Melihat dan Terlibat dalam Geliat: Mawale Movement Dari Dekat

Tanggapan kepada Sonny Mumbunan

Seringkali ketika kita melihat dari kejauhan, kehilangan akan detil adalah timpal yang sepadan. Dan keterjebakan dalam hal seperti itu tak terlalu terasa. Beberapa orang bahkan merasa nyaman dan cukup untuk melihat dari kejauhan. Sedang bagi sebagian kecil orang, hal itu tak dapat ditolerir. Mendekat, masuk dan mengalami pasang surut adalah cara untuk melihat seberapa dominan ego kita berkuasa. Menyentuh lalu terlibat dalam jalinan emosi justru menghadirkan sensasi rasa yang lebih dari sekedar kita berada di kejauhan jarak dan menjustifikasi sesuatu. Pembukaan ini adalah sebuah contoh. Betapa kadang merumitkan persoalan yang gampang dan melakukan sebaliknya terhadap persoalan yang pelik menjadi kebiasaan umum banyak individu. Apalagi jika label “intelektual kalangan atas” mengharuskan kita mempunyai strata berpikir di tingkat tertentu dan tak ingin jika derajat itu direndahkan. Apakah ini bisa dikategorikan “feodalistik”?

Itu semua belum ditambah dengan kebiasaan pendidikan kita yang membuat orang-orang diharuskan objektif seobjektif mungkin. Sebisa mungkin melihat dari “berbagai sisi” dan mengeliminasi cara pandang subjektif yang telah divonis “tak objektif”. Ini adalah sistem jagal yang dicipta dengan sengaja yang menurut saya membuat invidu kehilangan “identitas”nya. Meleburkan diri hingga tak tersisa kentalnya yang membuat kita hidup dan memberikan sumbangsih maksimal menurut kemampuan masing-masing di tengah-tengah perbedaan yang telah menjadi kodrat dalam kehidupan umat manusia. Saya sering menyebut hal ini dengan sepotong kata: homogenisasi. Tradisi berpikir yang telah diwariskan dan dijaga kelangsungan hidupnya oleh sebuah struktur kekuasaan besar yang juga saya namakan dengan Negara.

Dan keterkejutan saya bertambah ketika seorang Sonny Mumbunan, Kandidat Doktor Ekonomi di Universitas Leipzig Jerman yang juga adalah seorang putra Tonsea-Minahasa, lahir dan menghabiskan sebagian besar riwayat hidupnya di Aermadidi, Minahasa Utara melempar tanya kepada saya yang meski “menumpang” lahir di Manado, kuliah di Manado kemudian mengawini seorang perempuan Minahasa yang lahir dan besar di Totabuan, tapi runutan leluhur saya tertulis di Karatung, Nanusa di utara Indonesia. Sebuah “never land” menurut Dean Joe Kalalo dan Witho B. Abadi dalam beberapa canda gurau mengusir penat.

“Minahasa pe nilai apa?”

Wajar menurut saya jika kaget menjadi yang pertama. Sebab selain saya bukanlah orang Minahasa secara darah dan runut riwayat, adalah sebuah keanehan yang “maha” jika seorang Minahasa bertanya tentang nilai ke-Minahasa-annya kepada “orang luar”. Saya kemudian teringat dengan sebuah jawaban Greenhill Weol ketika menjawab pertanyaan yang sama yang lahir dari seorang aktivis KELOLA dan WALHI (saya tak tahu nama lengkapnya, tapi dia akrab di panggil dengan “Mner Oda”) Pertanyaan ini muncul di sela-sela diskusi sastra untuk “menyambut” sastrawan S. Ito yang datang ke Manado dalam rangka pengumpulan berbagai data yang akan digunakan membantu penyelesaian novelnya yang terbaru. Diskusi ini diselenggarakan oleh komunitas Lipu Kobayagan. Adalah sebuah “kebetulan” jika tempat diskusinya di kantor WALHI Sulut.

“Minahasa tidak dapat mengakui anda. Justru sebaliknya. Anda yang harus mengakui Minahasa.”

Tapi semua tak serta merta selesai. Pertanyaan Mner Oda dan Sonny Mumbunan di atas adalah wakil dari mayoritas pola berpikir orang-orang yang berada di sekitar geliat Mawale Movement.

“Kenapa menggunakan Mawale yang adalah kata dari Minahasa? Kenapa tak menggunakan kata lain?”

