Sastra Melayu Manado

Bulan Januari 2008, kembali dunia sastra Utara Celebes1 disemarakkan dengan terbitnya tiga buah buku sekaligus karya para seniman muda Utara Celebes.

Ada kumpulan puisi Jangan Malu Pada Sepi karya Dean Joe Kalalo, kumpulan cerpen Aku Ingin Jadi Burung dari Christy Sondey dan menyusul kumpulan cerpen Cirita Tai Minya kepunyaan Witho B. Abadi. Sebuah ucapan selamat tahun baru yang saya pikir belum terlambat untuk disampaikan kepada dunia sastra di Utara Celebes yang memang saat ini tengah menjadi sorotan dunia. Satu pembukaan yang manis untuk tahun 2008 ini.

Tiga buah buku lagi yang datang untuk tidak hanya sekedar menambah kuantitas jumlah karya yang telah berhasil diproduksi, tetapi juga menjadi pembuktian yang paling tegas tentang eksistensi dunia sastra di Utara Celebes dan peran angkatan muda di dalamnya. Padahal belum lepas dari ingatan apresian sastra di kota ini, tanggal 5 Desember 2007 yang lalu, buku kumpulan puisi terbitan 9 SOCIETY ART & TECH juga diluncurkan. Berarti dalam rentang waktu dua bulan saja, telah ada enam buah buku baru yang menyambangi para penikmat sastra di Utara Celebes yang sedang bersiap diri menyambut World Ocean Conference tahun 2009 nanti. Produktifitas yang sejauh ini bisa dibilang konsisten. Dan untuk ini, saya akan memberikan standing applause kepada seluruh angkatan muda pegiat sastra di Utara Celebes.

Sebab ada hal menarik dalam dunia sastra yang terjadi sejak tahun 2005 (yang dengan berani di canangkan oleh segelintir anak-anak muda yang bergiat dalam dunia seni khususnya sastra sebagai tahun kebangkitan seni budaya lokal) sampai awal tahun ini. Yakni menjamurnya banyak sastrawan muda potensial yang “sadar diri” sesadar-sadarnya. Menyadari tentang keberadaan mereka secara individu, berkelompok dan bermasyarakat, lalu termanifestasi dalam bentuk pembukuan karya sebagai bentuk pertanggung jawaban moral terhadap dunia sastra di Utara Celebes yang masih sangat menyedihkan karena masih begitu kurang begitu kondusifnya dunia kesusastraan di daerah ini.

Ini bisa dibuktikan dengan melihat secara seksama bahwa Utara Celebes bisa dikata vakum dari upaya-upaya penerbitan sastra selama satu dekade atau mungkin lebih. Padahal di satu sisi eksistensi seorang penulis/sastrawan/penyair, mau tidak mau akan dilihat para apresian dari publikasi karyanya. Padahal daerah ini memiliki banyak sastrawan yang sebenarnya tergolong senior tetapi entah “tidur” atau melupakan lokalitasnya. Kalaupun ada “Sastrawan Senior Utara Celebes” yang memperkenalkan karyanya, hanya harap-harap cemas atau sekedar pucuk dicinta mengharap ulam kan tiba.

Ini diperparah dengan tidak perduli atau tidak mampunya berbagai institusi seperti Dewan Kesenian dan lembaga-lembaga terkait lainnya yang sebenarnya dan sudah seharusnya serta pada porsinya harus bisa berbuat banyak untuk memajukan dunia seni khususnya sastra daerah pada umumnya. Tidak hanya sekedar sebagai donatur dana atau sinterklas musiman, tetapi bertindak dengan kerangka visi pembangunan seni budaya daerah ke taraf yang lebih maju di hari depan. Tidak cukup hanya dengan menggelar kegiatan-kegiatan jangka pendek, tapi kemudian dengan sengaja melupakan program-program strategis ke depan. Tidak hanya dengan menyibukkan diri dalam berbagai festival-festival yang hanya mementingkan kuantitas semata, tetapi melupakan kadar kualitas dan terutama daya stamina dan konsistensi dalam proses kreatifitas kesenian.

