Suatu Pagi Sebelum ke Pabrik

Pagi menua ketika matahari semakin tinggi terbang ke langit. Dengan angkuh membagi sinarnya ke semua sudut bumi. Embun sudah pergi. Tak ada lagi sisa-sisa kristal pagi yang menjadi saksi malam pergi dan digantikan pagi. Semua hilang tanpa jejak. Sirna seketika seakan waktu tak pernah singgah. Meski pagi ini tidaklah berbeda seperti pagi sebelumnya bagi sebagian besar orang, tapi tidak buat Mou. Hari ini jelas berbeda. Semuanya. Hangat sinar mentari, sapa orang-orang yang nanti bersilang tubuh di mulut gang tempat menanti metro mini, maupun apa yang akan terjadi di pabrik hari ini.

Ya. Hari ini di pabrik adalah hari yang berbeda. Khusus mungkin bisa menjelaskan artinya meski tak seluruhnya terjelaskan. Meski jeans yang Mou pakai masih tetap sama dengan jeans yang juga digunakan sejak tiga hari sebelumnya tanpa pernah di cuci. Hanya digantung di belakang pintu sekedar mengusir penat setelah membungkus kaki yang selama hampir delapan tahun ini bolak balik di rute sama menuju tempat yang sama. Pabrik kokoh yang hampir menjadi seperti rumah jika saja ia hangat dan ramah seperti senyum Mirna di warung depan tempat biasa Mou mengutang dua batang rokok dan sebungkus mie instan setiap kali pulang kerja.

Tapi tidak. Pabrik itu terlalu sombong untuk membuat Mou selalu merindukannya jika harus berpisah setelah lebih dari delapan jam sehari terpanggang bisu didalamnya. Pabrik itu justru hanya mengawetkan rasa benci yang kemudian tumbuh subur menjadi dendam akut di hati. Tidak hanya dalam hati Mou seorang. Tapi juga di hati ribuan orang yang lain di tempat itu. Mou hanya kenal beberapa orang di antaranya. Tak sampai lima puluh jumlahnya. Padahal mereka berseragam sama, masuk lewat pintu yang sama dan pulang lewat gerbang yang sama di detik yang bersamaan. Sedang yang akrab hanya Ijo dan Roe. Itupun karena sekampung dan sering makan bersama ketika istirahat siang. Sedang sisanya? Jangan coba mencari jawabnya. Percuma!

Padahal ada delapan tahun lebih yang Mou punya untuk kenal dengan teman-teman sekerjanya di pabrik itu. Waktu yang seharusnya lebih dari cukup bagi manusia untuk mengenali manusia yang lainnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, semuanya asing terhadap yang lain. Mou tak bisa punya celah untuk sekedar menggenggam erat tangan mereka lalu mengucapkan nama sendiri dan asal kampung sembari dibalut sebuah senyuman. Senyuman solidaritas sesama orang-orang desa yang terpaksa harus datang ke pabrik ini menjual tenaga karena ijazah sekolah yang cuma sampai SD. Senyuman sesama orang-orang yang harus mengubur mimpi muluk hidup sejahtera dan makmur. Punya rumah sederhana, makan cukup dan bergizi, punya baju layak dan berkesempatan melanjutkan sekolah. Mou ingin sekali sekolah. Tapi itu dulu, jauh sebelum pabrik itu merenggut semuanya.

Kini ingatan untuk sekolah itu sudah mulai kabur bentuknya. Mou seperti orang yang terlanjur patah hati karena ditolak cintanya oleh gadis pujaan. Mou remuk redam batinnya karena dinding-dinding kusam pabrik ini telah hampir saja berhasil merubahnya menjadi mesin seutuhnya. Menjadi sosok mayat tanpa perasaan kecuali kemampuan fisik yang terus menerus harus digenjot saat lembur. Walau Mou selalu bingung kemana perginya insentif-insentif lembur itu. Mou dulu takut bertanya karena tak ingin dipecat. Tidak ingin menjadi pengangguran dan hidup melarat di bawah kolong-kolong jembatan. Mou ingin kaya dengan menabung. Tapi tak pernah mampu karena gajinya hanya cukup untuk makan tiga kali sehari dan melunasi utang rokok, gula dan kopi di warung Mirna yang punya senyum sejuta hangat itu.