“Mawale adalah gerakan budaya Minahasa. Untuk apa orang-orang non-Minahasa terlibat di dalamnya?”

“Apa maksud kalian dengan identitas?”

“Nanusa, Suwawa, Gorontalo, Minahasa itu apa?”

“Benarkah Mawale adalah gerakan rasis Minahasa?”

“Siapa pucuk pimpinan Mawale Movement?”

Itu adalah beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh banyak orang di berbagai kesempatan jumpa dan tidak kebetulan jika saya masih terus mengingatnya. Saya berusaha dengan sengaja terus menjaga agar rekaman ini tetap awet demi mengantisipasi kerikil penghalang di kelokan berikut. Dan pertanyaan-pertanyaan di atas, tak berusaha saya jawab agar para penanya kemudian puas. Tidak. Saya hanya berupaya sekali lagi menjelaskan dari sudut pandang seorang pribadi yang ikut meramaikan Mawale Movement. Seorang Nanusa yang sementara belajar di tengah keramaian orang-orang muda Minahasa yang juga belajar.

* * *

Saya tak sendiri. Masih ada seorang Fajran Lamuhu yang adalah orang Suwawa. Bangsa yang selama ini tak terdengar gaungnya karena melebur hilang dalam “nama besar” Gorontalo. Bukan kebetulan jika hanya kami berdua yang aktif terlibat dalam gerakan Mawale. Berasal dari kolektif seni yang sama yakni Kolektif Kerja Budaya Rakyat (KKBR) Manado. Kelompok bukan orang-orang pintar, tapi kumpulan orang-orang yang mau dan terus belajar. Bukan untuk mengejar kesempurnaan. Tapi membuat “hidup lebih hidup”. Berdua, kami belum lama. Masih “junior” jika mengikuti tradisi “baik” organisasi-organisasi dengan kompleksitas struktur dan kekuasaan yang melilit di dalamnya.

Terus mencari tahu sembari menyingkap berbagai “selimut kebenaran” sejarah yang terlanjur absolut dan tak boleh dibantah lagi, membuat kami berdua menemukan banyak fakta “baru” yang sebenarnya sudah usang namun selama ini tersimpan rapi dalam lemari “sejarah penguasa”. Bagian-bagian yang tak boleh di komsumsi publik?

Saya nanti mengetahui fakta historis bahwa bangsa Suwawa tidak dan tak bisa menari Saronde setelah Fajran menyelesaikan skripsinya. Penelitian pribadi tanpa sponsor. Cukup lama Fajran merampungkan skripsinya. Pulang ke Suwawa dan mencari tahu penggalan ingatan historis yang hilang. Satu kali mocari tau sapa qta. Sekalian mencari tahu siapa dirinya. Itu statement pendeknya. Saya secara subjektif menganggap ini adalah “ber-Identitas”.

Sedang saya, karena berbagai keterbatasan hanya melakukan “ritual” bolak balik ke Karang Ria, Tuminting di Manado Utara untuk berdiskusi dan tanya hal-hal kecil tentang Nanusa kepada setiap orang yang baru datang dari kampung halaman. Maklum, sebentar lagi saya akan merayakan “HUT ke 5” lamanya tidak pulang ke Nanusa. Bagi orang-orang yang merantau, tentu tahu bagaimana rasanya rindu dengan “rumah”.

Sedangkan Fredy Wowor, Greenhill Weol, Denni Pinontoan, Bode Grey Talumewo, adalah bagian kecil dari bagian besar orang-orang muda Minahasa yang juga aktif di Mawale Movement. Beberapa di antaranya bahkan telah lebih dulu bergiat di dalam gerakan Mawale. Mereka juga melakukan hal yang tak jauh berbeda dengan apa yang sementara saya dan Fajran lakukan. Bedanya, rumah mereka tak jauh. Justru mereka berada dalam rumah itu. Saya terkadang iri dengan mereka.

Saya dan Fajran juga pernah dijejali tanya seperti pertanyaan-pertanyaan di atas menyinggung seputar keterlibatan kami berdua di Mawale Movement. Ada yang bertanya sebatas ingin tahu, ada juga yang menghakimi dan memvonis secara sepihak bahwa adalah sebuah kesalahan “bergabung” dengan orang-orang Minahasa yang selama ini “menindas” Nanusa dan Suwawa. Benarkah? Saya memaklumi jika kemudian vonis itu lahir dan mendera. Itu hal yang wajar jika kita merunut sejarah dan mental serta pola berpikir yang selama ini dicangkokkan kepada seluruh individu atas nama: Bangsa Indonesia.