Padahal melihat perkembangan di dunia seni nasional telah lama membara semangat postmodernisme yang dengan gencar menggagas pengembangan kemampuan untuk artistik lokal dan menyerukan untuk kembali ke tradisi lokalitas. Di Jakarta sendiri menurut pengamatan penulis, kecenderungan “sadar asal” ini telah dimiliki oleh banyak sastrawan, dan hebatnya ini sering dijadikan “kartu as” untuk melawan Sentralisasi Kesenian. Gerakan ini kelihatan dominan diusung oleh mereka yang diluar arus mainstream dan bukan “seniman mapan”. Mereka lebih sering menggelar kegiatan secara underground namun intens.

Pada tataran lokal, penerbitan 9 SOCIETY ART & TECH yang melanjutkan tongkat estafet dari banyak penerbitan underground adalah bukti yang menunjukkan telah adanya usaha-usaha untuk “tidak mau lagi tinggal diam”. Dalam konteks ini, kami tidak mau terkungkung dengan keterbatasan material, terlebih keterbatasan visi. Bahkan lebih dari itu banyak pegiat dunia sastra yang telah sampai kepada sebuah kesadaran berbahasa lokal, yang dapat anda lihat di berbagai buku yang telah terbit. Ada Trilogi Kumpulan Puisi Bahasa Bahasa malayu manado di Utara Celebes 999 – 777 – 99, sampai kemudian ada akan bersua dengan tiga (3) buku yang baru saja terbit.

Di sini kami berusaha membangkitkan kesadaran dari para sastrawan lokal lain, dan masyarakat Utara Celebes untuk kemudian menghargai bahasa yang digunakannya sehari-hari tersebut sebagai “torang pe bahasa” yang akan dapat punah seiring terkikisnya penggunaan bahasa tersebut dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. Tergantinya bahasa ngana-kita dengan loe-gue. Dan kami yakin, salah satu upaya terpenting untuk mempertahankan budaya yang adalah identitas, adalah dengan mempertahankan penggunaan bahasa.

 

Sastra lahir lantaran ada bahasa
Bahasa mati karna nda ada sastra

 

Demikian, MANIFESTO MAKAWALE karya Fredy Sreudeman Wowor. Sebuah puisi yang terdapat dalam antologi puisi Bahasa Manado – 999. Sebuah kumpulan puisi yang menandai gerakan membangun tempat tinggal atau Mawale Movement. Sebuah momentum kebangkitan seni budaya yang dengan sadar, kami mulai sejak tahun 2005 hingga sekarang. Dan kalau kemudian, nanti tahun 2008 ini pemerintah berencana menetapkannya sebagai tahun kebangkitan seni budaya, saya dengan berat hati mengucapkan bahwa itu hanya seremonial yang terlambat dan tidak konstektual lagi.

Dan kami sejak deklarasi Mawale Movement, dengan sadar menempuh salah satu cara untuk melestarikan bahasa lokal yaitu dengan menuliskannya dalam bentuk apapun termasuk puisi dan cerpen. Karena kami kemudian sampai pada sebuah kesadaran objektif bahwa jika kemudian kita hidup tanpa kejelasan identitas, akibatnya adalah tenggelam secara konyol dalam proses genocide yang sedang dijalankan oleh globalitas. Dan bahasa adalah titik signifikan yang akan menentukan hancur tidaknya sebuah kebudayaan. Mungkin terlalu ekstrim untuk menganggap nihil apa yang dikenal dengan ‘budaya nasional”. Tetapi menurut kami, tanpa kita mengetahui dengan jelas identitas kita sebagai bagian dari budaya lokal kita tidak akan pernah dapat duduk seimbang dalam konteks budaya nasional.