Bahkan, Mou sebenarnya ingin melamar Mirna jadi istrinya. Biar senyum yang mampu menghangatkan hati itu bisa dinikmati setiap hari. Setiap bangun pagi dan sebelum tidur malam. Namun tak bisa. Mou tak punya keberanian untuk melamar Mirna. Bukan karena dia seorang penakut. Mou bukan seorang pecundang. Justru sebaliknya. Ia adalah seorang keras. Seorang petarung.

Dulu di kampung, Mou adalah satu dari sedikit muda yang disegani. Bukan karena punya ilmu silat yang dipelajarinya dulu. Tapi juga karena Mou adalah orang yang sholeh dan taat ibadahnya. Sholat tak pernah sekalipun dilewatkan gugur. Mou selalu rindu untuk berjumpa dengan Tuhan-nya. Tapi tidak kini. Mou berbalik seratus delapan puluh derajat. Tak pernah lagi sholat karena tubuhnya terlalu letih dihajar lelah lembur.

Tak mampu lagi membungkukkan badannya di atas sajadah karena punggung itu sering nyeri jika tak segera diistirahatkan. Mou menjadi jauh dari Tuhannya semenjak pabrik itu menelan tubuh mudanya delapan tahun yang lalu. Delapan tahun penuh kemarahan yang terkatup rapat dalam gertakan gigi ketika merasa diperlakukan tak selayaknya manusia.

Tapi subuh tadi Mou kembali lagi menemui Tuhannya. Ia dengan khusyuk memanjatkan doa. Bukan sembarang doa. Itu doa perjuangan. Doa minta restu dalam usahanya untuk merebut kembali kemanusiaannya yang terampas selama lebih dari delapan tahun di pabrik itu. Sebuah jalan menemukan dirinya yang hilang tenggelam tertimpa bunyi derum mesin pabrik yang berbanding ironis dengan bisu semua manusia di dalamnya. Bahkan ketika gaji mereka selama enam bulan terakhir ini tak kunjung juga sampai di tangan sementara perut tak mampu tahan berpuasa selama itu.

Mou kehilangan kebungkamannya. Tak mau lagi ia mengutang di warung Mirna yang punya senyum sejuta hangat itu. Sebab Mou tak ingin melamar Mirna hanya karena tak mampu menebus utang di warung kecil yang sedang dilewatinya sekarang. Mou ingin kembali ke warung itu dengan sejumlah uang untuk melunasi semuanya sembari mengungkapkan perasaan yang telah memakan ruang mimpinya ketika tidur malam berselimut lelah kerja seharian. Pagi ini adalah batas akhir di mana Mou kembali menemukan keberaniannya yang dulu sempat minggat. Sekarang adalah saat mengadakan perhitungan yang tertunda delapan tahun lebih. Sebab kalau bukan sekarang, Mou tak yakin esok ia masih punya kesempatan lagi.

Ya. Pagi ini semuanya benar-benar beda. Mou telah membulatkan niatnya. Dan dua minggu terakhir keinginan itu telah ia sebarkan sebagai benih pemberontakan kepada kawan-kawan seperasingannya di pabrik kokoh itu. Pagi ini mereka akan mogok kerja. Menuntut upah yang tak kunjung dibayar bos-bos besar yang sudah sering bolak-balik plesir ke luar negeri.

Ini waktunya menuntut hak. Menuntut balas atas kebisuan. Mencari lagi kemanusiaan yang sempat redup termakan ketakutan. Pagi ini tak boleh lagi ada ketakutan. Pagi ini MOGOK!

Andre Barahamin