Exposure

Dear Andre

Sekarang jam 4:40 subuh. Aku belum juga tidur. Sudah dari jam 3 aku mencoba terlelap tapi pikiranku di selimuti semua persoalan yang terjadi malam tadi.

Di mulai waktu aku akhirnya pagi kemarin memutuskan bahwa aku sudah saatnya memilih dan memutuskan akan di bawa kemana hubungan kita. Aku menghormati kamu walaupun kita tidak pernah bertemu. Dari kedekatan kita dan semua kasih sayang yang kita tunjukan setiap hari lewat kata, aku memutuskan untuk berkomitmen 100% bahwa aku adalah pacar kamu. Kamu adalah kekasih aku.

Oleh sebab itu, aku menguatkan tekad, membooking tiket ke Manado dan memutuskan tali hubunganku dengan O dan segera dengan P juga.

Tetapi, malam ini, ketika aku bercerita tentang R, dan bagaimana bangganya aku dengan kedekatan dan hubungan yang spesial antara aku dan R, bangga dengan kemiripan antara aku dengan R, aku merasa kamu selalu mencoba menghempaskan aku dan kebanggaanku itu dengan kata-kata kamu. Tetapi aku mencoba menerima, karena mungkin kamu tidak mengenal aku dan R jadi kamu menyimpulkan bahwa aku hanyalah seorang ibu yang bodoh dan memiliki kebanggaan yang tidak ada. Aku sedih tapi aku mencoba bertahan dan mengerti sifat kamu apalagi kamu langsung meminta maaf.

Aku dengan berbagai cara aku mencoba meyakinkan kamu, bahwa kita memiliki harapan untuk bersama. Walaupun aku tahu kita memiliki perbedaan. Aku mencoba menunjukan betapa aku bangga sama kamu. Dengan pencapaian dan usaha-usaha kamu. Tidak pernah sedikitpun aku pernah menghina atau mencibir. Aku setiap hari menunjukan respek ke kamu. Aku ingin kamu dan aku bisa bersatu karena banyaknya hal yg bisa kita raih bersama. Dan aku percaya itu walaupun kamu terus menerus mencoba menghempasnya dengan teori-teori kamu tentang si miskin dan si kaya.

Aku sudah tunjukan ke kamu, bahwa aku ada untuk kamu.

Bahwa kamu bisa datang ke aku kapan saja, menghubungi aku ketika aku di mana saja, bahwa aku telah tunjukan aku tidak pernah menolak kamu. Tidak pernah mengucilkan kamu. tidak pernah cuek sama kamu. Tidak pernah aku berakting bahwa aku memiliki hal-hal yang tidak kamu miliki. Aku selalu mencoba membuat kamu nyaman dgn aku.

Aku merasa, sebagai perempuan, aku tidak desperate ingin bersama lelaki. Aku memang tidak secantik dewi-dewi atau secantik model-model. Tetapi bukannya aku mau sombong. Banyak sekali lelaki yang tertarik sama aku. Aku sangat percaya diri bahwa aku adalah perempuan yang menarik. Aku tidak akan pernah kesulitan untuk memiliki seseorang. Aku jatuh cinta sama kamu karena waktu yang menuntun aku. Bukan aku yang mencari cinta. Aku jatuh cinta sama kamu karena aku percaya kita di tuntun ke satu titik untuk saling memberikan rasa sayang kita. walaupun dalam keadaan yang sangat tidak lazim. Aku mempercayainya.

Sekarang, kamu memutuskan untuk tidak berbicara dengan aku lagi. Dan ini tidak fair. Aku merasa kamu mengeksploitasi perasaan aku. Mencabik-cabik asa aku. Kamu terlalu cepat menyimpulkan hal-hal yang harus kita hadapi bersama. Kamu terlalu egois dan kamu sangat bangga dengan itu. Padahal kamu tahu apa yang sudah aku perjuangkan. Aku mengekspos perasaan dan kepercayaanku ke kamu, tetapi kamu membuat aku harus merunduk dan selalu menjaga perasaan kamu. Sedangkan kamu tidak mau mengerti betapa sulitnya buat aku menjadi tidak bermakna.

Puisi-puisi kamu dan kata-kata bijak kamu serasa pedang yang menohok hati aku ketika kubaca lagi selagi kamu mendiamkan aku seperti ini. Aku merasa kecil dan tak berarti. Aku merasa kamu telah merampas harga diri aku, membuat aku mengemis hanya untuk berbicara dengan kamu. Kamu tahu, diam tak akan menyelesaikan apa-apa di antara kita.

Aku tidak pernah marah ke kamu lebih dari 10 menit. Aku tidak pernah membuat kamu bertanya-tanya soal apapun lebih dari 10 menit. Aku dengan keterbukaan yg aku tunjukan, tanpa aku sadari membuka diri aku menjadi object penderita yang bertubi-tubi harus merasa nothing, merasa seperti perempuan yang tidak laku. Yang tak berharga diri.

Aku ingin di perlakukan sama, dengan respect yang sama. Aku tidak mengharapkan yang lainnya. Aku hanya mengharapkan ketulusan dan kasih sayang yang seimbang.

Aku sudah kirimkan foto-foto aku yang aku buat untuk kamu dengan cinta aku yang semakin hari semakin membutuhkan tempat di hati kamu dan keseharian kamu.

Aku tidak akan membiarkan hati aku menangis untuk kejadian ini. Kalau memang kamu sayang aku, kamu akan tunjukan itu. Kamu akan perjuangkan perasaan kamu. Aku menunggu kamu untuk menunjukan bahwa kamu memang menginginkan masa dengan aku. Aku ingin kamu melihat kamu memperjuangkan perasaan kamu dan menunjukan ke aku bahwa kamu memang cinta aku.

Waktu akan berjalan terus. Ku harap kamu tidak membuang waktu kita yang sedikit ini. Ku harap kamu bisa mengerti dan lebih bijak dalam mengartikan hubungan kita ini.

N sayang Andre

* * *

Dan aku hanya tetap diam. Tidak membalas. Hingga hari ini.