Sapardi Djoko Damono, dalam salah satu email-nya (setelah selesai membaca puluhan buku karya sastrawan muda Utara Celebes), mengungkapkan rasa kagum dan salut atas perjuangan gerakan sastra Malayu Manado di wilayah Utara Celebes yang khas dan saat ini sedang subur bertumbuh di berbagai tempat dimana ini semua adalah bagian tak terpisahkan dari Mawale Movement di bidang seni budaya sejak tahun 2005 hingga hari ini.

Fredy yang baik…. Sudah saatnya kita berpikir ulang mengenai apa yang disebut “Sastra Indonesia.” Kegiatan itu tentu akan ada dampaknya atas konsep kita tentang itu. Saya sudah menerima juga beberapa kiriman dari rekan-rekan di Manado, sampaikan ucapan terima kasih saya…….

Saya berpendirian bahwa sastra seharusnya ditulis dalam bahasa yang hidup, itu pula sebenarnya inti dari Beat Generation pada zaman hippies tahun 1960-an…….
(email 13 Oktober 2007 kepada Fredy Sreudeman Wowor)

Tidak hanya karena ada puluhan sanggar, kelompok teater, komunitas dan kolektif seni yang terbentuk, tapi juga karena kami memberikan sebuah bukti nyata dengan hadirnya puluhan buku karya untuk terus memberi penanda waktu bagi kemarin, hari ini maupun esok kalau “torang di sini, nyanda parna badiang”. Dan lebih dari itu, adalah ketika para sastrawan yang “masih bau kencur” ataupun “junior” ini adalah orang-orang yang sadar diri dan menyadari pentingnya memiliki dan mempertahankan identitas.

Tapi tidak hanya berhenti sekedar dengan membukukan karya-karya yang mungkin akan sangat kurang daya jangkau publikasinya (karena memang dicetak terbatas dengan keterbatasan dana yang di miliki) tapi juga dengan membangun beberapa media alternatif lain yang dapat diharapkan meluaskan visi misi kami tentang bale pa torang pe kebudayaan dan punya identitas.

Ini dapat dilihat jika anda menyempatkan waktu untuk mengunjungi sastra-minahasa.blogspot.com, sastra-hulondalo.blogspot.com dan sastra-nanusa.blogspot.com. Sebuah ruang sederhana di dunia maya yang kami bangun ala kadarnya, sebagai upaya untuk memberitakan lebih luas tentang geliat yang sedang terjadi di dunia seni khususnya sastra di Utara Celebes saat ini. Atau anda dapat membaca Jurnal Sastra Utara Celebes yang menggambarkan sedikit dari rutinitas berkesenian kaum muda di Utara Celebes.

Semua usaha diatas (penerbitan buku & jurnal, pembangunan basis kesenian, pembangunan blog di internet) di lakukan tanpa ada sokongan dana dari pemerintah, pengusaha, ataupun lembaga-lembaga lain, yang seharusnya memberi perhatian serius terhadap jatuh bangun dunia seni khususnya sastra di Utara Celebes. Sejak lama kami melakukannya secara swadaya dan swadana. Kami sejak lama telah berusaha mandiri dan membuang jauh-jauh pola pikir bahwa kendala finasial sebagai hambatan utama untuk terus berkarya, belajar dan berorganisasi dan membangun kebudayaan lokal kita.

Dan kami menyadari bahwa kami masih setengah jalan dan perjalanan ini masih sangat panjang dan berliku. Tapi minimal, kami telah memulai dan terus melakukan sesuatu. Kami telah membuktikan lagi dengan kehadiran tiga (3) buku yang baru terbit, kalau kami bukan sekedar masturbator yang hanya bicara tanpa pembuktian dalam kerja. Kami hanya ingin kembali mendeklarasikan di tahun 2008 ini, bahwa sastra Malayu Utara Celebes belum mati. Dan kami masih ada untuk terus berlari lebih jauh kedepan.

Dan akhirnya, kami mengajak anda semua untuk mengucapkan selamat datang kepada Jangan Malu Pada Sepi, Aku Ingin Jadi Sepi dan Cirita Tai Minya sebagai monumen sejarah baru yang akan mengabadikan terjalnya perjalanan dunia sastra di Utara Celebes.