mengakhiri masa tidur kita yang panjang.

Tak ada tempat untuk mulai berarti juga bahwa segala tempat adalah tempat untuk mulai. Kita semua dapat memulai sebuah era baru dengan eksperimentasi yang tak terbatas. Eksperimentasi dengan satu satunya objek yang paling berarti bagi diri kita yaitu: diri kita sendiri. Kita masing masing dapat memulai petualangan dengan mengesampingkan ancaman ancaman yang membentuk tatanan masyarakat hari ini yang penuh jaminan, dari jaminan kerja hingga keyakinannya akan kehidupan mapan, terdidik dengan baik dan tampil mempesona. Di situlah petualangan masing masing individu akan bermula.