Pada akhirnya menjadi sebuah keharusan jika sebuah kelompok “harus ber-struktur”. Itu adalah salah satu syarat mutlak. Harus ada pemimpin dan yang dipimpin. Ada pusat dan ada pinggiran. Ada hulu dan harus ada hilir. Harus ada bos dan anak buah. Atasan dan bawahan. Harus ada struktur, agar ada “description of power”. Benarkah harus ada sentralisme? Haruskah?

Mungkinkah ada alternatif lain? Di mana tak ada struktur, hingga membuat kita sebisa mungkin menjauhkan diri dari pembagian kekuasaan yang membuka potensi konflik karena kecenderungan kekuasaan yang korup dan menindas? Adakah ruang untuk melakukan “description of job” tanpa harus melakukan sub-ordinasi? Mungkinkan pijar itu menyala di berbagai titik tanpa harus “dikumpulkan dengan penaklukan”? Mungkinkah Nanusa, Suwawa dan Minahasa mampu hidup berdampingan tanpa harus ada salah satu kebudayaan yang menjadi tuan?

Keagungan sejarah Sriwijaya dan Majapahit yang kental dengan sejarah penaklukannya dan kemudian di gembar-gemborkan sebagai semangat Nasionalisme Indonesia secara sadar dan sistematik di ciptakan sebagai upaya mendidik pola berpikir, berbicara dan bertindak yang ekspansionis, kolonialis, anti-humanisme, dan homogenistik di tiap individu. Hal inilah yang kemudian mendorong kecenderungan setiap individu untuk “men-struktur-kan” segala sesuatu. Dan kemudian jika ada abornormalitas seperti yang sedang terjadi di Mawale Movement, maka hal itu termasuk dalam kategori “tak bisa diterima”. Semangat nasionalisme berbasis pada Majapahit inilah yang kemudian melahirkan spirit penaklukan sebagai spirit hidup orang Indonesia.

Semangat Nasionalisme Indonesia juga membuat orang berhamba pada objektivitas dan mengeliminir subjektifitas. Segala sesuatu yang dilakukan haruslah demi kepentingan “nasional” bernama Indonesia. Jika ada hal-hal di luar koridor itu, maka kategorinya adalah “lokal” dan bukan “nasional”. Sebabnya, karena yang bisa disebut “nation” dari Sabang sampai Merauke adalah Indonesia. Bukan Nanusa, Minahasa, Suwawa, Banjar, Batak, Aceh, Papua, Jawa, Dayak, Sunda, Madura dan masih banyak lagi jika harus dirunut satu demi satu. Jika masih ada “lokal-lokal” yang tetap lantang bicara tentang “nasionalisme” mereka, maka tidak mungkin kategori rasisme melekat menjadi kemungkinan terbesar.

Mawale Movement sebagai sebuah kolektif kerja tanpa struktur dan pembagian porsi kekuasaan menjadi hal sulit di terima akal sehat banyak individu yang masih terilusi dengan kebenaran sejarah penguasa. Percaya bahwa ada kemungkinan setiap kebudayaan dari tiap “nation” duduk sama tinggi, dan berdiri sama rendah serta saling bersolidaritas dalam rangka upaya meningkatkan kualitas masing-masing. Sebagai seorang individu maupun sebagai anak masing-masing bangsa.

Seorang Vicks Chenorre menganggap saya dan ke-Nanusa-an saya tersubordinasi di bawah Fredy Wowor dan Greenhill Weol dengan ke-Minahasa-an mereka. Hanya ketika saya menerima kata Mawale sebagai penanda gerakan kebudayaan yang sedang kami geluti. Nama yang lahir sebagai sebuah salah satu titik berangkat masing-masing kami untuk berjalan di jalan masing-masing dalam sebuah ikatan yang tak tampak riil bagi orang lain. Ikatan solidaritas antar masing anak bangsa-bangsa yang sekian lama di paksa menerima kenyataan bahwa kami “harus sama” dalam semangat “nasionalisme” Indonesia. Menjadi soal yang mungkin mendasar bagi beberapa orang menyoal nama Mawale yang “identik” dengan Minahasa.

Tapi banyak orang tak tahu bahwa Mawale bukanlah frase asing bagi saya. Kata wale sendiri memang berarti rumah buat kami di Nanusa. Hanya saja, cara penyebutan yang membuat tiap kata terdengar beda. Perbedaan dialek membuat bunyi yang dilafalkan menjadi berbeda. Adaptasi dan pemaknaan baru Mawale sebagai identifikasi gerakan kebudayaan kami yang baru seumur jagung yang berarti pulang ke rumah, membuat saya menemukan pemaknaan yang sama. Mawale bukanlah upaya untuk sekedar mengangkat mentah-mentah kebudayaan lama kemudian menempatkannya di tempat yang absolut dan tak bisa di ganggu gugat. Justru sebaliknya, Mawale adalah sebuah proses dan usaha yang masih terus berlangsung dari kami semua untuk memaknai kembali kebudayaan. Kebudayaan masing-masing. Bukan hanya satu kebudayaan.

Oleh karena itu, adalah sebuah kesalahan fatal jika mengindentikkan Mawale Movement sebagai gerakan kebudayaan Minahasa. Tidak! Mawale berada di ranah yang lebih luas dari Minahasa. Mawale adalah sebuah spirit kesadaran identitas, kesadaran historis, kesadaran untuk terus belajar dan mengembangkan diri, kesadaran untuk menyesuaikan dengan kondisi zaman, kesadaran untuk mulai berbuat dari sekedar menunggu datangnya bala bantuan dari para Mesias, kesadaran untuk berani memberikan ruang hidup kepada perbedaan. Bukan sebagai sesuatu yang harus dibenturkan dan saling menaklukkan, tapi kesadaran untuk saling mengisi dan menumbuhkan potensi masing-masing demi kemajuan peradaban dan kebudayaan masing-masing bangsa. Mawale adalah sebuah spirit global.

Ketika salah satu esai saya (Kebangkitan Nasional, Saatnya Membubarkan Indonesia) di posting di situs jejaring sosial Facebook sebagai sebuah catatan, kawan Sonny Mumbunan menanyakan apa makna identitas sebagai bagian dari runutan komentar yang sangat panjang. Dan saya tak menjawab hal itu dalam batasan tertentu, karena ketidakinginan saya secara pribadi untuk menjebakkan diri pada pendefinisian (atau postivistik) yang membuat batasan-batasan semu namun dipaksakan riil untuk melihat sesuatu dari “jauh.”

Sebuah contoh saya coba suguhkan. Namun ini bukanlah contoh absolut. Semuanya masih bisa dibantah (atau didiskusikan jika menurut ingin saya).

Jauh sebelum peradaban Eropa membawa ke-Kristen-annya dan pedagang Gujarat, Persia dan Arab membawa ke-Islam-annya dan datang ke daerah Utara Celebes (Nusa Utara, Minahasa, Totabuan, Hulondalo), masyarakat di daerah ini telah memeluk kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan bahwa ada sebuah kuasa yang jauh melebihi kemampuan manusia. Dan semuanya itu diwujudkan dalam ibadah-ibadah mengucap syukur dengan menyembah batu-batu besar, pohon-pohon, roh-roh halus, guntur, kilat, hujan dan lain-lain. Pada masa ini, agama-agama benar-benar ditempatkan sebagai sebuah bagian yang tidak bersangkut paut dengan kekuasaan.

Namun, agama-agama rakyat yang saat itu telah hidup dan mewarnai geliat masyarakat di anggap alifuru dan belum beradab karena bangsa-bangsa di Utara Celebes saat itu, belumlah memeluk agama modern seperti keyakinan mereka. Pendefinisian dalam batas-batas kaku yang pada akhirnya mendorong terjadinya homogenisasi kepercayaan hingga terjadinya homogenisasi kebudayaan. Yang belum memeluk agama Islam dan Kristen dianggap kafir dan tak akan mendapatkan surga. Benarkah pendefinisian atau pelabelan seperti contoh di atas?

Contoh berikut adalah ketika Colombus menemukan benua Amerika yang tidak pernah hilang. Bangsa-bangsa penghuni asli di benua Amerika dilabeli sebagai bangsa Indian. Artinya adalah orang-orang India. Apache, Cheyenne, Maya, Aztec, Inca dan masih ada bangsa-bangsa lain, di subordinasi dalam nama suku berbangsa Indian. Dan hingga kini, kesalahan kecil seperti itu masih terus di pelihara bahkan oleh dunia intelektual. Dunia positivistik. Dunia penuh kategori, penuh batasan mati, dunia penuh definisi kaku.

Saya justru akan bertanya kembali kepada semua yang membaca tulisan ini. Bagaimana jika kasus genosida kebudayaan yang dialami oleh bangsa-bangsa asli di Amerika berbalik menimpa kita? Apakah kita akan terus diam dengan kebohongan-kebohongan intelektual yang telah menjadi prima dan tak boleh terbantahkan lagi? Apakah orang-orang Minahasa harus terus dalam mitos Riedel & Schwarz bahwa Minahasa adalah bangsa keturunan incest? Apakah orang Suwawa harus dipaksa menari Saronde karena generalisasi dengan Gorontalo? Apakah Nanusa hanya dikenang sebagai kumpulan perompak di lautan?

Melihat dan mencoba belajar dari hal-hal kecil seperti di atas membuat saya tidak ingin melihat segala sesuatu kemudian memberikan batasan absolut yang menjustifikasi segala sesuatu di luar keyakinan adalah salah dan tak mempunyai ruang hidup. Tidak.

Ketikapun saya memposting dua buah catatan pendek di Facebook (sebuah puisi dengan judul Pepatah Di Manado, dan sebuah cerpen dengan judul Cemilan Untuk WOC) dalam rangka menyambut WOC yang sedang berlangsung meriah di Manado kemudian menuai respon berbeda dari beberapa teman, saya tak menganggap komentar-komentar yang berbeda sudut pandang adalah salah. Justru sebaliknya. Ketika ada perbedaan yang hadir dalam melihat sebuah titik, inilah saatnya untuk melakukan dialog. Bukan dalam semangat untuk menyatukan perbedaan-perbedaan itu, tapi justru sebaliknya. Dialog antar peradaban adalah untuk saling mengerti dan memahami kemudian hidup berdampingan tanpa harus saling mengeliminir satu dengan yang lain. Berupaya saling mengenal demi peningkatan kualitas masing-masing peradaban. Tidak dengan saling menundukkan.

Menyoal melihat kebudayaan juga saat ini menjadi masalah. Kami yang berada di lingkaran Mawale Movement yang kemudian oleh beberapa orang di anggap kelompok tertutup dan terbatas, tidaklah melihat Nanusa, Suwawa, ataupun Minahasa sebagai sebuah yang statis. Diam dan mati. Sebaliknya, kami melihat bahwa Nanusa, Suwawa, Minahasa dan semua bangsa lain itu hidup dan terus berproses. Nanusa, Suwawa, Minahasa dan bangsa-bangsa sejati tidaklah sebatas teks yang kemudian diberikan definisi oleh individu dari kalangan tertentu. Bangsa adalah sebuah kesatuan hidup yang terus menerus berkembang, berproses dan melakukan pencarian dan penemuan terhadap nilai-nilai hidup. Entah dengan mendekonstruksi nilai lama kemudian memaknainya secara baru, ataupun dengan melakukan adaptasi, akulturasi dan asimilasi.

Dan dalam perjalanannya, setiap bangsa dengan peradabannya mempunyai grafik yang tentulah tidak menanjak setiap saat. Semuanya tergantung dari setiap individu yang berada di dalam bangsa tersebut. Setiap anak-anak dari tiap peradaban memikul tanggung jawab dan tugas yang sama beratnya. Salah satu faktor ini yang kemudian membuat setiap dari kami yang datang dari berbagai latar belakang yang beragam kemudian menjadikan Mawale sebagai ruang sempit untuk berdialog di tengah dunia yang tak lagi merestui perbedaan.

* * *

Mawale Movement bukanlah satu-satunya jalan keselamatan. Kami bukan gerombolan Mesias. Tapi, Mawale adalah satu dari sekian banyak jalan untuk pulang ke rumah. Mendapati kembali sanak saudara dan tanah yang hampir hilang terenggut oleh kehilangan kami secara individu. Mawale hanyalah sekedar upaya untuk mencoba kembali pulang dan memperbaiki genteng-genteng rumah yang bolong maupun hancur karena terpaan ekspansi dan upaya kolonialisme dari peradaban lain yang merasa lebih. Mawale hanyalah sebuah upaya untuk memberi warna baru bagi rumah kami yang kusam dihantam sejarah yang timpang. Ini hanya sebuah spirit yang tidaklah mungkin hanya boleh dimiliki oleh kami. Mawale adalah milik semua orang yang ingin pulang ke rumah. Ke tempat di mana kita berasal. Dari bermula.

(Steleng Mawale, Tomohon, Mei 2009)